
Hari ini akan jadi hari yang tak akan pernah aku lupakan walau pun tujuan awal kesini menemani Ferry perjamuan bisnis untuk ikutan tender dan Ferry mendapatkan tender itu, hebatnya lagi designku digunakan dalam pemenagan tender itu. Benar-benar tak pernah terbayangkan sebulumnya. Semoga jadi awal yang baik.
"Hei kenapa malah melamun" tanya Ferry saat di dalam mobil menuju hotel usai belanja pesanan Mira dan Bimo. Juga nonton film.
"Kamu nggak nanya kenapa aku membelikan banyak barang untuk Mira?" tanyaku aneh sekali karena bule ini tidak bertanya sama sekali dan terus saja membayar semua belanjaanku tanpa kecuali.
"Memang harus ku tanyakan?" sahut si bule santai kaya dipantai bikin yang denger geregetan. Daripada emosi akhirnya aku diem aja males nanggepin omongan Ferry.
"Berdasarkan watak Mira yang materialistis harusnya semua itu imbalan karena dia menolong mu dikampus" analisa Ferry tepat sasaran, karena dia sudah menebaknya makanya dia tidak bertanya. 'Bodohnya aku lupa kalau suamiku ini memiliki kecerdasan diatas rata-rata'.
"Benar tidak tebakan ku?" tanya Ferry yang aku angguki. "Kalau soal Bimo aku tak memerluka alasan untuk membelikan semua yang dia inginkan sekarang dia jugakan sudah jadi adik ku"
Mendengar kata-kata Ferry aku langsung menengok kearahnya. "Terima kasih buat semuanya" ucapku dengan mata berbinar penuh kebahagian.
'Tuhan aku serakah banget ya kalau berharap semua kebahagian ini selamanya ku rasakan' bathinku
"Terima kasih mu tidak cukup hanya dengan kata-kata, uang yang ku keluarkan sangat banyak hari ini" ujar Ferry santai membuatku salah tingkah ditatap dengan tatapan yang biasanya Ferry berikan saat kami diatas ranjang.
"kalau bayarannya mandi berendam bersama, baik tidak?" tanyaku membuat senyum diwajah di bule merekah.
"Baik, baik sekali" sahutnya dengan cepat seperti takut aku berubah pikiran.
Benar saja begitu tiba di parkiran hotel Ferry langsung mengangkatku ala bridal menuju lift di parkiran yang langsung menuju ke lantai paling atas kamar kami.
Ferry membarikan ku diranjang membuat jantungku berdebar ditatap Ferry dengan penuh gairah. membuat seluruh tubuhku jadi panas.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini aku siapin air mandinya untuk kita berendam" Ucap Ferry sambil ******* bibirku dengan lembut dan menuntut membuatku menikmati dan membalasnya dan membuka lebar rongga mulutku agar Ferry puas menjelajahinya.
semakin lama semakin dalam dan tangan Ferry tanpa ku sadari sudah melucuti dress yang ku kenakan bahkan braku pun sudah terlepas. Membuat desahan ku meluncur keluar saat Ferry mulai meremat gunung kembarku dengan lembut sambil menghisap puncaknya membuatku tubuhku menggeliat kelikmatan. tangan Ferrry yang satunya mulai turun melapas satu-satunya kain yang menempel ditubuhku. Saat Ferry mulai menyentuh inti kenikmatan milik ku, aku menghentikannya.
"Sayang kita mandi dulu ya, aku nggak nyaman" mendengar apa yang aku bisikan Ferry pun perlahan melepaskan ku walau aku tau dengan pasti juniornya sudah mengeras dibawah sana karena tersa benda tumpul itu menyentuh kulitku.
"Kamu tunggu sebentar aku siapkan airnya" Ferry langsung bergerak dengan cepat menuju kamar mandi suara air mengalir terdengar membuat seluruh tubuhku jadi makin panas dan bergiarah membayangkan cumbuan yang baru saja diberikan Ferry.
Olah raga malam yang menguras banyak energi ku tapi memberi kenikmatan tiada tara. Andai Ferry tidak memakan ku sampa pagi itu sudah menjadi kenikmatan yang berdouble-double rasanya karena aku tidak akan kelelahan sampai tak sanggup bangun.
Pikiran ku jadi kemana-mana sampai tak sadar Ferry yang tubuhnya sudah polos mengangkat tubuhku menuju kamar mandi. Aku baru sadar saat Ferry membaringkan ku di dalam Bathtube yang penuh busa dan wangi aroma trapi yang menyeruak masuk rongga hidungku.
"Sayang,,,geli" teriak ku saat Ferry yang berbaring dibelakangku menciumi tengkuk ku dan tangannya asik bermain dengan gunung kembarku.
Ferry menggendongku keluar dari kamar mandi, kali ini aku tidak dalam keadaan polos melainkan mengenakan bathroob dan rambut tergulung dengan handuk kecil Ferry menurunkan ku di ruangan walk in closed. Lalu si bule memilihkan baju tidur untuk ku kenakan, begitu melihat pilihannya aku langsung menggeleng dengan cepat. Bisa Mati aku kalau mengenakan baju tidur setipis itu, aku tidak ingin memancing junior Ferry bangkit lagi.
"aku ambil sendiri saja" ucapku sambil meletakan kembali lingerie yang dikeluarkan Ferry.
"Takut banget sih aku memakan mu?"
"Tentu saja aku takut, kamu tidak pernah puas sebelum aku kehabisan seluruh energi ku dan hampir pingsan" gerutuku sambil mengambi baju tidur dengan lengan panjang dan celana panjang.
"Sayang koq pilih bajunya kaya gitu sih, emangnya kamu lagi datang bulan, hah". "Ganti"
"Apaan sih kamu, aku mau pake ini aja"
__ADS_1
"Ganti ku bilang, sangat tidak enak memeluk mu jika terlalu rapet begitu". "Aku janji tidak akan melakukan yang macam-macam dengan mu". "Cepar ganti"
Aku terpaksa mengembalikan lagi setelan piyama ku ke dalam lemari dan mengambil baju tidur tanpa lengan dengan bagian dada tertutup renda. lalu aku kembali ke kamar mandi untuk mengenakan baju tidur dan mengeringkan rambut.
"Gitu kan cantik, seksi dan manis. Ayo sini" Ferry menepuk kasur tepat di sebelahnya untuk ku duduki.
Ferry merebahkan kepalanya dipahaku. "Sayang, kamu mau ketemu papi sama mami nggak?" tib-tiba Ferry menanyakan pertanyaan yang tak mampu ku jawab.
"Hei, mau tidak?" tanya Ferry sekali lagi, aku hanya diam tak bergeming.
"Mama tadi kirim pesan, kata masih di negara SG dan tau kalau besok aku dan kamu ada perjalanan kesana, meminta ku mengajak mu menemuinya. Bagaimana menurut mu?" Aku diam mencerna penuturan Ferry, karena aku baru inget kalau papi dan maminya sedang di SG.
"Boleh tidak bertemu?" tanyaku balik.
"Tentu boleh jika kamu tidak nyaman, aku tidak akan pernah memaksa mu". ucap Ferry dengan tersenyum namun pada sorot matanya nampak ada kesedian.
"Aku pikirkan dulu ya, kalau aku siap bertemu aku akan bilang kamu" sahutku dengan hati-hati tak ingin membuat suamiku kecewa.
"Tidur yuuk" Ferry bangkit dan membuat posisi tidur seperti biasanya. posisi ternyaman kami, karena jika sudah seperti ini hitungan menit kami akan sama-sama mulai terlelap.
Tapi tidak dengan malam ini, pertanyaan Ferry membuatku jadi gelisah dan mata ini tak mau terpejam, sedangkan si bule mulai terdengar dengkuran halusnya tanda dia sudah terlelap dalam dunia mimpi.
Pikiranku terus saja berputar memikirkan apa yang harus aku lakukan, bertemu mereka atau tidak usaha bertemu. Maminya sangat baik, dan juga menerima ku dengan sangat baik. tapi papinya kan tidak merestui hubunganku dengan Ferry.
Sudah lah tidak perlu terlalu ku pikirkan jika memang harus ketemu ya ketemu saja memang mau sampai kapan aku trus menghindar. Lama kelamaan aku pun terlelap karena lelah terus berfikir.
__ADS_1