Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kiss Mark


__ADS_3

Hari sudah gelap, mentari sudah berganti posisi dengan sang rembulan saat aku mulai membuka mata dari tidur lelapku dalam dekapan si bule. Kamar kami jadi gelap gulita karena kepergian sang surya, memang sebelum tertidur tadi belum ada satu lampu pun menyala, cuma cahaya rembulan yang malu-malu yang memberi sedikit peneranga pada kamar kami. Aku berusaha untuk bangun menyalakan lampu tempel di dekat tempat tidur, tapi tubuhku rasanya berat sekali, ternyata tangan si bule masih saja melingkar di pinggangku. Pelan-pelan aku berusaha melepas pelukannya bukannya dilepas malah makin dia eratkan pelukannya.


"Kamu mau kemana sih yank, kenapa seneng banget ganggu kesenangan ku?" gumam Ferry dengan mata masih terpejam.


"Sayang ini udah malem, kita belum bersih-bersih dan lampu di kamar belum ada yang menyala, jendela pun tirainya masih terbuka. Lagian aku kebelet pipis" ucapku langsung membuat Ferry melepas pelukannya.


"Hhmmm...ya sudah sana bangun nanti ngompol disini lagi....wkwkwkk". ledek Ferry sambil tertawa sebelum melepasku dari pelukannya.


"Dasar bule jelek awas kamu ya, aku bikin puasa tujuh hari tujuh malem baru rasa...weee" balasku sambil menjulurkan lidah dan berlari dengan tubuh yang masih polos ke kamar mandi, takut si bule ngejar.


"Gila nih bule, badan gw dibikin merah-merah dimana-mana gini" gumamku saat berdiri di depan cermin kamar mandi memandang kiss mark hasil karya dari Ferry.


Badanku juga rasanya remuk, pegel-pegel semua terutama area kaki dan paha ku. "Ahhh...sial sesi bercinta kali ini kelamaan aku dibikin ngangkang sama si bule jadi pengel semua badanku...walaupun enak sih...hahahaha" gumamku sambil tertawa dengan pipi mulai memerah karena membayangkan nikmatnya syurga dunia yang baru saja kami lakukan. Lalu mandi berendam dengan air hangat, kali ini aku tidak mengenakan earphone saat berendam takut ketiduran dan si bule ngambek lagi.


Usai sesi berendam dan mandi air hangat...badanku lebih segar dan capek-capeknya agak berkurang. "Dipijit kayanya enak nih" gumamku dalam hati, sambil bersiap keluar kamar mandi.


Saat aku keluar kamar mandi, si bule sudah tidak lagi berbaring di ranjang, baju-baju kami yang berserakan pun sudah tidak ada semuanya sudah masuk ke dalam laundry basket. "Kemana perginya suamiku?" gumamku sambil menuju ruang tengah karena paper bag isi belanjaan ku tadi masih di depan pintu masuk.


Saat sedang melangkah keluar kamar, aku dengar suara Ferry bicara. "Oh ternyata dia sedang telphon di balkon, telphonan sama siapa dia malem-malem gini?", gumamku sambil berjalan ke pintu mencari paper bag. tapi nggak ada. "Kemana perginya?", gumamku sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Sayang, kamu ngapain berdiri disitu masih pake bathroob?" Tanya Ferry mengaketkan ku.


"Astaga suami, kamu tuh bisa nggak jangan tiba-tiba muncul tanpa aba-aba lalu langsung bersuara...bikin orang sport jantung tau" ucapku jengkel lalu membalik badan mencari paperbag ke penjuru ruangan tapi tak juga ku temukan.

__ADS_1


"Sayang, kamu cari paper bag belanjaan tadi?" tanya Ferry membuat ku menoleh ke arahnya dan mengangguk.


"Aku simpan semuanya di dalam lemari" jelas Ferry sambil berjalan ke arahku.


"Ohhh...baiklah", ucapku sambil berlari ke dalam kamar sebelum Ferry berhasil mendekatiku.


"Pelan-pelan yank, nggak usah pake lari segala. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu lagi koq malem ini...ckckckkk" ucap Ferry sambil senyum dan geleng-geleng.


"Pokoknya malem ini kamu nggak boleh deket-deket aku, badanku sakit semua karena ulah mu" teriak ku dari dalam kamar, setelah berhasil mengunci pintu.


"Iya nggak akan deket-deket, tapi nggak usaha juga sampe ngunci pintu kamar dong sayang", ucap Ferry mendengar suara kunci pintu.


"Nanti aku buka kalau sudah selesai pakai baju" jelasku sambil jalan menuju lemari. "wow, nih bule rapi banget" gumamku melihat semuanya udah tersusun rapi baju-baju yang tadi pagi aku beli.


"Sayang, kelakukan mu tuh ada-ada aja sih" ucap Ferry sambil masuk kamar dan menoel hidungku. Aku hanya mencibikan bibir ku dan tak membalas ucapan Ferry, tentu saja Ferry tidak mengetahui apa yang barusan aku lakukakan. Ferry langsung bergegas masuk kamar mandi membersihkan dirinya, aku pun langsung mengambil ponselku melihat group kampus untuk memastikan jadwal kuliah besok tidak ada perubahan.


Lalu masuk ke web club para designer, begitu aku on semua ramai menyapaku. dan menanyakan soal design ku waktu itu gimana akhirnya apa jadi dibeli sama Jerry atau tidak, kalau tidak ada mau membelinya dengan harga dua kali lipat dari yang di tawar Jerry waktu itu di group. Aku pun menjelaskan pada mereka kalau design itu jadi dibeli oleh Vice President dari Goucher Corp dengan harga tiga kali lipat yang ditawarkan Jerry waktu itu. Semua langsung ramai membahas suami ku, walau mereka tidak tau kalau yang mereka bahas sudah sah jadi suamiku. Senyumku terkembang saat membayangkan bule setampan Ferry menjadi suamiku.


"Ya Tuhan, si ganteng beli design mu buat apa ya kira-kira?".


"Jangan-jangan untuk baju couple dengan kekasihnya"


"Apa dia sudah punya kekasih?, semoga saja tidak, aku akan patah hati jika itu benar"

__ADS_1


"Mana mungkin gunung es itu bisa jatuh cinta, melihat wanita saja dia sudah jijik"


"jangan-jangan dia hanya berpura-pura selama ini seperti itu aslinya dia suka bermain wanita...kan bos-bos besar biasa gitu buat jaga image".


"Apa jangan-jangan dia penyuka sesama jenis ya?, mengerikan sekali jika itu benar"


"Iya kasian sekali jika kenyataannya seperti itu?, bisa tidak ada pewaris tahta setelah si beruang kutub jika sampai hal itu benar".


Aku hanya dengan tenang membaca kometar-komentar mereka setelah menceritakan kalau Ferry membeli design ku. sampai kometar Jerry masuk membuat kedua mataku terbelalak.


"Jangan sembarangan bicara kalian, bos ku pria normal dan juga mencintai wanita hanya saja bukan kalian seleranya itu sebabnya dia seperti gunung es dan cuek bebek sama kalian semua tapi tidak pada gadis yang dia cintai, bukan begitu Lia?" -Jerry-


"Apa maksud mu Jerry?" balasku atas komentar Jerry yang bisa membuka rahasia pernikahan kami.


"Sayang, baca apa sih? raut wajah mu sampai asem gitu?" tanya Ferry tiba-tiba sudah duduk di sampingku sambil melingkarkan tangannya di pinggangku dan membenamkan wajahnya di cengkuk leherku.


"Kamu baca deh yank, itu si Jerry masa nulis ginian di group para design". ucapku sambil memperlihatkan komentar Jerry pada Ferry.


Setelah membacanya Ferry langsung mengeluarkan ponselmya dan menelphone seseorang.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu sama Lia, hah?, mau ku potong gaji mu?". ucap Ferry karena tingkah Jerry.


Owhh ternyata Jerry yang ditelphon Ferry....gumam ku.

__ADS_1


__ADS_2