
"Sayang, ayo cepet sedikit. Kamu cari siapa sih?" tanya Ferry heran melihat Lia seperti sedang mencari orang sejak tiba di bandara.
"Hhhmm...itu, aku lagi cari....aaaaahhhgg teriak Lia begitu tiba-tiba tubuhnya diangkat Ferry yang sudah tak sabaran melihat Lia jalan begitu lambat.
"Suamiiiii.....turunkan aku, ini tempat umum kamu...." belum juga Lia selesai berucap Ferry memberikan tatap tajam dengan tak sabaran
"Kamu ribut lagi aku akan cium kamu sekarang juga" Mendengar ancaman Ferry Lia langsung bungkam, dan senyum manis langsung terukir di wajah tampan Ferry.
'Dasar mesum, otoriter...bisa-bisanya mengancam ku seperti ini ... huuffft' bathin Lia menggerutu karena tak bisa berbuat apa-apa pada suaminya jika Ferry sudah berucap dengan tatapan tegas.
"Cepat naik lah" ujar Ferry sambil menurunkan Lia di depan tangga masuk pesawat.
"nggak mau, aku maunya di gendong" ujar Lia sambil melipat kedua tangannya di depan dada sambil menaik turunkan alisnya.
"Baiklah nyonya Ferry Goucher seeprti permintaan anda" ucap Ferry sambil mengangkat tubuh Lia lagi dalam gendongannya.
Kali ini Ferry agak mengeluarkan tenaga menggangkat tubuh Lia sambil menaiki tangga yang lumayan tinggi menjulang.
"Selamat datang tuan dan nyonya muda Goucher" sambut beberapa pramugari cantik yang berbaris di pintu pesawat.
Ferry hanya mengangguk dan lanjut berjalan mencari tempat duduk yang nyaman untuk meletakan tubuh sang istri.
"Hosh... Hosh...kamu berat sekali yank" ujar Ferry begitu menurunkan tubuh Lia dengan nafas agak terengah-engah.
"Siapa suruh sok banget gendong-gendong aku pake ngancem-ngancem segala tadi, semua orang jadi menatap kearah kita, bikin malu tau"
"Jadi sekalian aja gendongnya, tanggung diturunin di bawah tangga pesawat, anggap aja hukuman buat mu....wheeeell" Ujar Lia sambil memonyongkan bibirnya.
"Cup" sepontan saja melihat kelakuan Lia membuat Ferry mendaratkan sebuah kecupan tepat di bibir Lia yang sedang dia monyongkan sambil meledek Ferry.
"Ehh..suam kamu mesuuum" teriak Lia sambil memukul pelan dada bidang sang suami.
"Tuan muda, semua sudah siap? kita akan lepas landas sekarang" tiba-tiba suara Leon membuat keduanya yang sedang ribut berhenti dan menatap ke arah asal suara.
"Leon...kamu disini juga?" gumam Lia pelan dengan tatapan penuh kekhawatiran akan hal-hal buruk yang sebelumnya terjadi.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir semua akan baik-baik saja disana" ucap Ferry sambil mengelus lembut dan mendaratkan ciuman di kening Lia.
lalu Ferry bangkit dari posisi yang setengah bungkuk ke arah Lia untuk duduk di kursinya setelah dia memasangkan seatbelt untuk Lia.
Ferry yakin saat ini Lia pasti teringat akan hal yang terakhir terjadi di negara S akan terulang lagi saat ini.
"Sayang" Panggil Ferry membuat Lia tersadar dari pikirannya tentang kejadian penculikan dirinya.
"Iy...iya, kenapa Suam?" sahut Lia tergagap karena terkejut tiba-tiba ada yang mengelus lengannya.
"Sekarang kamu jawab pertanyaan ku, siapa yang kamu cari di bandara tadi?" tanya Ferry dengan tatapan penuh selidik, membuat Lia tak lagi bisa mengelak.
"Jeni, kenapa sih kepo banget" sahut Lia agak kesal karena merasa diintimidasi oleh sang suami.
"Buat apa cari Jeni?" Ferry tak menggubrish pertanyaan Lia, malah langsung memberikan lagi pertanyaan sudah persis polisi sedang mengintrograsi penjahat yang tertangkap.
"Jeni bilang, dia pagi ini juga pergi menemani Arjun ke negara S" jelas Lia membuat kening Ferry berkerut.
"Kenapa?" tanya Lia melihat ekspresi wajah Ferry saat mendengar penjelasannya.
Mendengar penuturan Ferry, Lia hanya manggut-manggut kaya mainan doggie yang biasa di letakan di dashboard mobil.
"Kamu tau alasan Arjun hadir diperjamuan nanti malam?" tanya Ferry tiba-tiba, membuat menggelengkan kepala.
"Nggak tau, Jeni cuma bilang Arjun meminta Jeni untuk menemaninya ke acara perjamuan di negara S karena Arjun mendapat undangan dari walikota negara S kalau tidak salah begitu sih ceritanya Jeni saat di kampus"
Mendengar penjelasan Lia, Ferry diam sesaat sampai dahinya berkerut seakan memikirkan sesuatu yang berat dengan begitu serius.
"Suam, Sayang...suami ku" Ferry tak bergeming, Lia semakin yakin pasti ada sesuatu yang serius melihat ekspresi wajah Ferry, bahkan sampai dipanggil pun dia tak mendengar.
'Pasti ada sesuatu ini sih, semoga tidak ada bahaya lagi selama kami di negara S' bathin Lia mulai ikutan gelisah.
"Sayang are you oke?" suara bariton Ferry tiba-tiba berbisik ditelinga Lia, membuatnya tersadar dari pikiran liarnya.
"Ehh...ba...baik, aku...aku baik-baik aja koq" Sahut Lia terbata-bata karena terkejut ada hembusan nafas ditelinganya.
__ADS_1
"Sayang kamu tenang ya, tidak usah terlalu banyak berfikir. Biar aku yang urus semuanya".
"Dan seperti janji ku, begitu sampai negara S, aku akan mengajak mu berkeliling tempat wisata di negara S".
"kita akan menikmati liburan kali ini, tidak akan terjadi apapun lagi"
"untuk keamanan, kamu tidak usah khawatir leon akan selalu ada di sisi kita, Leon juga sudah menempatkan anak buahnya dengan penyamaran yang tersebar dimana-mana"
Mendengar penjelasan Ferry yang panjang membuat Lia sedikit tenang, dan berusaha untuk tidak banyak berfikir lagi.
"Kamu harus percaya pada ku, aku tidak akan pernah membiarkan mu terluka" ujar Ferry dengan tatapan penuh sayang membuat Lia salah tingkah dibuatnya.
"Aku tau suam, aku percaya pada mu" sahut Lia lalu memeluk tubuh sang suami yang sedang berjongkok di depannya.
"Kita sarapan yuk, perut ku sudah lapar" aja Ferry sambil menggandeng tangan Lia menuju mini resto di dalam pesawat jets Goucher Corp.
Begitu sampai, mata Lia langsung berbinar melihat menu diatas meja. "ini kenapa banyak sekali menunya, dan juga semuanya aku suka"
Mendengar celotehan Lia, Ferry pun tersenyum puas. Tak sia-sia dia mengatur semuanya agar sang istri bahagia selama perjalanan kali ini.
Ferry menarik kursi untuk Lia, setelah Lia duduk baru dia duduk di kursi tepat di depan Lia.
"Suam, Leon tidak ikut sarapan bareng kita?" tanya Lia saat melihat batang hidung Leon tak juga muncul.
"Sepertinya dia sudah sarapan makanya tidak ikut sarapan bareng kita"
Lia hanya manggut-manggut mendengar perkataan Ferry, karena Lia sudah tak bisa lagi fokus untuk mengobrol, pikirannya kini sudah tertuju pada menu di depan matanya.
"Sayang, emang bisa kenyang ya makanannya cuma diliatin aja?" goda Ferry yang dari tadi menunggu Lia menyiapakan makanan diatas piringnya.
Bukan manja tapi Ferry mulai terbiasa dilayani Lia setiap kali mereka makan bersama. Rasanya makan yang masuk ke mulutnya jadi berasa lebih enak jika Lia yang menyuguhkan untuknya.
"Ehh...iya ayo-ayo kita mulai makan" setelah selesai berucap Lia dengan telaten menyendok nasi dan lauk pauk diatas piring Ferry baru lah Lia melakukannya untuk dirinya sendiri.
Sepanjang sarapan Lia tak henti-hentinya memuji rasa makanan yang terjadi di atas meja membuat Ferry ikut bahagia melihat sang istri nampak tak lagi memiliki beban fikiran soal masa lalu.
__ADS_1
Sedangkan Leon yang aslinya juga laper terpaksa menahan diri tidak pergi ke restoran untuk sarapan bukan karena Ferry melarang tapi Leon gak sanggup menatap kemesraan kedua majikannya. Membuat hatinya yang perih merindukan wanita pujaan hatinya.