
"Pagi sayang" ujar Ferry menghujani kepala sang istri dengan ciuman selamat pagi saat adzan subuh berkumandang dari ponselnya.
"Udah subuh aja, cepet banget sih" ucap Lia sambil berusaha membuka matanya dan keluar dari pelukan sang suami.
"Masih ngantuk?" Tanya Ferry, Lia mengangguk namun tetap saja bangun dan turun dari ranjang rawat Ferry menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu.
Saat Lia keluar dari ranjang Ferry sudah bersiap untuk bangun dan turun dari ranjangnya.
"Suam, kamu butuh bantuan ku tidak?" tanya Lia melihat Ferry nampak tak memiliki masalah sama sekali saat bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
"Tidak perlu istri ku yang sayang, luka suami mu di bahu jadi bisa jalan dengan baik. Bahkan aku masih mampu membuat mu mendesah penuh kenikmatan" goda Ferry membuat bola mata Lia menlotot sempurna dan tentu saja sebuah cubitan gemesh mendarat di pinggang Ferry, membuat pria itu berteriak kesakitan karena Lia mencubitnya penuh kesal.
"Aaaaa....beneran sakit banget cubitan kamu yank,,,dendam banget sih sama suami" ujar Ferry sambil mengacak-acak rambut Lia untuk mengurai rasa sakit yang dia rasanya di pinggangnya.
"Nyebelin" teriak Lia begitu tubuh kekar sang suami masuk ke dalam kamar mandi.
Lia pun menggelar sajadah dan mengambil sarung dan peci dari lemari disamping ranjang untuk Ferry dan dirinya sholat berjamaah.
Saat Lia hendak mengenakan mungkena dia baru sadar tadi sudah bersentuhan dengan Ferry.
"Aiiish..wudhu ku jadi batalkan, Ferry bener-bener ngeselin banget sakit-sakit masih aja mensum" gerutu Lia meletakan kembali mungkena di atas sajadah dan bersiap berdiri untuk wudhu kembali.
"Hhmmm...dosa deh pagi-pagi udah ngedumelin suami ganteng nan sholeh lagi kaya raya....hahahaha" ucap Ferry sambil tertawa dan mengenakan sarung membuat Lia memalingkan wajahnya menatap suaminya yang memang ganteng banget apa lagi kalau pake koko dan peci pesonanya makin menggoda.
"Sudah wudhu sana, aku tau aku emang ganteng tapi kalau diliatin gitu trus kapan kita sholatnya" goda Ferry melihat Lia yang tak bergeming malah berdiri terpaku menatap Ferry.
"Narsis" sahut Lia lalu berjalan cepat menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Mereka berdua pun melaksanakan shilat subuh dua rakat dengan khitmat ditutup dengan Lia mencium tangan Ferry lalu Ferry mendaratkan ciuman penuh sayang dikening Lia. Tidak seperti hari biasanya mereka akan membaca selembar ayat al Quran kaliin mereka tidak membacanya karena Ferry dan Lia tak membawa Al Quran ke rumah sakit.
"Istri ku mau sarapan apa?" tanya Ferry setelah dia mendudukan bokongnya diatas ranjang sambil memangku macbooknya di atas pahanya sedang Lia masih melipat mungkenanya.
"Apa aja lah yang penting halal" sahut Lia lalu mendudukan bokongnya di sofa sambil bermain ponsel begitu melihat sang suami sudah sibuk bermesraan dengan macbooknya.
"Sayang, kenapa duduk disana?. Duduk disini" ajak Ferry sambil menepuk sisi ranjang yang tadi malam Lia gunakan untuk tidur.
Lia tak bergeming di panggil Ferry untuk pindah keatas ranjang membuat Ferry mengalihkan pandangannya melihat sang istri yang ternyata sedang asik memandangin ponselnya sambil senyum-senyum sendiri dan juga mengenakan earsphone.
"Pantes aja di ajak bicara tidak bergeming ternyata pakai earsphone dan sibuk dengan ponselnya" Ferry menarik nafas dalam menetralkan perasaan kesal diacuhkan lalu kembali sibuk dengan macbooknya.
Lia yang merasa ditatap sang suami akhirnya mengalihkan pandangan kearah sang suami yang berbarengan dengan Ferry yang kembali sibuk menatap macbooknya.
'Ternyata cuma perasaan ku aja, dia masih sibuk dengan macbooknya mana mungkin merhatiin aku' gerutu Lia yang merasa diacuhkan sang suami.
Padahal udah jauh-jauh datang kesini tapi malah dicuekin, orang sakit tapi tetep aja sibuk kerja. 'Suami ku benar-benar gila kerja' bathin Lia kembali menekuri ponselnya di group kampus yang orangnya banyak yang gokil dan kepoan, apa aja mereka bahas tanpa filter membuat Lia tertawa sendiri membacanya.
Ferry yang kembali menekuri macbooknya, tapi sayang dia tak bisa konsentrasi karena wajah istri tercintanya yang senyum-senyum sendiri saat menekuri ponselnya terus menghantui pikirannya. Sesekali Ferry melirik kearah Lia tapi yang dilirik tak bergeming terus asik dengan ponselnya.
__ADS_1
Ferry makin geram akhirnya mengambil jeruk di atas nakas samping ranjang membukanya bukan untuk di makan melainkan dilemparkan pada Lia sebuah jeruk yang telah dia kupas agar tidak terlalu sakit jika terkena Lia saat dia melemparnya.
Beberapa kali Ferry melempar baru berhasil membuat Lia bergeming dan menatap sang suami dengan wajah memberengut kesal karena suaminya usil banget melemparinya dengan jeruk.
"Suam....kamu kekanak-kanakan sekali" gerutu Lia membersihkan jeruk yang berceceran diruang rawat Ferry. Sementara yang membuat kotor santai tanpa merasa berdosa malah tertawa bahagia berhasil membuat sang istri menjauhi ponselnya.
"Kamu mau apa sih? sudah dari tadi sibuk sendiri dan nyuekin aku, sekarang malah lemparin aku pake jeruk lagi. Mau kamu apa sih?" omel Lia kesal dengan ulah sang suami yang childish.
"Mau kamu lah pakai nanya" sahut Ferry santai dengan mata nakal menaik turun kan alis membuat Lia speechless melihat tingkah sang suami.
"Koq manyun sih? aku dari tadi yang kamu cuekin. Aku panggil-panggil kamu malah asik terus mandangin ponsel sambil senyum-senyum sendiri" ujar Ferry yang membuat Lia melongo tak percaya dengan apa yang dia dengar
"Masa sih? koq aku nggak denger sama sekali" gumam Lia dengan wajah bingung karena dia tak mendengar panggilan Ferry sama sekali.
"Gimana mau denger orang kamu asik banget sama ponsel mu" ucap Ferry membuat Lia merasa bersalah ternyata semua berawal dari dirinya. Dia pikir sang suami yang nyuekin ternyata malah dia yang duluan nyuekin sang suami.
"Ma..." ucap Lia terjeda karena suara seorang wanita terdengar memasuki ruangan rawat Ferry membuat sepasang suami istri yang sedang adu mulut menoleh ke arah pintu.
"Pagi tuan muda Goucher, bagaimana kabar ada pagi ini? apa masih terasa sakit atau ada keluhan?" sapa sang wanita yang ternyata dokter yang semalam merawat Ferry datang lagi.
"Sudah lebih baik dok, sudah tidak terlalu nyeri seperti kemarin" jawab Ferry jujur apa adanya.
"Bagus kalo begitu kita ganti perban dulu pagi ini sekalian saya lihat jahitannya" ucap sang dokter mulai mendekat dan bersiap membantu membuka baju Ferry.
Lia yang melihat asik si dokter wanita panas sendiri. 'Ini dokter nggak ada malu-malunya maen samber baju laki orang aja...ckckck'
Lia makin kesal karena Ferry santai aja dijamah-jamah sama dokter wanita padahal biasanya dia nggak suka banget ada cewe selain dirinya menyentuh baju, barang-barang atau pun kulitnya.
"Dok, biar saya saja yang melakukan" ucap Lia akhirnya karena sudah tak tahan melihat aksi sang dokter wanita yang menurut pandangan Lia tak tau malu menggoda lelakinya.
"Ehh...ini tugas saya, mba santai aja tidak usah ikut repot" sahut si dokter wanita santu terus melepas kancing baju Ferry. Lia makin geram karena si dokter wanita tak bergeming. Lia akhirnya memelototi Ferry memberi tanda untuk menghentikan si dokter atau lihat nanti apa yang akan aku lakukan sebagai hukuman untuk mu. Begitu lah kira-kira Ferry menggambarkan tatapan tajam Lia padanya.
"Dok, biar istri saya saja yang melakukannya. Dia sangat pencemburu tak pernah membiarkan siapa pun mendekati saya termasuk dokter walau ini tujuannya merawat pasien" ucap Ferry membuat sang dokter menghentikan aksinya.
"Istri?" ujar sang dokter dengan nada kaget tak percaya pria tampan yang sejak muncul sudah membuat hatinya mengharap bisa terus dekat dan menjalin hubungan ternyata sudah menikah, pupus sudah harapan sang dokter wanita.
"Iya saya istrinya dok, jadi boleh saya saja yang mengganti perban suami saya" ucap Lia penuh penekanan pada kata suami membuat si dokter wanita tergagap.
"Si..silahkan, saya tidak tau kalau nona istri tuan muda Goucher" sahut si dokter wanita sambil menyingkir dari tempatnya dan membiarkan Lia melakukan tugasnya melepas kemeja Ferry dan juga melepas lilitan perban di bahu kirinya.
Lia membersihkan luka Ferry dengan alkohol membuat sang suami meringis karena agak perih. "Iiishhh" mendengar rintihan Ferry, Lia meniup luka Ferry sambil mengoles alkohol pada lukanya.
Dokter wanita itu terus memperhatikan interaksi sepasang suami istri yang begitu harmonis dan romanis membuatnya sedih karena harapan dan impiannya sudah harus dia kubur sekarang.
"Dok, ini mau langsung di perban ulang atau ada obat yang harus dioleskan?" tanya Lia karena semalam dia hanya melanjutkan memperban luka saja tidak tau awalannya gimana.
"Saya cek sebentar lukanya" sahut sang dokter kembali mendekati Ferry dan Lia pun memberinya ruang agar bisa memeriksa luka sang suami.
__ADS_1
"Lukanya sudah mulai mengering kalau begitu pakai saleb ini dulu baru di perban" ucap sang dokter wanita sambil memberikan saleb pada Lia.
"Kalau begitu saya tinggal dulu" ucap sang dokter.
"Tunggu dok, suami saya kapan boleh pulang?" tanya Lia menghentikan sang dokter wanita.
"Hari ini juga sudah boleh pulang kembali lagi tiga hari untuk melepas plesternya" ucap sang dokter wanita sambil memberikan Lia plester anti air dan mengambil plester harian yang tadinya mau Lia pasangkan pada Ferry.
"Jadi pakai yang ini dok plesternya?" tanya Lia sambil mengambil plester dari tangan sang dokter.
"iya, yang ini anti air. Jika pasien pulang maka yg harus dikenakan plester anti air ini, jadi tidak harus mengganti perban dua kali sehari lagi dan juga anti air jadi aman dipakai mandi" jelas sang dokter wanita yang dianggukan oleh Lia tanda mengerti.
"Oke, makasih dok" ucap Lia dengan senyum manis membuat sang dokter dengan berat hati membalas senyum Lia ramah lalu meninggalkan kamar rawat Ferry dengan perasaan sedikit sedih karena belum juga layar cintanya terkembang sudah harus karam di terpa kenyataan bahwa sang pujaan sudah beristri.
Usai Lia memasangkan kemeja Ferry kembali pintu kamar rawat Ferry di buka setelah di ketuk membuat sepasang suami istri itu menoleh kearah pintu dan wajah Jerry muncul dari balik pintu dengan tentengan yang kelihatannya sarapan untuk Lia dan Ferry.
"Tuan muda ini sarapan pesanannya" ucap Ferry sambil memberikan plastik tentengan yang dia bawa. Namun Ferry tak bergeming dia sudah kembali asik menekuri macbooknya.
Melihat Ferry cuek, Lia langsung berdiri menyambut pemberian Jerry dan berucap terima kasih dengan senyum manis. Lalu Lia mulai sibuk menyiapkan sarapan untuk Ferry agar sang suami bisa meminum obatnya.
"Suam, sarapan dulu nanti baru lanjut lagi kerjaannya" pinta Lia yang sudah selesai menyiapkan sarapan sang suami.
"Tanggung yank, kamu sarapan duluan aja. Aku selesain ini dulu, tidak enak nanti keburu kak Dhaniel sampai lagi" ujar Ferry membuat Lia mengerutkan dahinya tapi juga tak bisa memaksa Ferry jika itu terkait pekerjaan sang suami akan tetap kekeh dengan pendiriannya kecuali Lia menggunakan jurus rayuan mautnya tapi itu tak mungkin Lia lakukan karena ada Jerry diantara mereka.
Lia pun akhirnya sarapan ditemanin Jerry mereka makan sambil ngobrol membahas banyak hal termasuk Karenina yang kelihatannya memiliki hubungan special dengan Jerry.
Mendengar suara tawa Lia karena lelucon Jerry membuat manik mata sang suami menatap tajam kearah Lia dab Jerry membuat sang asisten yang juga sahabatnya sedari kecil itu menunduk tau bahwa dia sudah melewati batas.
Jerry terbawa suasana sampai lupa kalau ada sang tuan muda yang posesif dan bucin akut sama sang istri, siapa pun bisa dia cemburui tanpa pandang bulu jika terlalu dekat dengan sang istri.
Sedangkan Lia cuek aja ditatap Ferry lekat, pasalnya sudah biasa plus Lia juga sedang kesal karena sang suami menolak ajakanya untuk sarapan padahal Lia sudah menyiapkan sarapan untuknya.
'Makan aja tuh kerjaan, ngapain sekarang ngeliatin pake melotot-melotot lagi. nggak suka banget lihat istri happy dikit aja' gumam dalam hati setelah menatap balik sekilas sang suami kemudian kembali menekuri sarapannya tanpa memperdulikan sang suami.
Jerry jadi makin canggung dan tak enak hati. Dia langsung berdiri dan pamit untuk ke toilet setelah merapikan sarapannya.
"Jer, kenapa keluar dari kamar? disini kan ada toilet juga" ujar Lia spontan melihat Jerry pamit ke toilet tapi menuju pintu keluar dan melewati pintu toilet.
"Saya pakai toilet di kamar sebelah aja nyonya muda" sahut Jerry kemudian bergegas keluar ruangan sang tuan muda yang sudah menyeruakan aura dingin karena kesal melihat sang istri yang slalu saja mudah akrab dengan siapa pun.
"Sayang mana sarapan untuk ku?" ucap Ferry setelah menghembuskan nafas berat dan menetralkan perasaannya.
Lia langsung berdiri dan mendorong meja makan pasien kearah Ferry. "Makan lah, mungkin sekarang sudah agak dingin soup sirip hiunya" ucap Lia kemudian kembali lagi ke sofa melanjutkan sarapannya yang belum habis.
Mereka pun sarapan dengan tenang tanpa suara. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Hai-hai readers...sehat kan semuanya jangan lupa like and komen ya biar author
__ADS_1
semangat lagi nulis.