Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 10. OG di rumah Adrian


__ADS_3

Adrian kembali bertanya pada dirinya sendiri saat sudah siap untuk mencari Aluna. Dia duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu.


 "Apakah aku perlu mencari dia, persetan dengan gadis itu. Jika dia tak pulang itu akan lebih baik. Aku tinggal bilang Papa, kalau gadis itu yang pergi sendiri dan tak ingin mempertahankan pernikahan ini," gumamnya lirih. 


Adrian akhirnya memutuskan bersandar di sofa karena tak bisa menahan kantuknya beberapa menit pun dia tertidur. 


Adrian terbangun ketika waktu sudah pagi, tubuhnya terasa pegal. "Rupanya aku ketiduran semalam disini, gadis kampung itu lagi-lagi merusak kebahagiaanku, benar-benar." Adrian menggeleng kepalanya ke kanan dan kekiri untuk meregangkan otot yang terasa kaku. " Selain bodoh dia juga murahan, beraninya pergi dengan laki laki sampai pagi.


"Tuan, Nona Aluna semalam belum pulang." Imah terlihat gugup.


"Biarkan, aku tak perduli." Adrian pergi sambil meraih gelas di atas baki yang di bawa Bi Imah. 


Adrian melenggang pergi menuju lift, Imah hanya memandang punggung lebar tuan mudanya. 


'Anda bersikap begitu karena anda belum mengenal Nona, Tuan. Aku yakin Nona Aluna memiliki hati yang lebih bersih daripada Nona Angel.'


Imah kembali ke dapur untuk menyelesaikan tugasnya, hari minggu pekerjaan lebih banyak karena semua anggota sedang ada di rumah. Tapi pagi ini tak seramai biasanya karena Selena dan Chela sedang mendatangi pertemuan yang dilakukan oleh istri pengusaha dan juga wanita karier. 


Baru saja tiba di dapur, dari luar sudah terdengar bel kembali berbunyi, bibi dengan setengah berlari segera menghampiri dan membuka pintu untuk tamu.


"Lama sekali sih bukanya, Adrian mana Bi." Ketus Angel pada Bibi. 


"Ada di kamarnya Nona." Bibi menjawab dengan jujur. 


"Bawa ini, oleh-oleh papa dari paris untuk Tante Selena dan Chela." 


"Oh, makasih ya. Biar bibi bawa ke belakang dulu."


"Hati hati bawanya itu barang mahal." Teriak Angel. 


 Bibi hanya mengangguk dengan perasaan dongkol, karena merasa sudah hati-hati sekali membawanya, Angel masih terus meneriaki. 

__ADS_1


Angel segera menyusul Adrian di kamarnya, wanita itu sudah Tak sabar ingin bertemu kekasihnya. 


Adrian ternyata ada di ruang gym, pria itu sedang melatih otot tangannya dengan gerakan push up. 


"Pagi sayang." Sapa Angel dengan senyum manisnya yang merekah bak bunga mawar 


"Wooo … tumben pagi sekali."  Adrian mengakhiri aktifitasnya, segera bangkit dan menghampiri Angel yang menunggunya. 


Angel pagi ini memang benar-benar cantik, dia berpakaian sangat seksi, gaun warna merah  dengan panjang jauh diatas lutut mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna, serta memiliki belahan dada yang lebar hingga memperlihat kan hampir separuh tonjolan di dadanya.


"Minumlah dulu." Angel menyodorkan botol mineral dan membantu mengusap tubuh kokoh milik Adrian dengan handuk yang sudah disiapkan oleh Imah.  


Angel suka sekali dengan Aroma keringat Adrian, gadis itu langsung memeluk  dengan erat dan menempelkan kepalanya di dada bidang kekasih.


"Rian hari ini aku ingin seharian bersamamu. Aku sudah batalkan semua acara pemotretan bersama Rossa dan Sisil. Aku ingin selalu didekatmu, aku sudah menanti hari minggu ini datang, Sayang." Gadis pemilik tubuh tinggi semampai itu menatap Adrian dengan mendongakkan wajahnya. Menggoda Adrian dengan gerakan bibirnya.


Adrian membalas pelukan Angel dan menyambar bibir merah merekah yang sejak tadi sudah meminta untuk di kerjain. 


Adrian tak pernah mau melakukan penyatuan walaupun Angel sudah memberi lampu hijau dan mencoba menggodanya dengan penampilannya yang seksi. Mereka hanya sekedar saling memuaskan dengan cara yang lain. 


Angel memang sudah tak perawan. Dia kehilangan kegadisannya dengan pacar pertamanya.


Kekasih yang menjadi cinta pertama Angel ternyata lelaki sudah beristri. Gadis itu lalu berusaha memulai karirnya dan memendam masa lalu. Karier Angel mulai melejit setelah menjalin kasih dengan Dion, pemilik perusahaan King Fashion. 


 Seiring berjalannya waktu Angeline bosan dengan Dion yang selalu mengutamakan pekerjaan diatas segalanya. Dia berharap Adrian memiliki kelebihan yang tidak ada pada diri Dion. Sialnya, sampai sekarang Adrian malah menggantung hubungannya dan enggan melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Merasakan keringat di tubuhnya sudah kering, Adrian segera meninggalkan ruang olahraga dan membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamarnya. 


Angel memilih menunggu di  balkon sambil menikmati segelas susu buatan Imah. 


Saat sedang asyik membaca majalah, tiba-tiba Angel melihat sosok yang tak asing. Angel memicingkan matanya, setelah dia lihat dengan baik-baik, ternyata gadis yang baru saja turun dari angkot itu OG yang biasa dia lihat di kantor Adrian. 

__ADS_1


"Itukan OG, ngapain dia disini? Dan apa yang dibawanya?" Angeline bergumam sendiri, rasa penasaran Angeline mulai memuncak hingga ubun ubun.


Angeline segera turun lewat tangga, menghadang jalan gadis berkacamata dengan rambut diikat asal yang sudah terombang ambing oleh angin jalanan itu.   


Seketika langkah Aluna terhenti, tatapan heran dari Angel membuat dia harus cepat cepat merangkai kata. "Angel, maaf aku mau lewat."


"Hey, panggil aku Nona Angel. Gadis jelek." Angel melipat tangannya diatas perut dengan tatapan menyelidik.


Pikirannya menebak-nebak isi dari tas ransel di punggung Aluna dan juga kantong kresek warna merah di tangannya.


"Kamu bawa barang rongsokan ini ke atas? Kamu kok bisa tinggal disini?" Bukankah diatas hanya kamar untuk Adrian dan satu untuk calon istrinya nanti?"


"Aku kerja disini, Nona Angel. Maafkan aku harus beres-beres aku sudah terlambat datang." Aluna mendorong minggir tubuh Angel, gadis itu hanya bisa mengepalkan tangan geram.


 Belum terjawab pertanyaan yang ada di kepala, Aluna sudah nyelonong dengan barang bawaannya. 


Aluna sudah sampai di depan kamar miliknya, Adrian segera menarik Aluna ke dapur. Diam diam Adrian rupanya menguping pembicaraan Aluna dan Angeline.


 "Lepas Pak Rian, Aluna mau ke kamar, Aluna mau menata barang milik bapak saya."


"Apa apa'an kamu Lun, kamu malah bawa barang bapak kamu kesini? Kamu mau menghancurkan aku?" Adrian mendorong Luna hingga tubuhnya menempel pada dinding keramik.


 "Jangan pernah kamu bermimpi untuk benar-benar menjadi Nyonya Adrian Alexander. Kau selamanya hanya akan menjadi wanita yang tak tau malu, kau mimpi terburuk yang pernah ada." Adrian melepaskan tangannya di dagu Aluna lalu pergi menjauh. 


"Lihatlah dirimu, sudah seperti kucing liar yang pulang dan pergi sesuka hati."


Kedua bola mata Aluna berkaca, tak percaya amanah terakhir bapaknya malah menjadi kenyataan pahit yang harus dia telan sendirian. "Pria yang tak mencintainya harus menjadi suaminya saat dia belum siap untuk membina mahligai.


Aluna semalam tidur di rumah lamanya, membereskan barang pribadi dan barang milik bapaknya, gadis itu hanya meminta izin pada Alex karena Aluna hanya memiliki nomor Alex dan pria itu memberi izin.


*happy reading.

__ADS_1


 


__ADS_2