
"Tuan Muda Goucher sudah lama anda tidak menghubungi saya? apa kondisi mu baik-baik saja akhir-akhir ini?"
Mendengar pertanyaan dokter Gavin, Lia langsung menatap Ferry untuk minta penjelasan. Sedangkan yang bertanya kabur gitu aja masuk ke dalam ruang ICU.
'Sialan kau Gavin, ngapain juga mulut ember mu itu pake bahas soal kondisi ku?' Ferry merutuki dokter Gavin membuat yang dibicarakan bersin-bersin di dalam ruangan istirahatnya di ruang ICU.
Yang ditatap tak juga bergeming untuk menjelaskan, akhirnya Lia pun tak tahan untuk bertanya langsung. "Sayang kamu sakit?" tanya Lia dengan nada khawatir akan kondisi Ferry.
"Aku baik-baik saja, Gavin sialan itu sengaja bicara begitu untuk membuat mu khawatir pada ku. Dia memang selalu begitu"
Ferry mengeratkan pelukannya dan Lia yang melihat Ferry belum mau membicarakan apa maksud pertanyaaan dokter Gavin, Lia pun hanya bisa pasrah dan tak memaksa Ferry untuk cerita.
"Jika kamu sudah siap cerita aku mau koq jadi pendengar yang baik". ucap Lia pelan tapi masih terdengar Ferry. Namun Ferry memilih mengabaikan ucapan Lia dan menikmati pelukan mereka.
"Sayang mama dan Bimo pulang dulu ya, kamu tolong tunggu papa disini sampai mama atau Bimo kembali ke sini". Pamit mama pada Lia dan Ferry diikuti Bimo dan mang Ujang.
Lia dan Ferry duduk di kursi ruang tunggu ICU sambil berpelukan dalam diam. Sampai getaran dari ponsel Ferry membuat Lia melepas pelukannya agar Ferry bisa mengambil ponselnya yang tersimpan disaku celananya.
"Hallo" Ferry mengawali pembicaraan dengan dingin saat melihat nama Jerry yang tertera di layar ponsel.
"Maaf tuan muda mengganggu anda, tapi ada masalah urgent yang butuh tuan mud..."
"Aku tidak peduli, bukan kah sudah jelas ucapan ku di bandara Jerry"
"Sekali lagi saya minta maaf tuan Muda tapi..."
Ferry langsung memutus sambungan telphon Jerry dan menonaktifkan ponselnya, Ferry kembali menarik tubuh kecil Lia masuk ke dalam pelukannya. Lia hanya pasrah dan menikmati pelukan Ferry yang selalu berhasil membuatnya merasa nyaman.
'Sebenarnya apa yang mau Jerry katakan tadi? ahhh...buat apa aku pikirkan paling ini akal-akalanya biar aku kembali ke negara A' Ferry sibuk dengan pikirannya, Ferry yakin semua hanya ulah papi yang tak ingin dia berada di negara IND bersama Lia. Jadi agar keberadaanya di samping Lia berjalan lancar dia memilih mematikan ponselnya untuk sementara waktu.
__ADS_1
Di negara A
Jerry hanya bisa pasrah karena Ferry nampaknya benar-benar tidak ingin di ganggu dan tak akan kembali ke negara A dalam seminggu ini.
'Bagaimana aku mengatakan berita ini jika tuan muda tak mau bicara dengan ku? bahkan sekarang tuan muda mematikan ponselnya'.
'Apa nanti saja dibicarakanya saat tuan muda sudah kembali kesini? Apa tidak terlambat? Lebih baik aku mengawasi saja pergerakkan mereka sambil mencari solusi terbaik agar rencana mereka tidak berhasil'
Jerry sibuk dengan pemikiranya sedangkan yang di pikirkan sama sekali tidak perduli. Yang Ferry tau saat ini dia ingin slalu ada di samping Lia menemani-nya dan memberinya kekuatan. Sambil berharap kondisi papa besok sudah stabil lagi dan bisa di pindah ke ruang rawat biasa jadi dia bisa menikmati dunia-nya berdua dengan Lia.
Saat keduanya sedang asik berpelukan sambil sibuk dengan pikirannya masing-masing posel Lia sekarang yang bergetar tapi bukan notifikasi telphon atau pun pesan melainkan notifikasi pemberitahuan adzan maghrib.
"Sayang udah maghrib, kita sholat dulu yuk" ajak Lia sambil melepas pelukannya dari Ferry.
Ferry mengangguk kan kepalanya seraya setuju dengan ide Lia. Abis sholat kita makan malam dulu ya sayang, baru balik ke ruang tunggu ICU?" Lia hanya mengangguk kan kepala tanpa suara membuat Ferry menunduk melihat sang istri yang bergelayut manja di lenganya.
"Kita sholat di masjid dekat rumah sakit aja gimana? lagian ada Gavin disana. Papa akan baik-baik aja"
Ferry mencoba meyakinkan Lia agar mau diajak keluar dari rumah sakit. Sebenarnya selain karena Ferry males antri dan desek-desekan antri sholat dia juga risih melihat tatapan orang-orang padanya dan Lia.
"Baiklah" mendengar jawaban Lia, Ferry seperti mendapat angin syurga dia langsung menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari area antri sholat dan menelphon sang supir untuk bersiap di lobby.
Mereka berdua pun pergi sholat maghrib di masjid terdekat dari rumah sakit dan usai sholat mereka pergi makan malam di restoran hot pot yang tidak jauh dari rumah sakit. Ferry sengaja memilih restoran hot pot karena mie seafood yang dimasak pedas merupakan kesukaan Lia. Ferry berharap habis makan hot pot mood Lia akan kembali. Ferry tidak nyaman melihat Lia murung dan banyak diam apalagi senyuman diwajah istri mungil nan cantiknya pun hilang entah kemana sejak tau sang papa kembali masuk ICU.
Saat perjalanan kembali ke rumah sakit Lia hanya duduk tenang menatap keluar jendela asik tenggelam dengan pikirannya sendiri. Sebenarnya Lia makin murung dan diam bukan hanya karena kondisi papanya saat ini tapi dia sedih karena Ferry masih menyimpan rahasia darinya. Dia tidak nyaman memikirkan kalau Ferry saat ini sedang sakit dan dia sebagai istri bahkan tidak mengetahui apapun tentang sakit suaminya.
Lia merasa Ferry belum mempercayai dirinya sepenuhnya, itu sebabnya dia tidak ingin berbagi cerita dengan dirinya. Pemikiran-pemikiran negatif Lia terus menghantui isi kepalanya membuat dia makin tidak nyaman.
Bahkan saat tiba di ruang tunggu rumah sakit Lia tak ingin di peluk Ferry. Perasaan kecewa, marah dan kesal membuatnya tidak nyaman berada di dekat Ferry saat ini.
__ADS_1
Ferry yang melihat Lia nampak aneh sejak kembali kembali usai makan malam. Jadi makin jengkel menerima penolakan Lia untuk dipeluk olehnya.
"Sayang kamu kenapa? ada yang tidak nyaman?" tanya Ferry lalu Lia menoleh menatap netra Biru suaminya lekat dengan sorot mata sedih.
"Di sini sangat tidak nyaman" ucap Lia sambil menunjukan dadanya membuat Ferry khawatir dan cemas.
"Kamu tunggu di sini aku panggil dokter" sahut Ferry langsung berdiri hendak meninggalkan Lia, namun langkahnya terhenti saat mendengar kelanjutan ucapan Lia.
"Disini sangat tidak nyaman karena suami ku sendiri tidak pernah sepenuhnya jujur pada ku istrinya".
Deng...Ferry bak di sambar petir mendengar ucapan Lia. 'Jadi dia dari tadi murung karena aku? Benar-benar sial kau Gavin, Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mu nanti' gerutu Ferry yakin kalau semua pasti karena Lia terpengaruh mendengar perkataan Gavin.
Ferry kembali duduk di samping Lia, Ferry merangkul tubuh Lia yang kini mulai bergetar karena tangis yang sedari tadi dia tahan pecah juga.
"Aku tau aku bukan istri yang sempurna, aku bahkan jauh dari kata istri sempurna. Tapi ku mohon jangan pernah menutupi apapun dari ku termasuk kesehatan mu. Itu membuatku merasa makin tak pantas menjadi istri mu".
"Sayang kamu istri paling sempurna, kamu satu-satunya wanita terbaik dan paling sempurna yang selamanya akan jadi istri dan ibu dari anak-anak ku"
Bukannya berhenti tangis Lia makin pecah. membuat Ferry tak berdaya.
"Oke aku cerita, tapi berhenti menangis aku tidak tahan melihat mu menangis seperti ini...huuffft"
Ferry menarik nafas dalam-dalam sedangkan Lia dengan cepat menghapus air matanya dan berusaha menghentikan tangisnya.
"sudah tidak menangis lagi" ucap Lia sambil mengusap air matanya yang masih mengalir.
"Begini bilang tidak menangis lagi, air mata mu seperti keran air" ucap Ferry sambil menghapus sisa air mata yang masih mengalir di pipi istri cantiknya.
Jangan Lupa Like dan komennya yang readers
__ADS_1