
Dion membuka handuk kimono yang melekat ditubuhnya, lalu membuka pengait kacamata milik Andini. Dengan tetap membiarkan bibir mereka terus bersatu.
Setelah tubuh Aluna bagian atas sudah polos Dion membebaskan bibir Aluna. Kecupan Dion merambat turun dari leher ke dada. Lalu mengecup bukit kembar Aluna bergantian.
Mendapat perlakuan lembut pertama kali dari Dion, Aluna tak bisa mengendalikan tubuhnya lagi, tubuh Aluna terus meliuk seperti ular menari.
"Akh …" Aluna mengerang, tubuhnya terasa makin panas. Mungkin kupu kupu di perutnya sebentar lagi akan meledak.
Nafas Aluna kian lama kian hangat tak beraturan. Aluna memeluk tengkuk Dion, sesekali wajahnya mendongak, menggeleng ke kanan dan kekiri tak tahan dengan rasa yang membuat tubuhnya yang sekarang bagai melayang ke langit tujuh itu.
"Keluarkan suaramu sayang, jangan ditahan, aku suka sekali" kata Dion, semakin Agresif menelusuri seluruh lekuk lekuk indah bagai gitar spanyol itu.
Satu tangan masih setia me*emas di bukit kembar dan bibir meng*isap serta memberi sapuan di bukit satunya,
Satu tangan Dion merambat ke bawah menurunkan CD Aluna. Meski Aluna berusaha menahan, tapi tekat Aluna hanya setengah-setengah, Aluna tak serius melarang Dion.
Rasa malu sekarang sudah berubah menjadi rasa penasaran. Perlakuan Dion yang lembut tapi menuntut sudah menghilangkan akal sehatnya.
Aluna kini sudah benar-benar polos. Dion. Takjub dengan keindahan yang kini terpampang di depannya. Dion sangat bahagia Aluna sudah jatuh dalam jerat cintanya.
Dion mengusap usap bagian inti Aluna. Dion tersenyum setelah tahu istri pemalunya sudah sangat basah.
"Honey, sudah basah."
Aluna menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
'Tolong jangan katakan apapun, aku malu.'
Dion menggeleng, sambil tersenyum. Gemas dengan tingkah Aluna.
Dion membuka kaki Aluna, Aluna kembali menahan, tapi Dion sabar membujuk dengan memberi sedikit sentuhan di organ intinya. Aluna makin kepanasan, organ intinya mendapat sentuhan begitu lembut.
Dion membimbing tangan Aluna supaya mengelus Tiger yang sudah meraung raung.
Aluna mengelus Tiger dengan lembut.
"Honey, dia sudah sangat mengamuk, dia sudah tak mau menunggu lebih lama lagi, aku sudah tak mampu membujuknya. Hanya kamu Honey, yang mampu merayunya" kata Dion dengan tatapan sayu.
Aluna menatap Dion seakan sudah memberi izin, Dion mengusap kening Aluna dan mengecupnya.
Berlahan Dion membelah organ inti Aluna dengan jarinya, lalu mengarahkan Tiger menuju sarang yang semestinya.
Aluna memekik keras, ketika merasakan benda tumpul dan besar membelah inti. Sampai Aluna meneteskan air mata karena kesakitan.
Usaha Dion masih menuai gagal. Berulang kali Dion terus mencoba tapi belum berhasil. Peluh dan keringat sudah membasahi tubuh keduanya, hingga. Seprei yang tadinya kering kini sudah basah.
Maaf sayang. Kata Dion sambil memeluk Aluna erat. Dion masih ingin berjuang keras untuk membobol gawang pertahanan Aluna. Tapi masih terus gagal.
__ADS_1
Aluna menggigit bibir bawahnya, dia ikut tegang karena usaha Dion belum menuai keberhasilan.
Sepertinya kita harus istirahat dulu sayang. Kata Dion menjatuhkan tubuh di sebelah Aluna sambil mengusap peluhnya.
"Maafkan aku. "Aluna bangkit dan bersandar disisi ranjang dengan raut sedih
"Kenapa bersedih, aku harusnya bersyukur bisa memiliki gadis sepertimu." Dion ikut bersandar menirukan Aluna. Aluna menarik selimut untuk menutupi tubuh berdua yang masih polos.
Dion mengecup puncak kepala istrinya lalu memeluk dengan erat. Embusan nafas Aluna dan Dion terdengar bersahutan.
"Kamu sangat lelah, biar aku pesankan makan pada Bibi," kata Dion lirih.
"Aku belum lapar."
"Yakin?''
"He'em." Kata Aluna sambil mengangguk.
Dion dan Aluna akhirnya memilih tidur sebentar sebelum kembali berjuang. Dion memilih menghentikan permainan karena tak tega melihat Aluna yang kesakitan.
Saat Aluna sudah tidur, Dion kembali bangun, Tiger masih terus mengamuk seakan tak terima menuai kegagalan.
Dion mengelus pelan miliknya. "Sabar dulu, kasihan temanmu, kesakitan dan butuh istirahat."
Dua jam Aluna tertidur dalam dekapan hangat Dion. Setelah istirahat dirasa cukup Aluna menggeliat dan membuka matanya.
"Kenapa Aluna dan Dion tidak makan malam bersama kita." Kata Melani mondar mandir lalu duduk sambil mendesah, risau.
"Mama ini gimana? namanya juga pengantin baru, Aluna juga kelihatannya sudah sehat, mungkin dia lagi mulai menjalankan malam pertama mereka yang tertunda," David mengingatkan istrinya.
"David benar, Mela. Dion dan Alina sekarang sedang buat cucu untuk kita. Kamu berdoa saja, semoga bibit premium David juga nular ke putranya. Dulu kamu hamil Dion ketika usia pernikahan kalian baru berjalan dua minggu."
"Iya Mam, tapi Aluna dan Dion harusnya makan dulu, Aluna saja baru sembuh," kata Melani lagi.
"Laki-laki dan perempuan jatuh cinta itu lupa makan, dia sudah kenyang dengan makan cinta saja, "ujar nenek sambil tersenyum.
Mereka akhirnya makan berempat saja, Melani memanggil Jessika yang sedang belajar dikamarnya.
***
Sayang kamu pasti haus, kata Dion ketika Aluna membuka mata.
"Iya, aku mau minum. Biar aku ambil sendiri,* Aluna beranjak. Tapi Dion mencegahnya.
"Aku akan mengambilkan" Dion mencegah Aluna turun ranjang. Dion memperlakukan bagai ratu.
Dion mengambilkan minuman segar mengandung vitamin seperti miliknya yang sudah habis itu. Aluna meneguknya hingga tandas. Minuman itu oleh-oleh dari nenek supaya mereka cepat hamil.
__ADS_1
Selesai menaruh gelas diatas nakas Dion kembali duduk di pinggir ranjang. Dion merebahkan tubuh Aluna pelan-pelan. Setelah Aluna terlentang Dion mengungkung tubuh Aluna yang masih polos.
Dion mengulang kembali step demi step seperti permainan pertama yang sempat gagal. Setelah milik Aluna kembali basah, Dion mulai berjuang untuk mencetak gol.
Dion membuka kaki Aluna dan mengarahkan Tiger tepat di pintu gawang. Aluna masih tetap kesakitan hingga dia memeluk tengkuk Dion dengan kuat. Ketika Dion ingin mengakhiri permainan, Aluna menahannya.
Tatapan Aluna seperti memohon agar Dion tak berhenti, Aluna sudah siap menahan rasa sakit yang akan dia lalui.
Dion mengecup kening Aluna lalu mengecup bibir dan bermain disana. Aluna memeluk kuat kuat tengkuk Dion dan Dion menghentakkan kuat-kuat.
Tiger akhirnya bisa masuk meski Dion sendiri kesakitan karena gawang yang dilalui terlalu sempit. Aluna meneteskan air mata dan mencengkeram tengkuk Dion. Serta menggigit kecil bibir suami."
"Maaf, Sayang," kata Dion merasakan miliknya sudah terbenam meski baru sedikit. Dion kembali mendorong Tiger agar bisa masuk lebih dalam.
Aluna memejamkan mata dengan airmata terus meleleh membanjiri bantal empuknya.
Dion terus memberikan sentuhan lembut di tubuh bagian depan Aluna dengan bibir terus bertautan.
Setelah Adrian sedikit tenang Dion mulai memaju mundurkan Tiger dengan pelan pelan.
Milik Aluna mulai bisa menerima kehadiran Tiger meski perih, sakit dan rasa nikmat bercampur menjadi satu.
Setelah pergulatan terakhir hampir berjalan satu jam Dion dan Aluna sama sama sudah menuju puncak nirwana.
Aluna beberapa kali menuju pencapaian, sedangkan Dion masih berjuang.
Selang lima menit dengan pencapaian Aluna yang terakhir Dion akhirnya sudah siap menembakkan benih benih cinta nya.
"Akhh …." Pekik Dion ketika prajuritnya meluncur siap bertempur di dalam rahim Aluna.
Aluna merasakan rahimnya menghangat dan penuh. Dia sama-sama berdoa dalam hati semoga bibit-bibit premium itu akan segera berubah menjadi benih unggul Dion dan Aluna.
Aluna lega Dion sudah berhasil meski saat ini tubuhnya sedang remuk usai pelepasan.
Dion mengecup wajah Aluna bertubi tubi dan berterimakasih ratusan kali.
"Maafkan Aku sayang."
"Jangan terus minta maaf, ini sudah kewajiban istri."
"Iya, terimakasih juga untuk bonus segelnya. Thanks you my wife." Dion lalu tidur di sebelah Aluna sebentar untuk mengatur nafasnya.
Aluna yang baru bangun dia tidak mengantuk. Aluna memilih mengamati wajah tampan suaminya ketika sudah pulas.
Wajah Dion sangat mirip dengan Adrian. Hanya saja tatapan Adrian lebih tajam sedangkan Dion cenderung lembut.
Aluna kepikiran Adrian yang selalu mengikutinya beberapa hari ini. Aluna berdoa dalam hati semoga Adrian segera menemukan kebahagiaannya dan lekas move on.
__ADS_1