Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Perjamuan (part 2)


__ADS_3

"Boleh aku duduk disini?" belum juga ku jawab pertanyaannya dia udah langsung duduk aja. 'ini orang nampaknya lebih pede daripada si bule'.


"Nama Charlie Bronson, namamu siapa?" Dengan Pedenya dia mengulurkan tangan, aku hanya diam dan terus menatapnya.


"Nampaknya kamu masih kesal ya, jadi tidak mau berkenalan dengan ku" Ucapnya sambil menyalami dirinya sendiri,,lalu dia menirukan suara perempuan seakan-akan dia sedang berkenalan denganku."Panggil saja aku cantik, senang berkenal dengan mu Charlie tampan".


'Beneran sakit nih orang' hampir saja aku tertawa melihat tingkah konyolnya tapi inget wajah Ferry aku menahan diriku agar tidak terpengaruh dengan semua tingkah Charlie.


"Yah koq masih diem aja sih, kamu nggak bisu kan?, Mana mungkin hadir diperjamuan sepenting ini bisu, aku benar-benar konyol" ujarnya lalu menepuk kepalanya sendiri.


Charlie tak juga lelah terus saja bicara sendiri, sampai akhirnya diatas panggung Mr. Yamamoto naik untuk mengumumkan perusahaan peraih tender baju untuk seragam restoran miliknya. Aku berdiri dan berjalan untuk melihat keatas panggung. Aku malah melihat Ferry berdiri berdampingan dengan Melanie, dan mendengar bisik-bisik para hadirin tentang mereka berdua, yang membuat alisku mengkerut.lll?


"Sepertinya Ferry Goucher menang banyak nih, dapet tender juga dapat cucu cantik Mr Yamamoto"


"Mereka terlihat serasi, laki-lakinya tampan yang perempuannya cantik"


"Iya perempuan mana yang tidak mau dengan pria setampan itu, aku saja mau"


"Tapi aku lihat tadi saat turun mobil Pria itu mengggandeng seorang wanita yang tak kalah cantik dengan cucu Mr Yamamoto"


"Yang benar kamu? aku dengar Ferry ini pria dingin yang slalu acuh pada wanita"


"Iya aku yakin, cuma selama pesta aku hanya melihatnya terus sendiri mengobrol dengan para pengusaha pria lainnya".


'Salah mu sendiri Lia yang tak mau hubungan kalian di publish, jadi jangan menyesal jika diluaran akan banyak gadis yang menggoda suami mu'


'Tenang Lia, Ferry hanya mencintai mu. Hanya kamu yang dia mau dalam hidup ini'.


Pikiranku sudah tak karuan. rasanya malas aku melihat kepanggung, aku pun berjalan ketempat ku duduk lagi sebelumnya. Tambah lagi Charlie berisik sekali disampingku. Dia terus mengekoriku tanpa lelah.


"Stop, berhenti mengikutiku" Ucapku dengan nada kesal. Sebenarnya aku kesal mendengar ucapan orang-orang itu bukan sepenuhnya kesal pada Charlie tapi karena hanya ada dia disini jadilah dia pelampiasan amarahku.


"Wah, ternyata kamu bisa cara cantik. Suara mu renyah sekali...Aku suka mendengarnya"


Charlie dengan santainya malah menggodaku, orang ini benaran sakit kurasa. Masa iya sudah diusir sama orang dia tetep konsisten mepetin.


Karena Trus ngomel dan menggerutu, tenggorokan ku terasa kering. Haus sekali rasanya. Aku pun berjalan ke Buffet minuman untuk mengambil minuman, hanya tersisa minuman beralkohol saja dan air mineral. Jadi aku memilih air mineral, saat aku sedang menenggak air dari botolnya langsung, Charlie mengejutkan ku sehingga air dalam mulutku menyembur dan mengenai wajah dan jasnya.

__ADS_1


"Aduh cantik kamu kenapa kejam sekali padaku, ini jas baru ku"


Mendengar keluhannya aku jadi nggak enak hati. Aku pun mengambil tisu dan memberikan tisu itu ke Charlie. "Maaf ya, kamu mengagetkan ku. makanya jadi orang jangan suka usil" Aku memarahi Charlie sambil membantunya mengeringkan bajunya.


"Tidak apa lah disembur air, setidaknya kamu jadi mau bicara dengan ku" Ucap Charlie sambil tersenyum membuat mata sipitnya makin sipit.


"Sayang, kamu sedang apa?" Suara Bariton milik Ferry membuat tubuhku seketika membeku. 'Apa yang dia pikirkan melihat ku sedangan megang-megang laki-laki lain gini, mati lah aku'.


Dengan senyum manis aku membalikkan tubuhku ke arah suara si bule berasal. "Ini aku tadi dikejutkan Charlie saat sedang minum, akhirnya air dalam mulutku menyembur ke wajah dan jasnya. Lihat lah dia sampai basah seperti ayam sayur" ucapku melucu berusaha mencairkan suasana yang membeku.


Aura Wajah Ferry makin nampak murah setelah aku bicara. 'Kayanya aku salah bicara ini,wajah si bule makin serem'.


"Charlie?" ujarnya sambil mwngerenyitkan alisnya dalam.


"Iya dia dari tadi sibuk menggangguku, mengajak ku berkenalan, sudah aku cuekin dia tetap saja mengikutiku. Dia menyebutkan namanya Charlie, aku juga baru tau beberapa menit lalu"


'Ku lihat wajah si bule agak baik kan, semoga dia tidak ngambek dan ngamuk disini. bahayakan kalau kejadian kaya Rendy'.


"Owh jadi si cantik dari tadi tidak berani bicara dan terus nyuekin aku karena herder ini?" gumam Charlie yang masih terdengar kami berdua.


Membuat Ferry menatap Charlie tajam. "Dengar baik-baik tuan Charlie, yang sedang anda kejar adalah wanitaku Ferry Goucher" ucap Ferry lantang lalu menarik tanganku masuk dalam pelukannya.


"Anda akan menyesal jika berani sekali lagi ku lihat mendekati istriku" kalimat Ferry membuat Charlie seketikan terdiam, namun hanya sebentar.


"Aku tidak percaya dia istri mu, apa buktinya" Ferry menunjukan Cincin pernikahan kami. Dan Charlie kembali terdiam dan kali ini langsung pergi meninggalkan kami. "Maaf kalau begitu aku tidak tau".


Ferry menatapku lekat, walau tidak dengan tatapan tajam yang menakutkan tapi aura dingin masih terasa disekeliling tubuhnya.


"Mulai sekarang setiap kamu ikut perjamuan atau acara apapun dengan ku, kamu tidak boleh jauh-jauh dari ku. Mengerti?" aku hanya mengangguk dan tersenyum manis


"Udah ya marahnya, nanti suamiku yang tampan cepet tua marah-marah terus" aku bicara dengan nada manja sambil bergelayutan di lengannya.


"Ya sudah lupakan, ayo kita pulang" Ajak Ferry sambil mengapit lenganku untuk keluar dari Ballroom hotel, sampai sebuah suara menghentikan langkah kami.


"Kak Ferry, tunggu" Ternyata suara Melanie. Dia berlari kecil sambil mengangkat Gaunnya agar cepat bisa sampai ke depan Ferry.


"Ada apa?" tanya Ferry dengan nada rendah, tapi terlihat tergesa-gesa dan malas menanggapinya.

__ADS_1


"ini kakek menyuruhku memberikan gingseng untuk kak Ferry" ucap Melanie sambil menyerahkan sebuah kotak.


Ferry menerimanya "Sampaikan terima kasih ku pada Mr Yamamoto, ada lagi yang mau disampaikan?" Melanie pun menggeleng.


"kalau begitu kami pamit pulang dulu" Ucap Ferry membalikkan badan dan menarik lengan ku.


"Sampai ketemu lagi Melanie" ucapku sambil mengimbangi langkah Ferry yang tergesa-gesa.


"Sayang buru-buru banget sih, kaya mau ambil gaji aja" gerutuku yang langsung mendapatkan cubitan di hidung begitu kami berhenti di depan lobby hotel menunggu mobil sport yang dikendarai Ferry muncul. "Auuu....sakit yank" ucapku sambil mengelus ujung hidungku.


"Siapa suruh sok ramah dengan saingan cinta?" ujar Ferry membuatku tertawa terbahak-bahak. "Saingan cinta....wkwkwkwkkk".


"Mana ada, Melanie tidak masuk dalam hitungan ku. Dia tidak terlihat seperti pelakor" Ucapku santai.


"Tapi Mr Yamamoto melihat gerak gerik cucunya tertarik dengan ku bukan tidak mungkin dia akan menjodohkan cucunya dengan ku.


"Hahahahaha,,,itu tidak mungkin sayangku" ucapku sambil menangkup kedua pipi Ferry.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Ferry dengan wajah penasaran.


"Karena sepertinya Mr Yamamoto tau kita memiliki hubungan. Tadi waktu kami berbincang-bincang sebelum dia naik keatas panggung. Dia sempat melihat cincin yang ku kenakan dan berkata 'ternyata Designer Lia diam-diam sudah memiliki tambatan hati, sudah ku duga kalian pasti bukan hanya sekedar atasan dan bawahan'.


"Trus kamu jawab apa?" Ferry mulai kepo


"Mata Mr Yamamoto benar-benar jeli, nampaknya sulit menyembunyikan apapun dari Mr Yamamoto"


Dan dia langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapaku sambil bilang 'kalian sangat serasi, terlihat saling mencintai bagaimana pun aku orang tua yang sudah berpengalaman'


"Bagus lah kalau Mr Yamamoto sudah tau hubungan kita, jadi kedepannya aku bisa menjelaskan dengan gamblang padanya jika dugaan ku benar soal perasaan Melanie padaku". Aku hanya tersenyum manja padanya.


"Tuan ini kuncinya" ucap Joki memberikan kunci pada Ferry dan Ferry menyelipkan uang $50 untuk si joki. yang langsung membuat wajah si joki sumbringah bahagia. "Terima kasih tuan, semoga hubungan tuan dan nyonya langgeng sampe maut memisahkan"


"aamiin" sahutku dan Ferry berbarengan, lalu kami tersenyum saling pandang. Ferry pun membukakan pintu mobil untuk ku seperti biasanya baru meninggalkan ku menuju jok supir setelah safety beltku terpasang.


Ferry melajukan mobilnya tapi tidak menuju hotel tempat kami menginap.


"Sayang kita mau kemana?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Makan malam, aku lapar sekali diperjamuan aku tidak sempat makan apapun semua orang membuatku sibuk mengajak ku terus berbincang"


"Aku juga sedikit laper, tadi hanya minum juice dab makanan ringan" sahutku setuju dengan ide Ferry makan malam diluar.


__ADS_2