Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ujian Terakhir


__ADS_3

"Sayang berapa hari lagi ujian mu usai?" tanya Ferry disela-sela sarapannya.


"Hari ini, ujian terakhir ku"


"Koq cepet, bukannya seharusnya Jum'at ya?" tanya Ferry herana.


"Iya itu Karena dua mata kuliah terakhir aku tidak perlu ikut ujian lagi, itu kompensasi yang diberikan bu Raras karena aku mau ikut lomba design couple kemarin" Jelas Lia membuat sebuah senyum langsung melengkung di bibir si bule tamfan bermata biru.


"Bagus kalau begitu"


"iya memang bagus" sahut Lia santai karena tidak tau isi kepala suaminya.


Mereka pun menghabiskan sarapan dengan tenang dan asik dengan pikirannya masing-masing.


Selesai sarapan seperti hari-hari sebelumnya Ferry mengantar Lia sendiri ke kampus tanpa supir dan akan menunggu Lia sampai selesai ujian di ruangan Rektor sambil memeriksa laporan keuangan dan kinerja dosen dan karyawan.


Tapi hari ini begitu sampai di parkiran kampus dan Lia pergi menuju ruang kelasnya, Ferry justru memutar arah mobil menuju rumah sakit dimana papa di rawat.


"Gavin ada yang harus aku bicarakan dengan mu?"


"Datang lah ke rumah sakit se..." tut...tut..tut.


'Aiiissshh, kebiasaan buruk orang belum selesai bicara sudah dia putus' Gerutu Gavin karena Ferry memutus sambung telphon tanpa aba-aba.


"Heii .... kamu bisa lebih sopan tidak masuk ke ruangan ku ketok pintu dulu kek....ckckck" Gavin berdecak kesal Ferry yang di gerutuin cuek aja dia langsung mendudukkan bokongnya di sofa panjang yang ada di ruangan Gavin.


"Cepat lah kemari" Ujar Ferry dengan nada memerintah.a


Walau Gavin kesal tapi dia bisa apa selain mengikuti mau anak dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


Gavin pun duduk di kursi tepat di depan Ferry.


"Jadi bagaimana perkembangan papanya Lia?".


"Jaringan otak sudah mulai memberi respon tapi belum signifikan"


"Butuh berapa lama lagi untuk bisa sadar"


"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa pada mu, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin"


"Lakukan yang terbaik, kemungkinan besar hari senin pagi aku akan take off ke negara A bersama Lia. Kamu tetap lah di sini rawat papanya Lia sebaik mungkin. Jangan kecewakan aku".


"Baik, akan aku usahakan yang terbaik"

__ADS_1


"Satu hal lagi, kabari aku terus perkembangannya"


"Baik"


"Om Juan sudah tau kamu akan kembali ke Negara membawa Lia?"


"Harusnya dia sudah tau, kenapa kamu tanya soal itu?"


"Karena aku dengan rumor di kota A pangeran tampan yang tak suka wanita akan segera meminang Merry"


"Kamu mau menikahi Merry, bagus lah jadi dia tidak akan menyulitkan Lia disana" sahut Ferry membuat mata Gavin yang tertutup kacamata melotot.


"Siapa yang mau dengan wanita berhati ular"


"Hahahahaaha ... kalau kamu saja tidak mau, kamu pikir aku mau?"


tawa Ferry langsung membuat suasana diruangan dokter Gavin yang tadinya tegang jadi sedikit santai.


"Tapi Merry benar-benar membuat rumor dikalangan anak-anak bangsawan kota A kalau kamu akan menikahinya dalam waktu dekat"


Alis Ferry mengerut dalam mendengar ucapan Gavin. "itu urusan dia, nantinya dia sendiri yang akan malu"


"kamu jangan santai begitu, wanita yang terobsesi sulit dihadapi karena logika mereka sudah dikendalikan oleh hasrat ingin memiliki tanpa bisa dihalangi. Aku khawatir dia akan bertindak yang membahayakan Lia jika dia tau kalian sudah menikah"


"Jelas saja aku khawatir, aku lihat Lia begitu manis dan lembut seperti tidak ada sisi jahat dalam dirinya. Andai dia belum menikah aku pasti akan mengejarnya"


Ferry melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam kearah Gavin saat mendengar pujian Gavin untuk istri tercintanya.


"Punya nyali juga kamu komentar begitu tentang istri ku"


"Hehehehe...aku hanya mengatakan kebenaran, kamu buat apa marah? Aku juga tidak akan merebutnya dari mu"


"Kamu mau rebut juga dia tidak akan mau dengan mata empat seperti mu" sahut Ferry merasa diatas angin.


"Kalau kamu sudah tidak ada urusan lagi, pergilah aku masih ada pasien antri di luar"


"Baiklah aku pergi" Ferry pun meninggalkan ruangan Gavin tanpa menoleh lagi.


Ferry mampir ke ruangan papanya Lia memastikan kalau para perawat dan bodyguard bekerja dengan baik sepeninggalnya nanti.


Namun saat Ferry sampai di ruangan papanya Lia ternyata Mamanya Lia afa di dalam kamar bersama sang perawat sedang ngobrol, ntah apa yang mereka obrolkan.


"Ehh .. nak Ferry" sapa mama begitu melihat wajah tampan Ferry muncul dari balik pintu. sedangkan si perawat langsung berdiri dan keluar kamar papa.

__ADS_1


Ferry langsung mendekati mama dan mencium tangan dan kedua pipinya seraya memeluk mama.


"Mama udah lama disini?" tanya Ferry saat mendudukan bokongnya di single sofa.


"Mama dari pagi di sini kebetulan tidak ada kegiatan apa-apa jadi sehabis sarapan mama ke sini, Bimo sedang sibuk persiapan masuk kuliah dan juga sibuk dengan Cyntia, pacarnya Bimo satu kampus beda jurusan".


"Carilah kesibukan ma, papa biar Gavin, perawat dan juga bodyguard yang jaga. Nikmati hidup mama"


"Sebenernya mama mau begitu cuma kejadian beberapa hari lalu membuat mama cemas jadi mama takut buat ninggalin papa seperti sebelum-sebelumnya".


"Mama, papa akan baik-baik saja insyallah kejadian kemarin tidak akan terulang lagi"


"Nak Ferry, nggak akan ngerti perasaan mama saat itu. Takut, sedih khawatir kehilangan papa. Segala pikiran buruk menghantui mama saat itu. Sejak hari itu mama takut buat ninggalin papa terlalu lama hanya dengan pengawasan suster"


Akhirnya Ferry hanya duduk manis mendengarkan keluh kesah mama, sambil sesekali berkomentar singkat meyakinkan mama kalau semua akan baik-baik saja.


Sampai bunyi ponsel Ferry berdering dan nama Lia yang ada di layar ponselnya Ferry baru ingat kalau dia harus menjemput Lia di kampus.


"Sayang, kamu dimana? aku keparkirab mobil mu tidak ada?"


"Maaf yank, kamu tunggu aku 20 menit aku on the way jemput"


"Kamu memang dimana?"


"Di rumah sakit, mau ketemu Gavin dan sekalian jenguk papa. ehh ternyata ada mama, aku jadi lupa kalau harus jemput kamu. Maaf ya"


"Owh begitu, kalau gitu aku naik taksi online aja ke rumah sakit. kamu tunggu aku disana aja"


"Kamu yakin?" tanya Ferry khawatir.


"yakin dari pada kamu kesini kebut-kebutan bikin aku khawatir lebih baik aku pake taksi online kesana"


"Baiklah" Ferry pun menyetujui Saran Lia dan telphon pun diputus.


"Lia ya nak Ferry?"


"Iya ma, Ferry sampai lupa kalau harus jemput Lia keasikan ngobrol sama mama".


"Hahahaa...mama tidak menyangka ternyata pesona mama lebih kuat dari Lia". Tawa mama penuh percaya diri membuat Ferry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


'Emak-emak kalau penyakit pedenya kambuh susah dikendalikan, aku juga tidak enak untuk membantahnya'. gumam Ferry dalam hati melihat tingkah mama.


Hai readers pada kangen gk nih? #kepedean

__ADS_1


jangan lupa komen dan like yes


__ADS_2