Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Makan Malam


__ADS_3

Sesampainya di rumah Lia dan Ferry seperti biasa. Ferry akan mandi lebih dulu lalu Lia menyiapkan pakaian Ferry baru sesudah itu Lia yang akan mandi.


"Sayang" Sapa Lia pada Ferry yang sedang asik duduk memang ku laptopnya.


"Hhmmm..." Gumam Ferry masih tetap fokus pada laptopnya.


"Sayang, kamu nggak laper apa?" tanya Lia sambil mendaratkan bokokngnya di sebelah si bule, yang masih tetap asik dengan laptopnya.


Lia mulai kesal karena dicuekin, 'Iisshh ini orang sadar nggak sih istrinya lagi nungguin jawab dia soal makan malem' gerutu Lia dalam hati sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Oke fine, aku makan sendiri aja kalau begitu" setelah cukup lama menunggu tapi Ferry tak juga bergeming Lia pun memutuskan untuk turun dan makan malam sendirian aja.


"Tunggu sepuluh menit lagi" ucap Ferry sambil menarik tangan Lia untuk menahannya pergi.


"Oke sepuluh menit, tidak lebih" Lia menyetujui permintaan Ferry tapi dia tidak kembali duduk melainkan berdiri mondar mandiri di depan Ferry sambil menatap jam dinding.


"Sayang ku kalau kamu mondar mandir di depan mana bisa aku fokus kerja...ckck" Keluh Ferry melihat tingkah Lia.


Lia hanya mencibikan bibirnya tak perduli dengan gerutuan suaminya.


"Baiklah, kita makan sekarang" Ferry akhirnya menjeda pekerjaanya agar istri tercintanya tak berulah seperti anak TK yang sedang cari perhatian.


Spontan senyum di wajah Lia pun terkembang membuat Ferry ikut tersenyum. 'Tak apa lah aku jadi harus bergadang nanti malam asal bisa lihat senyuman di wajah mu'. gumam Ferry dalam hati, lalu mendekati Lia untuk menggandeng tangannya turun menuju ruang makan.


"astaga, menu makananya kenapa begini" liat langsung mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam ke arah Ferry.


"Agar lambung mu sehat sayang ku"


'Hah, komentar apa itu. Agar lambung ku sehat? emang sejak kapan sakit...isssshhh'


Lia menggerutu dalam hati tapi tetap saja makanan yang tak mengundang seleranya ditelan habis karena cacing diperutnya sudah demo dari tadi.


Ferry yang curi-curi pandang melirik Lia yang makan lahap sambil menggerutu. 'Gadis ini benar-benar lucu dan menggemaskan. Dia tidak suka sama makanannya tapi tetap lahap...hahaha'.


"Kenapa kamu melirik ku seperti itu?"


"Sedang mengangumi ciptaan Allah yank" Gombal Ferry berhasil membuat Lia terdiam dan merona.


'Ahhh...sial nih bule, gimana mau ngomel kalau dia manis begini kata-katanya. Lama-lama bener bisa kena penyakit gula aku'. Bathin Lia sambil menunduk dan kembali sibuk makan.


Saat Lia dan Ferry sedang asik makan. Narti datang menghampiri mereka berdua.


"Maaf tuan, nyonya mengganggu di luar ada Non Mira".


"Ehh...Mira kesini mba?"


"Iya Nyonya lagi nunggu di teras depan"

__ADS_1


"Kenapa nggak kamu suruh masuk?"


"Katanya hanya sebentar ada yang mau dibicarakan sama nyonya penting"


"oke, selesai makan aku akan keluar. Kamu sajikan minum dan cemilan untuk Mira dulu ya mba"


"Baik nyonya"


Begitu Narti menghilang Lia buru-buru menghabiskan makan malamnya.


"Pelan-pelan yank, Mira juga akan tetap menunggu mu".


Lia tak menggubris ucapan Ferry dia fokus menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.


"Aku sudah selesai, aku kedepan dulu ya suami" tanpa menunggu jawaban dari Ferry, Lia langsung berlari ke teras depan.


'Hhhmmm...gadis ini aku sepertinya terlalu memanjakannya selama ini. Kalau papi lihat menantunya yang bangkit dari kursi makan duluan dan meninggalkan suaminya begitu saja di meja makan sendirian tidak ku bayangkan komentar buruk apa yang akan terlontar dari mulut papi'. Gumam Ferry sambil menggeleng melihat tingkah Lia.


sedangkan di teras Mira menunggu Lia dengan tenang karena Narti sudah menyuguhinya banyak cemilan dan juga juice mangga kesukaannya.


"Ada malam-malam kesini cuma mau duduk di teras? ada yang begitu pentingkah?"


"Hehehe...penting untuk ku tapi tidak tau untuk mu?"


"Jawaban macam apa itu?" Lia mengucapkannya sambil duduk di kursi seberang meja. "Jadi apa yang mau kamu bicarakann? soal ujian besok?"


"Trus" Lia mulai penasaran


"Masalah aka dan Rendy..." Mira berhenti sejenak untuk menarik nafas panjangnya lalu menceritakan kejadian yang terjadi tadi siang di apartemennya.


"Serius, Rendy bisa bersikap seperti itu juga? aku pikir hanya si bule tengil yang bisa tiba-tiba begitu" sahut Lia dengan wajah shock karena bertahun-tahun kenal Rendy tak sekali pun Rendy bersikap kurang ajar padanya.


"iya aku juga agak kaget karena sebelumnya Rendy sangat menjaga sikapnya tapi siang tadi dia mendadak seperti sedang ingin melampiaskan kekesalannya dengan cara bercinta bersama ku...tapi hal apa yang membuatnya kesal sampai berfikir bercinta bisa menghilangkan kekesalannya?" Mira kebingungan dengan sikap Rendy.


"Hhmm...sudah tidak usaha kamu pikirkan lagi yang penting dia melampiaskannya pada mu bukan pada wanita lain di luar sana" Lia mencoba menenangkan Mira, setelah dia ingat kejadian siang tadi di rumah sakit. 'Apa jangan-jangan karena sikap Ferry yang posesif dan menunjukan kemesraan pada ku Rendy jadi kesal...ahhh sudah lupakan saja tidak perlu diperpanjang' Bathin Lia


"Benar juga, kalau begitu aku pulang dulu karena jam sepuluh nanti Rendy baru pulang dia sedang metting di luar kota"


"Ya sudah kamu pulang lah sana, hati-hati jangan ngebut-ngebut, owh iya kamu mau aku minta Narti bungkusin makan malam tidak?"


"Enak tidak?"


"Enak hanya terlalu sehat"


"Maksud mu?"


"Menu makanannya, terlalu sehat"

__ADS_1


"Apa itu?"


"Sop Iga sapi jahe merah, tumis baby kailan, daging sapi lada hitam dan bubur jagung daging sapi cincang"


"Aku mau...aku mau" sahut Mira cepat karena baru mendengar menunya saja dia sudah ingin meneteskan air liurnya"


"tunggu sebentar aku akan minta Narti menyiapkannya untuk kamu makan bersama Rendy"


"oke, cepat lah sedikit"


"iya" Lia pun bergegas ke dapur di mana para ART kumpul kongkow kalau tidak ada kerjaan.


"mba Narti, saya minta tolong boleh ya?"


"Boleh nyonya, apa yang bisa saya bantu?"


"Tolong bungkus kan makan malam untuk Mira ya? lalu bawa ke teras jika sudah siap"


"Baik nyonya" sahut Narti dan dengan sigap Narti pun menyiapkan ransum untuk Mira.


tapi tiba-tiba Lia balik lagi ke dapur. "Mba Narti, tuan di mana?". Tanya Lia malu-malu.


"Di ruang kerjanya nyonya, selesai makan tadi tuan bilang kalau nyonya mencari, tuan di ruang kerja"


"Owh" sahut Lia lalu kembali ke teras menemui Mira.


"Kenapa hanya kamu yang keluar?" tanya Mira bingung karena tidak terlihat Lia membawa ransum untuknya.


"Hahahaha...dasar rakus, otak mu hanya makanan saja. Narti sedang menyiapkannya kamu tunggu lah sebentar"


"Hehehehe ... kamu tau aja apa yang sedang ku pikirkan" kekeh Mira kebaca isi hatinya oleh Lia.


"Memang isi kepala mu apa lagi selain makan, *** dan uang" sahut Lia meledek Mira.


"Iiisss..." Mira tak mampu berkata-kata memang seperti itu lah dia, karena saat dia memiliki pacar dan pacarnya puas dengan servicenya di ranjang mereka akan royal pada Mira. Itulah kenapa Mira yang dulunya tidak memiliki apapun kini dia punya segalanya, selain dapet dari Lia ya dapet dari mantan-mantan pacarnya. Sampai Mira bisa membeli apartemen sendiri.


"Nyonya ini ransum untuk non Mira"


"Makasih mba Narti, mba Narti memang the best ART in the World" ujar Mira sambil menyambar tas jinjing dari tangan Narti.


Lia hanya menggeleng kepala melihat tingkah sahabatnya. Mesti Mira matre tapi saat Lia membutuhkan dukungan dan hampir kehilangan segalanya, Mira tetap ada di sisinya dan mendukungnya. Mira gadis tulus yang jadi matre karena kebutuhan hidup.


"Oke, makasih ya cintah ransumnya. Aku pulang" Mira berjalan cepat ke mobilnya setelah mencium pipi Lia dan pamit pulang.


Lia masuk lebih dulu ke dalam rumah sedangkan Narti sibuk merapikan meja teras.


jangan lupa like and komen ya readers tercintaaah

__ADS_1


__ADS_2