
Akhirnya setelah dua jam Lia dan Ferry bercengkrama dengan keluarga Lia di rumah sakit. Kini tiba saatnya perpisahan karena Jam sudah menunjukan pukul 11.30 jadi Lia dan Ferry harus bergegas menuju bandara di mana Mira dan Rendy pun sudah menunggu mereka.
"Ma, Lia pamit ya" ujar Lia sambil memeluk mama dengan erat usai mencium tangannya.
"Jaga diri mu baik-baik di sana, perhatikan makan mu jangan biarkan asam lambung mu kambuh. terlebih lagi saat musim dingin" nasehat mama sambil mengelus punggung putri kesayangannya. Lia hanya mengangguk pelan.
Mama tau, dia tak perlu terlalu khawatir karena pria yang menikahi putrinya begitu mencintai Lia dan selalu berusaha memberi yang terbaik tidak hanya untuk Lia tapi juga untuk Bimo, mama dan juga papa.
"Kakak, baik-baik disana kalau pulang kesini bawakan aku keponakan yang lucu" ujar Bimo langsung mendapat toyoran di kepala dari Lia dengan wajah mengerikan.
"Kakak kenapa kamu malah memukul ku? apa yang salah dengan ucapan ku?" Bimo menggerutu. Sedang Ferry tersenyum mendengar permintaan Bimo karena itu juga harapannya.
"Siapa yang suruh kamu tersenyum?" ucap Lia sambil melirik Ferry.
"Ehh...apa salah ku kenapa kamu jadi kesal pada ku juga?" Sahut Ferry sambil mengelus kepala Lia penuh kasih sayang.
"Bimo, kakak titip mama dan papa. Kamu jangan pacaran terus luangkan waktu untuk menemani mama dan juga papa mewakili kakak, apa kamu bisa?"
"Kakak jangan cemas, aku pasti akan meluangkan waktu untuk mama dan juga papa". Lia memeluk Bimo.
Setelah berpamitan Lia dan Ferry pun melangkah keluar rumah sakit menuju bandara.
"Lia, Ferry" teriak Mira dan Rendy saat keduanya masuk dalam bandara.
"Kalian sudah lama di sini?" tanya Lia saat menghampiri mereka berdua.
"Setengah jam lah, tadi sekalian makan siang di sini" sahut Rendy.
"Pesawat kalian terbang jam berapa?" tanya Rendy.
"empat puluh lima menit lagi" sahut Ferry sambil melihat jam tangan.
"Wah, kalau begitu kalian cepat lah masuk untuk boarding" ujar Rendy
"Santai bro, masih ada waktu lima belas menit sebelum batas maksimal boarding" sahut Ferry yang tau banyak hal yang mau dia kata pada sahabat satu-satunya itu.
"Ayo Lia, kita mengobrol di cafe itu" ajar Mira dan Lia pun mengikutin sedangkan kedua pria berdiskusi soal bisnis di depan pintu masuk.
"Rendy aku berniat membuka sebuah hotel baru di beberapa kota di negara IND dan membuat perumahan disana" Ucap Ferry mengawali pembicaraan membuat Rendy terkejut
"Maksud mu apa?" tanya Rendy agak bingung.
"Aku akan mencari mu saat aku membutuhkan bantuan mu untuk mensuplay funiture untuk hotel dan juga apartemen yang akan aku buat" Ujar Ferry.
"Kamu serius bro? aku akan senang menyambutnya" ujar Rendy
"Bagus, begitu perencanaannya selesai dan pembangunan hotelnya akan dimulai aku akan segera menghubungi mu" Jelas Ferry bersamaan dengan kedua wanita yang sedari tadi mengobrol sambil berurai air mata.
__ADS_1
"Ehh,, kamu apakan istriku sampai menangis begini?" tanya Ferry sambil memeluk Lia.
"Bukan cuma istri mu yang sembab matanya, lihat wanita ku pun juga sama" sahut Rendy membela Mira.
"Kamu jangan lupa datang ke pernikahan ku ya" pinta Mira sambil kedua gadis itu kembali berpelukan.
"Iya kami akan datang, sekarang kita harus masuk" Sahut Ferry sambil menghapus sisa air mata yang membasahi wajah istrinya.
'Akhirnya aku benar-benar meninggalkan Negeri di mana aku dilahirkan' bathin Lia saat melihat keluar jendela dari dalam pesawat.
"Sayang, kamu kenapa?" ucap Ferry saat melihat Lia duduk melamun menatap keluar jendela.
"Kamu kenapa di sini?"
"Jadi aku tidak boleh kesini?" tanya Ferry dengan alis mengkerut. Ferry agak kesal melihat reaksi Lia tapi dia tak ingin bertengkar dengan wanita yang paling dia cintai.
"Ehh, bukan begitu" sahut Lia cepat.
"Truss...?" Tanya Ferry dengan memicingkan matanya menggoda Lia yang sudah salah tingkah.
"Maksud ku kenapa kamu tiba-tiba disini memang pekerjaan mu sudah selesai?" Lia dengan gugup menjelaskan isi hatinya.
"Belum selesai, hanya saja pramugari memberi tahu ku kalau kamu belum makan malam. Masih sedih ninggalin Negara IND?"
Ferry memeluk tubuh istrinya sambil berjongkok di depan kursi tempat Lia duduk.
"Aku tahu ini berat untuk mu, tapi aku janji suatu hari nanti kita akan menetap di negara IND" Janji Ferry sepenuh hati.
"Sekarang kita makan yuk?" ajak Ferry yang diikuti Lia.
"Jadi, kamu juga belum makan?" tanya Lia sambil memukul pelan lengan Ferry.
"Hehehehe...tadi ada teleconference yank"
"Hhhmm..alesan" ujar Lia sambil menoel hidung mancung sang suami.
"Beneran yank, jadi begitu aku selesai niat makan malam sebelum mulai lanjut sama tumpukan email dari Jerry. Pas mau order, pramugari bilang kamu belum makan malam, jadi aku samperin kamu lagian udah lima jam aku tidak liat wajah mu". Jelas Ferry disela-sela makan malam mereka. Kalimat terakhirnya membuat pipi Lia bersemu karena bahagia pria yang dinikahinya benar-benar mencintai dan menyayanginya.
"Makin pinter ngegombal tuan muda Goucher sekarang ya..ckck" Ujar Lia berusaha menekan rasa bahagia mendengar ucapan suaminya walau pun hanya gombal karena pada dasarnya wanita memang suka di gombalin.
"Tapi kamu suka kan? tap...." Mendengar ucapan Ferry mata Lia melotot sempurna dia tidak menyangka bahwa suaminya akan menjawab terang-terangan kalau semuanya cuma gombalan.
"Ehh...kenapa wajah mu jadi jelek begitu?" goda Ferry karena dia tau pasti istrinya merajuk karena ucapanya yang belum selesai.
"Sudah makan saja jangan banyak bicara" Lia langsung melahap makananya dengan cepat.
"Pelan-pelan yank, tidak ada yang akan merebut makanan mu?" pinta Ferry tapi tak di gubris Lia.
__ADS_1
"Oke, I'm Done. Tidak ganggu kamu lagi" Lia langsung keluar dari ruangan kerja Ferry dalam pesawat pribadi milik Goucher Corp.
"Ehh ... tung..." belum juga selesai ucapan Ferry, tubuh Lia sudah keluar dari ruangan.
'Sudah lah, nanti bahasnya sekarang aku juga masih ada kerjaan' bathin Ferry.
Dengan kesal Lia kembali ketempat duduknya. 'Dasar bule rese, belum juga sampe negara A. Dia sudah membully ku...huufft'
Saat Lia sedang asik dengan pikirannnya sebuah pesan masuk.
"Kak Lia, aku akan menjemput mu di bandara. Sudah tidak sabar bertemu dengan mu" -Shella-
Sebuah senyum terkembang spontan dari wajah manis Lia. 'Adik ipar yang sangat cantik dan manis, aku juga tak sabar bertemu dengan mu' Balas Lia.
"Kakak ipar ku yang cantik dan baik hati, aku akan mengajak mu berkeliling negara A nanti" -Shella-
"Senangnya punya adik ipar seperti mu Shella" -Lia-
"Aku lebih senang punya kakak ipar seperti mu, aku sangat bahagia akhirnya aku akan punya kakak perempuan yang akan menemani ku shopping, ke salon dan curhat" ππ -Shella-
"Kalian kakak beradik jago sekali ngegombal" -Lia-
-Kak Ferry? menggombal?π€£π Sulit dipercaya" -Shella-
"Apa yang lucu kenapa kamu tertawa bahagia sekali?" -Lia-
"Kak Ferry seumur hidupnya tidak pernah menggombal, dekat dengan wanita saja jari tangan ku sepuluh sisa banyak ruang kosong" -Shella-
"Apa maksud mu?" tanya Lia mulai penasaran.
"Kak Lia kamu satu-satunya wanita yang berhasil mengikat hati kak Ferry selama bertahun-tahun, dah hanya ada beberapa wanita yang bisa dekat dengan kak Ferry. Jadi kalau kak Ferry pintar menggombal itu tidak mungkin sekali" -Shella-
"Siapa saja wanita-wanita itu?" Cerita Shella benar-benar berhasil membuat Lia penasaran.
"Akan aku cerita kan nanti, sekarang aku mau tanya hal penting?" -Shella-
"Apa? tanya lah" -Lia-
"kak Lia tidak lupa janji membuatkan ku gaun kan?"π€ -Shella-
"Tentu saja tidak, tapi masih belum kakak buat gaunnya. Kakak dua minggu lalu sibuk ujian semester" ππ -Lia-
"Tidak masalah, masih banyak waktu" -Shella-
"Kalau begitu aku tinggal dulu ya kak, kelas ku akan segera mulaiππ" -Shella-
"oke, biar belajar yang giatπͺ" -Lia-
__ADS_1
Selesai Chat dengan Shella, adik Ferry Lia tidak langsung menyimpan ponselnya. Dia membuka ruang chat di group para Designer.
jangan lupa like and komen