
Saat aku keluar dari kamar mandi tak kulihat batang hidung suamiku di kamar, "Kemana perginya dia?" sambil berjalan ke pintu mau mencari di ruang TV. tapi ternyata tidak ada disana juga. "Kemana bule ini pergi, apa dia beneran marah padaku?" Bathinku sambil kembali ke kamar.
Aku mengambil ponsel ternyata ada telphon masuk dari mama dan juga suamiku beberapa kali 30 menit lalu. "Aku ternyata ketiduran di bathtub lama juga" ucapku sambil mengusap wajahku. Ada pesan masuk juga dari mama, yang pamit pulang sudah di jemput mang Ujang dan mama mau ke rumah sakit karena Bimo harus belajar besok dia Ujian Nasional penentu kelulusan. Saat aku hendak menelphon suamiku pintu luar terbuka seperti ada yang masuk aku buru-buru berlari ke pintu untuk melihat siapa yang datang, ternyata suamiku yang datang.
"Kamu mau kemana hanya pake bathrob, hah?" Ucap Ferry sambil mengerutkan alis dalam. Kelihatan tidak suka melihat tingkahku.
"Hanya mau lihat siapa yang buka pintu, karena tadi aku nyariin kamu nggak ada" ucapku sambil tertunduk dan memainkan jariku, rasanya aku takut dengan lelaki yang berdiri di hadapanku saat ini. Dia begitu tegas, dingin dan wajah yang dipasangnya begitu tak bersahabat. "Dia kenapa sih marah-marah aja dari tadi?, Huuffft". gerutuku.
Bukanya memberiku penjelasan dari mana, abis ngapain Ferry malah ngeloyor masuk kamar dan ngelewatin aku gitu aja masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya Tuhan aku bikin salah apa sih dia sampai segitunya....ckckckkk" Bathinku mulai pusing dicuekin dan jutekin Ferry yang berstatus suamiku.
Aku pun mengeringkan rambut dan mengenakan pakaian yang diberikan Jerry semalam menggunakan make up seadanya yang tersimpan di dalam tas ku. Tak lama Ferry keluar hanya dengan bertelanjang dada dan handuk yang terlilit dipinggang, melihat tubuh Ferry tanpa sadar aku pun menelan ludah karena dia beneran tampang dan seksi. "Wajar kalau banyak wanita menginginkan dia udah kaya, ganteng seksi pula", bathin ku sambil berjalan mendekati Ferry.
"Sayang, aku minta maaf ya. Kamu jangan marah lagi ya. Aku nggak kuat kamu cuekin dan jutekin lama-lama" ucapku sambil bergelayutan di lengannya Dan bermanja-manja. Ferry masih tak bergeming, dia hanya menghentikan kegiatannya yang mau mengambil baju di lemari.
"Sayang...kamu jangan diem aja jawab dong, sayang" ucap ku mulai gemeeesshhh. Akhirnya aku putuskan untuk berinisiatif mengecup bibir Ferry sambil tangan ku bergelayutan di lehernya dan jinjit agar sampai, maklum tubuhku kalah tinggi lumayan jauh sama si bule tengil ini.
__ADS_1
Awalnya Ferry hanya dia menikmati setiap kecupan yang kulayangkan di seluruh wajahnya sambil minta maaf, karena Ferry terus tak meraspon apa yang kulakukan, akhirnya aku mulai mencium bibir Ferry dan memainkan lidah ku dirongga mulutnya. Kurasakan tangan kekar itu kini sudah ada di pinggangku merapatkan tubuhku di pintu lemari membuatku terkurung dalam tubuh kekarnya tanganya mulai masuk ke dalam dress yang ku kenakan sambil terus menciumin bibirku makin dalam suasanya makin panas dan bergairah, tangan Ferry makin tak terkontrol meremat bokongku, melepas pengat Bra dari cantelannya karena tak puas meremat gundukan kembarku dengan masih ada lapisan penutupnya kemudian menggendongku seperti anak kuoala tanpa melepas tautan di bibir Ferry membaringkan tubuhku diatas ranjang. Aku sudah pasrah jika hari ini jadi siang pertama kami.
Lalu mulai menciumin seluruh wajah, leher, telingaku...menyingkap dres yang ku kenakan dan melepas underware ku tanpa sedikit pun melepas bibirnya dari bibirku Ferry mulai melucuti dress juga bra ku. Kini aku sudah terbaring polos diatas ranjang. Tangan Ferry terus bergerilya kesetiap inchi tubuhku. ngelenyar-ngelenyar nikmat dan desahan demi desahan sudah keluar tanpa bisa ku kontrol lagi. "sayang, ahh ini nikmat sekali" gumam ku disela desahanku saat Ferry bermain di intiku. "Sudah basah banget yank, aku masukin sekarang ya?" izin Ferry untuk menunaikan kewajibannya sebagai suami untuk pertama kalinya. Aku hanya mengangguk mengizinkannya.
"Aaaiiiissssttr" Erang ku sambil mencengkram lengan Ferry kuat saat Ferry mulai memasuki intiku.
"Tahan ya sayang, sedikit lagi, aku akan pelan-pelan" ucap Ferry yang kemudian kembali mencium bibirku makin dalam agar aku tak fokus dengan rasa sakit yang sedang ku rasakan dengan tanganya yang meremat gundukan kembarku membuat lagi-lagi desahan lolos dari mulutku, wajahku rasanya panas sekali melihat Ferry bermain dipuncak gunung dan menyusu layaknya bayi di gundukan kembar milik ku,glenyar nikamat makin menjalar keseluruh tubuhku membuatku makin lupa diri dan melayang keatas nirwana dengan sejuta kenikmatan yang Ferry berikan, membuat Lama kelamaan rasa perih karena robekan selaput daraku mulai berkurang berganti dengan rasa nikmat pada setiap hentakan demi hentakan yang Ferry ayunkan.
"Sayang...ahhh...ini...ahahhh" racauku makin tak karuan..."Panggil aku, suamiku" pinta Ferry sambil terus bergoyang di intiku..."ahhhhhh....suamiku ...ahhh suamiku,,aku... sudah mau sampaiii...ahhh" erang penuh kenikmatan pun keluar bersamaan dari mulut kami saat puncak kenikmatan itu kami lalui bersama dengan cucuran keringat membanjiri tubuh kami walau AC dalam Suitroom sudah menyala. Benar-benar seperti habis olah raga lari keliling lapangan tapi ini ada manis-manisnya gitu. hahahahaa.
"Makasih ya istriku, kamu sudah menjaga diri mu untuk ku slama ini" ucap Ferry sambil menghujaniku dengan banyak kecupan. "Ternyata benar kata papa bule aja yang hidup di negeri bebas tetep aja happy minta ampun dapet istri yang masih virgin, gimana yang lokal pasti lah dia akan nyari sampai kepelosok-pelosok negri" bathin ku sesaat saat mendengar ucapan Ferry.
"Kamu masih marah padaku?" tanyaku karena beneran heran dia tadi ngambek kenapa?ckckck...pasalnya aku nggak merasa melakukan hal-hal yang bikin kesel dia. "Huuufff" tarikan nafasku membuat Ferry mengangkat dagu ku agar mata kami saling bersitatap.
"Masih" jawabnya singkat
"Memang aku bikin salah apa?" gumamku terdengar Ferry.
__ADS_1
"Pokoknya aku nggak suka ya kamu ulangi lagi kebiasaan buruk mu mandi berendam dengan earphone di telinga sedangkan panggilan telphon semua kamu alihkan" jawab Ferry membuatku melotot tidak terima.
"Kenapa?" Gerutu ku dengan wajah kesal tidak terima dia mengatur hidupku sampai ke acara mandiku.
"Kamu tau apa yang aku rasakan saat menggedor-gedor pintu memanggil nama mu seperti orang gila hampir 30 menit tapi tak ada sahutan dan menelphone mu puluhan kali tapi semua panggilan ku dialihkan. Aku sudah mau gila karena khawatir. Tadinya aku sudah akan mendobrak pintu kamar mandi tapi ku urungkan karena bahan pintu itu kualitas terbaik tidak akan roboh sekuat apapun ku dobrak" Jelas Ferry panjang lebar alasan dia marah padaku.
"Jadi aku membuat suamiku yang tengil, posesif tapi ganteng dan juga kaya ini khawatir cuma gara-gara mandi berendam?", celetuk ku usai mendengar penjelasan Ferry, yang langsung mendapat cubitan di hidungku.
"Aauuu sakit yank" ucapku sambil mengelus-elus hidung ku.
"Siapa suruh suami sendiri dibilang tengil dan posesif" gerutu Ferry.
"heheheehe..." cengirku sambil masih mengusap hidungku yang rasanya masih panas dicubit nih bule.
"Masih sakit?, ucap Ferry sambil meniup area hidungku dan mengecupnya. sambil berujar, "Maaf ya sayang, nariknya kekecengan tadi".
"Ahhh...sial kan kalau dia manis gini aku mau ngotot nyalahin dia kan jadi nggak enak" gumamku dalam hati.
__ADS_1