
Selesai mengeringkan rambut, aku menggulung rambutku agar pas dengan dress yang ku kenakan. lalu menggunakan make up natural dan lipstik warna soft pink. 'Sempurna' ucapku saat menatap cermin, lalu berjalan keluar kamar.
Saat aku menuruni anak tangga terdengar suara tawa canda di ruang keluarga. ternyata semua sedang kumpul disana termasuk suamiku yang sedang duduk di sofa sambil di gelayuti manja oleh Aisyah.
'ABG satu ini gatel banget sih, suami orang juga maen glayutin gitu aja, gimana cara misahin mereka ya?' aku berfikir keras mencari ide menjauhkan Ferry dari Aisyah. Tapi tak juga mendapatkan ide yang pas dan terlihat natural bukan dibuat-buat.
Dari pada bete kalau aku kesana akhirnya aku berbelok ke arah dapur.
"Mbok, ada yang bisa Lia bantu?" tanya begitu kulihat si mbok sedang sibuk memasukan adonan bakwan jagung di wajan.
"Neng Lia bisa tolong mbok siapin Prasmana set yang ada pemantik apinya untuk tempat soup buntut" ujar si mbok, aku mengangguk kemudian mengambil peralatan yang dimaksud si mbok dan meletakannya di meja makan, dengan pemantik api sudah ready. Aku mengangkat pancinya untuk ku isi soup buntut yang sudah tidak terlalu panas ke meja dan membiarkan apinya menyala agar begitu waktunya makan malam soup buntutnya sudah hangat.
Selepas itu aku pun menyusun aneka sayuran di atas pirex kaca yang sudah direbus, untuk teman soup buntut.
Selesai menyusun meja makan, aku kembali ke dapur mengambil sambel dan tempe goreng serta bakwan jagung yang sudah selesai si mbok goreng.
Saat semuanya sudah tertata rapi dan soup juga sudah panas dan mengeluarkan aroma harum yang bikin laper. Tanpa ku panggil semuanya berdatangan duduk teratur di meja makan.
"Wangi banget, pasti soup buntut ini mah sedap deh" ujar Bimo sumbringah karena ini makanan kesukaan dia banget.
Wajah si bule kebingungan melihat menu yang ada di meja. "Kenapa? Aneh liat menu makanan hari ini?" tanyaku yang dijawab gelengan kepala oleh Ferry.
"Trus kenapa wajah mu kaya gitu?" tanyaku lagi penasaran. Namun Ferry hanya diam.
__ADS_1
Aku pun berinisiatif menjelaskan makanan yang dihidangkan hari ini saat aku meletakannya di piring Ferry, mendengar penjelasan ku pelan-pelan wajah aneh Ferry menjadi lebih baik.
'Sepertinya benar dia asing dengan menu hari ini jadi dia kaya orang khawatir untuk memakannya, dasar bule rese gini. Padahal diluar sana banyak bule asal makan apa aja, dilibas semuanya' gumamku dalam hati.
"Kenapa melamun?" tiba-tiba suara bariton Ferry terdengar berbisik ditelingaku. Aku hanya menggeleng.
"Enak makannya?" tanyaku ketika kulihat Ferry menikmati soup buntut dengan sayuran tanpa sambel karena dia kurang begitu suka pedas berbeda dengan ku pecinta pedas.
"Enak, aku suka soupnya. tapi ini aku kurang suka, tunjuk Ferry pada tempe" aku pun mengambil tempe dari piring Ferry dan memakannya dengan cocolan sambel membuat Wajah tampan itu mengerenyitkan alis dan keningnya sampai berlipat.
"Jangan banyak-banyak makan sambalnya nanti sakit perut"
Ferry mengingatkan ku karena soal makan Ferry agak repot semuanya dikaitkan dengan kesehatan, lebay banget lah pokoknya. 'itu sebabnya dia jarang makan diluar kecuali moment-moment kusus, itu pun direstoran berkelas atau hotel berbintang'.
"Ini nggak pedes yank, cuma warnanya aja yang merah" jawabku santai. Karena memang nggak pedes.
Sampai di bawah barunlah mang Ujang mengambil alih koper kami dan meletakannya di mobil. Kami pamit untuk pergi ke Bandara karena dua jam lagi pesawatnya lepas landas.
"Hati-hati di jalan, baik-baik dinegara orang jangan aneh-aneh" Pesan mama padaku saat pamit. "Iya mamaku sayang". jawabku sambil mencium kedua pipi mama dan memeluknya erat. 'Baru mau pergi tiga hari ke negara M aja rasanya aku sedih meninggalkan mama apa lagi nanti saat aku harus pergi ke negara A?'.
"Mama, kami berangkat ya" pamit Ferry sesaat sebelum membuka pintu mobil untuk ku.
Sekitar Empat puluh lima menit mobil yang disupiri mang ujang sampai di Bandara Pintu keberangkatan luar negri. Aku dan Ferry turun dari mobil dan mang Ujang sibuk menurunkan koper ku dan Ferry.
__ADS_1
"Kami berangkat ya mang, titip awasi Bimo ya mang" pintaku pada mang Ujang sebelum masuk ke dalam bandara.
"Sayang kita harus lapor dulu agar bisa masuk ke area pesawat pribadi, tidak ada Jerry yang biasa mengurus semuanya, so kita harus bergegas". Ujar Ferry yang sudah siap berjalan sambil menarik dua koper ditangannnya. Begitu aku melangkah di depannya barulah dia melangkah mengekoriku.
Saat petugas mengarahkan kami berdua ke area pesawat pribadi dimana pesawat jet milik Goucher Famz terparkir.
'Wow mewah banget, ternyata kaya gini pesawat jet itu. Pantes harga sewanya mahal banget soalnya keren banget'. Aku terus mengagumi isi pesawat jet milik keluarga Ferry, sampai lupa untuk melangkah duduk ke kursi.
"Aaaaa..." tiba-tiba tubuhku melayang, ternyata Ferry mengangkat tubuhku ala bridal, agar tak terjatuh aku pun mengalungkan tanganku di lehernya.
Ferry tersenyum melihat ku yang tak meminta diturunkan seperti biasanya malah menikmati digendong olehnya.
"Silahkan duduk dan nikmati perjalanannya nyonya Goucher" ujar Ferry sambil memasang sefety belt setelah mendudukan ku di kursi yang lebih mirip single sofa.
"Terima kasih suamiku" senyum manis diwajah si bule makin terkembang.
"Sayang kamu kalau ngantuk tekan tombol ini kursinya akan tersetting memanjang jadi seperti single bad dan selimutnya ada di rak bawah jok tempat kamu duduk" Jelas Ferry membuatku heran.
"Aku nggak bisa nemenin kamu duduk disini, aku akan duduk di depan" Ferry menunjuk kursi lebar agak kedepan dari posisi ku duduk. "Ada kerjaan yang harus aku kerjain, Jerry sedang menungguku untuk online". Aku hanya menganggkuk.
Tak selang berapa lama seorang peramugari cantik muncul menawarkan minuman dan snack untuk ku juga untuk Ferry.
Selama perjalanan aku habiskan hanya untuk tidur sambil nonton film. Semewah apapun pesawat ini jadi tidak menyenangkan buat ku karena ditinggal sendirian alias dicuekin sama suami.
__ADS_1
ntah kapan dan berapa lama aku tertidur, begitu aku terbangun aku sudah diatas ranjang besar dengan si bule memeluk ku.
Interior kamar hotel ini begitu mewah dan lengkap sekali. Aku memindai isi kamar sambil berusaha melepas pelukan Ferry, bukan terlepas malah si bule makin erat memeluk ku. Aku pun pasrah dan kembali tertidur.