
"Sayang, kamu sudah siap?" ucap Ferry sebelum membiarkan pelayan hotel membuka pintu ballroom yang tinggal selangkah lagi akan menjadi awal baru hidupku.
"Aku siap yank, aku siap hidup bersama dengan mu sebagai istri mu dan nantinya jadi ibu dari anak-anak mu" ucapku penuh keyakinan sambil menatap mata biru milik Ferry.
"Kalau gitu kita masuk sekarang". ucap Ferry sambil memberi isyarat pada pelayan membuka pintu untuk kami.
"Wow, Ini indah banget", gumamku terkagum-kagum saat melihat dekor ballroom hotel yang disulap jadi taman bunga, melihat dekor ballroom hotel membuatku makin cinta dan mantap menikah dengan Ferry. "Ternyata dia bukan nyiapin akad nikah seperti yang aku bayangin atau kaya di sinetron-sinetron kalau nikah sirri" gumamku. "Tapi koq bisa dia ngelakuin ini semua cuma dalam beberapa jam?, owh iya aku lupa duit dia nggak berseri. Selama ada duit, dan berani bayar mahal siapa juga yang nolak kerja lebih keras dari biasanya, beruntungnya aku akan nikah sama anak sultan, eeiittt....tapi si sultan belom kasih restu" Wajahku jadi sendu saat mengingat belum ada restu dari papi Ferry untuk kami.
"Sayang, kamu kenapa? nggak suka sama dekorasinya?" tegur Ferry saat melihat perubahan raut wajahku. Aku hanya menggeleng.
"Bukan gitu, ini sempurna banget...makasih ya yank, buat semuanya. Terutama untuk baju kebaya ini" ucapku sambil tersenyum.
"Kenapa memang dengan kebaya ini?" tanya Ferry dengan alis mengkerut.
"Karena Kak Didi merancang baju ini sesuai ide ku, dan aku melarangnya menjual design ini pada orang lain karena aku yang akan memakainya" ucapku sambil tersenyum.
"Pantas saja baju ini tidak dia pajang di outletnya melainkan disimpan di lemari di ruang pribadinya" ujar Ferry.
"Trus koq kamu bisa dapetin baju ini?" tanyaku penasaran karena jika tidak dipajang bagaimana bisa Ferry melihatnya.
"Aku menolak semua baju kebaya rancangan dia..aku bilang tidak ada yang sesuai dengan karakter pengantin wanitaku, karena kesal aku menghina rancangannya, dia sesumbar padaku bahwa dia punya rancangan baju kebaya paling cantik tapi harganya sangat mahal,puluhan kali lipat dari harga baju pengantin lainnya". jelas Ferry.
"Trus dia nunjukin kebaya ini" ucap Ferry sembil meremas bokongku. "Sial ini bule makir kurang aja aja" gerutuku dalam hati.
"Bisa tidak tangan mu itu dikontrol sedikit" ucapku ketus karena sebel banget bokongku di remes tiba-tiba.
__ADS_1
"Heheheee" Ferry cuma cengengesan melihat ku
memberengut. "Maaf ya sayang, abis kamu cantik banget dan ngegemesin. bikin aku nggak sabar nelanjangin kamu dan membuat mu mendesah kenikmatan" ucap Ferry di telingaku, membuat ku merona karena membayangkan setiap detail uacapan Ferry.
"Sana jauh-jauh dari ku, dasae mesum" ucapku sambil mencubit perutnya.
"Aaauuu...sakit yank, ampun...ampun, nggak lagj-lagi". ucap Ferry sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu belum jadi istri sudah galak dan menyiksaku gini, gimana kalau udah resmi jadi istri" gumam Ferry yang masih terdengar ku.
"Aku cincang kamu saat berani menduakan ku" jawabku asal.
"Tidak berani...tidak berani" ucap Ferry dengan ekspresi suami takut istri yang membuat kami berdua terkekeh.
"Emang siapa aja yang hadir?" ucapku sambil memandang kedepan dan ku lihat ada Mira yang ditemani seorang pria, kemungkinan pacar barunya. ada juga om Bram dan istrinya, ada om Imran dan istrinya, juga ada dekan dan beberapa dosen yang hadir disana. Bahkan ada adik mama dan juga om Pras suaminya dan beberapa orang bule dan blasteran perlente yang nggak aku kenal. "Gila bener nih bule bisa datengin mereka semuanya" bathinku sambil menatapnya, yang ditatap malah senyum manis banget bikin aku melting disenyumin gitu.
"Jangan pernah senyum kaya gitu sama cewe lain" ucapku tiba-tiba membuat alis Ferry mengerut dalam. "Kamu jadi ganteng banget kalau senyum gitu, dan aku nggak mau ya kamu senyum gitu sama cewe selain aku, paham nggak" ucapku sambil melotot, yang dipelototin malah tertawa.
"Iya istriku, nggak akan pernah lagi aku senyum mulai sekarang kecuali sama kamu" bisiknya membuatku bahagia.
"Ayolah kita menikah sekarang" ucapku yang membuat wajah Ferry berbinar bahagia.
"Ayo" Kami pun melangkah mendekati meja ijab qobul dengan mantap dan penuh keyakinan.
Aku dan Ferry diarahkan untuk duduk oleh seorang WO agar tidak salah menempati posisi duduk. Saat kami sudah duduk di depan penghulu, WO itu memasang selendang panjang diatas kepala kami. Dan acara ijab qobul pun akan segera di mulai, setelah sebelimnya diperdengarkan lantunan pembacaan Al Quran dan juga khutbah nikah, kemudian Ferry menyalami tangan penghulu dan mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Lia Putri Aghata bin Aghata Wicaksana dengan mas kawin sebuah rumah, mobil dan seperangkat perhiasan 55 gram dibayar tunai". Sontak aku terkejut mendengar mas kawin yang disebutkan, sepertinya bukan hanya aku tapi semua orang yang hadir disana terkejut.
"Sah..sah...sah" ucap para saksi dan pengunjung membuyar lamunanku.
Selesai ijab qobul lanjut prosesi pembacaan doa akad nikah, penandatanganan buku nikah, serah terima mahar, memasangkan cincin dan nasehat pernikahan, lanjut sesi Foto-foto dan makan-makan, Dan para tamu pun mulai memberi selamat pada kami berdua. Dan tak sedetik pun Ferry melepas tanganku saat kami menghampiri para tamu undangan.
"Woi, bro itu penganten jangan dikekepin trus lah", ledek salah seorang pria bule yang juga fasih berbahasa IND.
"Nikah ko, nikah jangan celup sana celup sini saja kerja mu...kena penyakit kelamin baru kau rasa" ucap Ferry membuatnya terbungkam. Sedangkan yang lain jadi riuh ketawa terbahak-bahak, yang berucap seenaknya berlalu begitu saja dari TKP. "Habis sudah pria bule itu dibully teman-temannya, ternyata si pria bule itu bernama Nicko teman Ferry waktu di Junior High School, tapi karena Ferry masuk kelas akselerasi dia hanya butuh 2 tahun duduk di bangku SMP dan SMA, 3 tahun rampung S1, itu sebabnya usianya 19 tahun tapi sedang kuliah S2 malah aku yang sudah 21 tahun baru akan semester 6...huuuffft".
"Kenapa tarik nafas begitu?" ucap Ferry saat mendengar hembusan nafas beratku. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. "Kalau ada apapun yang mengganjal dihatimu baik itu tingkahku, atau teman-temanku kamu harus bilang, terutama sikap papi dan mami nantinya. Jangan pernah kamu rahasiakan kegundahan hati mu dariku, karena aku tidak mau istriku tidak bahagia". Ucap Ferry sambil menatapku kemudian mengecup bibirku.
"Heeehh...kalian ini, kalau sudah tidak sabar sana kembali ke kamar kalian jangan bermesraan disini!". Tiba-tiba suara mama terdengar saat Ferry sedang mencium ku. Wajahku langsung semerah tomat, dan Ferry dengan santainya malah merangkulku.
"Kan pembukaan ma, masuk kamarnya nanti aja maleman dikit....hehehehe". Jawabnya sambil terkekeh membuat mama menepuk lengan Ferry sambil geleng-geleng.
"Sayang, kamu nggak tau malu banget sih...masa sama mertua ngomong gitu" ucapku sambil mencubit perutnya pelan.
"Adddduuuh sakit yank" ucap Ferry manja.
"Sakit apaan orang pelan koq", ucapku kemudian berlalu meninggal kan Ferry.
"Mau kemana sayang buru-buru amat?". ujar Ferry sambil mengusap tengkuk belakangnya keliahatannya dia lelah.
"aku mau menyapa Mira sebentar". jawabku sambil berjalan mendekati Mira untuk basa basi, atau kalau tidak dia bisa ngambek sama aku 7 hari 7 malem.
__ADS_1