Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kamu Mau Kemana?


__ADS_3

Pagi ini Ferry selepas subuh terlihat sibuk di dalam walk in closed tidak seperti biasanya.


'Lagi ngapain si bule tumben bukannya ke dapur siapin sarapan malah ke walk in closed' bathin Lia sambil merapi ranjang mereka.


Rasa penasaran membuat Lia berjalan menuju walk in closed. Mata Lia langsung membulat bingung melihat sang suami yang sibuk mengepak baju-baju kerjanya kedalam suitcase.


"Suam, kamu mau kemana?" tanya Lia bingjng karena semalam sang suami tidak bicara apa-apa padanya.


"Maaf yank, semalam aku lupa bilang pagi ini jam sembilan aku harus terbang ke negara S, ada bisnis dengan kak Daniel di negara S yang mau aku kerjakan" jelas Ferry sambil packing.


"Hhhmm...berapa lama?" tanya Lia berusaha tegar walau hati sedih. 'Sepertinya hal begini akan sering terjadi, kamu kuat Lia. kamu pasti bisa' bathin Lia menghibung hatinya belum apa-apa sudah merasa sepi.


"Belum tau yank, lihat situasi disana" sahut Ferry sekenanya.


"Jadi kapan akan pulang?" Lia terus bertanya untuk mendapat kepastian tetang kepulangan Ferry, Lia tak ingin sendirian terlalu lama di apartemen.


"Senin pagi mungkin" sahut Ferry juga tak bisa memastikan karena dia memang belum tau akan butuh berapa lama mengurus semuanya di negara S.


Ferry sangat tertarik dengan tawaran Daniel untuk kerja sama mengambil tender relokasi pembangunan kota tua di negara S menjadi sebuah resort dan tempat wisata untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi kota tua.


Ferry sangat tertarik karena dia melihat lokasi kota tua yang berada di pesisir pantai yang belum banyak terjamah dan masih asri. Ferry juga berniat membuat satu cottage untuk dirinya sendiri karena dia ingin nantinya saat tender ini dia dan Daniel menangkan dia bisa membawa Lia berlibur kesana.

__ADS_1


"Hhhmm...sepertinya kamu akan lama disana, baiklah" ujar Lia sudah ingin menangis jadi dia secepatnya keluar dari dalam walk ini closed menghindari Ferry menuju dapur untuk membuat sarapan.


Ferry yang tak menyadari reaksi Lia yang bersedih tetap sibuk packing. "Oke selesai" ucap Ferry sambil menarik suitcasenya keluar dari walk in closed dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Lia menyiapkan sarapan simple dan cepat walau sambil terisak Lia berhasil membuat sarapan omlet dengan taburan keju dan mushed potatoes peterseli plus segelas juice mix berry.


Ferry keluar dari kamar sudah dengan stelan jas rapi yang disiapkan Lia sambil menarik suitcasenya keluar untuk diletakan di depan pintu agar nanti saat dia akan berangkat mudah membawanya.


Setelah melepas jasnya dan meletakannya disandaran kursi makan Ferry masuk kedalam dapur untuk melihat kesibukan sang istri.


"Wangi banget omletnya jadi makin laper" ucap Ferryl sambil memeluk Lia dari belakang.


"Kamu duduk lah di kursi dengan baik, sebentar lagi semuanya siap dan kamu bisa sarapan lalu berangkat ke bandara" ucap Lia dengan suara makin bergetar menahan tangis membuat Ferry kaget dan membalik tubuh Lia.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Ferry sambil menghapus buliran bening yang berjatuhan membasahi pipi sang istri.


"Kamu nangis karena aku mau tinggal pergi ya?" Lia mengangguk pelan, "kamu bisa menyusul ku saat weekend" Mendengar ucapan Ferry, Lia mendongakkan wajahnya menatap netra biru sang suami yang sedang menunduk menatapnya.


"Kenapa? tidak percaya dengan yang aku ucapkan?" ujar Ferry sambil memicingkan matanya.


"Bukan, tapi kan sabtu ini sudah janji akan ke rumah nyonya Maghdalena. Jadi mana bisa menyusul mu" ucap Lia sambil menghembuskan nafas berat.


"Kalau begitu aku minta maaf ya sayang, maaf banget aku nggak bisa nemenin kamu dan akan ninggalin kamu di sini sendiri untuk waktu yang cukup lama karena proyek ini aku sangat menginginkannya jadi aku harus benar-benar memastikan proposal tandernya sempurna sehingga tender ini aku menangkan" ujar Ferry penuh ambisi dan keteguhan hati walau berat meninggalkan Lia tapi dia harus melakukan ini toh ini semua demi masa depan mereka yang lebih baik.

__ADS_1


"Kamu nggak salah koq suam, aku aja yang lagi dateng manjanya karena belum ada persiapan mental pagi ini ditinggal kamu" ujar Lia tak ingin membuat sang suami pergi dengan tak tenang karena kepikiran dirinya.


"Iya salah ku, semalam karena kelelahan jadi langsung tertidur begitu diatas ranjang dan lupa bicara soal kepergian ku pagi ini" sahut Ferry sambil mengelus punggu Lia memanjakan.


"Ya sudah kita sarapan dulu nanti keburu dingin, nanti kamu terlambat untuk cek ini" ucap Lia sambil mengurai pelukannya dan menarik tangan Ferry untuk duduk duduk di meja makan lalu Lia membawakan omlet tabur keju dan mushed potatoes ke meja dengan mayones dan saos sambel baru terakhir Lia menyajikan dua gelas juice mix berry dingin ke atas meja.


Mereka berdua sarapan dengan tenang, susah payah Lia menelan makanannya tapi dia tak memperlihatkan semua itu karena tak ingin Ferry bersedih hati saat pergi nanti.


Selesai makan Ferry yang merapikan meja karena Lia harus mandi agar tidak terlambat ke kampus.


Ferry pergi lebih dulu karena jarak bandara yang cukup jauh dari apartemen. "Aku berangkat sekarang ya, jika kamu merasa kesepian kamu bisa ajak Shella atau Ami untuk menginap di sini" Lia tidak menjawab pertanyaan Ferry, dia hanya menganggukan kepalanya tanda setuju dengan saran Ferry.


"Sayang senyum dong, aku berat kalau harus meninggalkan mu yang tak bersemangat dan murung begini" ucap Ferry kembali memeluk sang istri di depan pintu dan menghujaninya dengan banyak ciuman membuat Lia kegelian dan tersenyum karena tingkah sang suami.


"Sudah berangkat sana, nanti ketinggalan pesawat" ujar Lia yang tidak mau menghalangi kepergian sang suami.


"Kamu yakin sudah bisa aku tinggal?" tanya Ferry jadi berat meninggalkan sang istri dalam keadaan sedih yang dia tahan jauh di dalam relung hatinya.


"Yakin, kamu tidak perlu khawatir aku akan baik-baik aja di sini" sahut Lia cepat karena rasanya matanya mulai berkabut dan dia tak ingin sang suami mengetahuinya.


Akhirnya walau berat Ferry tetap pergi meninggalkan Lia dengan langkah cepat karena dia harus mengejar pesawatnya.

__ADS_1


'Andai Mira ada disini, akan sangat baik. Aku butuh seseorang untuk menghilangkan kesepian dan kesedihan ku' bathin Lia saat melepas kepergian Ferry dan memandangi punggung pria tampan itu yang mulai menghilang di saat memasuki lift.


jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar, yang jadikan novel Suamiku brondong jadi favorite kalian agar tidak ketinggalan kelanjutannya. thanks readers


__ADS_2