Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 217. Adrian dan Nabila.


__ADS_3

Sore hari, Dokter Nabila datang ke rumah Aluna untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, dan hasilnya Luna memang positif hamil.


Melani sangat bahagia, akhirnya dugaannya tidak meleset. Dion pun tak kalah bahagianya dengan Aluna. Hingga dia langsung memesankan hadiah spesial untuk Luna yang bentuk dan rupanya masih di rahasiakan.


Selesai memeriksa, Nabila memberikan beberapa vitamin untuk Aluna dan meninggalkannya di atas nakas. 


"Selamat ya, Luna, semoga kehamilan kali ini kalian bisa menjaganya dengan baik." dan semoga bayinya sehat sampai lahir. kata wanita itu ikut bahagia, Nabila segera melepas stetoskop yang ada di lehernya dan ingin berbicara lebih santai dengan sahabatnya. 


Melani lebih memilih keluar menemui suaminya dan memberi kesempatan dua sahabat untuk berbagi cerita.


"Makasih sarannya Na, semoga kamu juga lekas di …."


"Di … apa Luna? Jangan bikin penasaran." Nabila mendesak Aluna supaya mengatakan kalimat yang sengaja di gantung.  


"Enggak jadi Na."


"Aluna!! … Ayo katakan." Gadis itu Menggoyang kaki Aluna yang sedang selonjoran.


"Dihalalkan oleh Adrian Na, semoga Adrian menikahimu secepatnya. Dan kau bisa mendapatkan yang kau inginkan selama ini."


"Luna, kau tahu saja aku suka Adrian sejak lama," kata Nabila mengaku meski malu-malu.


"Tahulah Sayang, dari tatapan mata indahmu itu saat memperhatikan dia." Kata Luna dengan bibir tersenyum, dan pipi Nabila semakin merona semerah tomat. 


Saat bercengkrama ponsel Nabila berdering. Lalu sebuah notif terdengar setelah deringnya berhenti beberapa menit. 


Ting-tung!


Nabila segera mengambil benda pipih , hanya dua orang yang di curigai menghubungi saat ini, kalau bukan Kakak Jay, pasti Adrian.


"Hallo. Iya bentar lagi aku masih di rumah Luna."kata Nabila dengan aura bahagia. 


"Adrian ya?"


"Hemm, tadi aku ajak dia ke butik, cari baju pengantin, sekarang dia lagi nggak sibuk."


"Cepat sana, pulang. Buruan, pangeran udah nunggu," canda Aluna.


"Aku diusir nie." Nabila mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kasian pangerannya nunggu lama, entar berubah pikiran." kata Aluna seraya mengangkat alisnya berulang kali. 


Nabila segera mengambil hadiah kecil dari tas kerjanya, menyodorkan benda itu kepada Luna, ini buat kamu, semoga ada manfaatnya 


Sebuah buku panduan untuk wanita hamil, Luna sangat menyukainya. 


"Terimakasih," kata Luna menerima pemberian sahabatnya.  


Setelah selesai memeriksa sahabatnya Nabila segera pamit dari kamar Aluna, tak lupa kecupan hangat untuk Luna dari pipi kanan dan kiri. 


Aluna tersenyum dan melambaikan tangan pada sahabatnya.


Ternyata Adrian sudah menunggu di basement, Nabila segera menghampiri Adrian yang sudah membukakan pintu depan untuk kekasihnya, Namun Adrian tetap berada di depan kemudi. 


"Sayang kita langsung ke butik Flower aja ya." kata Nabila semangat.


"Iya. Luna sakitkah?" tanya Adrian. Yang ingin tahu kondisi Aluna.


"Tidak, Luna hamil. Mereka sepertinya kerja keras. Baru dua bulan keguguran, sudah ada lagi. Dion hebat juga ya."


Adrian hanya tersenyum sebagai reaksi dari komentar Nabila tentang Luna.  lalu menyalakan mesin mobilnya dan memacu kendaraan ke butik yang diinginkan Nabila. 


Adrian segera menyusul turun, Nabila menggamit tangan Adrian lalu menyeretnya ke dalam butik yang direkomendasikan oleh Dokter Jay.  Ternyata bukan butik biasa. Memakai gaun rancangan desainer kondang Mas Igun adalah mimpi Nabila sejak dulu. 


Nabila semangat berkeliling, mengamati satu persatu baju pengantin yang mahal dan bagus, terpajang rapi di pakai oleh manekin. Semua di banderol diatas lima puluh juta, Adrian bingung jika baju saja mengeluarkan anggaran demikian besar, bagaimana pesta lainnya nanti. 


Adrian harus tetap menjaga hati Nabila, disisi lain Jay terus membuatnya dalam posisi sulit. Adrian tahu Jay hanya menguji cinta Adrian yang baru tumbuh sebesar biji jagung. Jika dipaksa menggali hutang disana sini, dampaknya akan lebih berat usai menikah nanti. 


Kini giliran Adrian menguji cinta Nabila, apakah wanita itu bisa menerima keadaan dirinya yang sebenarnya dan hidup apa adanya.


"Sayang, semua bagus ya, kamu suka yang mana?" Tanya Nabila yang terlihat menyukai semuanya.


"Iya, bagus, aku suka semuanya," jawab Adrian terkejut, dia baru sadar dari lamunannya yang melayang entah kemana.


"Kak, Pilih yang mana, putih, merah atau cream?" Nabila terus saja membombardir Adrian dengan pertanyaan, tanpa tahu kondisi Adrian yang sebenarnya.


Adrian sepertinya harus jujur, jika benar Nabila cinta sebesar yang selama ini dia katakan, dia harus mau hidup sederhana.


 Adrian ingin menguji balik cinta Nabila, dengan mengadakan pesta sederhana dan gaun pengantin sederhana, Adrian berharap Nabila akan setuju dengan rencananya.

__ADS_1


"Na, maafkan aku bagaimana kalau kita cari butik yang lainnya." Adrian menarik lengan Nabila keluar. 


"Baiklah, terserah Kakak." Genggaman tangan Nabila pada gaun indah yang terpajang di manekin itu terlepas.


Adrian mengekor di belakang Nabila, segera membawa Nabila masuk mobil dan menuju pada sebuah butik lain yang terlihat sederhana, gaun yang dipajang juga sederhana. 


"Na, sepertinya gaun di butik ini lebih bagus dan juga murah, pilihlah satu untuk pesta pernikahan nanti, dan saat ijab, kau cukup pakai kebaya? Gimana?"


"Em, terserah Kakak saja," kata Nabila meski sedikit kecewa. Mimpinya memakai baju pengantin dengan rancangan desainer kondang Mas Igun sepertinya akan pupus.


Butik yang baru dia datangi harga tiap bajunya juga murah. Hanya kisaran dua juta sampai lima juta. 


"Na, ini kayaknya bagus." Adrian menunjuk deretan baju yang terpajang di manekin.


"Kamu suka yang mana Na?"


"Terserah, Kak Adrian aja ya, aku suka semua kok, yang mana aja." Nabila pasrah dengan pilihan Adrian.


"Baiklah, aku yang pilihkan ya?" Adrian memilih-milih dan Nabila hanya mengekor di samping Adrian saja.


Sebenarnya Nabila sejak kecil sudah terbiasa memakai barang mewah, dan kecukupan, membeli gaun mahal tadi juga tidak pernah keberatan, tapi demi menjaga hati Adrian, Nabila lebih menurut pada calon suaminya.


"Na, gaun ini aja ya, warnanya lebih terlihat bagus dan juga kelihatan erlegant." Adrian mengambil gaun dengan warna merah maroon, meski hati Nabila kurang 'Klik.' tapi apapun yang diberikan Adrian, dia akan menyukainya.


"Mbak, bungkus satu ya, sekalian kemeja ini." Adrian memberikan kemeja yang senada dengan gaun Nabila.


Nabila dan Adrian menunggu di kasir, lalu kasir menyerahkan struk pembelian. "Semua, dua juta lima ratus."


Adrian memejamkan mata, hati kecilnya sebenarnya menangis, kasihan dengan Nabila yang harus mengikuti gaya hidupnya yang sekarang. Sedangkan dulu, makan sekali saja bisa lebih dengan harga gaun pengantin hari ini.


"Na, bener kamu suka dengan gaun yang aku pilih tadi?"


"iya, aku suka," kata Nabila berusaha tersenyum selebar mungkin.


Nabila dan Adrian keluar dari butik dan menuju restauran untuk makan siang.


Meski saat ini ada hal yang mengganjal di hati mereka masing-masing. Nabila berusaha tersenyum untuk mengerti keadaan Adrian dan jalan pikirannya.


Nabila yakin, Adrian lelaki yang terbaik, dikirim Tuhan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2