
Dreeet....Dreeeet....Dreeeeeet
Ponsel yang sejak tadi ku mode silent trus bergetar diatas meja, dengan malas aku mengambil ponselku dilayar tertera nama Jerry. Dengan berat hati aku pun menggeser icon hijau itu.
"Iya Jer, ada apa?" ucapku malas-malasan.
"Tuan muda, sepuluh menit lagi rapat pemegang saham akan di mulai mohon tuan muda standby linknya sudah saya kirim" ujar Jerry.
"Tak bisakah kamu saja yang mewakiliku Jerry, aku benar-benar sedang tidak mood hari ini" pintaku pada Jerry.
"Katanya tuan muda ingin membuktikan pada tuan besar Goucher kalau pernikahan tidak akan menghambat karier tuan muda, ini belum apa-apa sudah malas-malasan" Ucap Jerry mengingatkan ku tentang ucapanku pada papi.
"Ahhhhgghhh...baiklah aku akan online sekarang juga" desahku terpaksa mengikuti keinginan Jerry.
Aku langsung menyalakan PC di meja kerjaku mengaktifkan aplikasi chat agar bisa mengambil link dan langsung bisa online terhubung dengan ruang rapat bersama para pemegang saham.
Satu setengah jam rapat berjalan cukup alot untuk melaporkan perkembangan perusahan, besarnya keuntungan dan permasalahan yang ada saat ini, perusahaan yang akan bekerja sama sebagai suplayer atau pemasuk bahan mentah, material untuk setiap unit perusahaan yang berbeda divisinya. Aku meminta masukan mereka untuk solusi, sekedar ingin melihat isi kepala mereka saja sebenarnya karena sesungguhnya keputusan terakhir tetap ditanganku, ups...harusnya di tangan papi, karena papi nggak ada makan jadilah aku yang mengambil keputusan.
"Sayang, kamu lagi sibuk ya?" tiba-tiba Lia bangun dari tidurnya dan datang menyapaku ditengah aku sedang metting.
"Nggak koq cuma sedang rapat rutin triwulanan dengan para pemegang saham perusahaan papi" jelas ku pada Lia setelah ku matikan mic agar mereka tak mendengar percakapanku dengan Lia.
"Owh ya sudah kalau begitu kamu lanjut saja, aku balik ke kampus ya? mobilku masih disana" pamit Lia sambil bersiap-siap pergi dari unit apartemenku.
"Mobil mu sudah diantar ke rumah mama sama anak buahnya Herman, Mira juga sudah mengurus izin mu tidak hadir di dua mata kuliah hari ini" jelasku sambil tetap mendengarkan metting dengan earphone.
"Oooohh,,," ucap Lia lalu balik masuk ke dalam kamar lagi dengan wajah unhappy, tapi aku tak bisa menggubris tingkahnya saat ini karena metting dengan para pemegang saham belum selesai.
Satu Jam berlalu akhirnya metting berakhir, aku langsung masuk ke kamar. Ku liat Liat duduk di sofa dengan TV menyala tapi fokusnya tidak pada acara TV di depannya, dia seperti sedang melamun. "Ada apa dengannya? apa dia masih tidak nyaman dengan ku karena kejadian dikampusnya tadi?" bathinku mulai khawatir dengan perasaan Lia padaku.
__ADS_1
Aku mendekati Lia, duduk disampingnya tapi dia tak bergeming bahkan terlihat tak menyadari keberadaanku. "Apa yang aku laku kan hari ini benar-benar membuatnya takut?" bathinku mulai gelisah.
"Sayang, are you oke?" tanyaku sambil mengelus bahunya.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Lia begitu melihatku, dia tak menjawab pertanyaanku malah memberiku pertanyaan.
"Baru yank, kamu baik-baik aja? kenapa melamun, hah? ada yang mengganggu pikiran mu?" aku membrondong Lia dengan banyak pertanyaan karena khawatir dengan perasaannya.
"Aku baik yank, cuma aku khawatir dengan kondisi Rendy". Deng...dada ku terasa sesak mendengar ucapan Lia yang ternyata dia melamun memikirkan pria lain.
"Kamu dari tadi memikirkan pria itu?" tanyaku dengan nada mulai kesal dan alis yang mengerut.
"Bukan gitu yank, apa yang Rendy lakukan padaku memang salah tapi kalau kamu sampai membuat dia terkapar di rumah sakit seminggu itu keterlaluan, mama Rita dan Om Wisman pasti sedih melihat anak semata wayangnya terluka. Dan bagaimana kalau mereka tidak terima anaknya kamu pukulin dan menuntut mu?" Jelas Lia sambil menggenggam tangan ku. "Aku takut karena aku, kamu jadi berurusan dengan polisi" gumam Lia dengan wajah sendu.
"Hahahaha,,,ternyata kamu mengkhawatirkan ku, kupikir kamu mengkhawatirkan kondisi si Rendy itu" tawa ku lepas saat mendengar gumaman Lia yang ternyata khawatir pada ku. Rasanya hati ini bahagia sekali dikhawatirkan wanita yang amat ku cintai. Aku merengkuh Lia dalam pelukan ku.
"Sayang kamu koq malah ketawa sih?" gerutu Lia sambil mencubit perutku.
"Abis kamu aku serius kamu malah ketawa" ucap Lia sambil mencibikan bibirnya, membuatku gemessshhh pada bibir ranum itu dan mendaratkan kecupan di bibir ranum itu.
"sayang ..." Omeli Lia karena kecupan tiba-tibaku.
"Hehehe,,,abis gemesh Lia kamu manyun gitu" kekehku melihat Lia mulai ngambek.
"Aku serius ini" ucap Lia mulai menegaskan kata-katanya sambil duduk tegang menghadapku.
"Iya aku tau kamu serius, tapi kamu nggak usah khawatir sayang, keluarga Permadi tidak akan mampu mengusik suamimu ini" Jelasku berusaha menenangkan Lia sambil menangkup kedua pipinya.
"Maksudnya?" Tanya Lia bingung
__ADS_1
"Sudah tidak usah kamu pikirkan ya, semua akan baik-baik saja. Suami mu ini tidak akan ditangkap polisi...Jadi kamu tenang ya, mending sekarang kita makan yukk,,lapeeer..aku belum makan dari siang tadi" ucapku sambil memegangi perut seperti orang kelaparan yang sudah tidak makan tiga hari.
"Hayuuk lah aku juga laper, kita makan di Resto bawah yuukk" ajak Lia membuatku terkejut.
"Kamu tau dari mana kalau di bawah ada restoran?" tanyaku penasaran karena setahu ku ini pertama kali Lia ku bawa ke apartemen.
"Dari Jerry, waktu itu kan Jerry ngajak ketemuannya di apartemen ini untuk transaksi jual beli design ku" jelas Lia, membuatku ber"oo" ria.
"Ayo lah kalau begitu kita ke restoran di bawah sekarang" ajak ku sambil mengulurkan tangan yang disambut Lia.
Sepanjang jalan Lia bergelayutan manja di lenganku, dan aku sangat menikmatinya. Aku paling senang saat Lia bermanja-manja dengan ku, aku memang ingin Lia slalu bergantung padaku. Aku paling sebel saat Lia merasa bisa melakukan semuanya sendiri, aku tau dia memang gadis mandiri selama ini tapi tetap saja aku tak suka, aku jadi merasa tak dibutuhkan olehnya.
"Sayang, kamu udah nggak marah kan?" tanya Lia tiba-tiba saat kami hanya berdua di dalam lift. Sambil mendongakan wajahnya menatapku.
Aku melepaskan tangannya yang bergelayut manja dan memojokan tubuh Lia ke dinding lift lalu mencium bibir ranum itu perlahan dengan penuh hasrat, Lia pun membalas ciumanku sehingga ciuman kami semakin dalam dan menuntut membuat buat suasana di dalam lift jadi panas. Tapi aku tersadar kalau ini di dalam lift sehingga ciuman itu hanya ciuman panas tanpa aksi lebih lanjut, tak lama terdengar bunyi 'TING' dan pintu lift terbuka, kami pun menyudahi ciuman panas itu, dan Lia kembali bergelayut manja di tanganku.
"Sekarang aku sudah benar-benar tak marah pada mu dan aku pun sudah menghapus habis jejak ciuman bangsat itu, tapi kamu tetap harus dihukum nanti malam" bisiku di telinga Lia, membuat pipi putih Lia merona.
"Dasar mesum" gerutu Lia sambil tersipu malu, pipi putihnya sudah merah merona.
"Kenapa merona begitu, apa yang sedang kamu bayangkan sayang" godaku pada Lia yang langsung di hadiahi cubitan di perut sixpack ku.
"Aaauuuttch...sabar ya perut, istriku ini emang hobby banget nyubit kamu karena dia terlalu cinta sama pemilik mu" gumamku sambil mengelus-elus perutku yang kena cubit Lia.
"I Love You" tiba-tiba Lia mencium pipiku dan menyatakan cinta. Rasanya hatiku berbunga-bunga dan banyak kupu-kupu terbang saat aku mendengar ungkapan cinta Lia pada ku.
"I Love You More honey" jawabku sambil menghujaninya dengan banyak ciuman.
so sweet banget ya gaess....emak juga mau order suami kaya Ferry dunk Allah🤭.
__ADS_1
Enaknya mereka berdua dibikin nangis bombay atau dibiarin sayang-sayang sambil berjuang ngambil hati papinya Ferry ya gaes? emak galau nih...ditunggu masukannya ya,,,siapa tau ada yang pas sama maksdnya emak.
ditunggu Like , Komen sm Votenya ya kakak semuanya..tks