Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Ini tidak gratis


__ADS_3

"Pagi Istriku" sapa si bule yang sedang memasang dasi pada kemejanya.


"Kamu mau kemana udah siap-siap gitu?" Tanyaku masih sambil mengucek mataku yang enggan terbuka.


"Aku ada metting dengan salah satu perusahan yang nanti malem mengadakan perjamuan" ujar Ferry sambil merapikan dirinya.


"Kamu mau sarapan bareng atau masih mau lanjut tidur?" tanya Ferry sambil mengambil jasnya yang tergantung digagang pintu lemari.


"Lama nggak mettingnya?" tanyaku lagi dengan wajah murung begitu sadar aku dari kemarin dia bawa-bawa cuma buat ditinggalin dan dicuekin sendirian aja.


Aku menghela nafas panjang membuat Ferry yang tadinya sudah bersiap keluar dari kamar, memutar tubuhnya lagi dan duduk di tepi ranjang


"Maaf ya sayang aku nggak bisa nemenin kamu sekarang, aku ada metting penting. ini terkait dengan tender yang lumayan besar. Jika bisa mendapatkan tender ini akan membuat anak perusahaan yang bergerak di bidang garment semakin maju pesat" Jelas Ferry membuatku tertarik.


"Memang tender apa?" tanyaku ingin tau


"Jadi yang mengundang ke perjamuan nanti malam adalah pemilik restoran the yavoge, dimana dia akan mengumumkan siapa yang mendapat tender membuat pakaian seragam untuk seluruh karyawan restorannya yang tersebar di beberapa negara, jangan bilang hanya sebuah seragam restoran. Tapi jumlah pesannya mencapai lebih dari satu juta set pakaian, kebayang kan berapa untungnya" Jelas Ferry membuatku makin tertarik.


"Boleh liat design sergam yang kamu tawarkan ke dia?" pintaku membuat Ferry mengerutkan dahinya tak ayal tetap mengambil tasnya dan mengeluarkan map biru yang di dalamnya ada dua buah sketsa design seragam.


Aku memperhatikan design itu satu persatu, tanganku mulai gatal ingin mengotak-atik design yang diberikan Ferry.


"Apa permintaan si pemilik restoran?" tanyaku yang langsung dijelaskan panjang lebar tentang apa yang diingikan pemilik restoran semakin besar keinginan ku merubah design yang akan dibawa Ferry.


"Design ini boleh ku rubah? tanyaku berharap diizinkan merubahnya.


"Tentu saja boleh, tapi waktunya nggak akan cukup sayang, dua jam lagi mettingnya di mulai. Perjalan lumayan jauh menuju restorannya" Ujar Ferry sambil menatap jam ditangannya.


"Cukup" Ucapku sambil bangkit dari tempat tidur untuk cuci muka dan gosok gigi secepat kilat lalu mengambil baju dress warna Biru dongker sama dengan warna jas yang ferry kenakan.


Ferry hanya diam terpaku melihatku sibuk mempersiapkan diri. Kami duduk untuk sarapan tapi aku malah sibuk mulai merubah salah satu design yang tadi, dan Ferry akhirnya pasrah melihat kelakuanku sambil makan dia menyuapiku makan.

__ADS_1


"Udah selesai belum?" tanya Ferry mulai khawatir karena waktu terus berjalan.


"Aku lanjut di mobil aja kalau begitu tinggal sedikit lagi lalu memberi warna selesai deh" ucapku dengan semangat.


Kami pun berjalan ke lobby hotel dimana sebuah mobil mewah sudah terparkir menunggu kedatangan kami.


Sepanjang perjalanan Ferry memperhatikan ku yang sedang asik mewarnai draft design tanpa suara.


"Done" mendengar ucapanku Ferry memutar tubuhnya karena sudah penasaran dengan hasil design baju seragam restoran yang ku paksa ubah.


Aku pun memberikan kertas gambar itu pada Ferry, tak lama wajah si bule yang tegang terukir sebuah senyum. "Lumayan nampak lebih fresh, elegan dan simple. Kenapa menurut mu design ini lebih baik dari yang sebelumnya?" tanya Ferry membuatku mendongak untuk menatap netra biru milikinya.


"Seperti yang kamu bilang simple, kenapa harus simple...pelayan restoran butuh pakaian yang simple agar saat mereka bergerak tidak ribet dengan pakaiannya namun tetap elegan karena restoran tempat mereka bekerja adalah restoran kelas atas..aku sengaja memilih ornamen dan warna yang menonjolkan kekuatan restoran seperti yang di minta pemilik restoran". Jelasku membuat senyuman di wajah Ferry makin lebar. "Great Job baby" ucap Ferry sambil mengeles rambutku.


"Ini tidak gratis" mendengar ucapanku senyum diwajah Ferry menghilang dalam seketika. "sebutkan apa yang kamu ingin kan?" walau nada suara Ferry tetap rendah tapi nada suaranya begitu dingin".


"Hhhmmm...Yang aku mau cuma kamu nemenin aku jalan-jalan disini, jangan cuekin aku terus" Ucapku masih dengan menunduk sambil memperbaiki design yang satunya lagi.


"Maafin aku ya sayang, bukan maksud aku nyuekin kamu selama perjalanan tapi proposal yang Jerry kirim kemarin banyak yang harus aku revisi jadi aku benar-benar sibuk selama perjalan semalam. Aku janji begitu metting hari ini selesai kita jalan-jalan kemana pun yang kamu mau aku akan menemani".


Mendengar penjelasan Ferry hatiku yang sedih seketika menghilang berganti bahagia yang membuncah. "Sekarang lepaskan aku?" pintaku membuat alis si bule naik satu. "Kenapa?"


"Kalau dipeluk terus gimana aku memperbaiki design yang satunya". Mendengar ucapan ku Ferry langsung melepas pelukannya dan memperbaiki jasnya yang jadi agak berantakan.


"Kalau berdasarkan hasil design mu apa mempengaruhi jumlah anggaran yang semula sudah disusun yank?" tanya Ferry bersiap mengeluarkan laptop untuk merubah anggarannya.


"Harusnya si terpengaruh tapi justru mengurangi jumlah anggaran, karena aku membuang banyak ornamen yang dipasang sebelumnya sehingga memangkas biaya anggaran cuma proses pembuatannya akan lebih lama karena aku menggunakan sulaman pada logo restorannya"


Ferry mendengarkan setiap detail ucapan ku, lalu menganggukan kepala tanda mengerti dan setuju dengan penjelasan ku.


"Begitu sampai di Negara A kamu langsung magang di perusahaan garmen sambil tetap kuliah, bagaimana?"

__ADS_1


Permintaan Ferry yang tiba-tiba membuatku kaget karena tidak sesuai rencana awal. Lagian mana mungkin aku mampu bersaing dengan para designer senior dan apa kata karyawannya nanti melihatku yang masih kuliah semester enam sudah jadi designer di perusahaan Garment Goucher Corp.


"Kenapa?" melihatku tak menjawab pertanyaannya membuat Ferry tak sabaran bertanya lagi.


"Tidak sebaiknya tunggu sampai satu semester dulu baru aku mulai magang saat mata kuliah praktek lapangan kerja".


"Siapa yang menyuruh kamu magang di kantor ku? aku minta kamu kerja disana menjadi salah satu kepala designer, saat ini sudah ada tiga kepala designer jadi aku berniat menambah mu disana biar designer perusahan makin banyak jadi model baju yang dijual perusahaan akan semakin beragam, bagaimana menurut mu?"


Mendengar penuturan Ferry membuat kepala ku pusing, orang ini kenapa setiap saat merubah rencana sesuka hatinya.


"Boleh aku memikirkannya?" ucapku membuat senyum diwajah Ferry menghilang.


"Apa lagi yang harus dipikirkan?"


"Banyak" ucapku sambil fokus merubah design.


"Kamu tidak nyaman kerja di perusahaaan Goucher?" tanya Ferry dengan wajah muram.


"Bukan begitu yank, aku belum lulus mana pantas tiba-tiba kerja jadi salah satu kepala designer di anak perusahaan Goucher Corp. Aku nggak sanggup kalau harus menerima pandangan sinis apa lagi harus mendengar mereka bicara hal-hal menyakitkan nantinya saat aku bekerja disana" Aku mencoba membari Ferry pengertian agar memahami posisiku.


"Siapa yang berani membicarakan hal buruk tetang istriku?" Ucap Ferry mulai kesal mendengar alasanku.


Daripada terus berdebat dengan si bule yang nampaknya nggak akan bisa di ubah lagi keputusannya. 'Ditaktor mana bisa diajak negosiasi'.


"Oke aku mau tapi syaratnya mereka tidak ada yang boleh tau hubungan kita, bagaimana?"


"Kamu ngajukan syarat dengan ku?" bukannya dijawab dia malah nanya balik dengan aura dingin. 'Keluar deh beruang kutubnya..huuuft'.


"Aku cuma mau nanti bekerja dengan fear disana berdasarkan kemampuan ku bukan karena aku istri vice president Goucher Corp, kalau kamu tidak setuju maka aku hanya akan kuliah dengan baik disana dan magang dikantor mu sesuai awal persyaratan beasiswa" ujarku santai.


Ferry lama terdiam nampak berfikir keras, dia tidak terima aku memintanya untuk menutupi statusku sebagai istrinya, tapi bodo amat ahh...mana enak kerja dibawah bayang-bayang kekuasaanya yang ada aku nggak akan maju nantinya.

__ADS_1


__ADS_2