
#POV Lia#
"Sayang, selesai makan kita balik ke rumah mama boleh yuk?" ajak ku pada Ferry saat pelayan selesai menyajikan makanan diatas meja.
"Tidak lebih baik malam ini kita tidur disini aja?" sambil asik menikmati makan siang yang kemaleman, makan malem yang kesorean.
"Sayang, kamu jangan-jangan nggak makan siang juga pas aku tidur tadi?" tanyaku saat melihat Ferry yang lahap sekali makannya sampai bicara dengan ku pun dia tak menoleh terus menekuri makanan di depannya.
Ferry hanya menganggukan kepalanya menjawab pertanyaanku. "Kenapa?" gumamku membuat Ferry menghentikan makannya dan menatapku dalam membuatku jadi salah tingkah ditatap seperti itu.
"Sayang kamu bukannya jawab malah menatapku seperti itu...membuatku grogi saja" gerutuku malah membuat bule tengil itu tersenyum
"Kamu cantik banget sayang kalau rambutnya di gulung gitu, bikin aku nggak sabar pengen memakan mu" ucapan Ferry membuat wajahku panas. "Sial kenapa juga tadi aku pake ngegulung rambutku sebelum mulai makan" gerutu dalam hati.
"Kamu.....Dasar mesum" ucapku sambil melanjutkan makan mengalihkan pikiranku yang jadi ikutan mesum. "Aduh kenapa juga sih jadi terbayang kegiatan diatas ranjang bersama Ferry gini" bathinku sambil menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiran kotor ku dari kepala ku ini.
"Kamu kenapa geleng-geleng kepala gitu?" Tanya Ferry membuat ku salah tingkah, sampai-sampai aku menjatuhkan gelas berisi air diatas meja. Syukur gelas itu tidak sampai gelinding dan jatuh dilantai, hanya sedikit membuat dress yang ku kenakan basah kena tumpahan air.
"Mba bisa tolong ganti gelas istri saya dengan yang baru dan tolong mejanya di lap sekalian ya, terima kasih" pinta Ferry saat seorang pelayan menghampiri meja kami setelah Ferry menekan tombol di meja meminta pelayan datang ke meja kami.
"Baik, sebentar saya ganti dengan gelas baru dab lap dulu" ucap pelayan dengan ramah sambil mengangkat gelas yang ku jatuhkan.
"Maaf ya mba jadi ngerepotin" ucapku lirih.
"Tidak masalah nyonya ini sudah tugas saya" jawab si pelayan dengan senyum manis lalu meninggalkan meja kami.
"Sayang, udah jangan terlalu dipikirkan kamu kan tidak sengaja" ucap Ferry berusaha menghiburku.
"Kamu sih, bisa tidak jangan terus menggodaku ditempat umum. Aku tidak terbiasa, jadinya salah semua yang ku lakukan karena gerogi". Gerutuku kesal dan menyalahkan Ferry atas apa yang terjadi. Ferry malah santai aja sambil senyum manis bikin aku yang mau marah-marah jadi nggak jadi, karena susah mau marahnya kalau liat senyum manis si bule.
"Kamu makin ngemeshin kalau ngomel-ngomel gitu,,,jadi pengen peluk kamu yank" ucap Ferry santai sambil bersiap berdiri.
__ADS_1
"Ehhh...mau kemana kamu?" tanyaku jadi panik melihat si bule berdiri setelah bilang mau peluk aku.
"Apa sih orang aku mau ke toilet, kamu mau ikut" ucap Ferry sambil senyum menahan tawa melihat tingkahku dia pun berjalan menuju toilet.
"hahhaaha...konyol banget rasanya, aku bener-bener dibikin salah tingkah sama bule satu ini" gumamku sambil senyum-senyum sendiri.
"Permisi, ini gelas barunya ya Nyonya. Mau saya tuang air mineralnya?" tanya si pelayan setelah selesai mengelap meja yang basah dan membawa sebuah gelas dengan air mineral di teko kaca.
"Boleh mba" aku mempersilahkan pelayan menuang air ke dalam gelas yang baru saja dia letakan diatas meja. "makasih ya mba" ucapku setelah dia selesai dan izin untuk pamit jika tidak ada hal lain yang kami butuhkan.
"Sayang, kayanya kita nggak akan sempet balik ke rumah mama karena satu jam lagi aku ada metting dengan perusahan pengembang untuk program pembangunan hotel di Batam". ujar Ferry begitu duduk sesaat setelah dia kembali dari toilet.
"Tapi..." ucapanku belum selesai tapi Ferry memotongnya. "Maaf sayang kali ini tidak ada tapi, kita akan menginap disini malam ini. Besok kamu kuliah siang kan, jadi abis sarapan kita bisa ke rumah mama". Kalau sudah begini si bule pasti tidak bisa di batal lagi, aku hanya bisa menurut saja.
"oke lah" jawabku sambil melanjutkan makan yang sempat terjeda karena accident gelas tadi. Dan kami hanya mengobrol hal-hal receh sambil menghabiskan seluruh makanan diatas meja, lalu kembali ke kamar.
"Sayang, tunggu sebentar" pintaku pada Ferry sebelum kami meninggalkan restoran". aku berlalu menuju kasir memesan iced cappuccino with float 2 cup. Saat akan membayar aku baru sadar tidak membawa dompet dan juga ponsel.
"ini mba" ucap Ferry menyodorkan platinum cardnya pada si kasir.
"aku tidak menerima ucapan terima kasih dalam bentuk kata-kata" ucapnya sambil menjawil hidungku.
"terus dalam bentuk apa?" tanya ku polos, aku lupa kalau suami bule ku sangat mesum.
"Nanti aku jelaskan saat kita tiba di kamar". ucap Ferry sambil tersenyum manis sesaat sebelum pintu lift terbuka.
Kami pun masuk ke dalam lift, tidak ada adegan mesum yang terjadi seperti saat menuju restoran karena sepanjang di dalam lift slalu ada orang yang keluar masuk, saat tinggal satu lantai lagi baru lah kami hanya tinggal berdua karena memang lantai paling atas isinya hanya dua unit satu milik Ferry satunya lagi milik Jerry.
Kami pun turun dari lift menuju penthouse milik Ferry. Setelah menekan kode akses pintu yang merupakan tanggal pernikahan kami, pintu terbuka kami masuk. Begitu masuk aku langsung menyambar iced cappuccino with float yang diletakan diatas mini bar oleh Ferry, sedangkan Ferry langsung ngeloyor masuk menuju meja kerjanya.
"Sayang kamu mau Iced cappucinnonya nggak?" tanyaku setengah berteriak.
__ADS_1
"tidak, buat kamu saja" jawab Ferry samar terdengar karena dia tidak berteriak sepertiku.
Aku pun mengeluarkan satu cup iced cappucinno with float untuk ku nikmati sambil nonton film drama korean, yang satu cup lagi aku masukan dlm kulkas. lalu aku berlalu menuju kamar dan duduk diatas sofa depan tv.
Baru ku nyalakan tv dan mendaratkan bokongku di sofa, ponselku berdering dengan nada khas untuk mama atau Bimo. Aku buru-buru mengambil ponselku, ternyata mama yang menelphone.
"Iya Ma, ada apa?" tanyaku mengawali pembicaraan sesudah mengecilkan volume tv ajar tidak mengganggu obrolanku dengan mama.
"Kamu baik-baik aja kan sayang?" tanya mama dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik aja ma, mas Ferry ada kerjaan jd dia agak ribet kalau balik ke rumah mama jadi kami nginap di apartemen Ferry malam ini" jelasku pada mama.
"Syukurlah kalau memang tidak ada apa-apa, mama cuma kaget saat sampai rumah liat mobil kamu parkir tapi kamunya nggak ada. kata si mbok orangnya Ferry yang antar, kamunya pulang kampus dengan Ferry". ujar mama cemas. "Kalian tidak sedang bertengkarkan? karena kata si mbok saat Ferry meninggalkan rumah raut wajahnya kesal dan tak bersahabat".
"Aku nggak bertengkar dengan Ferry, hanya tadi siang memang ada sedikit salah paham tapi sekarang semua baik-baik aja koq. ini aku baru selesai makan malam di restoran apartemen bersama Ferry" ucap ku mencoba meyakinkan mama. "Owh ya ma, papa gimana kondisinya Lia sudah lama sekali tidak menjenguk papa di rumah sakit". ucapku lirih, sebagai anak aku merasa sangat tak berbakti menjenguk papa di RS saja tak sempat ku lakukan.
"Kondisi papa semakin membaik, hanya menunggu papa bangun dari tidurnya, mama juga bingung kenapa papa tidak mau bangun?.Padahal kata dokter Imran harusnya papa sudah bangun dari kemarin-kemarin kalau melihat kondisi alat vital papa, Dokter Imron juga sudah melakukan banyak cara agar papa mu bangun tapi sampai saat ini belum ada yang berhasil namun katanya dokter Imran nak Ferry akan mengirim dokter ahli saraf dari negara A untuk membantu mencari solusi atas kondisi papa, semoga saja berhasil". ujar mama penuh harap.
"Aamiin, semoga Tuhan memberi kita yang terbaik ya ma dan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu dengan kondisi terbaik.
"Aamiin" ucap mama mengaminin kata-kataku.
"Bimo gimana ujiannya ma?" tanyaku mengalihkan pembicaraan takut mama jadi sedih kalau inget papa.
"Katanya tadi saat mama tanya sih jawabnya gampang paling kalau pun ada yang salah hanya satu atau dua nomer" jelas mama membuatku tersenyum, adik ku memang slalu menjadi juara umum dari sejak masih sekolah dasar, aku tak cemas soal nilai dan masa depan Bimo selama dia tetap berada dalam track yang benar.
"Iya anak itu memang slalu membanggakan" ucapku bangga pada adik sematawayangku.
"Kamu juga kan, slalu membuat kami bangga dengan segudang prestasi mu dari kecil sampai sekarang. Kalian memang anak-anak mama dan papa yang membanggakan, tidak pernah sekali pun membuat mama dan papa susah dengan ulah kalian...kecuali saat kamu hampir membuat Ferry kehilangan nyawanya" ucap mama sambil terkekeh, membuatku malu mengingat kenakalan ku waktu kecil.
"Yasudah mama tidak mau mengganggu malam kalian. Pasti suamimu sudah tidak sabar menunggu mu dari tadi" goda mama berhasil membuat wajahku merona.
__ADS_1
"Mama apaan siih..." gerutuku
"Kenapa masih malu-malu sih, sudah sering melakukannya juga...hahaahaha, sudah ya mama tutup telphonnya" ucap mama sambil tertawa dan memutuskan sambungan telphon.