
"Benar-benar tua bangka ini, heran aku kenapa juga dia begitu tidak merestui ku dengan Lia? jelas-jelas keberadaan Lia banyak membawa keberuntungan untuk perusahaan dan juga aku...huuuffft"
Ferry menarik nafas panjang untuk menenangkan hati dan pikirannya agar bisa kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Di belahan bumi lain negara IND
"Pagi kak" sapa Bimo melihat Lia sudah duduk di meja makan.
"Jam berapa semalam kamu sampai rumah?" tanya Lia menyelidiki Bimo yang sejak pacaran jadi sering keluyuran.
"Sebelum jam sebelas deh, aku juga nggak begitu merhatiin sih, yang pasti aku sampe rumah Cyntia sebelum jam sepuluh karena dia punya jam malam dari papinya"
"Owh begitu, jadi kamu dan Cyntia seberapa serius hubungan kalian?"
"Hhhmm...kami baru jadian seminggu masa sudab kakak tanya seberapa serius...ckckckk". Bimo berdecak heran dengan pertanyaan Lia.
"Kamu itu serius cinta sm Cyntia? niat mau menjalani hubungan sampai ke pernikahan tidak? hal-hal kaya gini harusnya jadi pertimbangan kalian berdua, sebentar lagi kalian jadi mahasiswa artinya kalian sudah dewasa secara pikiran dan perbuatan".
"Kak Lia tenang aja aku tau koq batasan pacaran yang normal. Aku nggak akan bikin rusak nama baik papa"
"Syukur lah kalau kamu paham maksud kakak"
"kakak tenang aja ya, aku mencintai Cyntia jadi aku nggak niat merusak dia sebelum hubungan kami sah di mata agama dan juga hukum"
Lia hanya mengangguk kan kepala sambil tersenyum mendengar jawaban Bimo. 'Semoga saja ucapan mu dan realitanya sama'. Gumam Lia dalam hati.
Meja makan kembali hening. Lia dan Bimo sibuk menghabiskan sarapan yang ada di depan mereka tanpa suara.
"Kamu habis ini mau kemana sama Cyntia" tanya Lia sesaat setelah dia selesai menghabiskan sarapannya.
"Mau ke kampus kak, aku cuma mengantar Cyntia sih karena fakultas Cyntia yang ngadain acara hari ini. Kalau anak FK, lusa baru kita mulai tempur lagi di ospek. weekend gini mah bebas merdeka".
"Owh jadi adik ku sekarang udah gede ya...hahahaah". tawa Lia saat mendengar penjelasan Bimo.
"Udah dari tau lalu kali kak, aku sudah dianggap dewasa secara hukum negara...ckckck"
"Iya ya, kakak sampai lupa kalau adik kakak ini sudah punya ID Card sekarang, abis masih manja aja sih belum keliatan mandirinya....hehehehehe"
__ADS_1
Bimo langsung mencibikan bibirnya saat Lia mengatainya manja. Lia hanya tertawa saja melihat tingkah adik sematawayangnya.
ting tong...ting tong
"Siapa pagi-pagi gini bertamu?" gumam Lia yang masih terdengar Bimo.
"Paling kak Mira, sahabat kakak yang hobby minta dan juga makan gratis dari dulu" sahut Bimo dengan nada sebel.
"Hhhmm...sama kan dengan adik kakak yang ganteng ini" Ujar Lia sambil mencubut hidung Bimo.
"Kalau aku wajar lah, kan aku adik kakak. Masa dia cuma temen aja udah kaya rampok kalau minta".
"Huuuss....jaga bicara mu, Mira mendapatkan semuanya itu bukan gratis tapi semua itu bayaran untuk dia karena sudah membantu kakak. Kamu jangan asal komentar kalau tidaj tau apa-apa nanti malah menyinggung perasaan orang"
"Owh begitu, aku pikir dapat gratis cuma-cuma....hehehehe"
"Pagi kesayang mama, tumben nih kalian akur banget biasanya ada aja yang diributin".
Lia dan Bimo menoleh keasal suara. Terlihat mama mengenakan pakai traning kaya habis olah raga.
"Kompak banget anak mama" sahut mama sambil duduk di kursi kosong depan meja makan dan menuang air putih ke dalam gelas.
"Mama dari mana?" tanya Lia heran lihat gaya pakaian mamanya sangat tidak biasa.
"Mama baru selesai sepedaan tadi abis subuh di lapang tembak nggak jauh dari komplek rumah mu ini sama ibu-ibu arisan komplek rumah kita, trus inget kalian berdua jadi mama kesini aja deh"
"Tapi mama itu trening terlalu seksi iiihhh buat emak-emak" ujar Bimo melihat baju olah raga yang dikenakan mama.
"Masa sih? kata ibu-ibu komplek tadi mama cantik koq pake kaya gini kelihatan lebih mud adan fresh" sahut mama sambil senyum-senyum.
"Iya sih, tapi nggak cocok lah. Bimo nggak suka mama pake baju seksi gitu ntar di bilang tante girang lagi"
"Hhuuusssshhh....sembarangan kamu kalau komen" Mama memukul kelapa Bimo pake kipas yang ada di tangannya.
"Aduh...sakit ma"
"Makanya mulut mu itu dijaga kalau bicar"
__ADS_1
"Hhhmmm...aku kan bicara jujur" gerutu Bimo.
"Ma, maaf ya tapi kali ini Lia setuju sama Bimo. Mama emang cantik dan terlihat awet muda koq tanpa perlu pake baju seksi pres body gtu".
Mama langsung memberengutkan bibirnya, sambil memanggil salah satu ART di rumah Lia. "Narti, saya minta tolong kamu minta sama Ujang di depan tas saya yang ada di bagasi mobil".
"Baik, nyonya" Narti pun segera bergegas ke teras menemui mang Ujang.
"Mang Ujang, Nyonya Aghata minta tasnya yang ada di bagasi" Narti berteriak pada mang Ujang yang sedang asik ngopi sambil maen catur di teras bersama sang bodyguard untuk mengisi waktu luang.
Mang Ujang bergegas mengambilkan tas yang Narti maksud tak ingin membuat majikannya menunggu lama.
"Ini tasnya ti, kamu makin cantik aja sih" ujar Mang Ujang sambil memukul bokong Narti usai memberikan tas miliki nyonya Aghata.
"Mang Ujang ihhh...genit banget deh pukul-pukul bokong orang, adui sama nyonya nih" Ancam Narti menakut-nakutin Mang Ujang.
"Hahahaha...sudah sana masuk nanti nyonya kelamaan nungguin tasnya" sahut mang Ujang sambil tertawa.
'Iiissshh...mang Ujang diancam bukannya takut malah tertawa, nyebelin' gerutu Narti saat meninggalkan mang Ujang dan masuk ke dalam rumah.
"Kamu kenapa menggerutu begitu mba Narti?" Lia heran melihat mba Narti menggerutu seperti kesal dengan seseorang.
"Ehh .. itu...anu,," mba Narti terbata-bata bingung harus berkata jujur atau menutupi perbuatan mang Ujang.
"Ngomong aja Mba Narti, nggak usaha ragu-ragu. Lia nggak akan marah koq" sahut Lia jadi makin penasaran.
"Itu,,,anu...mang Ujang nyebelin banget Nyonya, moso bokong ku di tepok seenaknya dewe".
"Huahahahahaha....itu artinya mang Ujang naksir kamu mba Narti" tawa Bimo langsung menggelegar mendengar cerita mba Narti.
"Maafin Mang Ujang yang mba Narti, maklum aja mang Ujang udah mau kepala empat tapi masih jomblo dan nggak punya pacar keasikkan ngikutin papa saya sampai lupa sama urusan pribadinya. tapi selama ini mang Ujang nggak pernah godain ART di rumah kita ya ma? jangan-jangan bener kata Bimo mba, mang Ujang suka sama kamu"
"Nyonya sm aden ngomong apa sih" muka mba Narti sudah memerah karena malu di goda Bimo sedangkan mama tak memperdulikan kami, begitu dapet tasnya mama langsung masuk ke dalam kamar tamu kaya mau mandi dan bersih-bersih.
"Nggak apa-apa koq mba Narti pacaran sama mang Ujang, saya izinin yang penting pacarannya jangan aneh-aneh"
"Opo toh kie, isin-isin ojo di bahas meneh" mba Narti langsung lari ke dapur dengan wajah yang sudah memerah menahan malu. Niat mau cerita biar dibelain dan mang Ujang kena marah, ehhh malah di ledekin. 'Moso sih mang Ujang naksir karo aku, dia ganteng juga sih mana bodynya keker joss banget kayanya'. 'Aduuh aku mikir apa sih ini malah jd ikut-ikutan den Bimo dan Nyonya muda...huudfft' mba Narti menarik nafas panjang meneralkan perasaannya.
__ADS_1