Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Tugas Kuliah


__ADS_3

"Ahhhhh....sayang cukup" ucapku sambil memegang lengan Ferry agak tak melanjutkan gerakannya menuju intiku. "Kita harus ke rumah mama sekarang, tugas kuliahku besok pagi harus dikumpulkan...please hentikan" ucapku lirih, karena dalam hati sesungguhnya aku pun tak rela kegiatan ini berhenti disaat gairah mulai menjalar hampir keseluruh urat nadiku.


"Harus banget berhenti sekarang yank?" tanya Ferry dengan nada dan raut wajah tak rela. Aku hanya menganggukan kepala dengan wajah memohon agar Ferry setuju menghentikan kegiatan bercinta kami saat ini walau berat, tapi harus berhenti sekarang kalau tidak bisa kacau semua kegiatanku besok.


"Sayang tapi adik kecilku sudah bangun" ucap Ferry sambil menunjuk kearah celana pendeknya dimana sesuatu sudah menyembul di dalam sana.


"Aku tau sayang tapi tugas kuliah ku besok datelinenya, aku nggak mau gara-gara gagal mengumpulkan tugas besok, satu mata kuliah tidak lulus...itu akan menghambat semua rencana kita" ucapku sudah hampir menangis, membuat Ferry mengalah dan menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasrat sendiri.


Aku menghampiri suamiku saat ku lihat Ferry keluar dari bathroom hanya dengan berbalut handuk menuju lemari.


"Maaf ya sayang, bukan maksud ku menolak keinginan mu...sesungguhnya aku juga menginginkannya, tapi..." Belum selesai ucapanku sudah dipotong Ferry.


"Kamu harus membayarnya dua kali lipat" ucap Ferry sambil membungkam mulutku dengan bibirnya.


"Baik, sekarang kamu cepat siap-siap kita ke rumah mama ya suamiku" ucapku sambil menyambar tas dan ponsel ku lalu keluar dari kamar menuju sofa, lebih aman aku menunggunya disofa agar hal tadi tidak terjadi lagi.


"Ayo sayang, kita berangkat sekarang" ajak Ferry yang sudah menenteng tas ransel berisi laptop dan juga berkas-berkas kerjanya.


"Baju mu sudah di bawa belum?" tanyaku karena hanya melihat ferry membawa satu ransel.


"Owh iya, lupa belum. Aku hanya ingat dengan berkas-berkas dan juga laptop" ujar Ferry sambil nyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hhhmm...aku saja yang rapikan kalau begitu, kami tunggu lah di sofa sebentar" pintaku pada Ferry sambil kembali ke kamar untuk packing baju Ferry.


"Ayo sayang kita berangkat sekarang" ucapku sambil menarik koper ukuran kabin.


"Sayang kamu mau aja aku pindah ya dari sini sampe membawa baju pakai koper begini...heheheehe". ledek Ferry sambil nengelus kepalaku.

__ADS_1


"HooH, aku nggak mau tinggal di hotel terus...jadi bawa baju banyakan biar lama nginep di rumah mamanya" jelasku.


"Oke lah kalau begitu, kita jalan sekarang nanti keburu pagi"....ujar Ferry yang sudah siap dengan tas ransel dipunggungnya berjalan mengahampiriku kemudian menggandeng tanganku dengan tangan satunya menjinjing koper.


"Sayang aku mau kasih sertifikat rumah lama ke mama agar mama kembali tinggal disana dan juga BPKB serta STNK mobil,,,boleh?" tanyaku saat kami memasuki lift dengan tampang penuh harap takut Ferry tak setuju dengan niatku.


"Tentu saja boleh sayang, semua itu sudah jadi milik mu sejak aku selesai mengucapkan ijab qobul. Jadi kamu bebas mau memberikannya pada siapa pun. Apa lagi kamu berikan pada mama, yang sekarang juga sudah jadi mama ku". ucapnya dengan senyum sumbringah menampakan deretan gigi putihnya. Aku makin manja bergelayutan dilengannya, membuat Ferry mendaratkan sebuah kecupan di keningku.


Setibanya di lobby hotel, mobil Alphard hitam kemarin sudah menunggu kami. Dengan sigap sang supir membantu Ferry meletakan koper dibagian belakang mobil sedangkan tas ranselnya diletakan Ferry di bawah kakinya, nampaknya isi ransel itu berharga sekali sehingga Ferry tak rela orang lain menyentuhnya.


Di dalam mobil pun aku masih melingkarkan tanganku dilengannya dengan kepala ku bersandar pada lengannya. Membuatku menjadi mengantuk dan tertidur selama perjalanan. Aku baru terbangun saat Ferry meletakan ku diatas ranjang.


"Sayang, kamu mau apa?" ucapku kaget ketika membuka mata posisi ku berbaring di ranjang dengan lengan Ferry masih di atas kepalaku dan bokongku.


"Kamu udah bangun?" ucapnya santai dan bangkit dari posisinya dan duduk di tepi ranjang sebelahku, aku pun bangun dan duduk bersandar diranjang.


"Kita sudah di rumah mama ya?" tanya ku saat sudah sepenuhnya sadar dan memindai kamar yang ternyata kamarku di rumah kami yang baru.


"Kalau begitu cepat kerjakan tugasmu nanti keburu pagi" perintah Ferry yang menyadarkan ku akan tugas mendisign perhiasan.


Aku langsung bangkit menuju kamar mandi mencuci muka ku, menjepit rambutku hingga leher jenjangku terpampang semakin nyata saat ku kenakan baju tidur dengan tali spageti berwarna merah yang kontras dengan warna kulitku yang putih. Membuat Pria yang tadinya asik dengan berkas-berkasnya menatapku dengan wajah mesum.


"Sayang kenapa kamu malah berganti baju tidur seperti itu, hah? sengaja menggodaku?" ucap Ferry dengan mata yang berbinar-binar penuh gairah.


"Biar gampang yank, begitu tugas selesai aku bisa langsung bobo cantik, nggak ribet bersih-bersih lagi". Jawabku santai sambil mengambil alat gambarku dan membawanya ke atas ranjang, membuat si bule mengerenyitkan alisnya.


"Kenapa wajah mu jadi jelek begitu yank?" Tanyaku heran karena tiba-tiba raut wajan Ferry berubah drastis.

__ADS_1


"Kamu selalu seperti itu saat mengerjakan tugas" tanya Ferry membuat ku menaikan satu alis karena bingung dengan maksdnya.


"Maksudmu apa yank?" tanyaku to the poin.


"itu, mengejakan tugas diatas ranjang?" tanyanya sambil menujuk kearahku dengan dagunya.


"ohh...iya memang selalu seperti ini, kenapa? ada masalah?" tanyaku balik dengan nada jutek membuat si bule gelagapan.


"Tidak ada, sudah lupakan saja" ucap Ferry kemudian lanjut menekuri berkas-berkasnya dan juga laptopnya. Sedangkan aku sibuk dengan alat gambarku. Ruang kamar berisi dua manusia namun terasa sepi sekali, kami berdua tak bersuara sama sekali sibuk dengan kegiatan kami masing-masing, sesekali menoleh melihat ke arah si bule yang terus tak bergeming menekuri pekerjaannya.


"Nampaknya pemandangan seperti ini akan sering aku lihat nantinya saat kami tinggal bersama di Negara A". Bathin ku saat menatap sosok suamiku yang tengah sibuk dengan pekerjaannya tanpa menoleh sedikit pun padaku. Aku buru-buru menggelengkan kepala agar tak lama-lama melamun memandang keindahan yang Tuhan ciptakan dan takdirkan jadi suamiku. Kemudian kembali melanjutkan design perhiasanku.


"Yes, Done" ucapku tepat pukul 03.25 aku berhasil menyelesaikan gambar design perhiasan.


"Sudah selesai yank?" suara bariton suamiku terdengar tapi wajahnya tetap ke arah laptop.


"Sudah, kamu masih sibuk? aku tidur duluan ya" ucapku karena sudah berkali-kali menguap saat sedang menggambar tadi.


"oke" jawab Ferry tanpa menoleh sedikit pun kearahku.


"Najong banget ini bule kalau sibuk bininya nggak dianggep...ckckckk" gerutuku dalam hati. Dan mencari posisi nyaman untuk tidur tapi tak berhasil terlelap, rasanya ada yang kurang. Aku sudah nguap-nguap berkali-kali tapi tetap saja tak bisa tidur.


"Ahhh...rese banget masa baru beberapa hari tidur dalam pelukan si bule udah bikin aku ketergantungan gini...huffft" gumamku kesal dalam hati. Akhirnya aku kembali duduk bersandar di ranjang, memandangi suamiku yang sibuk dan tak bergeming terus fokus dengan laptop dan juga berkas-berkasnya.


"Sayang kamu masih lama?" tanyaku dengan nada kesal, karena mataku sudah perih akibat mengantuk tapi tak mau terpejam sebelum dipeluk suamiku.


"Ehh...kamu belum tidur?" tanya balik Ferry karena kaget melihatku belum juga tertidur, pasalnya tiga puluh menit lalu aku sudah pamit untuk tidur.

__ADS_1


"Nggak bisa tidur, mau bobo di peluk suamiku" Jawab ku dengan nada manja dengan pipi sudah merona menahan malu membuat si bule tertawa.


"Hahahahaa...kenapa nggak bilang dari tadi,hah?" ucap Ferry sambil berjalan menuju ranjang mengikis jarak kami. Dan berbaring mendekapku dalam pelukannya. Tak butuh waktu lama aku yang memang sudah sangat mengantuk langsung terlelap.


__ADS_2