
"Tuan muda, ada tuan Dhaniel dan tuan Morgan di ruang tamu"
Ferry dan Lia yang sedang ribut soal makanan langsung memasak mode jaim di depan kepala pelayan
"Minta mereka menunggu sebentar dan buatkan mereka minuman, aku akan segera kesana"
Mendengar perintah sang majikan, kepala pelayan langsung mengangguk dan memutar tubuhnya melakukan apaa yang diperintahkan.
"Sayang kamu makan lah pelan-pelan, aku temui mereka dulu"
Selesai mengatakannya Ferry langsung berdiri dan meninggalkan meja makan sambil mengelus kepala Lia.
Lia mendengus kesal karena Ferry mengacak-acak rambutnya.'Issshh...kebiasaan banget sih' gerutu Lia sambil merapikan rambutnya dengan tangan kiri, karena tangan kananya masih memegang burger ramen.
Ferry yang tau sang istri pasti kesal karena ulahnya tersenyum sepanjang jalan membayangkan wajah kesal sang istri yang menggemaskan.
Tanpa sadar dia sudah berada di ruang tamu, dan kedua pria yang juga sangat tampan itu heran melihat tuan muda yang terkenal dingin, arogan terukir senyum di wajahnya
Dhaniel dan Morgan saling pandang, mereka tak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat saat ini.
"Ehh...apa ini masih tuan muda yang sama? kenapa rasanya sedikit berbeda?" gumam Morgan yang terdengar Ferry
Dia langsung merubah raut wajahnya seperti kembali normal. Dingin dan tegas seperti itu lah wajah normal sang kulkas dua pintu.
Ferry dan Dhaniel, mereka berdua sibuk membaca kontrak kerjasama sebelum menandatangani surat kontrak sebagai sub vendor pada proyek pembangunan taman wisata.
walau tidak sesuai rencana, tapi Morgan atas perintah Ferry tetap membagikan besaran keuntungan sebagai sub vendor seperti perjanjian awal Ferry dan Dhaniel
"Ini tidak terlalu besar keuntungan yang kalian berikan untuk perusahaan Mananta Group?"
"Tidak, itu sesuai dengan jumlah tanggung jawab yang kalian pikul. Selama kalian mampu mengerjakan pekerjaannya sesuai dateline maka itu pantas"
Sahut Ferry tegas dan penuh perhitungan, dia sudah mengukur kemampuan Mananta Group dalam bidang kontruksi bisa dikatakan terbaik di negara S walau belum sebesar Goucher Corp tapi sebagai perusahaan rekanan dia sangat layak dipercaya untuk jadi perusahaan sub vendor.
"Sepertinya kamu sudah memperhitungkan semuanya, kalau begitu aku tak bisa menolaknya"
Mendengar jawab Dhaniel, Morgan merasa lega. setidaknya kini beban proyek kota wisata yang 60% tidak sanggup dia pikul sudah ada Goucher Corp dan Mananta group yang membantunya menutupi ketidak sanggupan perusahan dia sangat lega, walau itu artinya perusahaan dia harus berbagi keuntungan.
"Kalau tidak ada masalah lagi, kita sudah bisa menandatangani kontraknya" ucap Morgan dengan senyum sumbringa
"Eh tunggu" tiba-tiba Dhaniel menyelak ucapan Morgan, membuat Ferry mengangkat wajahnya dan menatap dingin kearah Dhaniel
"Aku cuma mau tanya apa benar yang kamu kata kan kemarin soal Ferry pemilik saham terbesar di Megantara Group?"
mendengar pertanyaan Dhaniel, Morgan melirik kearah Ferry, tapi yang dilirik tak bergeming
__ADS_1
'Kirain dia mau bikin ulah apa, ternyata ngepoin aku dia' bathin Ferry ingin tertawa karena kakak sepupunya lagi-lagi kalah cepat dalam melebarkan sayap bisnisnya
"Hei, jawab kenapa kalian berdua malah bengong aja" Ujar Dhaniel agak kesal karena diacuhkan kedua pria di depannya
"eh...itu,,anu. Aduh aku harus bilang apa? kamu kan bosnya kamu saja lah yang jelasin"
Morgan tak mau ikut campur kalau terjadi perseteruan antara Dhaniel dan Ferry. Biar bagaimana pun keduanya adalah teman dia mana bisa memihak salah satunya walaupun semua karena ulahnya
"Hhmm....Makin hebat ya adik sepupu ku ini, bisa mengakuisisi perusahaan Megantara Group tanpa sepengetahuan ku"
"Bukan aku, tapi itu kerja Morgan. Aku cuma memberinya dana dan juga sedikit informasi dalam, selebihnya semua kerja keras Morgan sendiri"
"Tetep saja, kamu benar-benar berbahaya. Otak mu itu lebih gila dari. om Juan"
Mendengar komentar Dhaniel, Ferry langsung mencibir Dhaniel
"Kau buta menyamai ku dengan pria tua itu, jelas aku jauh lebih hebat darinya"
"Kalian ayah dan anak tidak lelah-lelahnya bertarung, aku yang melihatnya saja lelah"
"Kalau begitu jangan dilihat" sahut Ferry dengan santainya membuat Dhaniel mengusap wajahnya dengan kasar, karena tak berdaya menjinakan adik sepupunya.
"Sudah kalian berdua jangan ribut lagi, kita fokus ke kontrak kerjasama saja dulu. kalau sudah kalian tanda tangani kontraknya, kalian mau lanjut ribut lagi pun aku tak akan perduli"
"Kalian sadis ihh" gerutu Morgan tak terima. Dia pun melempar balik kontrak itu ke Ferry dan Dhaniel tapi sayangnya mereka berdua menangkapnya dengan sigap membuat Morgan makin kesal karena gagal membalas perbuatan Ferry dan Dhaniel.
"Kalian adik kakak menindas ku yang seorang anak yatim piatu, yang hidup sebatang kara sedari kecil, aku memang sudah terbiasa ditindas orang....bla...bla...bla"
"Ini kontraknya" Ferry melempar kontraknya kearah Morgan, kali ini Morgan sudah waspada jadi dia bisa menangkapnya
"aku kembali keatas dulu. Jika lebih lama aku bersama kalian disini, aku bisa terkontaminasi jadi orang alay seperti kalian"
usai mengatakan kalimatnya Ferry langsung berdiri meninggalkan Dhaniel dan Morgan diruang tamu.
Sebenarnya Ferry tidak pergi naik keatas, melainkan dia pergi keruang bacanya untuk menelphon Leon
Ferry ingin menanyakan soal tugas yang dia berikan semalam pada Leon, Ferry penasaran apakah Leon sudah mengerjakannya atau belum
"Bagaimana tugas mu? apa sudah kamu dikerjakan?" Ferry langsung to the poin mengatakan apa tujuannya menelphon begitu sambungan telphon terhubung
"Bos tenang saja sebentar lagi bos nyalakan tv, bos akan liat sendiri hasil kerja ku"
Sahut Leon dengan jumawa karena dia senang sekali saat melihat setiap usaha Musa di grebek oleh pihak berwewenang negara S.
"Kerja bagus kalau begitu aku akan menyalakan tv sekarang"
__ADS_1
Ferry tak menunggu jawaban dari Leon dia langsung memutus panggilan telphon dan keluar dari ruang baca
tadinya Ferry berniat naik keatas untuk memanggil Lia, siapa sangka begitu dia melewati ruang tv suara tawa renyah istrinya terdengar bersamaan dengan suara tawa Morgan dan Dhaniel
Ferry pun memutar langkahnya tidak jadi menuju tangga tapi berjalan menuju ke ruang tv dimana asal suara tawa istrinya
Ferry berjalan dengan cepat karena tak sabar ingin tau hal lucu apa yang membuat sang istri bisa tertawa begitu lepas.
"Apa yang lucu?" ucap Ferry begitu melihat mereka bertiga sedang ngemil buah sambil nonton film komedi.
Ketiganya langsung menoleh kearah asal suara, saat melihat sang beruang kutub, kulkas dua pintu yang berdiri dengan wajah khas Ferry yang dingin dan angker, membuat Dhaniel dan Morgan enggan bersuara.
Akhirnya Lia yang mau tak mau menjawab pertanyaan sang suami.
Lia langsung meletakan piring buah ditangannya diatas meja lalu berjalan kearah sang suami
"Sudah selesai urusannya?" tanya Lia sambil mendekati Ferry
Ferry melihat Lia aura wajahnya pun berubah lembut seketika "Sudah, tadinya aku mau keatas mencari mu tapi malah mendengar suara tawa mu"
"Iya tadi ada adegan lucu di film membuat kami bertiga tertawa, kalau kamu melihatnya pun kamu pasti akan tertawa"
"Tidak mungkin" sahut Dhaniel dan Morgan bersamaan begitu mendengar kalimat yang diucapkan Lia.
"Jangan perdulikan mereka" ujar Ferry sambil menarik pinggang Lia kedalam pelukannya.
"Ehh...jangan begini ada kak Dhaniel dan Morgan disini" Lia mengucapkannya sambil berusaha melepas tangan Ferry yang melingkar dipinggangnya.
Tak bukannya terlepas Ferry malah makin erat memeluk sang istri lalu berjalan kearah sofa untuk ikut nonton tv
"Kelihatannya beruang kutub kita benar-benar bucin akut" ledek Morgan
"Tampaknya kamu begitu senggang belakangan"
Mendengar ucapan sarkas dari Ferry, Morgan langsung menjawab "Sibuk, sudah sangat sibuk. Kalau begitu aku pamit dulu"
Morgan sudah bersiap bangun untuk meninggalkan ruang tv tapi Ferry mencegahnya
"Duduk lah, kita akan menonton pertunjukan menarik sebentar lagi"
Mendengar titah Ferry, Morgan kembali mendudukan bokongnya di atas sofa.
Ferry duduk sambil memeluk Lia dengan posesif dan meletakan dagunya dibahu Lia lalu menekan tombol remote tv ke chanel berita, membuat ketiga orang lainnya saling pandang dan memiliki pertanyaan yang sama dalam hati
'Apa yang mau dia tonton?'
__ADS_1