Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Bule Stress


__ADS_3

"Kak Lia dapurnya sudah bersih dan semuanya sudah ku cuci dan simpan pada tempatnya. sekarang mana oleh-oleh pesanan ku?" ucap Bimo sambil menjulurkan kedua tangannya siap menampung oleh-oleh dari Lia.


"Oleh-oleh ku juga sekalian ya nyonya Goucher" Pinta Mira memasang wajah sok manis membuat ku geli melihatnya


"Tunggu lah disini, aku ambil ke atas dulu oleh-olehnya untuk kalian"


'Tidak adik, tidak sahabat sama saja manis kalau ada maunya saja. ehhh...tapi mereka juga slalu ada saat aku bersedih deng' aku membathin sambil berjalan menuju kamar.


Saat aku masuk ternyata si bule sedang bertelanjang ria keluar dari walk in closed.


"Astaga Ferry kamu..." teriak ku sambil menutup mataku dengan kedua tangan ku.


"Hehehehe...aku mana tau kamu akan masuk" Ferry cengar cengir. Bukannya dia pakai bajunya justru jalan mendekati ku tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.


"Aaaahhh....kamu gilaaaaaa" teriak ku berlari ke kamar mandi saat tiba-tiba Ferry menurunkan kedua tangan yang menutupi mataku.


Tawa Ferry terdengar begitu lepas apa lagi saat aku membanting pintu kamar mandi sambil memakinya.


"Dasar bule stress, nggak tau mau, nggak ada akhlaqnya bisa-bisa dia bugil di depan ku dengan santainya...huuffft"


"Wkwkkwkwkwkk....Sayang kenapa kamu memaki ku seperti itu, apa yang salah dengan ku? Kamu kan sudah sering lihat semuanya juga, masih saja malu...hahahahaha"


Ferry benar-benar tak bisa berhenti tertawa melihat tingkah Lia yang ketakutan, kaget, panik dengan wajah yang sudah merah padam.


'Gadis ini aku pasti akan sangat merindukan mu nantinya' gumam Ferry dalam hati dan tawanya pun berhenti berubah jadi sendu.


'Ehh...kenapa suara tawa si bule sudah tak terdengar? apa dia sudah keluar dari kamar? tapi aku tidak mendengar suara pintu di buka'


Aku sibuk dengan Pikiran ku sedangkan Ferry diluar kamar mulai sedih memikirkan akan berpisah dengan Lia besok pagi.


karena penasaran Lia pun tak kuat lagi terus mendekam diam dalam kamar mandi. 'Paling kalau pun Ferry masih di kamar dia sudah pakai baju'.


"Loh...koq kamu malah packing sih yank, aku akn tadi ke atas mau manggil kamu untuk makan malam sekalian ambil oleh-oleh untuk Mira dan juga Bimo"

__ADS_1


"Kamu nggak sedih ya aku pergi?" tanya Ferry tanpa menatap ku dan asik memasukan baju-bajunya ke dalam koper.


"Memang harus sedih?" godaku membuat si bule membalik badannya dan duduk diatas ranjang di samping ku.


"Jadi benaran tidak sedih pisah sama aku?" tanya Ferry dengan wajah sendu.


"Sedih yank, jika menangis bisa membuat mu tetap tinggal aku akan menangis sejadi-jadinya"


"Coba lah menangis siapa tau aku berubah pikiran" jawab Ferry datar.


"Ehhh....mana boleh begitu, masalah perusahan nggak boleh kamu tunda terus penyelesaiannya...aku akan baik-baik aja disini, kamu tenang ya"


"Besok pagi akan ada seorang supir dan seorang bodyguard yang akan mengawal mu dan juga akan ada dua asisten rumah tangga yang akan membantu mengurusi semua kebutuhan mu"


Mendengar ucapan Ferry membuat mulut ku ternganga tak percaya. 'Apa-apaan ini, kenapa aku jadi berasa tawan ditinggal dia...ckckk'


"Kenapa wajah mu begitu? tidak suka dengan pengaturan ku?"


rengek ku sambil bergelayut manja di lengan Ferry tapi si beruang kutub tetap dengan pendiriannya. "aku tidak tenang meninggalkan mu tanpa pengawasan"


"Hhhmm..." aku mencibikkan bibir ku lalu berdiri berniat keluar dari kamar, belum juga melangkah Ferry menarik ku dan aku terjatuh ke atas tubuh Ferry yang juga ikut terjatuh diatas ranjang.


"kamu sedang menggoda ku" senyum Ferry mengembang melihat posisi kami.


"Mana ada, lepaskan aku mau ambil oleh-oleh buat Bimo dan Mira"


Boro-boro dilepasin yang ada Ferry ngengguling tubuh ku membuat kini tubuhku ada di bawah tubuhnya. Aku sudah pasrah toh besok pagi si bule akan pergi terserah lah mau di lahap sampai pagi pun aku pasrah, lagian besok jadwal kuliah ku jam tiga sore. Jadi bisa istirahat panjang setelah Ferry pergi.


Tapi baru saja Ferry mencium bibir ku, pintu kamar kami sudah di gedor dan suara cembreng Bimo sudah menggema di luar berteriak-teriak.


"Ck...anak ini mengganggu saja" Ferry berdecak kesal tapi tetap saja bangun dan membuka pintu kamar, aku langsung bangun juga menuju walk in closed mengambil sebuah koper yang isinya oleh-oleh semuanya.


"Ada apa?" tanya Ferry dengan wajah dinginnya membuat Bimo menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah menghadapi Ferry.

__ADS_1


"Anu...itu kak...hehehehe, aku menunggu kak Lia di bawah dari tadi untuk makan malam dan juga untuk ambil oleh-oleh....hehehehe"


Bimo bicara sambil cengar cengir menutupi ke gugupannya menghadapi Kakak ipar angkernya, yang kayanya lagi kesel. 'apa aku mengganggu mereka ya? jangan-jangan tadi mereka lagi mau...' Bimo spontan menutup mulutnya karena memikirkan hal unfaedah yang dilakukan kakak dan kakak iparnya di dalam kamar.


"Kenapa ekspresi mu begitu?" tanya Ferry dengan kesal melihat Bimo cengar cengir malah sekarang tiba-tiba menutup mulutnya seperti orang shock abis lihat hantu.


"aku tidak kenapa-kenapa, i'm oke" jawab Bimo dengan jantung berdegup kencang.


"Sayang kenapa masih berdiri disini?" tanyaku sambil memeluknya dari samping.


"Hadoh...kak Lia bisa tidak nggak usah mesra-mesraan depan aku...ckckck" Bimo berdecak kesal melihat Lia datang malah meluk si bule bukan buruan ngasih oleh-olehnya.


"Sudah nggak usah kesel gitu, nih bawa turun kopernya ke bawah oleh-oleh pesanan mu ada di salam sini, bukan hanya buat mu ada buat mama, si mbok, mang Ujang dan juga Mira"


"Iya aku tau" Bimo menarik koper dengan semangat dan meninggalkan ku dengan Ferry di depan kamar.


"Ayo yank, kita makan malam" ajak ku pada Ferry, yang diajak diem aja.


"Yank"


"Aku mau makan kamu aja" mendengar bisik Ferry ditelinga ku sambil dia mulai mengecup dan menjilati daun telingan dan leher ku.


Jantung ku rasanya mau lepas, kaki ku langsung lemas, mulut tak bisa lagi mampu menolak keinginan Ferry saat dia mulai memainkan jari-jarinya di dalam inti ku.


"Ahh...sayang...ahh... jangan disini" pintaku disela-sela desahan yang meluncur karena ulah tangan dan mulut Ferry pada inti dan gunung kembar milik ku.


Ferry langsung menggendongku seperti koala dan menutup pintu kamar tapi dia tidak langsung membawa ku ke atas ranjang tapi justru melakukannya di balik pintu sambil berdiri dia mengeksplor tubuh ku.


"Ahhh...sayang kalau disini ....ahhhh....nanti ...ahhh...terdengar...ahhh mereka" ucapan ku sudah makin tak karuan


"Tidak akan ada yang dengar kamu tenang aja, semua kamar ada sistem kedap suaranya jadi orang luar tidak akan dengar apapun"


Aku sudah tak perduli lagi dengan penjelasan Ferry karena gairah sudah merasuki sumsum tulang ku. Kami saling memberi kenikmatan sepanjang malam hingga adzan subuh berkumandang Ferry baru melepas ku.

__ADS_1


__ADS_2