
"Kau tahu sesuatu! Katakan!" Adrian mencengkram kedua bahu Angel dan menatapnya garang.
"Apa maksudmu Rian-Sayang?" Monster wanita itu pura-pura lugu. Menatap tangan Adrian yang mengguncang tubuhnya bergantian. "Kau kasar sekali sayang. Ada apa ini?"
Angel menepis kedua tangan Adrian. Wanita setengah bule itu bersandar di meja menghadap Adrian yang duduk di kursi malas yang ada di kamarnya..
"Apa kurang ku selama ini padamu Rian? Aku sangat mencintaimu, aku selama ini sudah banyak membantu usahamu yang hampir bangkrut, kau tak boleh lupa itu. Apa kau tega menyakiti wanita yang sudah berkorban banyak padamu?
"Papi sangat senang mendengar acara tunangan kita akan segera dilaksanakan, sebagai hadiahnya dia akan memberi banyak kucuran dana pada Alexa Fashion. Dan kau akan sangat diuntungkan. Sebentar lagi King fashion akan kalah, kau adalah yang terhebat, dan Kakek akan mempercayakan perusahaan besar hanya untukmu seorang, tanpa ragu lagi kau pemilik satu satunya." Angel menjelajahi wajah tampan Adrian dengan jari lentiknya.
Bisnis, bisnis dan bisnis. Baru hari ini Adrian malas membicarakan bisnis. Adrian ingin Aluna memasak gurame bakar dan menyiapkan kopi hangat buatannya. Bukan bisnis yang membuat kepala ingin pecah. 'Aluna … Aluna … dimana dia kenapa kau pergi disaat aku ingin kau ada disisiku,' batin Adrian sambil menarik nafas panjang.
"Aku ingin mencoba masakanmu, bisakah kau memasak untukku?" Adrian meraih jemari Angeline agar berhenti menggelitik.
"Woow, no! Itu pekerjaan babu, Aluna mungkin bisa memasak tapi Angeline dia nona sunderson."
"Ayolah, kau calon ibu dari anak anakku, kau harus memasak juga untukku."
"Okey okey, aku akan memasak untukmu, tapi janji tunggu disini, duduk yang manis." Angel membungkukkan badannya mencium kening Adrian yang duduk di depannya, Adrian dengan sigap mengecup bibir Angeline lalu memeluk tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di leher wanita itu. Tapi kenapa yang hadir justru bayangan Aluna saat memakai gaun merah dan tersenyum memamerkan lesung di pipinya.
"Aluna!" Adrian langsung mendorong tubuh Angel.
Wanita itu terkejut dan matanya membulat sempurna. "Luna … kenapa kau menyebut gadis sialan itu? Dia kekasih Frengky, kau menyukai gadis kampung itu."
"Sorry, maksudku kamu bisa belajar memasak pada Imah seperti Aluna." Adrian berdalih.
"Oke, itu sangat mudah bagi Angel. Bahkan aku bisa masak yang tak bisa dilakukan oleh gadis kampung itu." Angel berbicara dengan angkuh, lalu segera turun ke dapur.
Sepanjang menuruni satu persatu anak tangga, Angeline terus mengutuk Aluna yang sudah matipun masih terus membayangi hidup Adrian.
Gara gara gadis pemilik lesung pipi itu, Adrian meminta di buatkan makanan olehnya. Padahal memasak adalah hal yang paling dibenci, kenapa harus repot masak jika papi bisa menggaji banyak asisten di rumahnya.
"Imah! Imah!' panggil Angeline.
" iya Nona." Imah mendekat sambil menunduk pada calon nona berkuasa itu. "katakan Nona apa yang anda butuhkan biar Imah siapkan?"
"Cepat kamu masak apa saja yang paling enak, dan buruan!" Angel meminta Imah memasak menu kesukaan Adrian yang biasa Aluna masak.
"Imah, kamu masaknya harus lebih enak dan spesial untuk hari ini, jangan sampai kecewakan aku, karena pekerjaan kamu akan jadi taruhannya.
"Maksud Nona." Imah mendengar kata-kata Angel bernada ancaman. Imah jadi ketakutan dia terpaksa segera mengeluarkan bahan bahan untuk dimasak dari dalam kulkas.
"jika kau sayang pekerjaan menjadi butler disini, ayo masak yang enak dan jangan bilang Adrian kalau kamu yang memasak, okey?" Angeline terus saja membuat Imah dalam tekanan.
Imah hanya bisa menurut, dengan keahliannya dia segera menyulap gurame basah menjadi gurame bakar, tak lama lagi sambal dan lalapan juga akan selesai.
Angel menatap terus menatap Imah masak. takut butler itu berkhianat dengan memasak asal-asalan, sedangkan hari ini reputasinya di depan Adrian dan keluarga sedang dipertaruhkan.
Angel duduk di sebuah kursi yang ada di dapur dan membuat kaki kirinyanya bertumpu pada kaki kanan, dia tersenyum puas. Imah menyelesaikan pekerjaan dengan bagus dan sempurna.
__ADS_1
"Good job, Imah. aku suka sekali cara kerjamu."
"Terima kasih Nona."
"Ingat apa yang aku katakan?"
"Ingat Nona."
"Apa?" tanya Angel mendikte? "Katakan? aku ingin dengar?"
"Jika Tuan Adrian yang bertanya, aku harus mengatakan kalau Nona yang masak semua ini."
"Good, kamu cerdas Imah."
Angeline segera membawa masakan ke ruang makan. Adrian, Chela serta Selena segera berkumpul ingin merasakan masakan calon nona di rumahnya.
Karena semua yang terhidang masakan Imah, Angeline menuai pujian bertubi tubi dari Adrian dan Selena serta Chela.
"Angeline memang menantu dengan paket lengkap dan istimewa." puji Selena sambil melirik Adrian yang menyantap lahap daging gurame.
"Adrian lekas nikahi Angeline, mama sudah nggak sabar menjadikan menantu, wanita pilihanmu adalah gadis istimewa," ujar Selena lagi, sambil menggenggam jemari Angeline yang bahagia karena mendapat pujian dari seluruh keluarga.
****
Dikediaman Aluna yang baru.
Tok! tok!
"Mas ganteng siapa sih Bi?"
"Tadi, yang di rumah sakit."
"Oh Pak Dion maksudnya?"
"Iya, bibi suka sekali dengan dia, andaikan bibi masih muda, akan aku kejar Mas Dion sampai ke ujung dunia." Bibi berbicara dengan wajah lucu dan memperagakan dengan tangannya.
Aluna tertawa melihat tingkah lucu Bibi.
Aluna dan bibi segera keluar. Tidak salah lagi yang datang adalah Dion ditemani oleh Beni. Ajudan itu memilih menunggu di teras saja, beni tahu kalau ruang tamu Aluna sangat sempit.
"Pak Dion kenapa kesini?" Aluna sangat malu ketahuan belum belum mandi, dia hanya memakai celemek dan daster motif bunga.
Dion menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu, menatap wajah polos Aluna yang terlihat natural. Bahkan terlihat lucu memakai daster tanpa lengan.
"Disuruh berdiri aja nie? Nggak disuruh masuk?
"Eh, maaf, Pak Dion silahkan masuk." Aluna memberi Dion jalan, pintu masuk memang sempit harus bergantian.
Aluna dan Dion beriringan masuk mereka duduk di sofa sederhana Aluna menawari minuman "es teh, atau jeruk"
__ADS_1
"Adanya apa?" Tanya Dion.
"Baru ada teh."
"Lalu jeruknya?"
"Belum beli, tapi kalau Pak Dion mau aku akan langsung beli." Aluna tersenyum ketahuan mengerjai Dion.
"Nakalnya, aku jadi ingin segera meminangmu Luna."
"Aku masih istri sepupu anda. Anda akan dicap menjadi pebinor, Tuan," ujar Aluna.
"Tak masalah, aku mau jadi pebinor."
Dion yang terbiasa tinggal di ruang ber AC rupanya baru duduk sebentar sudah kepanasan. Titik-titik keringat bermunculan dari keningnya.
Luna yang membawa es teh dari dalam segera menyuguhkan pada lelaki yang tengah menatapnya dengan intens
"Pak Dion pasti kepanasan? Luna bilang apa? Jangan kesini. Bapak sih bandel."
"Maaf ya Lun, aku memang terbiasa di ruang ber AC, jadi gini kalau di ruang yang panas." Dion membuka dua kancing hemnya, pemilik dada bidang sedikit bulu terpampang nyata di depan Aluna.
"Maaf pak." Aluna kembali duduk di sebelah Dion, tapi kali ini dia sedikit gugup. Dada bidang itu membuat otaknya menjadi berkelana.
"Jangan terlalu sering minta maaf, kamu nggak pernah salah dimataku."
"Sekarang ganti baju, kita akan jalan-jalan. Beli perabotan dapur dan baju untukmu, semua baju lama milikmu sudah habis terbakar kan?"
"Tapi Luna …."
"Tidak boleh menolak." Dion terlihat memaksa.
"Kalau menolak?"
"Aku akan mengambil ciuman pertamamu"
"Pak Dion, main cium aja."
"Makanya lekas mandi, kamu bau."
"Biarin bau, siapa suruh kesini?"
"Bercanda, kamu masih wangi kok, aku sekarang yang bau bermandikan keringat seperti ini. Tolong sedikit cepat ya?"
"Baiklah,"Aluna berdiri, Dion sengaja menarik lengan Aluna, membuat gadis itu terjatuh di pangkuannya.
Dion dan Aluna saling pandang. Aluna kaget dengan Dion yang suka sekali bersikap tak terduga dan sekarang sedikit agresif.
"Pak, lepaskan saya."
__ADS_1
"Sebentar lagi, aku suka menatap wajah cantik ini." Dion terpukau dengan kecantikan Aluna tanpa baca mata. "Sungguh kau benar-benar cantik."
"Pak Dion, aku harus mandi." Aluna tersipu, pipinya memerah.