
Saat Lia dan mami sedang di ruang kerja Lia, mami mendapat telphon dari ibu-ibu perkumpulan para istri pengusaha di negara A.
"Lia mami pulang dulu ya, mami masih ada urusan dengan ibu-ibu rempong"
"Lia antar kedepan mi"
"Oke, kamu tolong sampaikan salam mami untuk Ferry. Mami tidak sempat lagi untuk pamit sama anak satu itu. Ibu-ibu rempong sudah terus mengirimi mami chat karena mereka semua sudah sampai di Mansion Cafe"
"Iya mi, nanti Lia sampaikan. Mami hati-hati di jalan" ujar Lia saat mami selesai mencium pipi dan memeluknya.
Lia memandang punggung mami yang menuju Lift. Begitu mami masuk kedalam lift Lia pun masuk ke dalam apartemennya.
Lia merapikan gelas dan piring bekas cake di gazebo dan membawanya ke dapur untuk Lia cuci.
'Oke sudah bersih semuanya sekarang saatnya mengerjakan gaun Shella. Bisa gawat kalau sampai tidak selesai' gumam Lia dalam hati sambil kembali ke ruang kerjanya.
tok...tok...tok
Pintu ruang kerja Lia di ketuk dan muncul wajah tampan sang suami dari balik pintu yang terbuka.
"Masih sibuk?" tanya Ferry begitu manik mata mereka bertemu.
"Sedikit, aku masih harus menyulam motif gaun Shella di bagian bawah gaun, karena ini baru selesai menyulam bagian lengan. Kenapa?"
"Sudah lanjut nanti lagi, sekarang waktunya makan malam. Sebentar lagi David juga datang ke sini untuk memeriksa kondisi kaki mu".
"Baiklah, ayo kita makan"
Ferry dan Lia pun berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan.
"Wah, suami ku ini kelihatan sangat enak"
"Duduk dan cicipi lah, ini tadi aku mencoba menu baru dari buku resep" ucap Ferry sambil membantu Lia duduk dan Lia pun tak malu-malu langsung memakan makanan yang dihidangkan Ferry.
"Wah, suam kamu hebat banget. Baru mencoba sekali langsung seenak ini. Kamu bener-benar chef kelas dunia"
"Bagus lah kalau kamu suka makan lah yang banyak dan pelan-pelan tidak ada yang akan berebut dengan mu"
"Hehehee...ini terlalu enak rasa ingin buru-buru melahapnya" kekeh Lia karena makan tanpa manner yang benar.
"Sayang aku besok harus ke kantor, kamu aku tinggal sendiri tidak apa-apa kan?"
"Aku akan baik-baik aja suam, memangnya aku anak usia tiga tahun yang begitu kamu tinggal sendirian akan celaka"
"Bukan begitu, kaki mu belum pulih aku tak ingin kamu kelelahan. Besok untuk makan siang kamu tidak usah masak aku akan minta seseorang membawakannya untuk mu"
"Ehh...apa tidak merepotkan? Aku pesen online aja deh" tolak Lia tak enak menyusahkan orang lain.
"Makanan online tidak bisa naik sampai depan pintu kamar, yang beli harus turun ke lobby apartemen untuj mengambilnya"
"Oo begitu" Lia hanya bisa ber 'O' ria mendengar ucapan Ferry. Lia lupa kalau sekarang dia tinggal di apartemen elit yang semuanya untuk naik lift saja menggunakan kartu akses mana bisa babang ojol bawa pesenan makanan naek lift.
"Jadi aku akan minta seseorang untuk datang besok mengantar makan siang untuk mu. Kamu jangan coba-coba untuk masak" ujar Ferry dengan nada tegas dan menatap Lia dengan tatapan tak ingin di intrupsi dan dibantah.
"Siap komandan" Lia malah menjawab santai sambil mengangkat tangannya memberi hormat pada Ferry.
'Dia benar-benar tau cara meluluhkan hati ku, wanita satu ini pasti jelmaan rubah betina penaklu kaisar' bathin Ferry mulai ngaur karena dia sudah tak bisa berkutik lagi melihat tingkah Lia.
"Kamu ya" hanya kata itu yang keluar dari mulut Ferry sambil mencubit hidung Lia.
"Hehehehe...siapa suruh tuan muda Goucher begitu serius memberi perintah" ucap Lia sambil mencibikan bibirnya
"Kami sedang menggoda ku ya" Ferry mendekatkan tubuhnya ke Lia membuat Lia kaget karena jarak wajah mereka cuma tinggal beberap centi aja.
'Aduh kenapa slalu tiap adegan gini jantung ku slalu berpacu lebih cepat' pikiran Lia mulai kacau karena ulah Ferry yang tiba-tiba menyerangnya dadakan.
__ADS_1
"Mmmm...huh" Lia bernafas terengah-engah karena ciuman Ferry yang dadakan membuat Lia kehabisan nafas.
"Istri ku masih belum juga bisa beradaptasi dengan ciuaman ku, kaya kita harus sering melakukannya agar kamu mahir" goda Ferry membuat rona merah di pipi Lia menjadi hingga telinganya ikut memerah.
Tapi bukannya berhenti Ferry malah kembali mencium bibir sang istri kaliin lebih lebih dan intens namun memberi jeda agar Lia bisa tetap ambil nafas.
Lama kelamaan ciuman mereka makin panas karena ciumannya sudah berpindah ke leher Lia dan tangan Ferry mulai menggetayangi tubuh Lia.
"Suam, cukup...kit" belum juga Lia selesai berucap bibirnya kembali berpagut dengan bibir Ferry.
Ting tong....ting tong....ting tong
Adegan panas mereka harus terpaksa berhenti karena bunyi bel yang tak mau berhenti.
'Ahh...sial siapa yang mengganggu hari baik ku' Gerutu Ferry sepanjang jalan membuka pintu.
Begitu Ferry berjalan menuju pintu, Lia buru-buru merapikan rambut dan juga bajunya yang sudah berantakan bahkan beberapa kancing bagian atas berhasil dibuka oleh Ferry
"Dasar pengganggu" gumam Ferry yang terdengar David.
"Ehh...Kenapa wajah mu? abis bertengkar dengan Lia?" ujar David saat melihat wajah Ferry yang masam dan ditekuk.
"Kenapa kamu datang sekarang mengganggu sekali" gerutu Ferry.
"Ehh...bukannya kami yang menyuruh ku untuk kesini...ckckckck" sahut David tak terima di omelin Ferry.
"Sudah lah cepat masuk dan periksa kaki Lia" ujar Ferry malas berdebat.
"Malam Lia, bagaimana perasaan mu hari ini?" tanya David ramah.
"Malam dokter David, ayo kita makan malam dulu baru kamu periksa kaki ku" usul Lia karena memang makanan di piringnya belum selesai dia makan.
"Kebetulan sekali aku belum makan malam" sahut David cepat dan duduk manis ikut makan malam tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"Gila ini masakan mu enak banget Lia" gumam David begitu mulai makan.
"Hah, kamu serius? sejak kapan kamu bisa masak tuan muda Goucher? kenapa aku bisa tidak tau?" rentetan pertanyaan yang diajukan David tak satu pun di gubris Ferry.
"Sudah jangan berisik kamu makan saja" sahut Ferry dengan dingin dan wajah kesal.
"Nyonya muda, wajah suami mu kenapa begitu angker dan tak enak di pandang?" ledek David membuat Lia tak kuat menahan tawa lagi.
"Tidak ada apa-apa dokter, kamu makan lah yang kenyang jangan pedulikan tuan muda mungkin dia sedang kedatang tamu bulanan"
Mendengar jawaban Lia sontak tawa David langsung menggelegar dan wajah Ferry makin masam.
"Sayang, kamu berani meledek ku ya?" ucap Ferry sambil mendekat ke Lia dan mengangkat tubuhnya.
"Tidak berani...tidak berani, tuan muda tolong berbaik hati lah aku ini masih seorang pasien" rengek Lia tapi tak diperdulikan Ferry.
Ferry membaringkan Lia di atas ranjang mereka. "Tadi kamu bisa lolos sekarang kamu tidak akan lolos lagi"
"Suami ku sayang, David ada di luar. Biar dia periksa aku dulu baru begitu dia pulang i'm yours"
"Hhhmmm..baiklah, tapi kamu harus memberi ku kompensasi atas kesabaran ku"
Lia mencium pipi Ferry sambil berucap "Begini sudah cukup kan?" Ferry menggeleng, kompensasi mu terlalu tidak memuaskan.
"Baik lah, kalau begini?" Lia mengecup bibir Ferry.
"Terlalu singkat" ujar Ferry kesal.
"Bayi beruang kamu jangan banyak mau sudah cepat bangun dari atas tubuh ku. Jangan sampai David berfikir yang tidak-tidak.
"Aku lepas kamu kali ini tapi ingat ucapan mu tadi jangan mangkir"
__ADS_1
"Iya suami ku, sudah sana kamu keluar lebih dulu". pinta Lia karena dia harus merapikan dirinya.
Begitu Ferry keluar dari kamar David meledeknya habis-habisan. "Ku pikir aku akan menunggu mu beberapa jam di sini ternyata kami begitu payah baru beberapa menit sudah selesai....hahahahaha"
Mendengar ucapan David sebuah tinju melayang ke bahu David. "Jika aku melakukannya kamu akan menunggu ku sampai besok pagi".
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Lia begitu keluar kamar melihat kedua pria itu malah duduk di depan tv sambil mengobrol.
"Tidak ada, sayang cepatlah kamu berbaring di atas sofa biar David memeriksa kondisi kaki mu saat ini" Lia melakukan apa yang Ferry ucapkan.
"Wah bekas lukanya sudah menghilang kulit mu sudah kembali normal"
"Hey kamu dokter buat apa memandangi kaki istri ku begitu lama"
"Kamu sungguh tidak masuk akal tuan muda, jika aku tidak memandangi kaki istri mu apa kamu minta aku untuk merabanya?" sahut David dengan tatapan mesum kearah Ferry.
"Coba lah kalau kamu berani" Ferry menatap tajam David membuat yang ditatap bergidik ngeri.
"Tidak berani, sudah jangan menatap ku seperti itu." pinta David kemudian mulai serius memeriksa kaki Lia. 'Ferry sangat menakutkan' ucap David dalam hati.
"Bagaimana dok, apa kaki ku sudah bisa ku gunakan secara normal?" tanya Lia penuh harap.
"Semuanya sudah baik-baik saja, tapi lebih baik untuk seminggu kedepan kami tidak menggunakan high heels dan tidak berlarian atau berdiri terlalu lama.
"Berarti aku sudah bisa ke kampus kan dok?" tanya Lia bersemangat dengan mata berbinar.
"Tentu saja, kamu sudah bisa beraktivitas lagi dengan syarat tadi tidak menggunakan high heels saat ke kampus".
"Oke aku akan mengenal flat shoes" ucap Lia penuh semangat.
"Kalau sudah tidak ada yang mau kamu sampaikan lagi cepat lah pergi dari sini" Usir Ferry.
"Kamu benar-benar habis manis sepah dibuang..huh" gerutu David sambil merapikan peralatan yang dia bawa bersiap untuk pulang.
"Minum lah vitamin ini sehari satu agar kondisi tulang dan tendon mu semakin kuat"
"Terima kasih dokter David, kamu yang terbaik" ucap Lia dibalas senyum manis dari David.
"Sudah sana keluar, jangan bikin aku menendang mu keluar"
Walau David tau ucapan Ferry hanya bercanda tapi David pun tetap pamit untuk pulang, David cukup tau diri sudah sepuluh hari Lia sakit pasti lah Ferry susah payah menahan diri selama di dekat Lia.
"Baiklah aku pamit pulang kalau begitu, selamat malam" ucap David sambil meninggalkan apartemen Ferry.
"Hati-hati dijalan" ucap Lia kemudian masuk dan menutup pintu apartemen.
"Ramah banget istri ku sama si mata empat" ucap Ferry sambil mengusel di cengkuk leher Lia.
"David itu dokter yang merawat ku selama sakit, dia juga bukannya teman mu ya? kenapa aku tidak boleh ramah dengannya?"
"Karena kamu istri ku, wanita Ferry Goucher hanya boleh ramah pada ku saja" ucap Ferry sambil mulai menciumi leher Lia.
"Sayang udah yuk kita bersih-bersih sholat trus tidur, besok kamu mulai ke kantor dan aku mulai kuliah. Jadi harus bangun pagi"
Lia berdiri meninggalkan Ferry yang terkejut karena Lia malah berjalan ke kamar.
"Ehh...tunggu, istriku kamu sudah janji tadi" rengek Ferry.
"Itu kan kalau aku tidak kuliah besok"
"Sebelumnya tidak ada perjanjian seperti itu" keluh Ferry.
"Suam, kalau kamu memakan ku sekarang, besok pasti aku tidak akan sanggup ke kampus. kaki ku yang belum sembuh sempurna dan dimakan kamu pasti aku membuat ku tidak kuat bangun besok"
"Aku akan pelan-pelan dan tidak akan lama, Please istri ku jangan terlalu kejam. Aku dan si junior sudah terlalu lama puasa"
__ADS_1
Ferry terus merengek sambil mengikuti langkah Lia yang menuju kamar mandi, tapi Lia tak menggubrisnya.
Akhirnya malam itu mereka tidur dengan tenang hanya saling memeluk satu sama lain memberi kenyamanan