Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Lia ini Menantuku


__ADS_3

"Maksdnya?" tanyaku bingung mendengar penjelasan Ferry. 'Dia meminta Shella menemaniku?'


"Saat aku meninggalkan mu sendirian di mobil, aku mengirim pesan pada Shella agar menghubungi mu dan menemani mu karena kamu sedang marah dan tidak mau dekat dengan ku. Sedangkan aku dipanggil papi lalu bertemu dengan kolega bisnis dari jepang".


"Benarkah?" sahutku heran saat mendengar penjelasana Ferry, kalau Shella sudah tau kami sedang perang dingin kenapa dia tadi pura-pura tidak tau saat bertemu dengan ku.


"Kenapa malah melamun?" tanya Ferry heran melihat tingkahku sampai mengerutkan alisnya


"Itu aku...ahh sudah lupakan saja" sahutku malas memperpanjang masalah ini.


"Jadi kami dan Dion baru kenal hari ini? semua karena Shella? Dia yang sengaja merencanakan ini? mau bikin aku cemburu? Hebat benar anak kecil ini berani mengerjaiku" Celoteh Ferry yang hanya ku anggukan karena memang begitu kenyataannya.


"Kamu jangan marah terlalu keras pada Shella dia hanya ingin kita berbaikan bukan berniat buruk" Aku berusaha menenangkan Ferry karena kelihatannya wajahnya kesel mengetahui kalau dia habis dikerjain adiknya.


"Kamu juga kenapa mau ikut dalam rencana Shella?, ingin membuatku celaka?, kamu tau kan kalau aku cemburu dengan mu suka lose control?"


"Iya maaf aku salah, tapi itu kan karena aku tidak tahu kalau kamu masih perduli dengan ku, aku pikir saat kamu pergi begitu saja meninggalkan ku, kamu akan mengacuhkan ku selama dipesta" Ucapku sambil menunduk.


"Iya aku maafkan kan lain kali jangan ngambek-ngambek lagi cuma gara-gara aku mencium mu di tempat umum, kamu istriku, toh aku hanya mencium mu sebentar tidak lama-lama karena gemesh liat bibir manyum mu"


Ucap Ferry sambil memegang daguku membuat wajahku terangkat dan mata kami saling bertemu.


"Jadi sekarang kita baikan?" gumamku membuat si bule terkekeh dan mengacak-acak rambutku.


"Sayang...kamu jangan merusak rambutku, ini hair stylish artis yang melakukannya memakan banyak waktu membuatku secantik hari ini"


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita temui mami. Mami sudah sejak tadi memintaku membawa mu, mami mau memperkenalkan mu pada teman-temannya sebagai menantunya agar mereka tidak terus mengharapkan ku jadi menantu mereka".


Ucap Ferry jumawa, tapi siapa juga orang tua yang tidak ingin memiliki menantu seperti Ferry, sudah tampan, memiliki kecerdasan diatas rata-rata dan harta berlimpah.


Kami pun berjalan menuju sebuah ruangan yang isinya wanita-wanita paruh bayar dengan dandanan elegan dan semua yang mereka kenakan barang-barang brand terkenal. Saat kami tiba semua mata menatap kami.


"Sayang kesini" mendengar panggilan mami aku dan Ferry menoleh ke asal suara lalu berjalan mendekati mami.


"Kalian semua udah kenal kan sama putra ku yang tampan ini?" Semua orang menganggukan kepala tanda sudah kenal dengan Ferry.


"Tentu saja kami kenal, jeng. Nah yang kamu belum kenal itu siapa wanita disebelahnya" ucap salah seorang wanita paruh baya dengan make up tebal dan seksi untuk ukuran usianya terlihat jadi seperti wanita penggoda.

__ADS_1


"Kenalin ya jeng-jeng semua ini Lia Aghata Putri kalian pasti pernah denger dan baca beritanya kan di majalah fasion? Dia ini designer muda berbakat yang lagi tenar dan designnya banyak di gandrungi para designer dunia"


Mami memperkenalkan ku dengan berlebihan sekali. membuatku jadi malu sendiri.


"Wah benarkan aslinya ternyata jauh lebih cantik dari majalah, aku mau dunk di buatkan baju nak Lia" ucap salah seorang wanita paruh baya dengan wajah oriental. "Kamu sudah punya pacar belum, mau ku kenalkan dengan putra sulungku dia berusia 28 tahun sangat tampan dan seorang dokter" sambungnya wanita itu lagi sontak membuat wajah Ferry menghitam menahan kesal.


"Enak saja mau kamu jodohkan dengan putramu, Lia ini menantuku. Makanya aku minta Ferry membawanya kesini mau ku pamerkan pada kalian".


"Wah kamu menikahkan anak mu tidak mengundang kami semua...kamu sudah tidak menganggap kami lagi"


suara riuh langsung sahut sahutan di ruangan yang tadinya semua orang terlihat elegan kita jadi sangar dan tak menjaga intonasi lagi.


"Aduh kalian ini kenapa malah jadi ribut, aku akan membuat pesta di negara A kalian tunggu saja undangannya, mereka ini menikah diam-diam di negara IND karena putraku mau memboyongnya ke negara A, tapi orang tua Lia tidak mengizinkannya jika mereka belum resmi menikah"


"Owh jadi begitu ceritanya"


"kami pikir kamu sudah tidak mau kenal kami"


"iya aku pikir juga begitu tadi"


"menikah kan anak tidak mengundang kita semua"


"Auuu...sakit mi" gerutu Ferry sambil mengelus kepalanya.


"Biar kamu rasa" sahut mami dengan wajah kesal.


"Mami semuanya kan aku siapkan dengan cepat tanpa rencana..mami jangan gitu aku janji begitu Lia pindah ke negara A aku akan menggelar pesta pernikahan termewah, oke jangan pasang muka manyun begitu lagi wajah cantik mami jadi terlihat tua"


"Beraninya kamu malah menghina mami". mami mencubiti pinggang Ferry sambil memukuli lengannya dengan kipas ditangan mami.


"Mi sudah kasian suami Lia dipukulin gitu"


"Kamu itu, mami membela mu kamu malah membela suami tengil mu ini...huuftt"


"Mami kan wanita paling baik hati, cantik dan pemaaf, maafin suami Lia ya..mulutnya memang tidak ada remnya jadi suka begitu, mami jangan pukul lagi ya"


Rayuku sambil memeluk pinggang mami dan menyandarkan daguku di bahunya.

__ADS_1


"Mulut mu manis sekali. Kamu beruntung memiliki istri yang siap membela mu. Awas kamu sekali lagi berani mengatai mami tua".


"Tidak berani lagi, ampun nyonya besar".


"Ayo kita pergi" Mami mengajak ku pergi dan tidak menghiraukan Ferry.


"Ehh mi, mau kemana?" tanyaku karena mami menggandengku menuju sudut ruangan dimana disana duduk wanita dengan rambut sudah penuh dengan uban.


"Mami mau mengenalkan mu pada seseorang, kamu menurutlah"


"Baik, aku mengerti" sahutku.


"Nyonya Mahdalena kenalkan ini menantuku, Lia Putri Aghata" Ucap Mami memperkenalkan ku, aku mengulurkan tanganku dan mencium tangan wanita tua itu dengan sopan dan dia tersenyum padaku membuat jantungku yang berdegup cepat karena gugup jadi sedikit santai melihat keramahan nyonya tua ini.


"Tidak biasa kamu membawa seseorang untuk dikenalkan padaku, apa ada maksud lain?" tanya nyonya mahdalena pada mami.


"Nyonya Mahdalena kamu memang sangat jeli dan paling tau tentangku...hehehehe" ucap mami terjeda tawa malu-malunya.


"Aku memperkenalkan Lia pada mu memang ada maksudnya, dia ini seorang designer dan ku dengar kamu berniat membuat baju untuk seluruh karyawan hotel mu. Bagaimana kalau anda memberi kesempatan menantu ku mendesign baju seragam para karyawan mu?"


Mendengar ucapan mami membuatku terkejut, tak ku sangka mami begitu peduli dengan ku sampai dia mencarikan ku job nampaknya mami benar menyayangiku seperti dia menyayangi Ferry.


"Kalau soal itu aku tidak bisa memberikannya secara cuma-cuma itu semua tergantung kemampuan menantumu"


"Kamu jangan khawatir aku tidak akan memaksamu, aku hanya mau kamu memberinya kesempatan untuk mencoba saja, jika kamu suka kamu bisa pakai jika tidak memang nasib menantuku yang kurang beruntung"


"Kalau begitu, kamu duduk lah disini" Wanita tua itu memintaku untuk duduk di sampingnya. Kemudian dia menyuruh seseorang mengambilkan alat gambar untuk ku.


"Kamu sibuk kaan lah diri mu, tinggalkan menantu mu disini bersama ku" ucap wanita tua itu pada mami, membuat mami jadi bingung apa yang harus dilakukan.


"Kenapa kamu masih diam saja disitu?" ucap si wanita tua pada mami.


"Ehh...itu aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, anak ku bisa memarahiku kalau istri kesayangannya ini ku tinggalkan begitu saja.


"Suruh saja suaminya kesini menemani, aku malas melihat wajah manis mu. Membuatku ingat putraku yang jadi pemabuk karena cintanya yang kamu tolak".


"Ehhh...nyonya kamu masih saja mengingat hal yang puluhan tahun sudah berlalu...aku mana berdaya saat itu kamu sendiri tau bukan, aku menikah karena dijodohkan orang tua bisa apa aku"

__ADS_1


"Ya..ya..ya,,karena itu aku tidak terlalu membenci mu tapi jika melihat wajah mu terlalu lama, aku jadi kesal. Kalau kamu mau menantu mu ini aku beri kesempatan kamu cepat lah pergi dari hadapanku"


Perintah nyonya Mahdalena tak lagi mami bantah, dia pun pamit meninggalkan ku duduk hanya berdua dengan nyonya Mahdalena.


__ADS_2