
"Home sweat home" bathin ku sambil menatap keluar jendela begitu mendengar ucapan Ferry. Lalu aku turun menatap lekat rumah di depanku. Benar ini rumahnya, akhirnya kami akan tinggal di rumah ini, membuka lembaran baru. Mencoba berbahagia di rumah yang papa siapkan untuk kami. Rumah lantai dua yang jauh lebih kecil dari rumah kami sebelumnya dengan halaman yang luas dan carport luas serta garasi yang bisa untuk dua mobil, dan ada kolam ikan dengan air pancur cantik di pojokan taman rumah, mataku memindai sekeliling halaman rumah.
"Tidak ingin masuk?" ajak Ferry membuyar lamunan ku. Aku pun hanya mengangguk, Ferry lalu meletakan tanganku di lipatan tangannya dan kami pun jalan menyusul mama dan Bimo ke dalam rumah.
Ternyata Om Bram ada dirumah villa kami.
"Hai Lia, semoga betah di rumah baru ya" ujar om Bram yang ku anggukan. Sedangkan Bimo sudah berlarian mencari kamar yang dia sukai untuk jadi kamarnya.
"Ma, kak, aku kamarnya yang ini ya..karena kamar ini yang paling luas?" ucap Bimo dari lantai atas.
"Jangan itu sayang, itu kamar untuk mama" ucap mama menyahuti Bimo. yang dibalas bibir manyun oleh Bimo. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah mama dan Bimo yang berebut kamar.
"Kamu nggak nyari kamar untuk kita?" bisik Ferry yang langsung ku plototin. lalu dia mengangkat tangan seperti orang kalah sedang minta ampun.
"Anda Tuan Goucher, vice President dari Goucher Corp Negara A bukan?" ucap om Bram tiba-tiba saat melihat Ferry.
"Iya betul om, kenalin Ini Ferry dan ini om Bram pengacara sekaligus sahabat papa" ucapku memperkenalkan mereka.
"Senang berkenalan dengan anda Mr. Bram" ucap Ferry formal.
"Tuan Ferry bisa panggil saya om Bram seperti Lia memanggil saya" pinta om Bram.
"kalau begitu anda juga cukup panggil saya Ferry saja tanpa embel-embel apapun" ujar Ferry balik.
"Baik lah...baiklaaah, jadi Lia ini nanti akan kuliah di negara A kan karena beasiswa dari perusahaan nak Ferry" gumam om Bram.
"Iya om" jawab ku singkat.
__ADS_1
"Om kesini mau memberikan berkas-berkas perjanjian kerja dengan Om, sekalian memberikan pasport Lia yang sudah jadi domestik worker". Jelas om Bram membuat alis Ferry mengkerut dalam.
"Dan juga om mau memberitahukan kalau Art dan juga satpam yang biasa mengurus rumah villa sudah dipulang kan bulan kemarin. karena mama mau tetap mempekerjakan ujang dan si mbok" jelas om Bram, yang ku jawab dengan anggukan.
"Aku membaca kontrak kerja yang diberikan om Bram baik-baik lalu menandatanganinya". Satu bundelan berkas untuk ku satu lagi di bawa om Bram. kemudia om Bram pamit berbarengan dengan mobil truck datang.
"Kontak kerja apa itu?" tanya Ferry sambil mengendikan dagunyam
"Biar aku aman selama kuliah di negara A, om Bram memberiku pekerjaan sebagai baby sitter dengan gaji lumayan besar" jelas ku, membuat mata Ferry melotot dan merah padam.
"Batal kan kontrak itu" peritahnya.
"Hei kamu tenang dulu pekerjaan nya lebih mirip aku jadi kakak buat anak gadis kecil itu, pekerjaanya sangat ringan dan tidak akan mengganggu kuliahku. Lagian aku akan lebih safety tinggal dengan mereka dibandingkan sendirian di apartemen" jelasku.
"Siapa yang bilang sendirian?, itu kan tadi aku udah ngajal kamu nikah supaya nanti disana kamu tinggal sama aku di apartemenku" ujar Ferry kesal karena rencananya buyar.
"Hehehehe....tapi aku udah terlanjur setuju kerja sama temennya om Bram, lagian kalau nikah trus aku hamil gimana kuliah ku. udah ya sayang ini udah paling bener. Disana kamu juga kan sibuk kerja, kuliah S2 kamu juga belum kelar kan?, dari pada aku nanti banyak sendirian di godain temen kampus gimana?" argumenku asal.
"Ma, Ferry mau bicara penting" teriak ku pada mama yang masih diatas rebutan kamar sama Bimo.
"Kamu bicara saja sendiri sama mama, kalau mama setuju aku sih oke aja" jawabku sambil berlalu memerintahkan abang-abang kuli membawa koper dan box milik ku ke kamar di lantai satu yang tak jauh dari teras samping.
"Sebentar mama turun" lalu mama turun dan menghapiri Ferry. Sedangkan aku sibuk menata barang-barangku di kamar baruku. kamarnya hanya setengah dari ukuran kamarku sebelumnya. Tapi kamarnya sangat nyaman. selera ku banget suasana kamarnya. "Mungkin papa yang memilih design kamar ini, bisa pas sekali". pikiranku buyar saat tiba-tiba ada tangan kekar melingkar di pinggangku dengan aroma tubuh yang sangat Familiar.
"Mama Setuju kita menikah secara agama, jam 19.00 nanti. Jerry akan mempersiapkan segalanya" ucap Ferry sambil meciumi kepala ku.
"Baik" ucap ku singkat. lalu Ferry melepaskan pelukan nya dan membalik tubuh ku, memintaku menatap matanya.
__ADS_1
"Kamunya mau menikah dengan ku tidak?" tanya Ferry geram melihat ku tak bahagia dinikahi dia.
"Apa aku bisa menolak" ucapku.
"Tentu saja tidak" jawab Ferry berang.
"Kalau begitu tidak usah bertanya" jawabku tak kalah ketus.
"Sayang aku mencintai mu, dan aku nggak mau kehilangan kamu. jarak kita jauh, dan kamu tau jadwal padat, dan super sibuk. aku nggak akan punya banyak waktu kosong untuk mu, maka dengan mengikat mu dalam pernikahan aku akan merasa safety...please mengerti aku" mohon Ferry pada ku.
"Tapi ada satu syarat, sampai kita menikah secara hukum kamu tidak boleh melakukan itu" ucapku malu sambil menundukan kepala.
"Bagaimana bisa aku berjanji soal itu, kamu tau sendiri kan kalau suasana sudah mendukung berat untuk bertahan tidak melakukannya" ucap Ferry sambil terkekeh.
"Tapi aku nggak mau hamil, aku masih mau melanjutkan kuliah ku dan berkarier menghasilkan banyak uang dan merebut kembali perusahaan papa dan juga rumah kami" ucapku sendu, dan Ferry langsung memeluk ku.
"Kamu yang sabar ya sayang, begitu aku lulus S2 dan papa menyerahkan perusahanya pada ku. Aku akan bantu kamu merebut apa yang di curi dari mu, kalau sekarang akses ku belum sempurna untuk menguasai pasar di negara IND, kamu bersabarlah, aku pastikan dia sengsara dua kali lipat". ucapnya penuh keyakinan.
"Soal hamil kamu bisa minum pil pencegah hamil jika tidak ingin hamil, jadi kita aman melakukannya" jelas Ferry. Ucap Ferry sambil menatapku membuatku jadi salah tingkah, tak menyia-nyiakan kesempatan Ferry pun langsung memegang daguku dan mencium bibirku, aku pun membalasnya. Cukup lama kami saling membalas mencium bibir satu sama lain membuat suasana dikamar baruku jadi panas penuh gairah. tangan Ferry mulai menjelajah di setiap inci tubuh bagian atas ku dari luar kaos, membuat bulu kuduk ku meremang, tangannya tak bisa diam yang lama-lama tangannya masuk ke dalam kaos yang ku kenakan, melepas pengait Braku kemudian meremas gundukan kembar milik ku, membuat tubuhku terasa disengat listrik, membuatku semakin bergairah. Dan desahan ku pun mulai keluar. membuat Ferry makin liar, baru dia akan melepas kaos yang ku kenakan namun dering ponselnya tak mau berhenti. Dengan kesal kami pun menghentikan aktivitas penuh dosa itu. Aku pun memperbaiki keadaan ku yang sudah tak karuan di kamar mandi di dalam kamarku. Sedangkan Ferry menjawab panggilan telphon. Sekali lagi Author menyelamatkan Liaš¤.
*****************************************************
Hai Readers
Makasih banyak ya readers sudah mau mampir dan baca novel buatan author.
Semoga kalian semua bisa menikmati membaca tulisan author ya.
__ADS_1
Ditunggu LIKE, KOMENTAR sama dukungannya ya readers, karena tanpa kalian apalah arti sebuah novel tanpa pembaca.
thks alot