Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 220. Tipu muslihat.


__ADS_3

Ikrar janji suci pernikahan berkumandang di mansion Adrian. Jayden mengucap ijab lalu Adrian segera menjawabnya dengan bacaan qobul.


Ketika bacaan ijab berlangsung, suasana mendadak menjadi hening, hanya suara Adrian dan Jayden yang terdengar. 


Aluna menangkupkan kedua tangannya di wajah, saat bacaan ijab qobul berlangsung.  berdoa dalam hati semoga kali ini mantan suaminya mendapatkan pasangan yang tepat. 


Senyum tiada henti terukir di bibir Nabila, cintanya yang besar pada Adrian  membuatnya bersedia mengarungi bahtera cinta baik dalam suka maupun duka. 


Setelah semua selesai, Aluna kembali memeluk Nabila. "Akhirnya kalian menikah, Sayang. Semoga kalian bahagia selamanya." 


Setelah pelukan Aluna terlepas, Nabila menoleh ke arah suaminya, melingkarkan tangannya di pinggang suami. 


"Karena prosesi pernikahan sudah selesai, aku harus cepat pulang. Kita nggak mungkin lebih lama lagi disini, " kata Aluna sambil mengerling. 


Adrian dan Nabila saling pandang dan tersenyum. Tatapan mata Nabila mengisyaratkan kalau dia sudah amat merindukan hari ini tiba. 


Dion dan Aluna segera pamit ke penthouse, sedangkan keluarga Aleksander dan Sanderson termasuk Jessica dan Chela masih berkumpul di ruang tamu.


 Nabila dan Adrian sengaja masuk kamar lebih dulu, setelah tamu berangsur pulang dan suasana pelaminan menjadi sepi.


"Na, mandi dulu lalu istirahat mungkin kamu hari ini lelah, tidurlah setelah itu, " kata Adrian sambil melepaskan tukedo dan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Kata-kata Adrian baru saja tentu membuat Nabila sangat kecewa.


"Baiklah." Nabila akhirnya memilih duduk di depan meja rias, melepas hiasan di kepala satu persatu dan kuncup bunga melati yang wangi. 


"Ah," pekik Nabila kesulitan membuka hiasan kepala. Rupanya rambutnya  tersangkut. 


Adrian yang mendengar Nabila memekik, segera membantu Nabila melepas hiasan kepala dan juga gaun pengantin. 


Adrian otomatis bisa melihat pundak dan punggung seputih susu yang ada di depannya. Adrian susah payah meneguk salivanya. Nabila tersenyum dalam hati, ternyata pertahanan Adrian tak sekuat batu karang. 


"Sudah pergilah, terimakasih sudah membantu," Nabila mengizinkan Adrian pergi setelah lelaki itu selesai membantu. Karena sejak tadi dia sudah berniat untuk pergi.


Adrian pergi keluar kamar dengan aura gelisah. Malam ini adalah malam yang tentunya dinanti oleh Nabila. Tapi Adrian antara siap dan tidak untuk melaksanakannya. 


Adrian memilih untuk menyendiri di ruang kerjanya yang tentu tidak diketahui oleh keluarga manapun. 


Nabila berendam di bathup untuk menenangkan diri, dia berharap Adrian tak membuatnya kecewa. Nabila sangat mencintai Adrian, gadis itu tak mau dia kecewa di malam pertamanya. 

__ADS_1


Nabila sengaja mandi dengan sangat lama, dia menghubungi Aluna dan mengatakan semuanya perihal sikap Adrian. 


"Hallo Luna." 


"Halo, Nabila, kenapa kamu malah menelpon ku? Bukannya seharusnya kamu? …."


"Luna. Adrian meninggalkan aku dimalam pertama kita." Kata Nabila yang nyaris menangis, suaranya sudah terdengar parau.


"Nabila, sabarlah, tunggu sebentar lagi, mungkin Adrian masih menyiapkan semuanya."


"Mana mungkin, Na. Dia pergi entah kemana dan memintaku untuk tidur, aku ditinggalkan sendiri."


"Na, baiklah, jika Adrian tidak datang juga hingga tengah malam, kamu lakukan saja seperti apa yang aku katakan, Semoga rencana ini akan berhasil."


Aluna  panjang lebar mengatakan sebuah trik yang mungkin bisa dibilang konyol pada Nabila. Nabila setia mendengar tanpa ada sepatah katapun yang terlewat dari indra pendengarannya. 


"Terimakasih sarannya Lun."


"Coba saja semoga berhasil, meski aku sendiri belum pernah mencobanya."


Nabila segera menyelesaikan mandinya. Dia lalu ganti dengan baju tidur yang lumayan tipis dan seksi. Nabila berhias secantik mungkin dan se wangi mungkin. 


Adrian yang sedang menyalakan sebatang rokok, mencoba menghirupnya dalam, mencoba mencari sebuah rasa tenang yang mungkin akan ditemukan dalam sebatang rokok.


Tring!


Ponsel Adrian berdering. 


Sebatang rokok dibuangnya, lalu merogoh benda pipih dalam saku.


Diusap layar, dan dibukanya notif pesan dari aplikasi hijau. 


"Sepertinya aku masuk angin. Perutku terasa kembung, aku lupa membawa kotak obat darurat."


"Ada di lemari besar, cari saja "


"Aku sedang mencari, tapi tidak ada, tolong bantu aku."


"Baiklah, tunggu sebentar."

__ADS_1


Adrian beranjak dari ruang kerja lalu menuju kamar pengantin. Adrian melihat Nabila sedang sibuk membuka-buka laci. Mendengar langkah kaki Adrian. Nabila segera menarik sebuah kursi dan naik ke atasnya. 


"Biar aku bantu," kata Adrian dengan sigap memegangi kursi yang dinaiki Nabila. 


Nabila pura-pura terkejut dan ingin jatuh, Dia segera memeluk Adrian. Dan Adrian sigap menangkap tubuh Nabila yang nyaris terjatuh ke dalam dekapannya. 


Adrian merasa tubuh Nabila begitu wangi dan halus, aroma tubuhnya juga sangat harum, belum lagi makeup yang dipakai menambah kecantikan di wajahnya. 


Adrian dan Nabila saling pandang. Nabila tersenyum lalu mengedipkan matanya pelan. Adrian terkesima. 


"Sayang, tubuhku gemetar, sepertinya angin yang masuk ke dalam tubuhku semakin banyak." 


"Nabila hendak melepaskan diri dari dekapan Adrian."Tapi lengan kokohnya berhasil menahan tubuh Nabila. 


"Diamlah seperti ini, aku akan membawamu ke ranjang." Adrian membopong tubuh Nabila dan merebahkan perlahan di atas ranjang. 


Adrian mengelus rambut Nabila perlahan. Lalu mengecup puncak kepala wanita yang baru beberapa jam menjadi istri sahnya itu. 


"Tubuhnya dingin, masuk anginnya lumayan parah." Adrian mulai iba dengan istrinya yang sudah cantik tapi terlihat pucat, karena Nabila sengaja tak memakai lipstik. 


Adrian mengambil kotak obat dan membawa kepada Nabila. " Mana yang harus aku kasih minyak angin."


"Tolong balurkan saja ke seluruh tubuh. Biar dinginnya berubah menjadi hangat."


Pinta Nabila dengan bibir mulai bergetar.


Adrian menurut dia membuka tutup botol minyak hangat dan membalurkan pada perut Nabila dengan pelan dan berlahan.


Nabila memejamkan mata merasakan sentuhan Adrian begitu lembut dan diam-diam mampu membangkitkan sebuah rasa aneh dalam dirinya.


Nabila mulai menyukai usapan lembut di perutnya dan hal yang sama dirasakan Adrian, Adrian yang tadinya ingin menunda malam pertamanya dalam beberapa hari terpaksa harus terperdaya oleh tipu muslihat Nabila.


Adrian mulai ingin menyentuh bagian sensitif Nabila lainnya yang tentu sudah menegang lebih dulu.


"Emph," erang Nabila yang merasakan jemari Adrian begitu lembut menyapu kulitnya. Syaraf-syaraf di tubuhnya mulai bereaksi menanggapi impuls positif.


Adrian menatap Nabila dengan tatapan yang berbeda, rencana Awal terpaksa harus berubah. Adrian harus benar-benar bisa memaksa hati untuk melupakan Luna untuk selamanya.


Luna sudah bahagia. Mungkin ini sudah datang saatnya aku benar benar berhenti berharap, Nabila yang tadinya hanya aku jadikan sebagai pelarian untuk membuat Dion agar tak menyakiti Luna. Saat ini aku benar- benar sudah terjebak oleh kesabaran dan kekuatan cintanya yang begitu besar.

__ADS_1


Adrian mengecup lembut bibir Nabila. Kecupan yang tadinya ringan, lama-lama berubah menjadi dalam dan menuntut.


__ADS_2