
"Baiklah Sayang, terimakasih pagi ini aku sangat bahagia." Adrian tersenyum manis pada istrinya sambil mengancingkan lengan kemejanya.
Nabila mengeringkan rambutnya yang basah sambil menyisir di depan cermin. Tubuh keduanya kini sama sama segar dan siap kembali bekerja.
Pelayanan Nabila pagi ini mood booster bagi Adrian, semangat kerjanya menjadi berlipat ganda.
Keberadaan Nabila mampu menutupi rasa sakitnya kehilangan Aluna, meski perlahan. Walau pada dasarnya Aluna tak akan tergantikan di hatinya. Adrian tak akan melakukan kesalahan yang sama dengan menyia-nyiakan wanita yang menyayanginya.
"Sayang aku kerja lagi ya," pamit Adrian pada Nabila setelah kembali rapi dan tubuhnya menjadi lebih fresh.
Nabila mengangguk, dia juga bersiap menuju ruangan Luna yang hari ini sudah siap pulang.
Setelah suaminya menapakkan kaki meninggalkan dirinya, Nabila memperhatikan punggung lebar suaminya.
"Sayang hati-hati!" Lambaikan tangan dan senyum lebar Nabila mengiringi langkah Adrian. Berusaha menghibur suaminya yang sedang kerja keras, meski hasil kerja kerasnya belum seberapa.
"Siip!" Adrian menoleh menunjukkan jempolnya.
Dion memperhatikan dua pasangan yang baru keluar ruangan, tentunya dengan hati yang ikut bahagia.
'Adrian akhirnya kamu bisa move-on dari istriku. Maafkan aku mengambil milikmu, aku mencintainya, dan aku berjanji akan bahagiakan Luna dengan caraku yang mungkin tiada pernah dia sangka. Aku selalu memiliki rencana yang indah buatnya. Dan aku berharap kau juga sudah benar-benar jatuh cinta dengan Nabila. Dan semoga kau segera diberi momongan,' kata Dion dalam hati sambil menatap sepupunya dari arah yang tak terlihat oleh mereka berdua. Dion sadar kalau dia baru saja membuat pasangan baru itu terganggu dengan kedatangannya tadi. Rambut mereka berdua yang basah adalah jawaban semuanya.
'Sabar Dion. Puasamu masih lama, kamu harus bisa menahan diri dan tidak membuat Luna sedih.' Dion pergi dari tangga, tempat sejak tadi berdiri dan menemui anak dan istrinya.
Rupanya baby twins sudah bangun dan sudah mandi, keduanya terlihat lucu dan menggemaskan.
Dion menggendong Awan dan Mama menggendong Embun. Kedua bayi tersebut begitu nyaman dalam dekapan keluarganya.
"Sayang aku sengaja memberi nama anak kita dengan Awan Daniel Sanderson dan Embun Alea Sanderson , karena keduanya sejatinya sama-sama sejuk, Awan dan Embun. Semoga dengan kehadiran Embun dan Awan kehidupan rumah tangga kita akan sesejuk air hujan."
"Iya, nggak apa apa. Tapi jika di padu dengan nama Sanderson jadi lucu," ujar Aluna.
"Awan Daniel Sanderson dan Embun Alea Sanderson hehehehe." Dion menggabungkan nama bayinya dengan nama marga dari sang Kakek David yang orang bule.
Saat sedang bahagia menimang buah hati mereka Nabila darang dengan kondisinya segar bugar.
"Ehm, siang-siang Bu Dokter basah basah, apa nggak takut meriang."
__ADS_1
Nabila hanya tersenyum. "Ehm Kak Dion ada aja yang di bahas."
"Ehm, maaf Na, tadi aku ganggu." kata Dion lagi.
"Ganggu apa sih Kak." Dikerjai terus oleh Dion Nabila jadi malu, rona merah dipipinya semakin terlihat, sedangkan Aluna diam-diam menangkap nalar pembicaraan Dion dan Nabila. Aluna nyaris tak percaya mereka bisa bisanya melakukan di ruang Nabila yang tentunya dengan jam istirahat yang singkat.
Nabila sudah melepas selang infus di tangan Aluna, wanita itu juga melepas seragam pasien bersalin lalu turun berlahan. Dion segera membantunya meski di gendongan ada putranya.
Papa David meminta awan dari degondangan Dion, memberi saran supaya menggendong Luna sampai mobil, kasian baru saja melahirkan sudah dipakai untuk berjalan, Luna juga bandel sih, menolak memakai kursi roda.
Awan dan Embun ada di mobil satunya bersama Mama Melani dan Papa David, sedangkan Dion dan Aluna naik mobil yang biasa dikemudikan oleh Beni ditemani Susi.
Mobil melaju pelan dibelakang mobil yang dikemudikan papa langsung, tapi Aluna merasa Papa sudah salah jalan menuju penthouse miliknya, kalau langsung ke mansion juga bukan ini jalannya.
"Sayang, papa dan mama bawa Awan dan Embun kemana?"
"Kita ikuti aja, mungkin dia mau ajak Awan dan Embun ke suatu tempat."
"Mas, tapi dia masih bayi, dia butuh segera sampai rumah dan istirahat." Aluna makin panik dan memegangi bahu Dion dengan raut khawatir. Apalagi setelah mobil sudah melewati jalan ke Mension dan penthouse lumayan jauh.
Dion terkekeh. "Panik banget sih Honey. Masa iya ada nenek sama kakek menculik cucunya sendiri."
Aluna dan Dion sudah setengah jam dalam perjalanan, Aluna bahkan tidak tahu sekarang sudah ada dimana, yang dia lihat hanya kawasan perumahan elit yang penghuninya sudah pasti konglomerat dan orang-orang kaya.
"Mas, ini aku nggak ngerti deh maksud kalian semua, padahal aku baru pulang tapi kenapa kalian bawa aku berputar putar jauh begini."
"Sebentar lagi kita akan sampe," ucap Dion dengan sabar meski Aluna berbicara ketus sekalipun.
Tiba-tiba mobil yang di kemudikan oleh Papa David masuk pada sebuah rumah mewah yang gerbangnya sudah terbuka lebar, ada security di ujung gerbang yang mengangguk hormat.
"Mas, ini rumah siapa?" Aluna tertegun sejenak melihat rumah mewah di depannya.
"Masuk yuk, apa mau digendong lagi?" Tawar Dion.
Aluna menggeleng, yang artinya tak perlu. Dia bersikap dingin karena lelah.
Mama Melani dan David menggendong Awan dan Embun, masuk rumah dengan gaya santai, sampai di ruang tamu dia segera menidurkan kedua bayinya ke dalam box yang dihias begitu indah, box bayi pink untuk Embun dan biru untuk Awan.
__ADS_1
Aluna dan Dion menyusul mama, Aluna berjalan sangat pelan dibantu Dion.
Deg! jantung Aluna berdetak sangat cepat saat dia membaca sebuah tulisan yang dihias begitu rapi dan indah di dinding. "Selamat datang, keluarga kecilku."
"Sayang rumah siapa ini?" Aluna bertanya untuk memastikan supaya dia tidak salah berprasangka.
"Rumah siapa ya?" Bagaimana kalau ini rumah kita, kamu suka nggak?"
"Kira-kira ini rumah siapa honey? Ayo tebak," tanya Dion balik bertanya.
"Yang apakah ini rumah kita?" Aluna tak percaya bangunan kokoh yang begitu luas dengan jumlah lantai sebanyak tiga itu milik suaminya. Jika iya kenapa dia tidak tahu apa-apa selama ini. Setahu Luna suaminya hanya memiliki penthouse yang selama ini dia tinggali berdua.
"Iya ini rumah kita, sejak pertama kita menikah aku meminta Beni untuk mempekerjakan para pekerja bangunan handal agar membangun rumah ini tanpa kurang apapun, dan proses pembuatannya tak pernah berhenti hingga bulan lalu. Nyaris setahun."
"Sayang, dan kau merahasiakan semua ini dariku? Kau sangat hebat bersandiwara." Aluna memukul dada suaminya dan Dion memeluknya dengan erat.
"Maaf, aku hanya ingin memberi kejutan kecil untukmu sayang, ini semua tidak ada apa apanya dibandingkan pengorbananmu menjadi ibu dari anak-anakku yang bertaruh nyawa."
Dion dan Luna masih berpelukan, sambil menatap Awan dan Embun yang tenang di box masing-masing.
Sepertinya kejutan belum habis, kini Mama Melani dan Papa Davit serta keluarga lainnya membawa kue dari dalam. Meski ukurannya tidak besar tapi bentuk dan warnanya begitu cantik, pasti rasanya juga enak.
Musik nuansa bahagia mulai diputar, Mama mendekati Aluna dan meminta untuk meniup lilin yang ada di tengah kue. Papa juga meminta pada Dion melakukan hal yang sama seperti Aluna.
"Luna, maaf surprize dari Mama mungkin tak semewah Dion yang memberikan rumah besar ini atas nama kamu, tapi mama memberikannya penuh cinta." kata Melani lalu memeluk menantu tersayangnya. "Mama berterima kasih kamu meninggalkan karier menjadi model dan memilih melahirkan cucu mama yang sehat tanpa kurang satu apapun."
"Ma, tidak perlu berterima kasih, itu sudah kodrat Aluna sebagai istri," kata Aluna dengan airmata berkaca. Rasanya mertua yang dia miliki adalah sosok ibu kandung yang dia impikan selama ini.
Mama Melani meminta Mbak Susy menyerahkan pisau kecil pada Aluna dan meminta Aluna memotong kuenya sendiri.
Aluna menerima pisau dari Mbak Susi asisten barunya. Aluna memotong dengan hati-hati dan saat memotong Aluna merasakan pisaunya menembus benda keras, Aluna mencongkel sedikit ternyata benda di dalam kue itu berbentuk kotak yamg lumayan besar, Aluna mengambilnya dengan penuh tanda tanya dibenaknya.
"Mam, apa ini?"
"Buka saja sayang, kamu akan tahu isinya."
Jessica dan Nenek pasti sudah tahu, sejak tadi dia ikut tak sabar menanti Aluna membuka hadiahnya.
__ADS_1