
Selesai berselanjar di club designer aku menelphon Mira. Aku ingin meminta pendapat dan masukannya, karena aku benar-benar bimbang dan ragu antara menjualnya atau tidak design baju couple itu. Aku membuatnya dengan cinta dimalam aku galau memikirkan keberadaan si kutu buku. Dan aku berharap kelak aku akan mengenakan gaun yang senada dengannya seperti design yang ku buat itu. Tapi sekarang kondisiku memang membutuhkan uang banyak sebentar lagi aku akan ujian semesteran, Bimo minggu depan sudah ujian nasional dan sehabis itu aku harus mengeluarkan banyak uang untuk kuliah kedokteran Bimo dan juga kuliah ku. kalau hanya mengandalkan uang peninggalan papa tanpa ada pamasukan aku khawatir uang itu akan habis dan tidak cukup untuk semuanya.
Tok...tok...tok
pintu kamarku tiba-tiba diketuk, tengah malam begini?. Aku langsung bangkit dan menuju pintu kamar.
"Mbok, ada apa malam-malam begini?" ucapku bingung karena tidak biasanya si mbok belum tidur jam 11 malam gini.
"Maaf non, anu...mang Ujang barusan telphon katanya tuan...tuan..."
"Papa kenapa mbok? bicara yang jelas". ucapku mulai panik.
"Itu non, anu..." si mbok makin bingung dan panik sehingga susah sekali mengatakannya kerongkongannya rasa seperti dicekit sukar sekali mengeluarkan suara.
Aku pun akhirnya kembali ke kamar mengambil Ponsel ku dan menelphon mang Ujang.
"Mang Ujang, papa kenapa?" tanyaku to the poin.
"Alhamdulillah sudah tidak apa-apa sekarang non...semua sudah kembali normal, mamang tadi cuma khawatir kalau terjadi apa-apa dan tidak menyampaikannya pada orang rumah". jelas mang Ujang sambil menghela nafas panjang.
"Syukurlah, tolong sampaikan ke Bimo rahasiakan kejadian malam ini dari mama jangan sampai mama tau. Makasih ya mang, kalau begitu Lia tutup telphonnya ya" Sambil menutup telphon aku berjalan keluar dan disana masih ada si mbok dengan posisinya yang tak berubah.
__ADS_1
"Mbok rahasiakan hal ini pada mama ya, cukup kita saja yang tau..oke" ucapku pada si mbok, sambil pamit masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan tidur.
#POV Ferry#
Aku senang sekali walau jarak memisahkan ku begitu jauh dengan Lia, tapi aku merasa hubungan kami makin dekat. Dia sudah mulai juga mau berbagi cerita dengan ku, tidak setertutup dulu yang sangat menjaga jarak. Tapi sayang jadwal ku tiga hari ini benar-benar padat dan sering hilang sinyal sehingga aku tak bisa menghubungi Lia sama sekali. Karena ini dikepulauan panjang yang memang belum berpenghuni, pulau ini merupakan pulau pribadi milik Goucher Corp. Papa memintaku menijau pulau ini untuk membangun hotel dan mencari solusi tentang sinyal agar kuat dan tidak terganggu di pulau ini. Selain berurusan dengan para arsitek, tenaga IT, aku juga harus metting membetuk management untuk hotel ini nantinya. Tapi syukurlah semuanya berjalan lancar dan sekarang aku akan kembali ke negara A melanjutkan pekerjaan lainnya. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin mendengar suara Lia, suaranya sudah jadi candu ditelinga ku.
Disepanjang jalan aku sudah senyum-senyum sendiri membaca chat dari Lia yang hampir tiap hari dia Chat tiga sampai lima kali. "Ternyata dia mengkhawatirkan aku, mungkin kah dia sudah jatuh cinta denganku? tunggu dengan si kutu buku bukan dengan mu Ferry Goucher, Siapa perduli toh sama saja keduanya adalah aku...hahahaha"
Jerry yang melihat ku senyum-senyum sendiri menatap ponsel hanya bisa geleng-geleng. "Cinta memang membuat orang jadi gila". gumamnya yang keras biar aku mendengarnya. Tapi aku tak menggubrisnya. "Anjing menggonggong khafilah berlalu" bathinku
"Wow bagaimana mungkin dia, tapi ini benar-benar dia, koq bisa dia masuk club designer ini?, kenapa karenina mengaprovenya?". Biasanya dia sangat overprotect dengan club designer ini walau pun berbayar club ini dia buat untuk ajang jual beli design dan memberi inspirasi pada designer yang kadang mengalami kebuntuan dalam melukis.
"Hei kenapa wajah mu seperti melihat hantu begitu?" tanyaku apa Jerry karena tiba-tiba dia membuat kegaduhan.
"Koq bisa, dia kan belum lulus jadi designer...tumben karenina begitu longgar". tanyaku mulai penasaran.
Lalu Jerry mulai menjelaskan apa yang terjadi, ternyata Lia pernah menjadi juara lomba Designer muda berbakat di Berlin yang kebetulan saat itu karenina lah jurinya.
"Tuan muda, kamu lihat lah sketsa gambar Lia ini" ucap Jerry membuatku bangkit dari kursi duduk ku untuk mengambil ponsel Jerry. Betapa terkejutnya aku saat melihat posting sketsa gambar baju couple yang Lia posting, aku merasa pria di gambar itu adalah aku. Aku yakin betul itu aku dan tanggal dimana Lia menanda tangani sketsa gambarnya tanggal dimana malam itu aku mulai chat panjang dengannya. "Bagaimana bisa Lia melukis wajahku padahal dia chat dengan aku yang culun dan selalu dipanggil kutu buku". Apa jangan-jangan dia menyukaiku sejak diciuman itu, ahh mana mungkin waktu itu dia marah besar sampai habis aku dimaki-maki olehnya.
"Jerry kirim foto sketsa itu ke ponsel ku, sekarang" pintaku pada Jerry sambil duduk lagi setelah ku kembalikan ponselnya ke tangan Jerry.
__ADS_1
Tak lama gambar sketsa pun dikirim Jerry ke ponsel ku. Makin ku pandang sketsa itu makin yakin itu gambar ku.
"Jerry apa Lia bermaksud menjual sketsanya di club?"tanyaku pada Jerry.
"Aku lihat sih tidak tuan muda, dia hanya di minta member club untuk memposting design hasil karyanya, tapi ini sudah pada mulai menawar sketsa gambar nona Lia, tuan muda" jelas Jerry membuat jantungku deg-degan, takut Lia menjual design itu ke orang lain.
"Beli design itu berapa pun harganya, aku harus memilikinya" perintahku pada Jerry yang mendapat anggukan dari Jerry.
"Tuan muda, nona Lia tidak mau menjual lukisannya. Semua member sedang membantuku merayunya agar mau menjual designnya padaku, tapi dia bilang mau pikir-pikir dulu"
"Beri dia waktu tiga hari untuk berfikir".
"Baik tuan muda". sambil mengangukan kepala Jerry mengetik sesuatu dilayar ponselnya entah apa. Aku kembali menatap sketsa gambar milik Lia, "Aku akan membuat gaun ini untuk kita kenakan dipesta pertunangan kita nanti" hayalanku buyar karena Jerry mengagetkan ku.
"Tuan Muda, pesawat sudah landing. Apa anda tidak niat turun?" Sambil cengengesan Jerry mencolek-colek bahuku.
"Jerry kamu sudah bosan hidup rupanya, mau gajimu aku potong 50%, hah" ancamku pada Jerry.
"Jangan tuan muda, tidak berani" sambil menundukan kepala.
"Sudah ayo turun, apa jadwal ku habis ini?" tanyaku sambil turun dari pesawat jet. Jerry menjelaskan panjang lebar kegiatan ku. "Lebih baik aku menghubungi Lia setelah semuanya selesai, toh saat ini dia pasti sudah terlelap" sambil melihat jam tanganku lalu melanjutkan seluruh kegiatan ku dari mulai metting dengan perusahan A, B, C hingga makan malam dengan gubernur semua selesai ku kerjakan. Jerry mengantarku ke apartemen tempat ternyaman dan paling tenang dalam hidup ku.
__ADS_1
Aku langsung membersihkan diri dan merebahkan diriku diranjang ternyaman lalu membuka ruang obrolan dengan Lia dan membalas pesannya satu persatu semua pertanyaannya aku jawab lalu aku tidur dengan pulasnya ntah karena lelah atau karena membayangkan Lia melukis wajahku.