Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 6. "Rahasiakan dari siapapun"


__ADS_3

Mobil Adrian terus membuntuti Aluna dari belakang. Sedangkan Tito terus saja berbicara panjang lebar tak jelas.


"Bos, tau nggak siapa cewek di depan itu?"


"Dia, OG di perusahaan kita, aku yang rekomendasikan dia, habis kasihan lihatnya, Pasti sudah capek melamar sana sini."


"Jadi kamu yang rekomendasikan dia masuk?! Kamu biang masalahnya!" Adrian mengeratkan giginya, ingin sekali memarahi Tito bahkan tangan Adrian siap untuk mencekik leher Tito karena geram. 


"Iya, Bos, lihatlah, bos nggak kasihan sama dia. Pasti hidupnya susah, kalau aku perhatikan sebenarnya dia cantik, cukup poles dikit aja," kata Tito yang ujung ujungnya memuji.


"Tito, Tito." Adrian menggeleng. Kambing aja di kasih bedak, dipakai lipstick, pasti akan kamu bilang cantik. Dasar kadal buntung lo," ejek Adrian.


"Kalau kadal masih kecil Bos, anda malah bapaknya kadal. Buaya darat. Tiap cewek bening pasti diajak kencan. Rosa, Sisil, Diva, dan sekarang Angel. Besok siapa lagi," kilah tito.


"Kayaknya Angel yang terakhir deh, menurutku kriteria yang gue inginkan, ada pada dia." Kata Adrian sambil mengingat sosok wanita yang dicintainya itu. 


Tito hanya menganggukkan kepala, telah paham. Menurut pemikiran Tito Adrian bukan cinta mati sama Angel, tapi sebuah kemenangan mendapatkan hati Angel dari Dion, seorang pengusaha muda yang menjadi saingan terbesarnya.


Tak terasa sambil ngobrol soal cewek, sekarang mereka sudah sampai di gerbang kantor.


 Seperti biasa, Tito yang menjadi kacung plus sahabat dia segera membukakan pintu. Dua pengawal pribadi berbaju hitam segera merapat di belakang Adrian dan Tito. Mereka berempat segera masuk ke dalam lift khusus. Lima menit Lift sudah mengantarkan mereka ke depan pintu ruangan khusus presdir.


Seperti biasa, Angeline sudah menunggu Adrian dengan penampilan terbaik. Tito segera pergi menuju ruangan pribadinya, dan dua pengawal menjaga di depan pintu masuk. 


Adrian dan Angeline segera masuk ke ruang CEO.


"Rian, aku kangen banget sama kamu. Semalam kau telah membuat aku kecewa," ungkap Angel dengan kesal. 


Angeline segera duduk di pangkuan Rian tangannya bergelayut manja di tengkuk sang pacar. 


"Maaf, aku banyak kerjaan. Aku butuh penyegaran otak," bujuk Adrian. Semalam Adrian telah melupakan Angeline begitu saja dan asyik minum banyak. 


"Sayang, aku nggak masalah kok. sebagai gantinya istirahat nanti temani aku belanja, okey?"


" Okey, Adrian mengangguk."


"Angel sekarang keluarlah, biarkan aku kerja," kata Adrian. Tanpa sadar ucapannya menyakiti hati Angel. 


"Kamu mengusirku, Rian?" Angel kecewa dengan kata-kata Rian baru saja. 


"Tidak, aku hanya ingin … beri waktu aku sendiri sebentar saja. Kita ketemu istirahat. Bukankah kau sekarang ada pemotretan.


 

__ADS_1


 Sedangkan Aluna yang terlambat karena harus ceklis dan mengambil alat pel dulu,dia baru sampai di lantai teratas. 


"Kamu terlambat, dan kamu tidak bisa masuk karena Tuan Adrian sudah menutup pintunya." Security menghalangi langkah Aluna. 


"Tapi Pak, saya belum bersihkan ruangan Pak Adrian." Luna memohon pada security supaya diizinkan masuk. 


"Kamu sudah terlambat Lun, Lebih baik bersihkan ruangan yang lain saja, kamu pasti belum tau kalau CEO sedang bersama kekasihnya di dalam, dan dia pasti tak bisa di ganggu." ucap pengawal berbaju serba hitam, sambil berusaha menghalangi Luna. 


Luna akhirnya menyerah dia melangkahkan kaki dengan berat, pergi dari ruangan CEO.


'Pak Adrian sudah memiliki kekasih, aku harus sadar diri aku bukan siapa siapa disini, aku hanya OG, Aku hanya perlu bekerja dengan baik. Pernikahan yang terjadi hanya karena amanah bapak, aku tak boleh mempertanyakan arti pernikahan pada dia.'


Aluna menuju ruangan asisten CEO, Luna langsung saja mengetuk pintu, kebetulan Tito tidak mengunci pintunya. 


"Pagi Pak Tito!"


"Hai, pagi Luna. Kamu sudah baikan? Seminggu nggak masuk kerja ya. Kirain nggak betah kerja disini."


"Betah kok, makasi ya Pak Tito, sudah rekomendasikan saya kerja disini. Seminggu yang lalu bapak saya meninggal." 


"Tito kaget mendengar alasan Luna tidak masuk kerja. "Innalilahi wainailaihi rojiun, turut berduka cita Lun." Tito menghentikan Aktivitasnya lalu menatap Aluna sejenak. 


Luna segera menghapus air matanya, dia sedih setiap kali ingat kematian Yusuf, dan  awal pernikahannya yang menyedihkan. 


"Nggak usah bilang makasih, kamu kerja aja dengan baik, dengan ijazah yang kamu miliki, akan sulit cari kerja, di tempat lain. 


Tito tersenyum kepada Luna, sebelum dia kembali sibuk dengan tumpukan berkas yang ada di depannya."


Luna juga tersenyum, dia segera mengelap meja kaca dan semua interior yang ada di ruangan Tito. Pria itu sibuk memeriksa berkas dari sekretaris Rosa, sebelum sampai ke tangan Adrian. 


Selesai membersihkan ruangan Tito, Aluna kembali keluar dan membersihkan ruangan yang lain, sekarang tinggal ruangan Adrian yang belum dibersihkan. 


Aluna duduk di sebuah kursi panjang, ia bersihkan keringat yang membasahi keningnya dengan handuk putih yang ia bawa dari rumah, sambil menetralkan nafasnya, dia meneguk air mineral dalam botol.


"Hai Lun, kamu sudah sarapan belum?" Tanya Tito.


"Belum Pak Tito. Nunggu CEO keluar. Kalau sudah membersihkan ruangan dia, baru aku akan sarapan dengan tenang," jawab Luna jujur. 


"Sudah nanti aja, sekarang waktunya ngisi perut." Tito meraih tangan Aluna, gadis itu terpaksa mengikutinya dari belakang. 


Aluna dan Tito pagi ini menikmati sarapan bersama dengan menu ayam goreng plus lalapan. Aluna makannya terlihat nikmat sekali tanpa sendok. Sedangkan Tito mencobanya. 


Disela sela menikmati sarapan Tito dan Luna masih sempat untuk ngobrol dan tertawa ringan. Luna menganggap Tito adalah pria baik yang sudah membantunya, walau Luna tahu Tito adalah playboy yang setiap hari suka ganti-ganti cewek, setahu Luna pria itu sudah membantunya. 

__ADS_1


Saat Luna dan Tito sedang asyik menikmati sarapan, tiba tiba Adrian sudah ada di nomor meja yang tak jauh darinya. Pria itu tak menyapa Tito seperti biasa. Dia hanya fokus pada Angeline dan ponselnya, lalu memanggil waitres dan memesan menu kesukaannya. Dua orang pengawal juga sarapan di meja yang ada di dekatnya.


Aluna mempercepat makannya, menurut dia ini adalah saat terbaik untuk membersihkan ruangan CEO. "Buru-buru amat sih Lun."


"Uhuk uhuk." Aluna tersedak.


"Ini minum dulu." Tito dengan sigap membukakan botol mineral pada Luna. 


"Sorry saya gugup," jawab Luna segera meneguk air pemberian Tito. Tito terus mengamati Luna sepanjang meneguk air minum langsung dari botolnya. 


'gadis ini sebenarnya cakep, kulitnya putih, matanya indah,"batin Tito sambil terus menatap Aluna. jiwa playboy pria berusia dua puluh tujuh itu mulai berbicara.


"Ehem." Adrian berdehem membuat lamunan Tito buyar. Tito menoleh ke arah Adrian dan Angeline menoleh ke arah Tito. Mereka saling menatap sesaat, Tito lebih dulu tersenyum kepada Adrian.


Adrian sama sekali tak membalas senyum Tito, bahkan dia bisa merasakan pria itu menatapnya dengan aura tak suka. 


"Pak Tito, aku melanjutkan pekerjaan dulu, Anda pelan-pelan aja makannya." Aluna segera pamit pada Tito dia juga menatap Adrian sesaat. Lalu menganggukkan kepala tanda dia menghormati CEO di tempatnya bekerja.


Setelah berjalan beberapa langkah, Aluna kembali menghentikan langkahnya. "Oh iya Pak Tito, terima kasih anda sudah mentraktir saya, sarapannya enak, semoga hari Anda selalu menyenangkan."


"Sama-sama Lun. Aku turut berduka cita."


Aluna segera menuju ruang pribadi CEO, dia segera membersihkan ruangan Adrian yang berantakan, menyapu dan mengelap setiap sudut yang masih bersih, merapikan berkas berkas hingga tertata rapi. 


Saat Aluna sedang menata buku-buku di rak, tiba-tiba dia mendengar derap langkah kaki. Aluna menghentikan aktivitasnya lalu menoleh. "Pak Rian, maaf. Bukankah anda sedang sarapan. Saya tadi pagi belum sempat merapikan semua."


Sosok lelaki pemilik langkah tegap itu mendekat, dia mengabaikan kata-kata Aluna, Adrian hanya fokus menatap istri sahnya yang tengah ketakutan. 


Aluna ketakutan karena Adrian kembali terlihat menakutkan. aura baik yang pernah ia lihat tak terlihat sama sekali. 


Adrian mencengkeram lengan Aluna dengan kuat. Bayangan saat di kamar semalam kembali teringat, jantung Aluna berdegup sangat kencang. Aluna berusaha semaksimal mungkin untuk berfikir positif, kali ini Adrian sedang sadar, jika semalam dia bertindak kurang ajar karena sedang mabuk. 


"Lepaskan saya Pak, saya masih banyak kerjaan,"Mohon Aluna dengan wajah takut. 


"Dengarkan baik-baik gadis jelek, kamu bukanlah siapa-siapa bagiku, jadi aku minta tutup mulutmu, jangan bicara pada siapapun di kantor ini kalau kita sudah menikah. Mengerti!!"


"Iya, saya mengerti, Pak Rian." Aluna mengangguk sambil menahan sakit, jemari kokoh itu masih belum terlepas dari lengan yang sekarang sudah mulai memerah. 


"Satu lagi Aluna, jangan terlalu akrab dengan Tito, dia asisten pribadiku. Aku khawatir kedekatanmu dengan dia membuat rahasia kita akan terbongkar." 


"Tidak Pak, saya berjanji akan tetap merahasiakan masalah pribadi kita." Aluna mengangguk. Adrian juga melepaskan cengkeramannya. 


"Pergilah sekarang juga. Aku muak melihatmu ada disini." Kalimat bernada pedas masih  terdengar di telinga Aluna. Lama-lama Aluna terbiasa dengan Adrian yang suka memakinya. Gadis itu dengan cepat menyeret kakinya keluar. 

__ADS_1


__ADS_2