Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 225. Terlalu manja


__ADS_3

Lasmi merasakan kalau Dion telah tahu sesuatu. 


Lasmi mengejar Dion yang baru saja tiba di dapur, kebetulan dapur sedang sepi. 


"Apakah jamu tahu sesuatu?" Tanya Lasmi.


"Tidak ada yang aku ketahui, selain Aluna adalah istriku, dia tidak memiliki keluarga lagi, dan akulah satu satunya orang yang sangat menyayangi dia."


Kata-kata Dion menyentil hati Lasmi, Lasmi semakin yakin kalau Dion sudah tau siapa dirinya dan misi sesungguhnya,  hingga dia pura-pura menerima pesanan catering. Sedangkan berdasarkan laporan Beni dia sekarang sudah menjadi istri pengusaha kaya yang tak lain adalah Ayah Angeline. 


"Nyonya Lasmi, anda hanyalah ibu dari Angeline. Dan selamanya akan seperti itu."


"Tapi Nak, Aku yang melahirkan Luna, aku ingin dia tahu kalau aku ibu kandungnya."


"Lebih baik lupakan mimpi anda, karena aku tak akan pernah mengijinkan Aluna tahu siapa anda," Kata Dion, terlihat menahan amarah.


"Kenapa kamu jahat pada ibu." Lasmi tidak suka Dion menghalangi rencananya. Sejauh ini dia sudah bersabar dan saatnya dia mengatakan pada Aluna. 


"Siapa yang jahat? Wanita yang sudah membiarkan anaknya hidup dengan laki laki tua, miskin, sedangkan dirinya bisa bergelimang harta, makan enak setiap hari. Dimana naluri keibuan anda saat itu? Bagaimana anda bisa tidur nyenyak dikasur yang empuk, dan bagaimana anda bisa tertawa bahagia bersama suami baru, sementara anak anda disana berjuang mencari sesuap nasi untuk menghilangkan rasa lapar di tubuhnya." 


"Aku melakukan semuanya karena khilaf, sekarang aku sudah menyadari kesalahanku. Aku mohon maafkan aku." Lasmi menarik pergelangan tangan Dion dan memohon. 


Dion keras kepala, dia membebaskan tangannya dari genggaman mertuanya, dengan menghentakkan lengannya. "Maaf, anda pergi dan jangan kesini lagi, besok sudah ada asisten baru yang akan mendampingi Luna dan bisa memasak lebih enak dari anda."


"Kenapa kamu seolah sangat membenci ibu Nak." Lasmi makin sedih melihat Dion kekeuh tak mau membantu memudahkan menolong Aluna.


"Aku tidak membenci Anda, sama sekali tidak, aku hanya membenci sifat anda yang gila harta, Demi harta anda rela melakukan apa saja.", kata Dion lagi, mulai tegas.


kelopak mata Lasmi atas dan bawah bersentuhan sesaat, dia biarkan air mata berderai membasahi pipinya. 


Jika menantunya saja berkata demikian kejam, apalagi Aluna nanti.


"Ibu minta maaf, maaf dan akan selalu minta maaf," kata Lasmi lirih. 

__ADS_1


Dion melipat tangannya di dada. Bersikap Arogan. Dion tak mau ambil resiko sedikitpun dengan menerima baik keluarga dari Angeline. Kesalahan Angeline tak bisa di toleransi lagi.


"Maafkan ibu, mungkin hari ini ibu pergi, tapi ibu tak akan patah semangat untuk mendapat maaf dari Aluna, tolong jangan pernah halangi niat baik ibu."


Lasmi mengusap air matanya dan pergi dari kediaman Dion. 


Dion mengamati punggung mertuanya yang meninggalkan rumahnya. Wanita itu terlihat menghubungi sopir dan hanya beberapa menit sopir datang menjemputnya, wanita itu memang selama ini sudah bermain cantik demi mendekati Aluna. Dia berjalan dan meminta sopir untuk menunggu di tepat yang jauh.


Tentu saja dia sangat kecewa, disaat Aluna sudah menyayangi dan menganggapnya wanita yang baik dan tulus, kini Dion menggagalkan semua dan seenaknya bilang 'besok sudah ada asisten baru, dan tak perlu kesini.'


"Mang Udin, kita pulang saja," ujar Lasmi dengan wajah sedih. Wanita itu terlihat membawa pulang kembali makanan yang telah disiapkan sejak pagi buta.


Mang Udin melihat majikannya dari spion. Mengetahui raut wajahnya amat sedih, Mang Udin segera bertanya. "Apa yang terjadi? Kenapa Anda sangat sedih maka hari ini anda sudah berencana akan memberitahukan semuanya pada Luna?"


Lasmi menyeka air mata yang terus mengalir di pipi. lalu berkata "Semuanya hancur, usaha yang telah aku lalui selama ini harus berhasil dengan kecewa, Dion sudah mengetahui rencanaku sejak lama dan bodohnya aku tak pernah menyadari hal itu."


"Oh ya nyonya, aku sudah tahu sejak lama, menantu anak itu bukan orang sembarangan, dia selalu berhasil dalam setiap misi yang dilakukan."


"Semoga saja rencana anda berhasil." Kata Mang Udin sambil memutar kemudi, hingga roda bergerak pelan menyusuri jalanan hitam.


***


"Sayang, mana puding untukku?" Aluna dengan wajah bahagia menyusul suaminya yang sibuk membuat puding di dapur. 


Aluna segera merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang suami yang membelakanginya. lengannya menyusup dari balik celemek, memeluk erat pinggang suami.


Dion segera menoleh dan mengecup puncak kepala Luna, tak lupa mengelus perut istrinya yang terlihat bulat sempurna. 


"Sabar sebentar ya sayang, Papa sudah berusaha, dan semoga kali ini kalian bertiga suka puding buszanpspa.." Dion semangat menuang puding yang dibawahnya sudah terdapat beberapa lapis yang berlahan mengeras dengan warna berbeda. 


Luna yang kelewat manja kini tepuk tangan. "Yes, akhirnya aku akan memakan puding pelangi buatan kamu, Sayang."


Dian menanggapi ekspresi Luna yang berlebihan dengan senyum percaya dirinya. 

__ADS_1


Saat dimeja makan, Luna merasa ada yang aneh. "Sayang, kok Aku nggak lihat tante Lasmi? Aku padahal regues pepes ikan mas,hari ini."


Dion menarik nafasnya lalu menghembuskan pelan. "Mulai hari ini, dia sudah tidak kerja lagi di sini."


"Apa?!"


"Kenapa sayang?" pekik Luna.


Aluna terkejut, bahagia yang tadi terlihat kini berubah menjadi sedih dalam sekejap."


"Sudahlah, kamu tadi mau makan puding kan, makan aja puding yang kamu minta, dan Lupakan Tante Lasmi." Dion belum ingin menjelaskan


"Tidak mau, aku bantuin nikmati puding jelek buatan kamu ini." Aluna merajuk tanpa mau menyentuh puding buatan Dion yang sudah dibuat dengan susah payah dan penuh cinta. 


Dion yang memiliki cadangan kesabaran dia memakai ekstra kesabarannya itu untuk menaklukkan hati Luna yang sedang merajuk. 


"Sudahlah Sayang, kasian dia setiap pagi datang kemari, sudah saatnya dia mengambill libur."


Alona merasa suaminya tengah berbohong, dia tadi sempat mendengar sama suara Lasmi di dapur ini. 


"Ayo makan, Sayang. Lihatlah aku sudah berhasil membuat apapun yang kamu minta." Dion membujuk Luna. 


Dengan wajah suram Luna membuka mulutnya, Dion memasukkan sepotong puding.


"Aaa! Sayang kenapa puding ini hambar," teriak Luna.


"benarkah?" Dion mencoba merasakan jajanan buatannya.


Dion mengambil satu sendok puding dan benar, tak ada tanda tanda butiran gula


"Maaf." Dion menatap Aluna dengan rasa bersalah.


" Tidak apa apa, biarlah aku memakannya." Aluna merebut sendok dari tangan Dion, memakan puding dengan lahap. Dion juga heran, bagaimana istrinya bisa suka.

__ADS_1


__ADS_2