Suamiku Brondong

Suamiku Brondong
Mengantarku ke Kampus


__ADS_3

Malam panjang kami lalui dengan kesibukan masing-masing. Aku di sofa dengan lembaran design yang sedang ku coba rubah sesuai dengan selera si bule. Sedangkan Ferry sibuk dengan pekerjaannya, dia bahkan sudah berjam-jam tak beranjak dari kursinya terus sibuk membolak balik berkas dan sesekali menatap laptopnya, kadang bicara yang aku juga tak mengerti arah pembicaraannya akhirnya aku pun tak memperdulikan lagi si bule hanya fokus dengan gambar-gambar di depan ku hingga kantuk datang menyapaku dan aku terlelap di sofa tanpa ku sadari.


****************************************************


Suara bising alarm memaksaku membuka mata yang masih ingin terpejam. Betapa kangetnya aku saat mulai tersadar ada tangan kekar melingkar dipinggangku, padahal aku ingat betul semalam tidur sendirian di sofa ruang keluarga. Ternyata tangan suamiku yang dengan posesif melingkar ditubuhku, sepertinya aku terlalu kebo tidur sampai tak sadar saat Ferry memindahkan ku dari sofa ke ranjang.


Aku berusaha menggapai ponsel yang terletak diatas nakas tempat tidur tapi tak juga sampai membuat si bule akhirnya terbangun karena gerakan ku.


"Sayang, diamlah sebentar lagi saja aku masih sangat mengantuk" ucapnya masih dengan mata terpejam.


"Aku cuma mau ambil ponselku untuk mematikan alarm, memang kamu tidak terganggu dengan suaranya?" ujarku kesal karena Ferry makin mengeratkan pelukannya membuatku makin sulit menggapai ponselku.


Tiba-tiba tangan panjangnya melewati tubuhku dan mengambil ponsel diatas nakas. "Ini ponsel mu sekarang diam lah jangan banyak bergerak". ucap Ferry yang kemudian kembali memeluk ku dan kembali memejamkan mata. Aku melihat jam di ponselku jam 6.20 dengan Remander "Kuliah si Killer jam 8.30". Seketika aku jadi panik dan mencoba untuk bangun.


"Sayang, sekarang kamu mau apa lagi? kenapa terus bergerak?" Ferry mulai kesal aku mengganggu tidurnya.


"Sayang maaf, aku harus bangun sekarang. Aku ada kuliah pagi ini" ucapku dengan nada memohon agar si bule melepaskan pelukannya.


"Tak bisakah kamu tidak berangkat ke kuliah hari ini?" pinta Ferry yang langsung ku plototin.


"Tidak bisa, kemarin kamu sudah membuatku bolos kuliah. Hari ini aku harus ke kampus" ucapku dengan nada tegas.


"Hhhmm...baiklah" ujar Ferry melepas pelukannya dan langsung berbalik badan memunggungiku.


"Dia ngambek?". Bathinku, ya Tuhan laki-laki ini benar-benar seperti anak kecil, yank sok cool dan angker kalau cemburunya kumat, plus tukang ngambek kalau maunya tak dapat. "Jika aku merayunya sekarang bisa-bisa aku terlambat kuliah, tapi jika aku cuekin bisa makin panjang ngambeknya. Bodo amat lah, aku mandi dulu aja nanti kalau sudah mau berangkat baru ku merayunya agar tidak ngambek" gumamku dalam hati dan langsung bangkit berlari ke kamar mandi.


Saat aku keluar dari kamar mandi tak ku lihat batang hidung si bule diatas ranjang maupun seisi kamar. "Mungkin dia sedang sarapan" pikirku dan lanjut bersiap-siap untuk kuliah.


Begitu aku keluar dari kamar, aroma masakan menyeruak ke rongga hidungku. "Jangan bilang si bule lagi nyiapin sarapan?" pikirku sambil melihat jam ditanganku yang sudah menunjuk pukul 7.05, "masih ada waktu satu jam dua puluh lima menit, masih sempat lah untuk sarapan" gumamku sambil melangkahkan kaki menuju dapur.


"Lelaki tampan yang berstatus suamiku ini, apa dia akan slalu semanis ini sepanjang pernikahan kami? beruntungnya aku jika benar demikian" bathinku saat menatap pria tampan yang tengah sibuk berkutat dengan wajan dan spatula sambil mengenakan apron pink bunga-bunga.

__ADS_1


"Sayang, kamu masih sempatkan nunggu untuk sarapan denganku sebelum ke kampus?" suara bariton itu membuyar lamunanku.


"tergantung" ucapku santai. Membuat si bule membalik badannya menatapku lekat dengan sorot mata setajam elang.


"Iya suamiku tergantung, apa masakan mu sudah bisa ku makan sekarang? jika bisa aku akan menemani mu sarapan, jika masih harus menunggu lama pasti tidak akan cukup waktunya" jelasku membuat si bule kembali berkutat dengan wajan dan spatulanya tanpa menghiraukan ku lagi.


Pria satu ini begitu sulit ku tebak pikirannya. Tadi seperti orang ngambek saat aku mau bangun untuk mandi, tiba-tiba dia sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan, sekarang dia kembali dengan mode seperti orang ngambek. Daripada aku pusing melihat tingkat si bule, akhirnya aku mengambil air mineral botol dari dalam kulas lalu menuju meja makan duduk dengan gelisah karen jam sudag menunjukan jam 7.35 tapi Ferry belum juga muncul membawa makanan untuk sarapan. Akhirnya aku menelpohon Mira.


"Mir, kamu dimana?" tanyaku begitu panggilan telpon itu diangkat Mira.


"Mira masih mandi, apa ada pesan yang ingin kamu sampaikan Lia" suara Rendy yang terdengar.


"Mira ke kampus tidak hari ini?" tanyaku memastikan bahwa tujuan mandi Mira untuk ke kampus.


"Iya dia ke kampus hari ini, makanya dia sudah mandi dan bersiap pagi-pagi gini...kalau nggak kan aku masih bisa tidur dengan memeluk tubuhnya" gumam Rendy yang samar terdengar oleh ku, tapi aku terlalu malas menggubrisnya.


"Baiklah kalau begitu aku tutup dulu, bye" ucapku sambil mematikan sambungan telphon.


"Abis telphon siapa?" tanya Ferry tiba-tiba sambil membawa dua buah piring yang ternyata nasi goreng seafood dengan telor gulung.


"Kalau bgitu cepat lah makan, nanti kamu terlambat" ujar Ferry yang kemudian dia bukannya duduk makan malah pergi ke kamar.


"Kamu tidak sarapan?" tanyaku bingung, "Tadi dia yang minta ditemani sarapan sekarang dia malah ngeloyor gitu aja pergi, benar-benar bikin pusing" bathinku.


Aku pun tidak jadi memakan sarapan ku. aku mengambil dua buah kotak makan dan alat makannya dari kabin dapur dan dua botol air mineral dari kulkas lalu memasukannya dalam goodie bag dan membawanya ke meja makan. Memasukan sarapan ke dalam wadah kotak makan lalu menyimpannya dalam goodie bag dan kembali ke dapur meletakan piring kotor dan juga alat perang yang Ferry gunakan ke dalam mesin cuci piring. Saat aku kembali Ferry sudah mengenakan celana santai 3/4 warna hitam dengan kaos lengan pendek berkerah warna putih dan sepatu kets hitam putih.


"Ganteng banget suamiku, Mau tebar pesona dikampusku ya?" ucapku sambil menggandeng tangannya setelah menyambar tas ransel dan goodie bag berisi sarapan buatan Ferry.


"Memang siapa yang mau ke kampus mu?" gumam Ferry sambil berjalan yang masih terdengar olehku.


"Tentu saja kamu, masa Rendy yang mengantarku ke kampus" Ups,,salah ngucap deh aku. Ferry langsung menghentikan langkahnya saat mendengar ocehan asal jeplak ku.

__ADS_1


"Coba saja kalau kamu berani pergi dengan Pria lain?" ucap Ferry sambil menatapku tajam membuat bulu kuduk ku merinding membayangkan apa yang dilakukan pria ini jika aku sampai jalan dengan cowo lain. "Benar-benar posesif" bathinku.


"Masuk lah kalau kamu tidak ingin terlambat" ucap Ferry yang melihatku hanya diam berdiri di depan pintu mobil yang sudah Ferry buka untuk ku.


Begitu tersadar aku langsung masuk dan duduk, Feryry memasangkan safetybelt "Jangan terlalu sering melamun, kata orang nanti cepat mati kaya ayam" ujarnya kemudian keluar dengan cepat sudah ada di depan kemudi dan menyalakan mobil dengan cepat padahal jalanan cukup padat.


"Makasih ya sudah mengantarku" ucapku saat Ferry membukakan pintu untuk ku.


"Aku tunggu kamu di perpustakan tempat aku mencium mu pertama kali" ujar Ferry sambil berlalu meninggal kan ku yang masih mematung.


"Kalau kamu masih terus diam ku jamin kamu akan terlambat masuk kelas dosen killer mu" teriak Ferry membuatku langsung berlari menuju kelas.


"Hampir saja" ucapku saat berhasil sampai depan kelas berbarengan dengan si dosen killer selangkah di depan ku.


Sambil mengatur nafasku aku memindai seisi kelas memastikan Mira sudah sampai lebih dulu dan menyiapkan kursi untuk ku, tapi harapa ku sirna karena tak ku lihat batang hidup Mira dalam kelas.


"Kamu masih mau berdiri dipintu sampai kuliah usai Lia?" ucap sang dosen membuatku langsung menuju kursi kosong dibarisan paling depan.


Saat kuliah sudah di mulai tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Masuk" ucap sang dosen agak kesal karena terjeda saat sedang menjelaskan.


"Permisi pak, boleh saya ikut kelas bapak?" ternyata Mira.


"Kamu sudah tau kan peraturannya, saya tidak mengizinkan siapa pun untuk ikut kelas saya jika dia datang terlambat" jelas si dosen.


"Tapi pak, ini baru lima menit tidak adakah keringan?" pinta Mira memelas.


"Untuk kali ini saya izinkan lain kali tidak" ucap si dosen lalu berbalik kembali melanjutkan materi teknik mencampur warna.


"Kenapa kamu bisa telat?" tanyaku begitu Mira duduk disebelahku.

__ADS_1


"Ceritanya panjang nantilah saat sarapan dikantin aku ceritakan" ucap Mira sambil mengeluarkan buku untuk mencatat.


Kami pun kembali fokus mendengarkan penjelasan si dosen sampai bunyi bel tanda usai kelas berdering. Aku langsung merapikan tas ransel ku dan bergegas ke perpustakaan menemui suamiku yang tampan sebelum dia di goda cewe-cewe sekampus.


__ADS_2