
Setelah mama pergi. Aku dan Mira mengobrol di kamar sambil membahas apa yang akan aku lakukan dan bagaimana aku akan menjalani hari-hariku dan keluargaku, dimana kami akan tinggal dan banyak pertanyaan yang dilontarkan Mira sebagai rasa khawatirnya. Aku pun menjelaskan semuanya pada Mira, sehingga dia tak lagi terlihat khawatir sepertj sebelumnya, karena dia tau harga kamar ICU perharinya bisa puluhan juta belum termasuk obat-obatannya. "Semoga saja papa tidak lama-lama koma, karena itu pasti akan memakan biaya besar sekali" gumamku yang terdengar Mira.
"Jika kamu membutuhkan bantuanku, kamu tak perlu ragu untuk mengatakannya". ucap Mira mendengar gumamanku sambil merangkul bahu ku.
"By the way any way bus way (#dibaca: ngomong-ngomong) kamu sudah selesai mengerjakan tugas membuat design baju-baju dengan tema traditional modern? tanya Mira yang ku jawab anggukan. "Mana coba aku lihat, karen aku benar-benar pusing dibuatnya" gerutu Mira. "Jadi kamu belum membuatnya? sore ini kan dateline untuk dikumpulkannya". ucapku yang dibalas cibiran Mira. "Tentu saja sudah, aku hanya mau lihat punya mu setelah itu aku akan perlihatkan juga hasil karyaku, aku yakin punyaku kali ini akan lebih keren dari punya mu" ungkap Mira dengan wajah sumbringah. "percaya diri sekali kamu nona, yang sedang kami rendahkan itu Lia Putri Aghata, peraih penghargaan tahunan designer termuda sejabodetabek....ckckckck". ucapku sombong dengan tangan yang kulipat diatas dada.
"Baiklah...Baiklaah Nona Aghata bisakah anda perlihatkan karya anda pada saya" ucap Mira dengan wajah menjijikan dan gaya yang alay bin lebay.
"Tingkah mu seperti wanita murahan yang sedanv menjajakan diri dipinggir jalan" kataku sambil berjalan ke meja belajar dan mengambil map kumpulan sketsa gambar-gambar designku. Lalu kutunjukan hasil karyaku pada Mira. Sontak mata Mira berbinar-binar. "Ya Tuhan, design mu indah sekali...Bagaimana bisa kamu kepikiran membuat design seindah ini" kometar Mira melihat setelan jas pria yang bertaburan permata yang membentuk gambar yang bertaburan sepertj yang biasa ada dikain batik.
"Kenapa aku merasa wajah dan postur pria yang dalam design mu mirip seseorang ya? gumam Mira membuat ku mengerutkan kedua alisku. Aku pun melangkah mendekati Mira lalu ikut memperhatikan design gambarku, "Astaga...bukan kah ini mirip bule sialan itu" bathinku sambil menutup mulutku. Mira yang melihat reaksi ku pun bertambah curiga. "Apa yang kamu sembunyikan dariku, kenapa begitu mencurigakan" ucap Mira sambil memicingkan matanya. Aku hanya menggelengkan kepala, lalu buru-buru mengambil buku kumpulan sketsa ku. Sambil meminta Mira menujukan hasil karyanya yang tentu saja standart tidak terlalu bagus, jauh lah kalau dibandingkan dengan karya ku.
__ADS_1
"Not bad". komentar ku langsung mendapat cibiran dari Mira.
Tak terasa hari sudah siang dan cacing-cacing di perut Mira mulai demostrasi dengan genderang seperti mau perang. "Hahahaaa" tawaku saat mendengar suara perut Mira yang mulai lapar. Mira yang ketawan kelaparan wajah putihnya sudah merah seperti tomat. "Diam kau, ini semua gara-gara kamu jadi tuan rumah nggak ada akhlaqnya" ucap Mira menutupi rasa malunya. "Kenapa jadi aku yang salah..."
"Jelas saja kamu yang salah, berjam-jam kau disini segelas air pun tak kau berikan" ucap Mira ngotot.
"Astaga" ucapku sambil menepuk jidat lalu meminta maaf karena benar-benar lupa menyuguhkan air dan juga camilan untuk Mira. Pada hal kami sudah lama sekali mengobrol, menangis, tertawa bahkan saling mengejek, pantas saja cacing di perut Mira mulai menyuarakan pendzoliman yang sedang terjadi. Aku pun turun ke bawah meminta si mbok menghidangkan makan siang karena aku dan Mira akan makan siang dulu baru abis itu kami berangkat ke kampus.
Saat aku kembali ke kamar ternyata Mira sedang di kamar mandi. Aku pun merapikan buku-buku dan juga alat-alat gambarku ke dalam tas sambil menunggu Mira keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba alunna lagu dari Public yang berjudul Make you Mine menandakan aku nggak kenal nomer orang yang menelphone ku. so, aku pun nggak angkat telphon itu. Sialnya telphon itu tak mau berhenti berdering, sebentar mati sedetik kemudia berbunyi lagi. Akhirnya karena dongkol aku pun mengangkat telphone itu.
"Hai Lia Putri Aghata dari suara mu tak terdengar kamu sedang berduka" ucap orang asing ditelphon yang membuat alisku berkerut dalam.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" tanyaku mulai nyolot, yang tak mendapat jawaban melainkan telphon di tutup.
"Dasar sialan, kurang ajar, nggak tau sopan santu, nggak ada akhlaqnya" maki ku pada si penelpon gelap.
"Siapa yang sedang kamu maki-maki segitunya? " ujar Mira keheranan karena dia baru keluar dari kamar mandi melihatku marah-marah dengan jengkelnya pada si penelphon gelap. Aku pun menceritakan apa yang terjadi pada Mira, dia malah santai saja tak berkomentar apa pun dan asik make up di depan meja rias ku. "Gini nih kalau punya temen yang hobby gonta ganti pacar, koleksi cowonya dimana-mana, jadi di cium cowo, di telphone cowo nggak dikenal, diajak makan bareng sama cowo baru dikenal juga dia akan santai aja jalaninnya"Bathinku. Putus cinta pun dia tidak pernah terlihat patah hati karena prinsip percintaanya Putus ya cari cowo baru lagi.
Benar-benar bertolak belakang dengan ku yang tidak pernah pacaran bahkan selalu menjaga jarak dengan yang namanya cowo selain papa dan juga Bimo tidak ada pria lain dalam hidupku. Satu-satunya pria pernah menyentuhku ya bule sialan itu aja. Makanya aku emosi jiwa waktu dia menciumku walau hanya pipi tetap saja itu pelecehan. Pikiranku sudah kemana-mana. "Tapi kenapa aku bisa membuat sketsa mirip dia?, ahhh" teriak ku sambil mengacak-acak rambut ku sendiri karen pusing dan nggak habis pikir dengan apa yang terjadi saat ini. "Ada apa dengan ku?" banyak pertanyaan mulai bermunculan di kepala ku. "Tidak...tidak...tidak mungkin seperti itu, lebih baik aku mandi dan siap-siap ke kampus". akhirnya aku bangkit dan berhenti memikirkan bule sialan itu
"Aku mandi dulu, kalau kamu sudah lapar turun lah kebawah lebih dulu. Si mbok pasti sudah selesai menyiapkan makan siang untuk kita" kataku sambil berlalu ke kamar mandi.
Selesai mandi dan siap-siap aku pun turun menuju ruang makan, disana Mira sedang asik menyantap makanan tanpa menoleh sedikit pun ke arah ku.
__ADS_1
"Lahap betul makan mu seperti orang kelapar yang tidak makan selama seminggu, wkwkwkwkwk" ledek ku sambil ngakak melihat mulut Mira yang sudah belepotan saos padang. Mira tak bergeming, dia tetap asik menikmati makanan di depan meja tanpa berkedip dan bersuara.
"haah, kenyang sekali" ucap Mira sambil mengelus-elus perutnya. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, sambil mengahabiskan makan siang ku, karena kami harus segera berangkat ke kampus.