Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Kakak Ipar


__ADS_3

"Kamu, koq bisa disini?" ucap Lia sambil menutup mulutnya tak percaya ternyata pria yang membuat heboh satu departemen itu adalah Hans Proyoga, teman semasa remaja sekaligus pria yang sudah Lia anggap seperti kakak sendiri.


"Kenapa? apa aku tidak boleh kesini?" sahut Hans dengan wajah murung yang di buat-buat.


"Bukan begitu, aku hanya tidak kepikiran aja kalau yang para gadis itu ributkan ternyata kakak, kirain pria tampan mana yang mencari ku sampai-sampai para gadis heboh banget"


"Jadi maksud mu, aku tidak cukup tampan untuk membuat kehebohan, hah? tak ku sangka ternyata pesona ku kalah jauh dengan tuan muda Goucher dimata designer Lia...ckckck" Hans berdecak kesal sambil memicingkan matanya kearah Lia.


"Aiiishh...berhenti bercanda, kakak kesini ada perlu apa?" baru juga Hans ingin menjawab pertanyaan Lia.


Lia sudah kembali lagi bicara "kakak tau dari mana aku kerja disini?"


"Itu hal mudah buat ku, bahkan aku tau kamu tinggal satu apartemen dengan tuan muda Goucher. Ayo ceritakan pada ku kalian ada hubungan apa?"


tenggorokan Lia rasanya tercekik sulit mengeluarkan kata-kata, dia hanya tersenyum masam mendengar penuturan Hans yang sangat tidak terduga.


"Kenapa diam? jawab apa hubungan kalian?" Hans kembali mengulang pertanyaan pada Lia dengan tatapan tajam kearah Lia.


"Huuuh...kak Hans kamu yang seperti ini lebih menakutkan dari papa tau" sahut Lia sambil memonyongkan mulutnya kearah Hans


melihat wajah imut Lia, hati Hans pun luluh, tatapnya yang tajam penuh kesal dan marah pun berubah jadi lembut.


Hans membelai kepala Lia penuh sayang. "Kakak cuma nggak mau kamu salah jalan dan tersesat melakukan kesalahan di negeri orang"


Lia mendongakan kepalanya sambil menyingkirkan tangan Hans dari kepalanya. "Kakak tenang aja aku bukan wanita seperti itu" mendengar penuturan Lia, Hati Hans makin tak karuan. tak mengerti maksud dari kata-kata Lia


"Jadi, hubungan apa yang kamu bangun dengan tuan muda Goucher?"


"Kami sudah menikah di negara IND beberapa bulan lalu, tuan muda Goucher suami ku"


mata Hans membelalak tak percaya, hatinya kembali patah, semua impian yang baru saja dia hidupkan bebera hati lalu saat melihat Lia kini rasa itu harus kembali dia kubur


'Walau kenyataan ini sudah ku duga tapi ternyata hati ini tetap sakit dan sesak saat mendengarnya langsung dari mulut Lia' bathin Hans sambil menghembuskan nafas kasarnya menetralkan perasaannya karena Lia memang tak pernah tau perasaan Hans padanya dari dulu.


"Kakak, kenapa diam? tidak percaya dengan ucapan ku?"


"Percaya,,percaya. Hanya sedikit terkwjut saja. tapi syukurlah kalau begitu kakak tidak perlu cemas lagi"


"Owh iya tolong buatkan kakak Jas seperti yang kamu posting di forum para designer beberapa waktu lalu, bisa?"

__ADS_1


"Ehh...kakak serius?"


"Tentu saja, kenapa kamu takut kakak tidak mampu membayarnya, hah?"


"Bukan begitu, kakak tunggu sebentar" ucap Lia lalu menelphon Rose untuk datang ke ruangannya dan melakukan pengukuran pada Hans.


"Kamu ke ruangan ku sekarang!" pinta Lia pada orang diujung telphon lalu mematikannya.


tak Lama berselang Rose muncul dari balik pintu setelah sebelumnya dia mengetuk pintu.


"Ada yang bisa aku bantu designer Lia?" ucap Rose malu-malu sambil melirik Hans yang duduk santai di depan Lia.


"Kamu bantu aku ukur tuan Hans, beliau mau minta di buatkan jas"


"Ba...baik, ma..mari tuan saya ukur dulu" ucap Rose terbata-bata karena gugup berinteraksi dengan Hans.


Lia hanya bisa geleng-geleng kepala aja melihat tingkah Rose sambil memandangin Hans


'Ternyata beneran ganteng kak Hans, kenapa aku selama ini nggak sadar ya. Nampaknya mata ku sudah dibutakan Ferry selama ini. Eh,,tapi kalau sama si beruang kutub tampaknya masih lebih ganteng beruang kutub deh tapi kak Hans lebih ramah sih'


Saat Lia sedang melamun ponselnya berdering. Lia pikir suaminya yang telphon karena mengetahui dia di kunjungi pria ternyata bukan, 'Jerry apa terjadi sesuatu pada Ferry?' bathin Lia dia segera menggeser icon hijau di layar ponselnya.


"Nyonya muda, tuan masuk rumah sakit central"


"Apa? koq bisa. apa yang terjadi?" mendengar nada panik Lia, Hans yang sedang berdiri tak jauh menghentikan Rose yang sedang mengukur tubuhnya


"Apa yang terjadi? kenapa kamu panik sekali?" tanya Hans begitu berbalik dab manik matanya bertemu dengan Lia.


"Ferry, masuk rumah sakit. Aku tinggal dulu ya. aku harus ke rumah sakit sekarang"


"Aku antar" ucap Hans sambil menahan tangan Lia yang bergegas ingin keluar dari ruangan


"Tidak perlu aku ada supir" sahut Lia cepat, Hans pun tak memaksa Lia dia pun akhirnya melepas tangan Lia dan membiarkannya pergi


Lia bergegas keluar dari perusahaan menuju parkiran sedangkan Deni yang sudah mendapatkan informasi kalau tuan muda masuk rumah sakit yakin nyonya mudanya akan segera keluar dari perusahaan, dia pun bergegas mengeluarkan mobil untuk menunggu Lia di depan lobby.


"Nyonya muda, silahkan masuk" Lia agak terkejut tiba-tiba mobil dan juga Deni sudah menunggunya di depan pintu lobby perusahaan.


"Kamu tau aku akan pergi kemana?" tanya Lia merasa aneh, begitu dia sudah duduk di dalam mobil dan melihat Deni langsung melajukan mobilnya kearah rumah sakit.

__ADS_1


"Ke rumah sakit tempat tuan muda di rawatkan, memangnya bukan?" sahut Deni agak bingung dengan pertanyaan Lia.


"Kamu tau kalau Ferry masuk rumah sakit?" tanya Lia lagi karena dia saja baru tau koq bisa Deni kelihatan tau lebih dulu dari dirinya.


"Iya nyonya tadi mas Jerry telphon saya nanya keberadaan nyonya, trus mas Jerry bilang kalau tuan muda masuk rumah sakit karena tiba-tiba saat perjalanan pulang dari luar kota mengeluh sakit lambungnya, sepertinya asam lambung tuan kambuh"


Lia hanya dia membisu mendengar penuturan Deni. 'Ini semua karena aku, dia tidak sarapan pagi tadi dan juga pasti dia banyak pikiran saat ini sehingga asam lambungnya naik, cari penyakit sendiri'


Gumam Lia agak kesal dengan dirinya dan juga sang suami.


"Nyonya kita sudah sampai"


Deni menyadarkan Lia dari lamunannya, "Baik" sahut Lia sambil keluar dari dalam mobil menuju kebagian informasi untuk mencari tahu ruangan suaminya.


"Permisi, suster boleh saya tau dimana ruang rawat atas nama Ferry Goucher?" tanya Lia pada seorang perawat di meja resepsionis


"Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi terkait ruangan pasien atau nama pasien kecuali pada keluarga pasien"


"Tapi saya keluarga pasien, saya ini is..." belum selesai Lia menjelaskan siapa dirinya suara Leon memanggilnya.


"Kakak ipar, kamu sudah datang" suara Leon membuat Lia dan perawat menatap Leon bersamaan.


"Leon, dimana kamar Ferry?" tanya Lia begitu melihat Leon lah orang yang memanggilnya


"Ayo aku antar kakak ipar"


"Kamu bisa tidak jangan memanggil ku begitu, aku jadi berasa tua sekali"


"Kalau begitu aku akan memanggil mu nyonya boss"


"Aisshhh...tidak bisakah panggil aku Lia saja...ckckkck"


"Tidak bisa, boss pasti akan memukul dan menendang bokong ku jika berani memanggil kakak ipar dengan nama saja...huh"


"Terserah lah" ucap Lia pasrah dan mengikuti Leon dengan tenang menuju ruangan Ferry


Sedangkan para perawat melihat Lia dijemput Leon, kaki tangan tuan muda Goucher serta mendengar Leon memanggil Lia dengan sebutan kakak ipar para perawat itu saling tatap penuh arti tapi tak ada yang berani bersuara untuk bergosip karena tak ingin kehilangan pekerjaannya.


jangan lupa like, komen dan jadikan favorite kalian ya readers...ditunggu keritik dan sarannya

__ADS_1


__ADS_2