
"Jerry urus kepulangan ku sekarang!" ucap Ferry begitu dokter Bella keluar meninggalkan ruang rawat sang tuan muda.
"Tapi tadi dokter Bella bilang, tuan istirahat dulu hari ini besok baru boleh pulang" sahut Jerry sambil mengusap tengkuknya yang terasa tegang karena langsung mendapat tatapan tajam dari sang tuan muda begitu dia buka suara.
"Sejak kapan kamu mulai membantah perintah ku?" ucap Ferry sambil menatap dingin ke arah Jerry
"Baik, aku akan urus kepulangan tuan muda sekarang juga" ucap Jerry yang pasrah karena tak mungkin dia bertengkar dengan sang tuan muda
"Sayang, apa tidak lebih baik kamu istirahat dulu disini seperti yang disarankan dokter Bella tadi"
Lia memberanikan diri untuk bicara setelah Jerry keluar dari ruang rawat sang suami.
"Kamu saja sudah bersiap pergi ke kampus meninggalka ku sendirian disini, buat apa aku trus disini...huh"
Ferry mendengus kesal karena sudah sakit dan dirawat kaya gini, sang istri masih tetep aja kepikiran untuk ke kampus.
"Eh...jadi karena aku" ujar Lia sambil menunjuk hidungnya dengan jari telunjuknya sendiri.
"Ya tuhan, tuan muda Goucher kamu sudah umur berapa? masih seperti anak TK gini, sakit harus ditemani 24 jam....ckckckk"
Mendengar ucapan Lia wajah Ferry makin murung dan tak enak dilihat. Lia malah tertawa geli melihat tingkah sang suami yang kekanak-kanakkan.
"Kalau tidak bersedia menemani juga tidak masalah, buat apa malah menertawakan ku seperti itu"
Ferry menggerutu menahan kesal sambil bangkit dari ranjang dan mengganti pakaiannya bersiap untuk pulang.
'Ehh...kenapa jadi aku yang disalahkan gini...ckckk' gumam Lia dalam hati melihat tingkah kekanakan sang suaminya, Lia hanya bisa menarik nafas panjang agar tetap sabar dan tenang.
"Ya sudah kalau suami ku tetap mau pulang, kita pulang hari ini. tapi nggak usah ke kantor dulu ya. Istirahat saja di apartemen"
Ujar Lia sambil membantu sang suami mengancing kemeja yang baru iya kenakan
Namun Ferry tak bergeming, dia hanya diam sambil menatap tubuh mungil sang istri yang sedang sibuk mengancing baju kemejanya sambil terus mengoceh ala ibu-ibu yang sedang menasehati anaknya.
"Kenapa malah diam aja dan menatap ku seperti itu?" tanya Lia begitu selesai mengancing baju kemeja Ferry.
"Seneng aja liatin kamu yang sibuk ngurusin aku sambil ngomong tanpa nafas dan titik koma" ujar Ferry sambil senyum dan menarik tubuh mungil sang istri dalam pelukannya.
__ADS_1
"I really love you more and more everyday, Lia Putri Aghata"
Mendengar penuturan cinta sang suami wajah Lia bersemu merah karena malu bercampur bahagia. Rasanya manis dan banyak kupu-kupu berterbangan di hati Lia.
Siapa juga yang tak berbunga-bunga mendengar pernyataan cinta dari pria yang teramat dicintai apa lagi gesture pria itu terasa sekali penuh cintanya saat mengucapkannya.
"Kamu tidak ingin bilang apapun pada ku?" tanya Ferry dengan alis sedikit naik merusak suasana romantis.
"Bilang apa?" sahut Lia sambil mendongakan wajahnya menatap manik biru sang suami.
"Ahh...sudah lupakan saja" ucap Ferry kembali memeluk tubuh sang istri 'Wanita ini kapan sih dia royal bilang cinta sama aku...huh'
Ferry menggerutu sendiri dalam hati tapi dia juga tak mampu trus merajuk pada Lia yang tak juga peka pada sikapnya.
'Ferry kenapa sih? masa iya cowo ngalamin PMS juga..ckckckck' bathin Lia melihat tingkah sang suami yang makin manja nggak jelas.
"Suam, kamu kenapa sih?" tanya Lia sudah tak tahan dengan tingkah suaminya
"Aku, baik-baik saja. Ayo kita pulang" ajak Ferry sambil menggandeng tangan Lia untuk keluar dari ruang rawatnya
"Tu...tunggu dulu, tas ku dan juga barang-barang mu belum di rapikan" ujar Lia yang agak kaget tiba-tiba Ferry langsung melepas pelukan dan menggandeng tangannya berjalan keluar kamar rawat.
Ferry melepas genggaman tangannya pada Lia dan membiarkan gadis itu pergi mengambil barang-barang miliknya sementara Ferry mengambil dompet dan juga ponselnya yang tergeletak di atas nakas, karena dia juga hampir saja kelupaan membawanya.
Mereka berdua pun keluar dengan santai dari kamar rawat menuju lobby rumah sakit diikut beberapa pengawal yang diatur Leon.
"Cepat sekali Jerry mengurus semuanya, begitu sampai luar, mobil sudah menunggu" ucap Lia saat melihat mobil milik sang suami sudah parkir di depan lobby rumah sakit menunggu mereka berdua.
"Kalau tidak Cepat, apa mungkin aku mempekerjakannya?" sahut Ferry sambil membukakan pintu untuk Lia setelah dia memberi kode pada sang supir untuk membiarkan dia yang membuka pintu untuk sang istri.
"Hhhmmm....sombong sekali, tapi aku yang begitu lamban malah kamu nikahi?"
Ferry hampir saja tersedang salivanya sendiri saat mendengar pernyataan Lia yang out of the box.
"itu karena kamu wanita ku, apapun kekurangan mu buat ku kamu selalu sempurna"
Kali ini Lia yang tak mampu berkata-kata setelah mendengar penuturan sang suami, 'Ya Allah ini laki, mulutnya manis banget. Dia nggak abis bikin dosa dibelakang ku kan? kono kata orang laki kalau terlalu manis biasanya abis main sama cewe lain dibelakang' bathin Lia melalang buana sembarangan.
__ADS_1
"Auuu" pekik Lia saat sebuah sentilan pelan mendarat manis di jidatnya.
"Suami, jahat ihhh. sakita tau" sambung Lia dengan nada kesal, selain sakit Ferry berhasil membuyar lamunannya.
"Apa yang kamu pikirkan sampai jidat mu mengerut dan terus menatap ku dengan mimi penuh curiga., hah?"
Ujar Ferry tak merasa bersalah menyentil jidat sang istri, karena dia yakin Lia tadi pasti sedang berfikir buruk tentang dirinya.
"Mana ada aku curiga dengan mu, itu hanya perasaan tuan muda aja" kilah Lia cepat sambil senyum manis membuat Ferry malas lagi membahas isi pikiran sang istri.
"Kamu memang harus banget ke kampus hari ini?" tanya Ferry dengan suara memelas agar Lia mengurungkan niatnya untuk ke kampus hari ini.
"Iya suam, aku udah kebanyakan bolos semester ini padahal aku niat lulus paling lama satu setengah tahun agar aku bisa cepet menuruti kemauan nenek tua.
"Kamu serius sudah siap untuk hamil anak ku?" tanya Ferry penuh senyum, karena selama ini dia begitu takut Lia tak ingin hamil anaknya.
"Aku kan sudah bilang aku siap hamil setelah lulus kuliah" ucap Lia sambil memegang kedua pipi sang suami. "Jadi suam, izinin aku buat fokus kuliah ya"
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu untuk fokus kuliah lagi. tapi kamu tetap harus tau batas ya. Jangan sampai mengabaikan ku"
"Memang aku pernahengabaikan mu?" sahut Lia bingung dengan pernyataan Ferry.
"Sering" balas Ferry sambil mengelus pelan kepala sang istri.
"Iya kah?" Ferry manganggukan kepalanya membenarkan penyataan sang istri.
Lama Lia terdiam memikirkan ucapan sang suami, karena Lia tak pernah merasa berniat mengabaikan sang suami selama ini.
"Sudah jangan dipikir lagi, sekarang turun lah. Kita sudah ada di depan kampus mu?"
"Ehh...sudah sampai, cepat sekali" gumam Lia saat menoleh ke jendela dan gedung kampusnya 'benar sudah sampai ternyata'
"Kenapa malah bengong lagi? kamu tidak jadi ingin kuliah hari ini?"
"Kuliah...kuliah" sahut Lia panik, lalu mengambil tangan Ferry dan menciumnya sebelum berlalu meninggalkan sang suami.
"Mau kemana sekarang kita tuan?" tanya sang supir setelah melihat tubuh sang nyonya tak terlihat lagi tapi sang tuan muda belum memberi aba-aba untuk jalan.
__ADS_1
"Apartemen"
Hai readers...pada kangen nggak nih sama kisah Lia dan Ferry? masih mau dilanjut nggak nih kisahnya?