
"Aku hamil!" Angeline melihat hasil test yang dilakukan sendiri. Dia terkejut, kenapa dia bisa mengandung, harusnya dia tidak hamil, bukankah dia sudah mengkonsumsi pil penunda kehamilan.
Dokter Hendra mengetuk dari Luar, Dia merasa Angeline terlalu lama di dalam kamar kalau hanya sekedar menampung urine dan mencelupkan alat tes kehamilan.
Angeline duduk sambil tangannya gemetar, bagaimana kalau Adrian tahu, bagaimana kalau orangtuanya juga tahu.
"Bagaimana hasilnya?" Lelaki berwajah ke bule bulean mendekati Angeline ketika dia membuka matanya.
"Lakukan sesuatu Hendra, kau bisa menolongku."
Hendra mengangguk." Bisa."
"Aku ingin kau menggugurkan anak ini." Angeline berkata tanpa ragu-ragu lagi.
Hendra terkejut dengan permintaan Angeline, dia tidak menyangka wanita di depannya telah gila. Senang berbuat, tapi tak berani bertanggung jawab. "Kau kenapa jadi wanita bodoh? Kenapa tidak kau katakan saja kalau dia anak calon suamimu."
Angeline menggeleng. Lalu berjalan di kursi tamu, disana akan lebih nyaman berbicara empat mata dengan Hendra.
Hendra ikut menyusul duduk di sebelahnya.
"Aku dokter obgin di kota ini, aku bertugas menyelamatkan nyawa bayi. Jika kamu ingin aborsi aku tidak bisa membantu." Hendra menolak, meski dia menyukai Angeline, tapi tak mungkin mengikuti semua keinginannya yang menyimpang.
"Aku dan Adrian tidak pernah tidur bersama. Sama saja aku menggali kubur jika aku mengatakan kebenaran ini."
Aku akan membantumu, membuat bayi dalam kandungan ini menjadi anak Adrian, yang perlu kamu lakukan hanyalah habiskan waktu bersamanya, kamu pasti tau kan maksudku? Buat dia tidak ingat saat kalian sedang berdua. Dalam kondisi mabuk misalnya."
Angeline terlihat berfikir, setelah menimbang nimbang usul dari sahabatnya gadis itu mengangguk. "Kau benar Hendra. Beruntung sekali aku punya sahabat sepertimu." Senyum mengembang di bibir Angeline
Angeline bahagia mendapat jalan keluar. Dia langsung melesatkan mobilnya menuju kediaman Adrian. Kabar Adrian kembali sudah diketahui oleh Angel karena wanita itu sempat menanyakan pada tunangannya.
***
Aluna dan Adrian sudah kembali ke kota. Adrian terlihat sangat bahagia karena ada Luna di dekatnya. Siapa sangka hati Adrian bisa luluh oleh wanita yang dulu sangat begitu dia benci
"Pak Rian, Saya tinggal di kontrakan saja untuk sementara." Aluna memeluk tas di pangkuannya begitu akan melewati gang masuk di kontrakan. Dia sudah siap siap untuk turun.
"Iya, nggak apa apa, jaga diri baik-baik, ya? Aku akan buat Angeline menerima dirimu dan aku akan sering datang kesini."
__ADS_1
"Kira kira berapa hari aku kesini?"
"Seminggu sekali aja, karena hari biasa aku bekerja."
"Bekerja? Jadi apa?" Adrian memiringkan tubuhnya biar lebih leluasa menatap Aluna.
"Rahasia, yang jelas aku bukan OG Lagi."
Adrian mengusap kening Aluna yang terdapat bintik keringat di keningnya. "Seminggu sangat lama, aku akan sangat rindu."
"Anda harus setuju."
Adrian penurut saja, untuk saat ini kebahagiaan Aluna adalah prioritasnya, karena Luna juga mau mengerti semua keinginannya. Adrian mengangguk. Nanti dia akan sering datang dengan berbagai alasan.
Saat di depan kontrakan, Aluna segera turun. Dia tersenyum pada Adrian, dan juga Argo. Bagi Bodyguard itu senyum Aluna artinya sangat besar yaitu 'jalankan misi jangan sampai gagal.'
"Minggu aku akan kesini," kata Adrian yang ikut turun. Bersama Aluna beberapa hari rasanya belum puas. Adrian memeluk Aluna sebentar dan mengecup keningnya.
Aluna memejamkan mata saat merasakan kecupan hangat dari bibir suami. Kecupan ini mungkin yang terakhir, jika surat perceraian itu tak ada hambatan ditandatangani, Adrian tak akan memiliki hak lagi atas dirinya.
"Selamat malam." Aluna berusaha bersikap senormal mungkin.
Rupanya hujan lebat sebentar lagi akan tiba. Sedangkan ponsel Adrian terus saja bergetar di saku, andaikan bersuara, pasti tak berhenti untuk berbunyi.
Adrian buru-buru masuk mobil. Setelah Sonia menggandeng Aluna masuk ke dalam.
Aluna lebih banyak diam, semenjak pulang dia malas berbicara dan malas melakukan apapun. Saat ini saja dia hanya duduk di depan TV yang selebar layar bioskop, sambil dua tangannya menutupi wajahnya.
Bibi Sofia yang sejak tadi mengamati gerak gerik Aluna ikut sedih.
"Nona, teh hangat, biar nona tidak kedinginan, jangan lupa mandi sebelum tidur, kalau kemalaman nanti reumatik."Celoteh bibi tiba-tiba cerewet.
"Ah, bibi. Maaf Aluna terlalu banyak pikiran." Aluna membuka tangannya lalu mengusap wajahnya.
"Nona, apa tuan Adrian menyakiti. Nona?" Bibi duduk di karpet sambil melihat perubahan sikap Aluna.
"Tidak, justru beberapa hari ini dia sangat baik."
__ADS_1
"Apa Nona goyah? Pilih antara tuan Dion dan Tuan Adrian?"
Aluna tersenyum dalam kepahitan. "Kenapa jadi seperti ini Bi." Netra Aluna mulai berkaca-kaca.
"Andaikan Adrian puas hanya memiliki istri aku saja, aku tak akan pernah pergi darinya."
"Anda mencintai Tuan Adrian?"
"Entahlah Bi, aku hanya tak ingin membuat Pak Dion dan Pak Adrian kecewa dengan keputusanku. Tapi itu tak mungkin kan, Bi?"
"Tidak bisa Nona, anda harus memilih satu diantara mereka berdua." Bibi ikut sedih melihat Aluna dalam dilema.
Bibi kemudian bangkit dari duduknya di karpet, dia mendekati Aluna lalu duduk disebelahnya. Berusaha menenangkan layaknya ibu.
"Tuan Dion, atau tuan Adrian putuskan sekarang yang anda pilih? Mereka pasti punya kekurangan dan kelebihan masing masing. Mana yang lebih membuat hati anda tentram dan nyaman?"
"Entahlah Bi, aku butuh waktu." Aluna mulai menyeruput teh manis.
Bibi memainkan jemarinya, ingin berbicara sesuatu takut Aluna masih lelah karena baru pulang dalam perjalanan tadi.
"Katakan Bi, apa yang terjadi selama Luna pergi?"
"Pak Dion, dia berulang kali datang kemari, memastikan anda sudah kembali apa belum. Tapi hari ini dia tak datang, hanya telepon saja, suaranya terdengar serak, apa dia sakit?"
"Sakit kok bisa?" Aluna langsung meletakkan teh kembali di atas lepek.
"Soalnya semalam aku melihat dia datang sangat pucat, tubuhnya berantakan, tidak rapi lagi seperti saat apel menemui Nona di hari biasa."
Aluna mulai mendengarkan dengan serius, dia bahkan menatap Bibi tanpa berkedip.
"Tuan Dion, takut kehilangan anda Nona, dia menurut saja saat anda melarang menghubunginya, tapi perasaan khawatir membuat dia tak tenang. Jessica bilang, Dia tak makan ataupun minum. Sampai-sampai Nyonya Melani memanggil sahabat Tuan Dion."
"Iya aku tahu, pasti Clara, jadi Clara yang menemani Pak Dion."
Mengetahui Clara beberapa hari bersama Dion, Aluna senang, ada teman yang bisa menemaninya. Gadis itu juga baik. Aluna pernah bertemu saat memeriksakan Gemoy, Clara terlihat menaruh hati dengan Dion.
Setelah semua informasi didapat oleh Aluna, barulah gadis itu beranjak dari sofa dan mulai berendam dengan air hangat di bathup.
__ADS_1
Esok pagi dia akan kembali ke kantor dan bertemu dengan Dion. Aluna sengaja merahasiakan kepulangannya dari Dion supaya lelaki itu akan terbiasa tanpanya, dan menerima Clara. Bagi Luna Clara gadis sempurna. Sangat pantas ada disisi Dion. Bukan dirinya yang seorang janda.