Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
curahan hati


__ADS_3

#POV Ferry#


"Ahhhhh...siaaal" Maki Ferry sambil menggusrak rambutnya. "Kenapa sih aku nggak bisa banget nahan diri setiap berdekatan dengan Lia?", "Apa yang harus aku laku kan sekarang?". Pikiran ku kacau melihat Lia yang berlari keluar perpustakan dengan mata yang mulai menangis.


"Jerry, kamu dimana?, cari keberadaan Lia sekarang. Dia baru saja keluar dari perpustakaan kampus kurang dari lima menit lalu, aku butuh cepat Jerry jangan kecewakan aku" perintahku pada Jerry sambil berjalan keluar dari perpustakaan.


"Baik tuan muda, saya akan secepatnya memberi kabar keberadaan nona Lia". Aku hanya mengangguk, kemudian menutup telphon dan lanjut berjalan tak tentu arah, hanya mengikuti langkah kaki, berjalan tak tentu arah. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang untuk menghibur Lia. "Minta maaf, berlutut dihadapannya?", "Aahhhh...sialan dengan cinta ini, kenapa aku jadi bodoh dan idiot seperti ini". "Sebaiknya aku telphon Lia saja, dia kan taunya aku si cupu kutu buku".


Aku langsung menelphon Lia, namum puluhan kali sudah ku coba telphon tapi tak juga diangkatnya. "Siaaaaallll, kemana perginya wanita ini. Semoga dia tidak melakukan hal bodoh. Aahhhhggghh" Hampir saja aku melempar ponselku lagi karena kesal, untung saja ada telphon masuk ke ponselku jadi ku urungkan niatku melemparnya. Ku lihat nama Jerry di layar ponsel. Buru-buru ku angkat telphon dari Jerry.


"Gimana? Dimana dia sekarang?". Tanyaku sudah kepo tingkat dewa dengan suara berat.


"Nona Lia ada di tepi pantai tak jauh dari sini, tuan muda mau saya antar kesana?". Lama aku terdiam, karena aku sungguh tak tau harus berbuat apa untuk melunakkan hati Lia, rasanya apapun yang ku lakukan slalu salah dimatanya. Cap cowo cabul dan suka melecehkan wanita itu terlanjur Lia lekatkan pada ku.


"Huuuuh, jemput aku sekarang di parkiran timur dekat perpustakaan" ujarku yang langsung di iyakan Jerry.


Aku kembali mencoba menelphon Lia. Namun masih belum juga diangkat. Lalu aku pun mengirim pesan padanya.


"Hei cantik, sedang sibuk ya? telphon ku sampai tidak kamu angkat, kamu sangat membuatku khawatir. Jika sudah tidak sibuk, please balas pesan ku ya my love" -Ferry-


Pesanku pun tak mendapat balasan dari Lia, sampai Jerry datang menghampiriku, tetap tak ada balasan pesan dari Lia. Dengan tak berdaya pun aku mengikuti Jerry menuju mobil dan bagitu masuk aku langsung menghempaskan tubuhku di jok mobil, rasanya seluruh tubuhku lemas sekali seperti separuh jiwa ku meninggalkan ku pergi.


"Jerry, katakan apa yang harus aku lakukan sekarang?". tanyaku pasrah karena sudah buntu otak ini, ntah raip kemana kecerdasan ku sampai tak bisa di upajak berfikir.


"Memang apa yang terjadi sampai nona Lia menangis sendirian di tepi pantai?" tanya Jerry sambil melihatku dari kaca spion. Aku hanya dia saja gengsi sekali aku ceritakan betapa bodohnya aku dalam melakukan pendekatan saat menjadi diriku sendiri, tapi saat menjadi si cupu kutu buku aku bisa mengantrol semuanya. "Sial betul saat aku menjadi diri ku sendiri malah sulit sekali mengendalikan diri saat berdekatan dengannya". "Rasa ingin memiliki dirinya hanya untuk ku begitu kuat, sampai tak bisa ku kendalikan", "Benar-benar sial" bathinnku terus mengerutu akan kebodohan diri sendiri.

__ADS_1


"Tuan muda, bagaimana aku bisa memberi mu saran jika kamu tidak menceritakan segalanya padaku?" ujar Jerry lagi-lagi tak ku gubris. Jerry pun hanya menggeleng lalu kembali fokus menyetir tak lagi memperdulikan ku. Tiba-tiba notifikasi pesan masuk, betapa bahagianya aku. Lia membalas pesan ku.


"Maaf aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk mengobrol dengan siapa pun saat ini" -Lia-


"What's Wrong baby, please tell me. You can share everything with me" -Ferry-


Lama Lia tak membalas pesan ku, aku mencoba untuk bersabar tak mendesaknya untuk bercerita karena aku ingin tau perasaannya pada ku, "real Ferry Goucher, bukan si cupu kutu buku" bathinku mulai cemburu dengan diri ku sendiri yang cupu. Konyol sekali rasanya, tapi kenyataanya aku sedikit kesel melihat Lia membalas pesan si cupu tapi menghiraukan ku.


"Tuan muda, di depan itu nona Lia yang duduk di tepi bebatuan dekat mobilnya di parkir. Tuan muda mau kesana atau tidak?" tanya Jerry tak langsung ku jawan, aku sedang berfikir sejenak apa yang akan aku lakukan.


"Parkirlah ditempat yang aku bisa tetap melihat Lia dari dalam mobil" pintaku pada Jerry yang langsung dilaksanakan dengan sempurna kini mobilku terparkir di sisi berlawanan dari Lia duduk, sehingga aku dengan mudah bisa melihatnya.


Gadis itu terlihat begitu rapuh, rasanya aku ingin kesana duduk disampingnya, memeluknya memberinya kekuatan, menenangkannya dan memberinya banyak cinta dan kecupan. "Jangan konyol Ferry, dia seperti itu karena ulah mu". Aku hanya bisa menarik nafas panjang lalu kembali mencoba menelphon Lia karena pesanku tak jua dibalas.


"Hei cantik, are you oke?" sapa ku mengawali pembicaraan.


"I'm fine" jawabnya singkat.


"Kenapa suara mu terdengar begitu sendu? apa terjadi sesuatu pada papa mu?" tanya ku berusaha menutupi perasaan kacau di hatiku, karena suaranya parau sekali nampaknya perlakuan ku padanya benar-benar melukainya begitu dalam. "Maafkan aku sayang, maafkan aku yang tak bisa mengendalikan diriku, next aku akan coba untuk lebih sabar dan menekan nafsuku terhadap mu, semoga saja aku sanggup" bathinku.


"Papa baik-baik saja, hanya tadi ada sesuatu yang terjadi...huaahhaaaa" tangis Lia pecah, mendengar tangisnya membuat dadaku begitu sesak. "Sialan kau Fer, liat ulah mu" aku memukul-mukul dadaku yang terasa sesak.


"My love , don't cry please. Ayo ceritakan padaku agar perasaan mu jadi lega". "Apa ada yang menyakitimu?". Aku mulai tak sabaran ingin mendengar perasaan Lia terhadapku.


"Ada Pria bule sialan, brengsek, bajingan dan tengil tapi ganteng..huaaahhhaaa" Lia kembali menangis, tapi mendengar kata Terakhir Lia membuatku tersipu-sipu. "Dia bilang aku ganteng, ehhh aku kan memang ganteng. Kemana saja dia baru sadar,,,hehehehe" kekehku dalam hati.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan pada mu?" tanyaku menekan perasaan yang sudah membuncah keluar antara sedih dan berbunga-bunga.


"Dia memeluk dan mencium ku". ujarnya singkat.


"Kurang ajar, Beraninya dia melakukan itu pada gadisku" ucapku sambil menahan ketawa dalam hati.


"Benar, dia memang sangat kurang ajar, tapi aku bukan gadis mu juga keles". ucap liat sambil memberengutkan bibirnya, sangat menggemaskan membuat ku ingin menciumnya. "Uuupppsss...jangan mulai lagi Fer, bisa tidak jangan piktor gitu" bathinku.


"Kamu sedang sedih masih bisa-bisanya protes" sahutku dengan nada kesal yang dibuat-buat.


"Dari pada menjadi gadis mu aku pilih dia yang sudah jelas-jelas ganteng...huahaaaha" sambil menangis dia terus bicara. "kamu tau tidak aku bahkan bisa tanpa sadar melukis wajahnya saat sedang galau, membayangkan dia dan aku mengenakan gaun malam couple senada, padahal aku sangat membencinya, karena dia slalu melecehkan ku". "kalau boleh jujur sebenarnya aku nyaman saat dalam pelukannya, saat dia menciumku tadi aku menikmatinya", "aku benci perasaan ini"


Mendengar curahan isi hati Lia membuatku ingin lompat-lompat rasanya, ternyata dia menyukaiku juga. Ternyata benar Lia memang membuat wajahku di sketsa designnya itu, dan dia mau aku dan dia mengenakan gaun malam couple senada itu bersamaan, aku akan mewujudkan keinginan mu baby. "Selangkah lagi Ferry kamu pasti bisa memilikinya" Ucapku dalam hati penuh semangat.


"Jadi apa yang membuatmu menangis dari tadi? seperti orang yang putus asa" sahutku setenang mungkin setelah mendengar cerita Lia agar dia tak curiga.


"Karena rasanya....aku...aku takut dia cowo kaya playboy yang suka mempermainkan wanita, dia memperlakukan ku seperti itu cuma untuk main-main dengan ku, Dia itu cowo pertama yang memeluk dan mencium ku selain papa dan Bimo" lanjut Lia. "Kalau kamu mau tau, kamu juga satu-satunya wanita yang mau ku suntuh dan ku izinkan menyentuhku, karena aku sangat mencintai mu. Kamu adalah cinta monyet ku, cinta pertama ku. Sejak saat itu, nyawaku adalah milikmu. Setiap hembusan nafasku ada nama mu, Lia Putri Aghata" bathinku.


"Hhhmmm...kamu benar-benar tak menganggapku ya selama ini?" ucapku dengan nada merajuk.


"Kamu itu ku anggap sahabat terbaik ku selain Mira" jelas Lia.


"Hhhmmm,,,sahabat. Lumayan lah dari pada tidak kau anggap keberadaan ku?". "Sepertinya kamu sudah lebih baik sekarang, aku tutup telphonnya ya". ucapku ingin menutup telphon.


"Terima kasih ya cupu kamu mau mendengar curahan hatiku". "Kamu benar-benar sahabat terbaiku" . kalimat terakhir lia sebelum menutup telphon.

__ADS_1


__ADS_2