Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Baju Rancangan kak Didi


__ADS_3

"Kamu yakin nak Ferry tidak punya kekasih di negeri A? kamu jangan bohong sama tante loh Jer". ujar mama.


"Bener tante, saya tidak berbohong. Tuan muda itu sangat dingin dengan wanita karena opsesinya tuan muda itu nona Lia, sejak kecil sampai sekarang" jelas Jerry membuat mulut ku ternganga tidak percaya.


"Dia bener masih perjaka dan melakukan yang tadi itu semuanya benaran pertama juga sama sepertiky?, tapi koq dia mahir banget sih ngelakuin semuanya" lamunanku sampai pipi ku merona.


"Lia kamu baik-baik saja? kenapa pipi mu jadi merah kaya tomat gitu?" ucap mama membuat ku malu setengah mati dan hanya menunduk sambil menggeleng.


Sepanjang perjalanan mama terus saja mencecar Jerry tetang Ferry. Dan jawab yang diberikan Jerry membuatku makin jatuh cinta padanya. Pria yang hidup di negara bebas tapi menjaga dirinya dengan baik hanya karena cinta dia jadi setia, sulit dipercaya namun nyatanya ada. "Kamu so sweat banget sih sayang" gumamku dalam hati.


"Nyonya kita sudah sampai. nyonya bisa langsung ke resepsionis untuk minta kunci kamar kalian baredua, saya masih harus parkir dulu". ucap Jerry sebelum turun lalu menbuka pintu untuk kami.


"Terima kasih Jerry", ucapku saat akan masuk ke dalam lobby hotel. Aku dan mama langsung menuju. meja resepsionis dan meminta kunci atas namaku dan juga mama. Kamar ku berbeda lantai dengan mama ternyata. sebelum aku ke kamarku aku mengantar mama ke kamarnya memastikan kalau mama aman sampai kamarnya


Di dalam kamar mama ternyata sudah menunggu mama bridal make up. dan sebuah kebaya cantik. mama langsung menyuruhku pergi karena dia antusias sekali melihat baju dan juga perias siap membuat mama makin cantik. Karena sudah di usir aku pun naek kelantai paling atas, dimana kamarku berada. "Wow....kenapa dilantai ini hanya ada 3 pintu kamar yang jaraknya jauh-jauhan banget gini...ckckckckk". gumamku


"Hhhhmmm..." aku menarik nafas panjang meyakin kan diriku sekali lagi bahwa ini adalah pilihan yang paling tepat dan benar. Lalu ku tap kartu kamar dan pintu kamarpun terbuka. Aku pun melangkah masuk.


"Luas dan wangi sekali" gumam ku karena wangi mawar menyeruak masuk rongga hidungku.


"Hallo sayang, kenapa berdiri dipintu saja bukan masuk, nunggu aku gendong..hah". ucap Ferry menggodaku sambil mengerlingkan matanya. "Dia ganteng banget pake tuxedo" gumamku saat melihat Ferry berdiri diambang pintu.


"Iya...iya, bawel" ucapku kesal namun Ferry malah mendekatiku, membuat jantungku berdetak tak karuan. Ferry makin dekat, aku makin salah tingkah.


"Hei kenapa tangan mu dingin begini?" ucap Ferry saat memegang tanganku.

__ADS_1


"Aku gugup ini pernikahan pertama ku" ucapku yang disambut gelak tawa Ferry. "Kamu pikir ini pernikahanku yang kedua,hahahahaa. ini juga pernikahan pertama ku sayang" ucap Ferry sambil memeluk ku. Aku malah mulai menangis.


"Hei..hei kenapa malah menangis?" ucap Ferry sambil menangku wajahku.


"Aku sedih pernikahan impian ku bukan seperti ini😭. Aku mau pernikahan ku sekali seumur hidup dengan bertabur bunga, suasana romantis yang membuat setiap mata memandang dekorasinya langsung mengingat cinta mereka pada pasangannya, tapi sekarang aku menikah malah sembunyi-sembunyi seperti ini.huaahahahaaa" tangisku makin pecah, Ferry ingin memeluk ku tapi ku cegah. Ferry menatapku penuh tanya. "Aku nggak mau tuxedo mu basah dengan air mataku" ujarku kemudian berjalan dan duduk di sofa. Ferry mengikuti langkah kaki ku, lalu bersimpuh di kaki ku sambil menggenggam tangan ku.


"Sayang, aku minta maaf karena saat ini aku belum bisa memberikan mu pernikahan yang indah tapi aku janji, pernikahan impian mu akan aku wujudkan begitu kita meresmikan pernikahan kita. Sekarang kita nikah seperti ini dulu boleh ya?". Ujar Ferry dengan tatapan memohon. Aku hanya mengangguk dan mulai mengontrol emosiku, dan perlahan tangisku pun berhenti, walau posisi kami masih tetap sama.


"Sayang, sudah bisa ku panggil bridal make up nya kesini untuk membantu mu make up dan mengenakan kebaya untuk akad nikah kita?" tanya Ferry dengan nada cemas aku akan menolaknya.


"Panggil lah" ucapku singkat, Ferry pun bangkit mengambil menuju kamar sepertinya mengambil ponsel karena ku dengar suaranya menelphon.


Selang beberapa menit bunyi bel dipintu kamar. Aku langsung berdiri menuju kamar untuk ke toilet mencuci wajahku. Ferry hanya menatapku dengan wajah bingung saat berpapasan dengan ku. Aku pun hanya diam membisu dan terus melangkah masuk ke dalam kamar, sedangkan Ferry menuju pintunliar untuk membuka pintu.


Aku membasuh wajahku, menatap diriku di pantulan cermin besar di dalam kamar mandi hotel ini. "Hei kamu, kamu yakin mau menikah seperti ini?, bagaimana kalau kamu hamil, bagaimana nasib anak mu kelak?" ucapku sendu menatap diriku sendiri dan lagi-lagi tangisku pecah. "Kenapa aku jadi melow gini sih?".Gumam ku.


"Sayang, are you oke?" ucap Ferry sambil mengetuk pintu toilet.


"I'm fine, wait a minute please" ucapku menghentikan Ferry mengetuk pintu. Aku kembali mencuci wajahku dan menarik nafas panjang lalu mengelap wajahku dengan handuk kemudian keluar dari toilet. Di dalam kamar dua orang wanita dengan baju profesional yang nampak sudah standby di depan meja rias, dan satu orang pria sedang sibuk merapikan kebaya yang di bawanya. Sedangkan Ferry berdiri menghampiri ku. Menggenggam tanganku. Menatapku lekat.


"Jika kamu tidak yakin menginginkan pernikahan ini, aku tidak akan memaksa mu. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku sangat mencintaimu. Kamu satu-satunya wanita yang akan jadi istri dan ibu dari anak-anak ku" ujar Ferry membuat perasaan ku makin tak karuan. "Hhhhhmmm". tarikan nafas beratku sebelum aku berjalan melangkah menuju meja rias. "Ayo mba kita mulai riasnya...nanti keburu si bule berubah fikiran" ucapku yang di sambut tawa bahagia Ferry. "Makasih ya sayang, aku tunggu kamu di luar". ucap Ferry sambil tersenyum dan berlalu.


"Kita mulai ya non" ucap salah satu dari bridal makeup. aku hanya mengangguk menyetujui. Sambil merias wajah ku, dia tak banyak bicara tau-tau wajahku selesai dirias. Saat aku membuka mataku dan menatap cermin, aku nggak percaya itu aku. "Cantik juga ternyata aku" gumamku yang terdengar para bridal make up.


"Non Lia emang udah cantik jadi saya hanya mempertegas kecantikan non aja" ucap bridal yang merias wajahku.

__ADS_1


"Sekarang kita rapikan rambutnya ya non, biar makin cantik lagi". ucap salah satu bridal makeup yang ternyata dia seorang hair stylish. Aku pun mengangguk. Dan beberapa menit kemudian sanggu modern cantik sudah bertengger dikepala ku membuat ku makin cantik.


"Tuh kan jadi makin cantik" ucap si hair stylish.


"Akan makin cantik setelah pakai gaun rancangan ku" ucap yang pria yang ternyata adalah designer wedding dress terbaik. "Mas Didi Buduharjho", ucapku saat melihat dengan jelas siapa orang yang merancang baju kebaya pernikahan ku.


"Ya Tuhan Lia Putri Aghata, ternyata kamu pantas saja si bule ngotot banget minta design kebaya yang nggak aku jual, karena itu kebaya ide dari mu, sesuai janjiku aku hanya akan memberikan kebaya itu untuk mu saat akan menikah tapi nggak gratis..hahahaha,,karena aku buatnya susah pake banget" ujarnya sambil memegang tanganku.


"Trus kenapa kamu jual padanya padahal belum tentu aku yang akan menikah dengannya?" ucapku sambil memicingkan mata.


"Itu karena dia mengancamku, dia akan membuat seluruh outletku tutup dan gulung tikar, siapa yang nggak takut diancam gitu sama pewaris tahta Goucher Corp" ucap Kak Didi.


"Emang dia sehebat itu kah?" gumamku.


"Dasar bodoh, sudah akan dinikahi masih tidak tau jelas siapa pria yang akan dinikahi...ckckkck. pokoknya kamu sangat beruntung lah, selama ini banyak wanita mengejarnya bahkan tidak segan-segan naik ke ranjangnya tapi tidak ada yang berhasil mendekatinya dengan jarak satu meter saja sudah sulit" jelas kak Didi panjang lebar, membuatku makin yakin Ferry pria yang baik-baik dan sangat mencintaiku. Keraguanku perlahan menghilang, aku jadi makin yakin pilihan ku tidak salah, terlepas badai apa di depan yang akan menerpa kami nantinya, setidaknya kami akan kuat menghadapinya bersama dibandingkan sendirian.


"Udah sini pakai kebayanya sambil ngobrol" ujar Kak Didi menyodorkan kebaya yang sangat cantik. "setidaknya satu impian ku terwujud saat ini, akad nikah pake baju rancangan kak Didi sesuai keinginanku" gumam ku dalam hati sambil tersenyum.


"Aku pun mengganti baju ku di ruang ganti di depan toilet di bantu hair stylish yang takut sanggul karyanya berantakan karena kecerobohan ku. lalu begitu aku keluar dari ruang ganti, mata kak Didi berbinar-binar.


"Gila Lia ini baju jadi makin hidup di pake kamu. Beneran sehati ini baju sam body mu" ucap kak Didi sambil memutar tubuh ku.


"Cantik....sangat cantik, calon istriku memang sangat cantik" tiba-tiba suara bariton khas Ferry terdengar di ambang pintu kamar membuat kami semua menoleh ke arahnya. Aku hanya tersenyum melihat binar bahagia terpancar dari wajah Ferry yang perlahan mendekatiku.


"Sudah siap Nyonya Goucher?" ucap Ferry sambil mengulurkan tangannya, yang ku sambut penuh keyakinan.

__ADS_1


Ferry membawa ku keluar dari suitroom hotel menuju sebuah aula.


__ADS_2