
Aku masuk kelas berikutnya dimana Mira sudah berada duluan dalam kelas dan menyediakan kursi untuk ku.
"Senang sekali yang habis makan suap-suapan dengan suami? sampai wajahnya terus tersenyum" goda Mira begitu aku mendudukan bokongku.
"Cepat lah menikah biar wajah mu slalu dihiasi senyuman, Rendy kan sudah siap untuk menikah" celoteh ku asal yang langsung mendapat cibikan bibir manyun dari Mira.
"Kalian berdua kalau mau terus mengobrol silahkan keluar dari kelas saya" tiba-tiba suara Si botak bergema diruang kelas sambil mengarahkan telunjuknya ke aku dan Mira.
Aku dan Mira langsung spontan terdiam dan menggelengkan kepala. "Maaf pak" ucap kami bersamaan dan sang dosen kembali melanjutkan pembelajaran. Aku dan Mira bernafas lega tidak jadi dikeluarkan dari kelas dan kami pun tak lagi mengobrol selama kelas berlangsung hingga suara bel berberdering baru lah aku dan Mira kembali saling mengejek
"Aku akan membelikan mu kado mobil sport terbaru jika kamu menikah dengan Rendy" ucapku pada Mira sambil menelphon Ferry dan berjalan menuju parkiran mobil.
"Sayang kelasku sudah selesai, kamu dimana?" tanyaku pada Ferry.
"Aku sudah diparkiran lima menit yang lalu, kamu langsung kesini saja" pinta Ferry
"iya ini aku sedang on the way ke parkiran" jelasku
"Oke aku tunggu" jawab Ferry singkat
"Sayang, are you oke?" tanyaku agak khawatir karena si bule tidak terlalu bawel seperti biasanya.
"I'M fine baby, don't worry" ucapnya lirih semakin membuatku yakin terjadi sesuatu.
"Baiklah kalau begitu aku tutup telphonnya biar aku lebih fokus jalan menuju parkiran" ujarku
"oke, hati-hati tidak perlu tergesa-gesa aku akan setia menunggu mu disini...hehehe" ucap Ferry sambil menggombal.
"Siap cintahku". lalu ku matikan sambungan telphon dan saat aku mau memasukan ponselku ternyata mama menelphon ku berkali-kali. "ada apa ya?, apa ada hubungannya dengan suasana hati Ferry yang tiba-tiba berubah sendu?" bathinku mulai menganalisa.
"Kamu mau melamun disini saja? suami mu nanti dilalerin menunggu mu kelamaan" ledek Mira membuyar lamunanku. Aku hanya mencibikan bibirku lalu berjalan ke arah parkiran.
"Owh iya Mir, kamu mau langsung ke rumah sakit?" tanyak selidik.
__ADS_1
"Maunya sih tidak tapi bayi besar manja itu sudah menelphon dan mengirimi ku puluhan pesan menanyakan kapan aku kesana. Rasanya bayar Ferry tak sebanding dengan kelelahan ku mengurus Rendy" Ujar Mira lesu.
"Siapa suruh matre dengar uang langsung iya saja tanpa berfikir panjang" sahutku agak sedikit kesal dengan sikap matre Mira padahal dia terlahir dari keluaga kaya berkecukupan tapi sikap matrenya akut sekali.
"Hahahaaha...bagaimana aku tidak setuju jika harga yang suami mu tawarkan sangat menggiurkan, cuma merawat Rendy selama seminggu di rumah sakit aku bisa mendapatkan bayaran senilai mobil kijang capsul" tawa Mira membahana penuh kebahagian.
"Wow, yang benar kamu? tanyaku penasaran.
"ngapaind aku bohong sehari aku dapat bayar 30juta, bagaimana aku bisa menolaknya. mau nyari duit di mana pun aku nggak akan dapet bayar sebesar itu" jelas Mira membuatku mengangkukan kepala.
"Tuh suami mu sudah menunggu mu sana berlari lah kepelukannya...nanti brondongmu menangis jika tidak disayang-sayang" ledek Mira padaku.
"Sial kau, beda kami tidak jauh. Lagian kamu lihat jika aku berdiri disampingnya memang aku terlihat tua darinya?" ucapku percaya diri.
"Memang, tampang mu sejak habis menikah jadi lebih tua sepuluh tahun...hahahahaa" jawab Mira sambil berlari kearah mobilnya. Membuatku mau tak mau hanya menahan dongkol dihati. Kesal karena dibilang tua oleh Mira padahal aku kan lebih mudah enam bulan dari dia. huh.
"Hei, kenapa wajah cantik istriku memberengut seperti ini?" ucap Ferry sambil mengangkat daguku.
"Memang aku terlihat tua?" ucapku Lirih, yang langsung disambut tawa Ferry.
"Aku juga slalu merasa begitu setiap kali bercernin, tapi tadi Mira bilang wajahku sejak menikah terlihat lebih tua sepuluh tahun" Jelasku.
"Dia hanya meledek mu sayang, kamu pasti dari tadi juga meledeki Mira makanya dia membalasmu, sudah jangan dimasukan hati". Ujar Ferry sambil membuka pintu mobil untuk ku kemudian memasangkan safetybelt dan secepat kilat duduk di depan stir.
"Sayang, kita mau kemana kenapa arahnya bukan ke pondok indah?" tanyaku melihat Ferry melajukan mobil berlawanan arah.
"iya, kita mau ke rumah mama" tadi mama menelphon mi berkali-kali tapi kamu tidak angkat jadi mama menelphon ku. Mama meminta kita ke rumahnya malam ini karena mama mengadakan acara pengajian buat syukuran rumah sekaligus minta do'a dari anak-anak yatim piatu untuk kesembuhan papa". Jelas Ferry yang ku anggukan.
"Owh pantas td ku lihat banyak misscall dari mama dan ada juga pesan tapi belum ku baca...Hehehee" ujarku sambil terkekeh.
"Kenapa tidak telphon balik dan baca pesannya mama?", tanya Ferry selidik
"Aku paling takut saat melihat misscall mama dan juga pesan mama yang terlihat tergesa-gesa dan mendesak. pikiran buruk slalu menghantuiku jadi aku pilih untuk tidak melihat maupun membacanya sampai hatiku siap" jelasku dengan wajah masam yang paksakan tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana kalau itu penting dan memang berita yang harus segera kamu ketahui?" tanya Ferry lagi membuatku bingung harus menjawab apa. jadi aku hanya mengendikan bahuku.
"Sayang, lain kali kalau ada yang telphon berkali-kali begitu kamu melihatnya segeralah telphon balik karena orang itu menuggu kabar mu, dan buang jauh-jauh pikiran buruk mu itu karena itu tidak akan pernah terjadi" ujar Ferry meyakinkan ku.
"Baik, aku mengerti" jawabku singkat. yang membuat Ferry menarik nafas dalam dan berat.
"Sekarang katakan padaku kamu kenapa? aku merasa kamu seperti tertekan? apa ada masalah dengan pekerjaan mu?" tanyaku selidik karena yakin terjadi sesuatu pada Ferry.
"Tidak ada yang perlu ku ceritakan, semua baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah mungkin karena kurang tidur" jawab Ferry tak memuaskan ku
"Sayang aku paling tidak suka dibohongin" ujar ku menekan Ferry berharap dia mau terbuka dan jujur padaku.
"Hhhhmmmm.....tarik nafas panjang dan berat sebelum dia memulai ceritanya. "Nampaknya bukan masalah ringan, masalah apa ya kira-kira?" aku berusaha menebak-nebak.
"Jerry tadi telphon, katanya papi dan mami sudah kembali dari negara SG. Dan tau semua rencanaku untuk tinggal serumah dengan mu. Dia mempersulit Jerry, sehingga sampai sekarang Jerry belum berhasil membeli rumah untuk kita" Jelas Ferry.
"Hanya itu?" ucapku setelah mendengar cerita Ferry, yang dianggukan oleh Ferry.
Minta Jerry kirim link perumahan dan juga nomer telpone pemiliknya pada ku, biar aku yang urus semuanya. Kamu siap kan saja uangnya" ujarku antusias.
"Kamu punya ide apa untuk membeli rumah itu?" tanya Ferry penasaran. "Rahasia" jawabku santai sambil mengetik sesuatu di ponselku
"Mira, kirimi aku Foto copy KTP, KK dan juga Rekening tabungan mu tiga bulan terkahir" pesanku pada Mira.
"Buat apa?" -Mira-
"Namamu mau ku pinjam buat membeli rumah di negara A" setelah itu baru aku akan balik nama menjadi nama Ferry Goucher karena dia kesulitab membeli rumah pake namanya langsung. Papinya memepersulit" jelasku pada Mira.
"owh..oke, nanti akan aku kirim. Sekarang aku masih menyetir" ujar Mira
"oke, tks alot" ucapku diakhir pesan.
"Sami-sami say" balas Mira.
__ADS_1
Aku pun senyum-senyum semoga ide ini berhasil.
makasih ya readers udah berkenan mampir baca karyaku. ditunggu komen dan juga like plus votenya biar emak makin semangat nulisnya.