
"Jadi apa rencana kalian membuat Ferry cemburu?" tanyaku penasaran.
"Kalian berdua cukup mengobrol natural saja dan kak Lia tertawa lepas lah jika ada lelucon yang Dion buat, jika lucu tertawa lah selepas mungkin jangan ditahan. Pokoknya buat semuanya senatural mungkin, aku akan meninggalkan kalian berdua saja nah mulai lah semuanya begitu aku pergi"
Mendengar penjelasan Shella sepertinya mudah tapi nyatanya sulit, karena aku memang tidak terbiasa berdekatan terlalu intim dengan pria apa lagi pria yang baru ku kenal.
"Lia santai lah sedikit, suami mu sudah mulai menatap ke arah kita sejak Shella pergi"
"Oke, kalau begitu kita mulai mengobrol santai dan kamu meluculah tunjukan lelucon terbaik mu!" ucapku sambil tersenyum yang disambut senyum manis Dion.
"Sepertinya dia benar-benar bucin pada mu, karena dia terus menatap kearah ku tanpa berkedip. Semoga saja dia tidak menghajar wajah ku karena cemburu nantinya, kalau tidak kamu harus mengganti kerugian bila wajah tampan ku sampaj rusak"
"Kamu tenang saja aku akan menanggung semua biaya perawatan wajah mu sampai kembali tampan" sahutku penuh keyakinan sambil tertawa.
"Kalau sampai tidak bisa diperbaiki dan wajahku tetap rusak lalu tidak ada gadis yang mau dengan ku maka kamu harus jadi kekasih ku...aku baru setuju menanggung resiko ini"
"kamu serius syaratnya seperti itu?" tanyaku dengan wajah tegang
"Hahahaaha....Lia wajah mu jika seperti itu benar-benar lucu dan menggemaskan"
"Kenapa kamu malah menertawaiku? Apa yang lucu?" gerutuku melihat Dion malah tertawa.
"Tentu saja yang tadi aku katakan tidak benar, aku hanya bercanda, lagian aku sudah punya kekasih dan aku mencintainya dengan segenap jiwaku"
"Ya Tuhan Dion kamu bercanda mu membuat jantung ku hampir saja lepas" Sahutku sambil mengelus dadaku.
"Lia gawat, suami mu mulai berjalan ke arah kita dengan wajah menyeramkan dan penuh aura dingin"
"Hahahahaa...wajah beruang kutubnya sudah muncul kamu bersiap-siap lah menerima bogem mentah darinya, karena terakhir kali saat dia cemburu pada teman priaku di kampus dia menghajarnya sampai masuk rumah sakit dengan patah tulang kakinya"
"Kamu jangan menakut-nakuti ku....bulu kuduk ku mulai merinding ini...suami mu menyeramkan sekali Lia....Sebaiknya aku pergi sebelum dia sampai kalau tidak bisa mati aku dipukulinya"
Dion pun langsung berjalan menjauhi ku dan tak lama Ferry berdiri di depan ku dengan wajah beruang kutub kelaparan yang siap memakan ku, karena kami sedang perang dingin tanpa sepatah kata pun aku langsung berbalik hendak pergi meninggalkan dia disana tetapi baru juga selangkah tanganku sudah ditarik oleh Ferry.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Ferry dengan suara serak menahan marah.
"Memang kau masih peduli?" tanyaku balik
"Kamu istriku bagaimana mungkin aku tidak perduli" Sahut Ferry diikuti tarikan nafas panjang.
"Istri? owh iya aku hampir saja lupa kalau aku punya suami" ucap ku santai dan cuek membuat wajah si beruang kutub makin murung dan aura dingin makin menyeruak keluar disekeliling tubuhnya membuat orang yang meliatnya pun merinding kecuali aku.
Awalnya sih aku juga takut cuma makin kesini aku jadi terbiasa melihat wajah angker dan aura dingin yang Ferry pancarkan ketika marah karena cemburu. Aku justru melihat ekspresinya ingin tertawa karena ternyata benar ucapan Shella kalau kakaknya ini buncin, aku bukannya takut malah jadi senyum-senyum sendiri dalam hati.
"Jadi begitu, pantas saja asik sekali tertawa dan mengobrol dengan pria lain"
Rasanya aku ingin tertawa mendengar ucapan Ferry tapi aku harus menahannya, 'Siapa suruh dia nyuekin aku dan ninggalin aku sendirian?'.
"Apa yang salah dengan bersikap ramah dengan teman yang Shella perkenalkan, nanti kalau aku jutek dibilang sombong lagi?" jawabku santai dan acuh tak acuh.
"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi lepaskan tangan mu, aku lapar mau cari makan"
Ferry bukan melepas tangan ku dia malah menggandeng tanganku menuju stand makanan yang berada di sisi kanan ballroom hotel.
'Makananya kelihat enak-enak sekali' bathinku saat melihat deretan makanan yang dihidangkan di meja, aku pun mengambil piring kemudian mengambil sepotong cheeses cake, corn cheese struddle, samosa, chicken roggout dan Chichen curry. Si bule hanya berdiri sambil menatapku. Begitu piringku penuh makanan aku kembali kesisi si bule sambil tersenyum.
"Aku mau cari tempat duduk untuk menikmati makanan dengan tenang" ucapku sambil berjalan menuju kursi kosong di ujung ruangan yang diikuti si bule tanpa suara.
Aku duduk dan kemudian menggigit samosa isi daging domba yang enak banget jauh lebih enak dari samosa yang biasa aku dan mama buat.
"Sayang kamu mau coba, ini enak banget" ucapku sambil menyodorkan samosa yang sudah ku gigit, si bule mengerenyitkan alisnya. 'Upss...lupa dia kan mister higienis' bathinku lalu membatalkan niatku menyuapi samosa yang sudah ku gigit ke Ferry, tapi siapa yang sangka Ferry menahan tanganku dan menggigit samosa tepat dibekas gigitanku.
"Gimana enak kan?" tanyaku antusias dan membuang jauh kegugupanku karena memberikan Ferry makanan bekas gigitanku.
"Hhhm" gumam Ferry sambil mengangguk menyetujui kalau samosa itu memang enak.
Akhirnya Sepiring pastry dan sepotong cheeses cake kami habiskan berdua melumerkan ketegangan yang tadi ku ciptakan untuk membuat si bule cemburu dan memperdulikan ku berhasil walau sebenarnya aku mau lebih lama mengerjainya hanya saja pastry yang disediakan terlalu enak dan sayang kalau cuma aku yang menikmati sendiri dan si bule hanya menonton sambil ngiler bisa dosa aku nanti...hihihihi.
__ADS_1
"Sudah kenyang?" tanya Ferry tiba-tiba dengan wajah datarnya.
"Sudah" sahutku sambil menganggukan kepala.
"Ferry memanggil pelayan yang kebetulan lewat membawa nampan berisi gelas dengan bermacam-macam minuman. Ferry meminta Juice apel untuknya dan orange juice untuk ku.
"Minum lah, habis itu jelaskan padaku siapa pria tadi?" 'Teeet tooooot' ternyata si bule tetep balik ke awal, aku pikir masalah tadi sudah kelar.
"Hhhmmmm...aku pikir masalah tadi sudah selesai...ckcckk" gumamku yang terdengar Ferry.
"Belum dijelaskan bagaimana mungkin ku anggap selesai" sahut Ferry cepat.
"Pria tadi namanya Dion, Shella yang memperkenalkannya padaku" jelasku seadanya membuat dahi si bule mengerut.
"Buat apa Shella memperkenalkan pria itu padamu?" tanya Ferry lagi.
"Untuk menemaniku karena dipesta sebesar ini aku sendiri" ucapku sambil menyandarkan tubuhku di kursi dan menatap Ferry, aku mau melihat ekspresinya.
"Kurang ajar anak kecil ini beraninya menyodorkan pria lain pada istriku" gumam Ferry penuh kekesalan.
"Kenapa kamu menyalahkan Shella? dia hanya berbaik hati mencarikan kan teman untuk mengobrol karena suamiku tak memperdulikan ku" ujarku mulai nyolot.
"Siapa yang bilang aku tidak memperdulikan mu? setiap gerakan mu aku melihat semuanya" sahut Ferry tak terima mendengar ucapanku.
"Jika perduli kenapa meninggalkan ku sendirian?" tanyaku lagi masih dengan mode nyolot.
"Itu kan karena kamu duluan yang memulai peperangan dengan ku" Jawab Ferry sambil menggaruk kepalanya tak gatal tanda dia mulai salah tingkah.
"Jadi semua salahku?" Sahutku dengan nada mulai meninggi dan bersiap bangkit dari duduk ku tapi Ferry menahanku.
"Bukan, aku yang salah karena terpancing oleh tingkahmu yang kekanak-kanakan, sebagai suami aku harusnya lebih pengertian karena awalnya memang aku yang salah, bukan malah ikutan kekanak-kanakan seperti mu"
'Ini orang ngaku salah tapi secara halus malah ngatain orang...bener-bener cerdas, kalau gini kan aku jadi nggak bisa ngomel-ngomel'.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya, aku tidak bermaksud meninggalkan mu sendirian tadi. Dasar Shella rese ku minta menemani mu malah menyodorkan pria untuk menemani mu...huffft"
"Maksdnya?" tanyaku bingung.