Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Dia Pasti Bisa


__ADS_3

Pagi ini Lia melakukan rutinitas pagi di apartemen sendirian untuk pertama kalinya sejak dia berada di negara A, jadi untuk sarapan Lia hanya membuat roti bakar dan segelas juice.


'Memang benar kata orang, kalau dekat ada aja yang di debatin begitu jauh rindunya bukan main. Cinta memang tak pernah pakai logika' bathin Lia menghembuskan nafas beratnya usai membersihkan alat makannya dan bersiap ke kampus di anter Deni.


"Pagi Nyonya muda" sapa Deni sambil membukakan pintu mobil.


"Deni, kamu nanti tolong atur ke berangkatan saya ke negara S setelah pulang kuliah bisa?" pinta Lia yang langsung ditolak Deni dengan berbagai alasan.


"Maaf nyonya muda seeprtinya tidaj bisa, Tuan muda melarang nyonya untuk pergi ke negara S. Jadi sebaiknya nyonya tetap di sini saja" ujar Deni setenang mungkin menjawab permintaan Lia.


"Kenapa?" tanya Lia sambil mengerenyitkan alisnya dalam mendengar penuturan Deni yang mendapat perintah melarang ku untuk ke negara S.


"Soal alasannya saya kurang tau nyonya mungkin tuan muda tak ingin anda kelelahan atau mungkin tak ingin anda jadi khawatir" sahut Deni berandai-andai mencari alasan.


Lia mencoba membuka aplikasi pesanan online tiket pesawat tapi semuanya Full ke negara S. 'Sepertinya Ferry yang melakukan ini semua...Huuuffft' gerutu Lia dalam hati.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau membantu ku, aku pergi sendiri dengan cara ku" tekad Lia sudah bulat dia akan menyusul Ferry usai kuliah nanti karena perasaannya tidak nyaman, Ferry seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


"Nyonya sekeras apapun usaha mu untuk ke negara S pasti tidak akan berhasil, akses anda kesana sudah ditutup tuan muda" Mendengar ucapan Deni aku makin yakin kalau kecelakaan yang Ferry alami tak sesimple ucapannya di telphon semalam.


'Aku harus ke negara S memastikannya, tapi Siapa yang bisa ku minta bantuan untuk bisa membuat ku terbang ke negara S?' Lia terus berfikir keras mencari orang yang tepat untuk bisa dia mintai tolong. Dan Lia memikirkan satu orang yang mungkin bisa menolongnya tanpa perlu banyak memberinya penjelasan.


'Dia pasti bisa? tapi itu akan membuat ku berhutang budi padanya. Hutang budi pikir kan nanti membalasnya, sekarang yang penting ke negara S dulu'


Lia sudah fix akan berangkat ke negara S dengan bantuan orang yang juga memiliki kekuasaan sehingga pasti bisa lolos dari penjagaan ketat Ferry.


Begitu sampai kampus Lia langsung melancarkan aksinya. "Jeni, kamu harus bantu aku" ujar Lia dengan wajah memelas.


"Ada apa Lia? apa yang terjadi?" Lia pun menceritakan semuanya pada Jeni membuat Jeni mengerutkan alisnya.


"Hhmmm...serem begitu kamu yakin masih ingin ke negara S menemui suami mu?" tanya Jeni khawatir setelah mendengar Cerita Lia.

__ADS_1


"Aku harus kesana, jika ada aku disampingnya dia akan terus waspada dengan keselamatan kami karena Ferry pasti tak menginginkan aku terluka sedikit pun" ucap Lia meyakin kan Jeni


"Tapi bukan kah keberadaan mu justru membuat ruang gerak suami mu terbatas nantinya dan fokusnya pun jadi terbagi" Jeni berusaha memberi Lia masukan untuk tidak menyusul Ferry ke negara S karena situasinya sangat berbahaya.


"Aku tidak bisa tenang memikirkan keadaan Ferry di sini, hati ku yakin kalau di sana Ferry pasti terluka parah" Ujar Lia sudah mantap ingin tetap ke negara S.


"Kalau kamu begitu bertekad aku tau orang yang bisa menolong mu"


"Siapa?" tanya Lia berpura-pura tidak tau padahal dalam hati dia sudah menebaknya dari awal.


"Tentu saja kak Arjun, tapi aku yakin dia pasti tak akan membiarkan mu pergi sendirian" ujar Jeni penuh keyakinan karena dia tau persis perasaan kak sepupunya pada Lia


"Kalau begitu kamu harus menemani ku dan juga saat tiba di negara S kamu bantu aku mengalihkan perhatian Arjun agar aku bisa mendatangi rumah sakit dimana Ferry di rawat" pinta Lia yang mau tak mau di setujui Jeni karena dia tak tega melihat sahabat barunya itu bersedih.


"Baiklah aku setuju, usai pelajaran ini aku akan telphon kak Arjun" ucap Jeni mantap membuat lengkungan di bibir Lia terkembang.


"Terima kasih Jeni, kamu memang teman terbaik yang aku miliki" ucap Lia sambil memeluk tubuh Jeni.


"Gimana kak Arjun, bisa tidak? Lia butuh bantuan mu. Ini kesempatan kakak agar bisa lebih dekat dengan Lia" ujar Jeni meyakinkan Arjun untuk mau ketemuan dengan Lia.


"Baiklah, kamu memang perayu ulung" sahut Arjun yang tak berdaya padahal dia ada metting penting jam makan siang nanti. Demi Lia akhirnya Arjun meminta asistennya untuk mengatur ulang metting nanti siang.


Dengan tidak sabar kedua gadis itu menuju restoran dengan mobil Jeni untuk bertemu dengan Arjun. Saat mereka tiba Arjun sudah tiba lebih dulu di restoran.


"Maaf kak, sudah nunggu lama ya?" ucap Jeni begitu duduk di kursi yang sudah disediakan Arjun.


Restoran nampak lengang tak ada pengunjung lain. 'Tidak biasanya restoran depan kampus ini sepi pengunjung saat jam makan siang seperti ini' bathin Lia gak heran melihat keadaan restoran yang sepi.


"Tidak masalah, kalian mau makan dulu apa kita bicara dulu?" tanya Arjun dengan memasang wajar serius tapi tetap ramah dengan senyum manis yang selalu terukir di wajahnya.


"Makan dulu" sahut Jeni berbarengan dengan Lia yang juga menjawab pertanyaan Arjun "Bicara dulu"

__ADS_1


"Hhhmmm...jadi?" Ucap Arjun sambil menatap kedua gadis di depannya yang tidak kompak.


"Ya sudah makan dulu saja" ujar Lia mengalah agar urusan cepet selesai dan dia dapat kepastian bisa berangkat atau tidak ke negara S.


"Baiklah" Arjun melambaikan tangan memberi kode pada pelayan di restoran dan mereka berdatangan menyajikan menu makan siang yang rasanya bukan menu makanan di restoran ini.


"Wow, ini kenapa jadi kaya lagi makan di restoran bintang lima" celoteh Jeni yang diangguki Lia yang juga penasaran kenapa menu restoran jadi mewah banget dari biasanya.


"Jangan bilang ini ulah kak Arjun yang masih suka pilih-pilih makanan" ujar Jeni membuat Arjun tersenyum pahit karena adik sepupunya secara tidak langsung sedang menjelek-jelekan dirinya di depan Lia wanita yang dia sukai.


"Sudah makan saja jangan bawel" ujar Arjun sambil menyentil jidat Jeni pelan.


"Baiklah, kalau begitu aku akan makan dengan kenyang...hahaha" ucap Jeni langsung menyambar semua makanan yang ada di meja tanpa sungkan.


Berbeda dengan Lia, ada perasaan bersalah karena dia melanggar janjinya pada sang suami untuk sebisa mungkin menjaga jarak dari Arjun. Lia tak punya pilihan lain karena cuma Arjun yang memiliki kekuasaan setara dengan Ferry sehingga cuma dia harapan Lia satu-satunya yang bisa membawanya ke negara S.


Usai makan siang akhirnya Jeni mulai mengutarakan maksudnya untuk bertemu Arjun. "What? anter Lia ke negara S?" teriak Arjun terkejut, dia tidak menduga kalau Lia akan meminta bantuannya seperti ini.


"Iya kak Arjun, bantu Lia ya...kasian kak, Tuan muda Goucher menahannya di sini sehingga dia tidak bisa pergi kemana-mana" ujar Jeni memelas agar Arjun setuju mengantar Lia ke negara S.


"Kenapa harus negara S?" tanya Arjun agak penasaran


"Karena Lia mau bertemu keluarganya di sana, dia sedang sakit" sahut Jeni membuat alis Arjun mengerenyit dalam.


"Harus hari ini?" mendengar ucapan Arjun keduanya langsung menganggung bersamaan.


"Hhhmm...baiklah nanti aku akan menelphon mu dan menjemput mu di apartemen untuk kepastian jam berapa pesawat berangkat. Sekarang kalian kembali lah ke kampus dulu"


Lia dan Jeni pun meninggalkan restoran dengan perasaan bahagia karena itu artinya Lia selangkah lebih dekat untuk menemui Ferry. Tapi tidak dengan Arjun dia justru ingin menyelidiki kenapa tiba-tiba Lia ingin ke negara S.


"Selidiki apa yang sebenarnya terjadi dan atur keberangkatan ke negara S malam ini" perintah Arjun yang langsung dilaksanakan asistennya tanpa bantahan.

__ADS_1


jangan lupa like and komen ya readers


__ADS_2