
"Kak, kami pulang duluan" Ferry langsung menarik pinggang Lia kedalam pelukannya dan pamit pada Dhaniel dan Margaret
"Ehh...Itu Morgan baru saja naik, kita belum mengucapkan selamat padanya" ujar Lia belum ingin pulang.
"Lain kali aku akan temani kamu bertemu Morgan untuk mengucapkan selamat"
Begitu selesai ngucapkan kalimatnya Ferry langsung membawa Lia pergi meninggalkan hotel
Diluar Leon sudah menunggu kedatangan Ferry sesuai instruksi sang bos sebelumnya.
"Ini kuncinya tuan" Leon memberi kunci mobil pada Ferry, kemudian mengikuti mobil Ferry dengan mobil yang dikendarai anak buahnya.
Tapi siapa sangka begitu mobil Ferry keluar dari hotel mereka sudah dibuntuti tiga buah mobil hitam.
"Duduk yang tenang"
pesan Ferry pada Lia, lalu mulak menancap gas dan melajukan mobilnya
ini merupakan pengalaman yang baru untuk Lia, jangan tanya Lia tegang atau tidak? jawabnya tentu saja Lia mengalamin ketegangan yang amat sangat
apalagi saat Ferry mulai menginjak pedal gasnya lebih dalam, wajah Lia langsung memucat, jantungnya melaju lebih cepat rasanya Lia tak berani membuka matanya menatap jalan
Ferry tentu saja mengetahui hal itu tapi dia tak ada pilihan lain karena jika dia melambatkan laju mobil akan sangat beresiko, biar bagaimana pun ini bukan wilayah kekuasaannya
Ferry terus menambah kecepatannya sampai beberapa belokan akhirnya anak buahnya Leon berhasil menghalangi orang-orang yang mengejar mobil Ferry dan Leon.
mereka berhasil lolos dari kejaran, Ferry pun kembali mengemudi dengan normal dan mengulurkan tangannya mengelus lengan Lia menenangkan wanita kesayangannya.
"Jangan khawatir semua akan baik-baik saja"
Lia menengok menatap wajah tampan Ferry, seketika kekhawatirannya pun sirna dan dia mulai kembali tenang.
Lia tersenyum dan mulai bertanya untuk menghilangkan ketegangan "Mereka orang-orang Musa?"
Ferry hanya mengangguk, Dia malas menceritakan semuanya secara detail pada Lia
Melihat Ferry yang enggan untuk bercerita akhirnya Lia diam dan duduk dengan tenang
Ferry melajukan mobilnya dikawal mobil yang dikendarai anak buah Leon sampai ke villa dengan selamat.
"Kamu kembali lah ke kamar" pinta Ferry pada Lia begitu mereka masuk kedalam villa.
"Aku masih ada yang harus diurus dulu, nanti aku menyusul" sambung Ferry melihat Lia tak bergeming malah menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Akhirnya Lia mengangguk dan pergi meninggalkan Ferry yang mulai sibuk mengurus kekacauan malam ini.
Ferry tak ingin nantinya saat dia harus mondar mandir ke negara S memantau proyek kota wisata, dia harus terus merasa tak tenang karena gangguan dari Musa.
__ADS_1
jadi, Sebelum kembali ke negara A besok sore Ferry berharap masalah dengan Musa sudah diselesaikan Leon.
"Bagaimana kondisinya malam ini?" tanya Ferry begitu dia dan Leon duduk di ruang baca
"ada satu yang meninggal dan banyak anak buah ku yang terluka parah malam ini"
"Kalau main fisik disini sepertinya kekuatan kita akan kalah, jalankan rencana B"
"Berikan santunan pada keluarga yang meninggal, pastikan keluarga mereka tidak kekurangan, untuk yang luka-luka pastikan mereka mendapaat perawatan terbaik dan berikan mereka semua bonus dua bulan gaji. untuk yang selamat berikan mereka semua bonus satu bulan gaji"
"Terima kasih bos, bos memang yang terbaik. Jika tidak ada perintah lagi saya permisi untuk mempersiapkan rencana B"
Ferry mengibaskan tangannya tanda mengizinkan Leon untuk pergi.
Sepeninggal Leon Ferry tak langsung meninggalkan ruang baca dia menelphon Dhaniel untuk memastikan keadaannya.
"Hallo kak, kalian baik-baik saja?" tanya Ferry begitu sambungan telphon terhubung
"Kamu tenang lah, dia tidak mungkin berani menyentuh ku biar bagaimana pun ini negara tempat ku"
"Syukurlah kalau begitu, kakak sempat bertemu Morgan? Dia baik-baik saja kan?"
"Jangan khawatir, Morgan mendapat perlindungan langsung dari pihak kepolisian sejak walikota mengumumkan PT Megantara Group sebagai pemenang tender"
"Berita bagus, kalau begitu aku bisa tenang sekarang" sahut Ferry begitu mendengar penjelasan Dhaniel
"Tidak akan aku biarkan itu terjadi lagi, Lia akan slalu dalam pengawasan ku selama di negara S"
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahatlah, besok aku dan Morgan akan ke villa mu"
"Oke" sambungan telphon pun diputus, Namun Ferry tetap duduk di kursi sambil memainkan jarinya diatas meja.
Ferry khawatir karena keegoisan dirinya dia membahayakan banyak orang.
Tapi mau bagaimana lagi, Ferry memang tipe orang yang paling tak suka diancam, apalagi timah panas pernah bersarang di bahu kirinya kerena ulah Musa.
Semua masalah ini saja belum Ferry perhitungkan dengan Musa
Bagaimana bisa dia harus merelakan tender Kota Wisata jatuh ke tangan Musa dengan cara menculik Lia.
"Musa...Musa, kamu benar makhluk tak tau di untung. Beraninya menguji kesabaran ku seperti ini"
Musa sudah berani bermain dengan hal yang paling tabu dengan Ferry itu artinya Musa memang menantang Ferry secara tidak langsung.
Setelah perasaan Ferry tenang dia baru kembali ke kamarnya, disana Lia sudah tertidur pulas
'Hhmm...tumben bisa tidur pules, saat ada masalah menegangkan begini?' gumam Ferry yang tak biasa melihat tingkah Lia.
__ADS_1
'Begini malah lebih bagus' bathin Ferry saat melihat wajah sang istri terlelap.
Ferry pun langsung pergi membersihkan diri lalu naik keatas ranjang menenggelamkan wajahnya di cengkuk leher Lia mencari kenyamanan dan tak perlu menunggu waktu lama dia pun sudab menyusul Lia ke alam mimpi.
Sedangkan untuk Leon malam ini jadi malam panjang, dia sibuk mengurus anak buahnya yang terluka di rumah sakit agar semuanya mendapat perawatan terbaik seperti perintah sang bos
dan juga sibuk mempersiapkan rencana B sebagai hadiah besar dari tuan muda Goucher untuk Musa.
Di Villa Musa sedang membanting barang-barang yang dia sentuh karena dia sangat marah dipermainkan Ferry.
Dia benar-benar tak menduga Ferry Goucher berani bermain dengannya seperti ini. Padahal dia sudah mengeluarkan banyak tenaga, waktu dan juga uang untuk mendapatkan tender ini.
"Sialan kau Ferry Goucher, Brengsek" teriak Musa sambil melempar sebuah guci kecil ke arah anak buahnya.
"Kalian semua tolol, kenapa mereka bisa lolos. Dasar tidak berguna"
Anak buah Musa hanya bisa tertunduk diam tak berdaya, menerima nasib menjadi pelampiasan amarah Musa seperti biasanya setiap kali misi gagal dilaksanakan.
"Aku tidak mau tau bagaimana pun caranya sebelum dia kembali ke negaranya aku mau dia dan istrinya hidup atau mati atau kalian semua yang akan kehilangan nyawa"
"Baik bos, kami akan pastikan besok akan berhasil menghabisi mereka" ucap pemimpin gengster
"Kalian bubar lah, aku muak melihat wajah kalian semua"
Musa yang sudah mulai lelah karena menahan amarah dan juga marah-marah sepanjang malam akhirnya pun hanya bisa pasrah menunggu hari esok dan berharap anak buahnya berhasil menghabisi Ferry agar dendamnya terlampiaskan
"Anne kamu ikut aku ke kamar?"
Pinta Musa agak aneh karena tak biasanya Musa mengizinkan wanita masuk kedalam kamarnya, tapi Anne pun tetap melakukannya
"Kamu tuangkan anggur dan temani aku malam ini"
jantung Anne rasanya mau lepas, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Anne memang sudah sejak lama jatuh cinta dengan Musa tapi selama ini Musa tak pernah memperlakukan Anne seperti wanita dewasa pada umumnya dia menjaga jarak dengan Anne dan memperlakukannya seperti adiknya snediri
"Kenapa malah bengong disana, ayo cepat hibur aku. Aku sedang sangat kesal malam ini"
"Memang ada apa?" tanya Anne yang memang tidak tau apa yang terjadi, karena Musa tidak melibatkannya malam ini
"Sudah kamu tidak usah pikirkan kamu cukup hibur aku dan senangkan aku malam ini"
"Aaagghh" teriak Anne terkejut karena Musa menarik tangannya saat dia memberikan gelas berisi anggur untuk Musa
Musa menegak habis anggur dalam gelas dan langsung mendorong tubuh Anne keatas sofa, Anne hanya bisa pasrah dan menerima nasibnya jika malam ini kehormatannya direnggut Musa.
Dia tidak akan menyesal karena dia berhutang nyawa pada Musa sekaligus Anne memang sangat mencintai Musa.
__ADS_1