Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Dokter Gavin


__ADS_3

"Hallo kamu di mana?"


"Sedang di bagian administrasi tuan muda, bersama suster Nilam"


"Siapa yang bertugas menjaga papa malam hingga pagi tadi?"


"Saya dan suster Nilam tuan muda"


"Kalian temui aku di kantin rumah sakit dekat ruang rawat Anggrek"


"Baik tuan muda, kami kesana sekarang"


Ferry menutup telphonnya dan menyimpannya di saku celana. lalu berjalan menuju kantin rumah sakit mengikuti arah panah.


Setibanya Ferry di kantin rumah sakit, Ferry memindai isi kantin mencari meja dan kursi yang masih kosong dan nyaman untuk bicara.


Saat dia sudah menemukan meja yang akan dia tuju, sang bodyguard dan suster menyapanya.


"Tuan muda"


"Ikut dengan ku" Ucap Ferry melangkah menuju meja yang sudah di lihatnya tadi.


Mereka berdua pun mengikuti Ferry dengan perasaan takut di salahkan atas kejadian yang menimpa tuan Aghata pagi tadi.


"Duduk" perintah Ferry ketika dia sudah duduk tapi mereka berdua masih tetap berdiri terpaku menunggu izin duduk dari sang tuan muda.


Mendengar perintah duduk dari sang tuan muda mereka pun langsung duduk dengan perasaan makin cemas suster Nilam meremat jari tangannya yang sudah dingin, sang suster tidak terbiasa dengan kondisi tegang seperti ini apa lagi wajah tuan muda yang membaya suster Nilam dengan sangat mahal untuk merawat mertuanya terlihat begitu dingin dan angker, menambah tegang suasana.


Berbeda dengan sang bodyguard terlihat tenang karena sudah biasa menghadapi tuan muda yang dingin kaya kulkas dua pintu.


"Kalian tau kenapa saya panggil kalian kesini?" Mendengar pertanyaan Ferry, keduanya menjawat kompak "Tau tuan muda".


"Bagus kalau kalian sudah tau, jadi bagaimana kejadiannya sampai papa bisa masuk ICU lagi?"


Mendengar pertanyaan Ferry, Jantung suster Nilam berdetak makin kencang, punggungnya mulai bercucuran keringat, dia benar-benar ketakukan karena suster Nilam lah yang bertanggung jawab menjaga tuan Aghata malam hingga pagi tadi tapi dia begitu teledor di waktu kerja dia malah ketiduran sampai terlambat mengetahui tuan Aghata mengalami kejang sehingga mengalami gagal nafas dan harus dilarikan ke ruang ICU untuk mendapatkan penangan oleh dokter secara intensif.


"Saya tidak tau persisnya bagaimana kejadiannya tuan muda karena pagi itu saya berjaga di luar kamar, tau-tau pagi-pagi dokter dan para suster berlarian ke kamar tuan Aghata dan suster Nilam keluar menangis"

__ADS_1


Mendengar penjelasan sang bodyguard wajah Ferry makin masam dan aura dingin makin menyeruak keluar dari tubuhnya. Membuat suster Nilam bergidik ngeri. Suster Nilam langsung nangis dan berlutut dihadapan Ferry membuat alis Ferry mengerut dalam.


"Maafkan saya tuan muda, saya yang lalai karena malam itu saja ketiduran hingga tidak menyadari tuan Aghata deman tinggi hingga akhirnya mengalami kejang"


Suster Nilam menceritakan kronologi kejadian saat dia terbangun dari tidurnya sambil berlutut dan menangis minta pengampunan Ferry.


"Saya membayar mu untuk merawat papa, jika kamu tidak sanggup kamu boleh berhenti. Kelalaian mu membahayakan nyawa orang yang paling disayangi istri saya, dan saya paling tidak suka melihat istri saya menangis...."


"Tuan muda maafkan saya tapi mohon jangan pecat saya. Saya berjanji tidak akan mengulangj kesalahan saya lagi. Mohon maafkan saya"


Suster Nilam memotong pembicaraan Ferry, dia tidak ingin dipecat, suster Nilam membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai sekolah adiknya, karena gaji yang diberikan Ferry dua kali lipat dari gajinya di rumah sakit.


Ferry pun bangkit dari duduknya bersiap meninggalkan mereka berdua. "Ini kesempatan terakhir mu, jika hal ini terjadi lagi kamu tanggung sendiri akibat-nya".


Mereka berdua bergidik ngeri mendengar ancaman dalam kata-kata tuan muda. Tapi juga merasa lega, terutama suster Nilam kesalahan kali ini tuan muda berbaik hati untuk tidak memperpanjangnya.


"Sudah ayo bangun, mau sampai kapan kamu berlutut? tuan muda juga sudah tidak terlihat lagi" pinta sang bodyguard saat suster Nilam masih terpaku berlutut.


"Ayo aku bantu kamu berdiri, pasti sekarang kaki mu kram kelamaan berlutut". Ujar sang bodyguard sambil memapah tubuh suster Nilam.


Di depan ruang tunggu ICU


'Papa harus kuat pa, kasian mama kalau papa pergi sekarang. Papa harus bangun pa, kita balas perbuatan om Anton pada papa' Bathin Lia penuh harap papanya memiliki semangat untuk terus berjuang.


Ferry yang sudah tiba di depan ruang tunggu ICU, dia hanya bisa pasrah melihat istri cantiknya masih berurai air mata dalam pelukan sang mama mertua. Mereka berlima menunggu keluar sang dokter dalam diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya keluar seorang dokter menghampiri keluarga Lia.


"Maaf dengan keluarga bapak Aghata?" tanya sang dokter yang terlihat masih muda dengan wajah bule, dia bukan dokter yang biasa menangani tuan Aghata jadi dia belum familiar dengan keluarga Lia.


Gavin Barack adalah seorang dokter ahli neurologist yang dikirim Ferry dari negara A beberapa hari lalu untuk melakukan perawatan pada papa agar cepat pulih dari komanya. Namun bukanya cepat sadar dari koma malah kembali masuk ke ruangan ICU.


"Iya dokter kami keluarga bapak Aghata" sahut Bimo saat tersadar dari lamunanya, sedangkan yang lain masih sibuk dengan pikirannya masing-masing tidak menyadari kehadiran sang dokter yang padahal dari tadi mereka nantikan.


"Mama, kak Lia ini dokternya sudah keluar" Bimo mencolek bahu mama dan kakaknya yang sedang berpelukan untuk saling menguatkan.


"Mana dokternya Bim?" tanya Lia spontan saat mendengar Bimo bicara soal dokter.


"Saya nona dokternya" ucap Gavin sambil menunjuk hidungnya sambil tersenyum memandangi wanita yang tetap cantik walau mata sipitnya kini membengkak karena menangis, membuat gavin semakin gemesh melihat wajah Lia.

__ADS_1


"Eh dokter yang menangani papa saya, muda sekali?" gumam Lia yang masih terdengar semuanya.


"Kenapa memang kalau masih muda? belum boleh jadi dokter?" Goda gavin membuat Lia jadi salah tingkah karena merasa salah bicara.


"Bukan...bukan begitu maks..." belum juga Lia selesai bicara Ferry menarik tubuh Lia kedalam pelukannya.


"Sudah kamu jangan menggoda istriku terus, aku membayar mu mahal bukan untuk itu"


Mendengar perkataan Ferry, Lia mendongak menatap wajah sang suami?. 'kapan Ferry mengirim dokter muda ini? kenapa dia selalu memberikan ku kejutan tak terduga, kalau mendapat perhatian seperti ini wanita mana yang tidak akan makin jatuh tenggelam mencintai-nya' bathin Lia sambil menatap wajah sang suami penuh cinta.


"Kamu melihat ku seperti itu sengaja sedang menggoda ku" ujar Ferry sambil menoel hidung mungil nan runcing milik Lia.


"Mana ada begitu, jangan mesum ini rumah sakit" gerutu Lia membuat lengkungan senyum di wajah Ferry.


"Wah...tuan muda Goucher tidak ku sangka kamu ternyata bisa tersenyum juga" Gavin menggoda Ferry, Gavin ini merupakan teman kecil Ferry mereka sama-sama terlahir dengan kecerdasan luar biasa sehingga keduanya di usia muda sudah bisa berada di posisi puncak namun karena Gavin kalah kaya dengan Ferry di negara A dia hanya bisa jadi sahabat sekaligus anak buahnya.


"Namapaknya kamu benar-benar sudah bosan menjadi dokter".


"Kamu itu kenapa dengan Lia begitu manis, dengan ku begitu ketus dan garang...ckckckck"


"Sudah jangan banyak bicara kata kan bagaimana kondisi papa saat ini?"


"Baik tidak bercanda lagi, kondisi Tuan Aghata saat ini sudab berangsur normal dan demam tingginya pun sudah reda. Jika sampai besok pagi kondisinya terus stabil makan tuan Aghata bisa kembali lagi keruangan perawatan"


"Apa sebenarnya yang menyebabkan papa kejang dok?" tanya Lia penasaran, Ferry yang sudah tau hanya mengelus lengan Lia memberi kekuatan agar dia tegar menghadapi semua ini.


"Tuan Aghata mengalami deman, karena saraf otaknya mulai memberi respon. sayangnya suster kali ini agak teledor tidak langsung memanggil saya saat kondisi tuan Aghata demam malah membiarkannya sampai kejang. Jadi semua harus kembali seperti awal"


Mendengar penjelasan Gavin alis Ferry mengerut dalam. Sepertinya kondisi papa saat ini tidak sesimple yang dia bayangkan sebelumnya. Tapi dia tak mempertanyakan pemikirannya di depan Lia karena tak ingin Lia khawatir berlebihan dengan kondisi papanya.


"Kalau tidak ada yang ingin di tanyakan lagi saya pamit dulu kalau begitu"


"Terima kasih dok" ucap Mama, Lia dan Bimo berbarengan.


"Tidak masalah itu memang tugas saya" Gavin pun memutar kembali tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam ruang ICU. namun saat dia di depan pintu dia menoleh ke arah Ferry sambil berkata.


"Tuan Muda Goucher sudah lama anda tidak menghubungi saya? apa kondisi mu baik-baik saja akhir-akhir ini?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dokter Gavin, Lia langsung menatap Ferry untuk minta penjelasan. Sedangkan yang bertanya kabur gitu aja masuk ke dalam ruang ICU.


Jangan lupa like and komen ya readers tercintah....


__ADS_2