
Di negara IND, malam ini jadi terasa panjang untuk Lia, Dia tidak bisa tidur terus memandangi Ponselnya, keluar masuk ruang chat yang tertera nama 'Suamiku' tapi tak satu kata pun Lia kirim
untuk Ferry hingga dia terlelap.
keesokan paginya Lia terbangun langsung melihat ponselnya berharap sang suami mengiriminya pesan tapi harapannya tak terjadi. Lia bangun dengan Mood yang buruk, dia tak memiliki semangat untuk menjalani hari ini tapi dia tetap melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri sarapan dan ke kampus.
Lia uring-uringan sepanjang hari, karena hari ini merupakn hari ketiga sejak Ferry mengiriminya pesan yang mengatakan kalau dia sudah tiba di negara A akan sibuk.
'Dia beneran sesibuk itu sampai tak sempat menghubungi ku? atau dia marah karena aku tak membalas pesan dia selama ini...aghhhh'
Lia mulai menggerutu ketika keluar kamar mandi menatap ponselnya namun tak di temukan apa yang dicari di ponselnya itu. Sebuah pesan rindu dari suaminya yang jauh disana.
'Kalau kamu menghubungiku sekarang aku akan berhenti ngambek aku janji akan slalu balas pesan mu dan mengangkat telphon dari mu, please hubungi aku dong suamiku' gumam Lia dalam hati berharap suaminya menghubungi dirinya sesegera mungkin.
Lia sudah mulai bucin akut nampaknya sekarang dengan suaminya. Dengan mood yang kacau Lia menuruni anak tangga menuju ruang makan dimana Mira sudah duduk manis disana menunggunya.
"Pagi nyonya muda, cantik banget hari ini? Mau ketemu Joe ya sampai dandan secantik ini ke kampus"
Mira menggoda Lia yang turun dengan wajah ditekuk kaya duit lecek, wajah Lia pagi ini terlihat suntuk walau dia sudah berusaha untuk tersenyum tapi dia tak sanggup menutupi rasa gelisah karena merindukan suaminya. Hidup Lia terasa hampa sekarang tanpa suami yang belum juga genap sebulan dia nikahi.
"Kenapa lagi sih? Si Ferry belum ngubungin juga?" aku tak bersuara hanya menggeleng mwnjawab pertanyaan Mira.
Di meja makan Mira sudah mulai menyentok nasi dan lauk pauk bersiap untuk sarapan. Sedangkan aku tidak ***** sama sekali untuk makan namun cacing di perut ku terus saja meronta minta haknya karena semalam aku makan juga hanya sedikit karena tak berselera.
Merindukan Ferry benar-benar membuatku hampir gila, 'yang dikangenin kira-kira kangen juga nggak ya?'.
"Udah si sarapan dulu, itu cacing udah berisik aja bikin orang nggak tega dengernya" ledek Mira saat perutku bersuara sambil asik menikmati sarapannya.
Akhirnya aku pun sarapan walau tak terlalu berselera tapi harus tetap di makan agar aku punya energi menjalani hari ini.
Selesai sarapan aku dan Mira berangkat ke kampus dengan mobil yang berbeda karena Mira pulang kampus nanti janjian dengan Rendy untuk bertemu dengan WO untuk acara pernikahan mereka.
Hari ku makin terasa sepi kalau nggak ada Mira si bawel yang nggak pernah lelah bicara. Sepanjang jalan aku hanya sibuk dengan pikiran ku tentang Ferry dan rasa rindu yang memenuhi rongga hati ku, membuat ku makin nggak mood hari in.
Dreeet.....Dreeet
Ponsel ku bergetar, berharap si bule menghubungi ku tapi ternyata bukan malah Joe yang menelphon. 'Mau apa orang ini pagi-pagi sudah menelphon ku?' gumamku dalam hati sambil menggeser icon hijau ke atas.
"Ya Hallo"
__ADS_1
"Pagi Lia, maaf mengganggu mu?"
"Ada apa ya kak?"
"Kamu sudah baca syarat dan ketentuan buat lomba design couplenya?"
"Ya ampun, aku lupa kak. Maaf ya abis ini langsung aku baca ya kak"
"oke deh kalau gitu kamu hubungin aku kalau sudah dibaca jadi kita bisa mulai mendiskusikannya nanti"
"Baiklah, aku mengerti"
Joe pun memutus sambungan tekphon begitu kata perpisahan sudah kami ucapkan. Aku langsung mencari kertas yang kemarin diberikan Joe.
'Ini dia, kirain hilang...huuu' aku bernafas lega karena lembaran syaratnya berhasil ku temukan, berkas itu terselip diantara kumpulan design ku.
Aku pun mulai membacanya setiap persyaratannya. Tak ku sangka begitu aku membaca syarat-syarat yang di tetapkan panitia lomba kali ini begitu membuat ku antusias dan ide-ide bermunculan dikepala ku, membuatku tanpa sadar melupakan kesedihan ku karena menahan rindu pada suami yang berjarak ribuan kilo meter dan sudah tiga hari tak saling berkabar.
Lia mulai tenggelam dalam dunianya. Tangannya terus asik melukis bayangan ide-ide yang berterbangan di kepalanya. Tak terasa kini mobil yang dikrndarai Lia sudab terparkir di depan kampusnya tapi Lia tak juaga bergeming dari tempat dudukunya.
Si supir dan bodyguard pun tak berani mengganggu nyonya mudanya yang terlihat begitu fokus menggerakan pensil warna diatas kertas gambar.
"Done, sepertinya ini sudah bagus" gumam Lia. Sebaikanya nanti aku ketemu Joe untuk membahas design ini siapa tau dia ada ide untuk melengkapi kekosongan dalam design ku kali ini agar lebih hidup.
Lia merapikan peralatan gambarnya dan Lia terkejut saat melihat ke arah jendela ternyata dia sudah di parkiran kampus.
"Aaaaaa...kalian" Lia berteriak saat melihat jam ditnagannya karena ternyata dia terlambat dua puluh menit untuk masuk kuliah kelas pertama.
"Ada apa nyonya muda?" tanya sang supir bingung karena tiba-tiba Lia berteriak.
"Ckckck...Kenapa kalian tidak bilang pada ku kalau kita sudah sampai kampus?" Lia berdecak kesal pada dua orang suruhan suaminya yang bodoh ini.
"Maaf nyonya muda, saat saya menyampaikan kalau sudah sampai kampus nyonya muda diam saja. Jadi kami hanya bisa ikutan diam disini menunggu nyonya muda selesai mendesign" ucap Sang supir tertunduk merasa takut karena sudah membuat istri kesayangan tuan muda Goucher marah.
"Sudah lah lupakan saja...percuma sekarang diributkan aku juga tetap tidak bisa masuk kelas...huuffft"
Lia menarik nafas panjang berfikir sejenak apa yang akan dia lakukan untuk mengisi kekosongan waktunya saat ini karena kuliah kedua baru akan di mulai tiga jam lagi.
"Hallo kak Joe, kakak sudah di kampus belom?"
__ADS_1
"Sudah, aku ada di ruang studio. Ada apa?"
"Aku kesana sekarang, ada yang mau aku tunjukan"
"Kesini saja, aku tunggu kalau begitu"
"oke"
Lia langsung turun dari mobil dan berjalan ke arah studio yang kemarin dia datangi. Lia begitu bersemangat ingin menunjukan hasil design yg dia buat di perjalanan tadi.
tok..tok...tok
"Masuk"
Lia masuk dengan senyum manis dan penuh semangat. 'Manis banget si nih cewe, sayang dia sudah menikah' bathin Joe saat menatap Lia.
"Kak Joe aku mau nunjukin kamu ini" Lia menyodorkan selembar kertas gambar pada Joe.
"Kapan kamu buat ini? bukannya tadi kamu bilang belum membaca syarat dan ketentuan lombanya?"
"Hehehehe....itu aku langsung membacanya setelah menerima telphon kakak, trus aku langsung membuat gambar karena saat membaca banyak ide berterbangan di kepala ku"
"Owh...begitu, tapi ini nampaknya kurang hidup. Bagaimana kalau disini bentuknya di ubah sedikit dan ornamen ini lebih baik dihilangkan saja, bagaimana menurut mu"
"Aku coba rubah kalau begitu"
tak terasa hampir dua jam Lia disana bersama Joe mendiskusikan designnya agar mendapat hasil ynag maksimal dan bisa memenangkan lomba couple.
"Lia maaf untuk hari ini sampai sini dulu ya, aku ada kelas. Kita diskusi lagi nanti sore atau besok bagaimana?"
"Oke kakak, nanti kita telphonan lagi kalau begitu aku pamit dulu mau ke kantin"
Pamit Lia setelah merapikan alat gambar dan juga kertas designnya.
"Tunggu Lia kita keluar sama-sama saja kalau begitu karena kelas ku alannya searah dengan kantin"
Lia hanya menganggukan kepala menyetujui permintaan Joe. Sepanjang perjalanan Joe banyak melucu membuat Lia tertawa dan melupakan kegundahan dan kerinduannya pada Ferry.
Hari ini yang diawali dengan ke gundahan akhirnya ditutup dengan senyum bahagia karena designnya hampir rampung dan juga Joe sangat lucu membuat Lia sangat terhibur.
__ADS_1
Di negara A sana si suami yang dirindukan justru sedang tertidur lelap karena kelelahan dengan tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya.