Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 253. Menuju puncak gunung


__ADS_3

Jayden menghentikan mobilnya di depan gerbang. Security segera membuka gerbang sepanjang lima meter dan menutupnya setelah mobil Sang Bos masuk. 


Jayden bertanya pada security tentang kerja para dekorator "Apakah semua sudah clear?" 


"Sudah beres Tuan," jawab security sambil menatap tuannya dengan percaya diri. 


Security menyempatkan diri melihat wajah istri majikannya yang ada di dalam mobil. 


"Bagus. Kalian jangan menggangguku sebelum aku sendiri yang mencarimu. Aku tak mau ada yang mengganggu hari-hariku dengan istriku, kalian pasti paham?" 


"Mengerti Tuan," Security mengangguk. 


Jayden kembali masuk mobil,menatap sang istri sejenak lalu mengecup keningnya. Jayden ingin menjadi lelaki yang paling special untuk Jessica melebihi cinta kakaknya di hari ini dan seterusnya. 


Jayden sendiri tak percaya bagaimana bisa mencintai Jessica hingga sedalam lautan, padahal mengingat pertemuan mereka belum lama.


"Sayang kamu kelihatan lelah sekali." Jayden mengecup kening istrinya. Sebelum membopong tubuh yang selalu terlihat mungil dalam dekapannya itu, gaun putih dibiarkan menjuntai hingga menyapu lantai. Seakan dia sudah pasrah dengan nasibnya yang akan makin memprihatinkan setelah ini.


"Sayang, mulai sekarang kita akan tinggal disini, ini rumah kita." 


Jessica tidak menjawab, dia hanya mempererat pelukan ke tengkuk suami. Tak sedikitpun melepaskan pandangan dari wajah suami tampannya.


Dua asisten wanita membuka pintu, satu ke kanan dan satu ke kiri. Setelah melayangkan senyum, dia kembali menunduk. 


"Selamat datang Nona. Kami asisten tuan Jayden, kami akan siap melayani anda selama kami bekerja disini. 


Jessica mengangguk dalam dekapan Jayden, sambil tersenyum. "Terimakasih." 


"Sayang, dia dua asisten yang sudah lama bekerja, hanya saja waktu kamu aku bawa kesini setelah kecelakaan itu, dia sedang aku liburkan aku memanggilnya lagi untukmu.


"Aku suka dengan keduanya, Kak. Mereka kelihatan ramah," ujar Jessica terus terang dengan kesan pertamanya.


"Iya, Dia dulu selalu bisa melayani Nabila dengan baik."


"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan nona yang baik." Kata Jessica memberi tanggapan positif untuk dua asisten barunya. 


Dari sini Jessica tahu betapa besarnya cinta Jayden padanya. 


Sebaliknya, Jessica tak mau membuatnya kecewa. Apapun yang terjadi, malam ini dia akan dengan sukarela memberikan yang sudah menjadi haknya. 


Setelah melewati ruang tamu, Jessica dibuat terkejut dengan dekorasi ruang tengahnya hingga jalan menuju kamar. Ruangan ditata begitu indah dan ada beberapa ucapan selamat menempuh hidup baru yang diyakini itu dari sang asisten. 


Jessica semakin dibuat terkejut dengan dekorasi kamar dan luasnya. Dikamar itu terdapat meja rias bahkan sudah lengkap dengan makeup yang sesuai dengan merk yang dipakai sehari-hari. 


Aroma kamar sangat harum. Sepertinya harum alami itu dikeluarkan dari kelopak mawar yang terus melayang dari langit-langit kamar. 

__ADS_1


Lilin kecil ditata memanjang sepanjang pintu masuk hingga tepi ranjang. 


"Sayang, Aku berharap kamu akan nyaman tinggal disini," ucap Jayden yang masih membopong sang istri dengan hati berbunga-bunga. 


Tirai jendela besar terbuka otomatis, menampakkan jarak dekat yaitu taman di depan kamar dan jarak jauh menampakkan keindahan kota. 


Jayden menggendong Jessica di dekat jendela kaca. "Sayang lihatlah kedepan sebentar, aku ada kejutan untukmu."


"Kejutan apalagi? Seharian ini kau sudah memberiku penuh dengan kejutan, Kak,"  ungkap Jessica.


"Lihat saja kesana?" Jayden menunjuk sebuah titik yang agak jauh.


"Doooooor!"


Petasan meletus dengan serempak, nyaris tak ada jeda waktu sedikitpun. Bahkan cahaya petasan juga membentuk love di angkasa sana. Begitu indah dan istimewa.


Jessica memberi isyarat pada Jayden agar diturunkan. 


Jayden menurunkan tubuh istrinya. Kembali saling menatap dan tersenyum bahagia, bibir mereka berhenti bicara, namun hati tak henti mengucap cinta.  "Terimakasih Kakak. Untuk semuanya."


Jessica dan Jayden memangkas jarak diantara keduanya dengan saling memeluk. Jayden mendekatkan wajahnya hingga nyaris menyentuh wajah istri. 


Nafas hangatnya terasa menyapu pipi Jessica, perlahan Jessica memejamkan matanya. Membiarkan jayden memberi sentuhan lembut bibirnya di pipi. 


Tak lama bibir basah Jayden benar-benar menyentuh kening jessica. Lalu turun melewati antara dua mata hingga menyentuh bibir.


Ya, sebelum menikah mereka sering melakukannya. Namun hanya sebatas ciuman di bibir, namun ternyata mencium bibir wanita yang sama setelah menikah terasa lebih nikmat daripada waktu belum halal. 


"Ummpp." Jessica kehabisan nafas.


Jayden mengusap bibir basah istrinya, dan membalas mengecupnya sekilas. 


Tiba-tiba Jayden kembali mengangkat tubuh Jessica dan membawanya mendekati ranjang dan membaringkan di ranjang besarnya. 


"Kak, apa kau akan mengeksekusi malam ini juga?" Tanya Jessica dengan nafas naik turun. 


"Tidak ada pilihan lain, aku sudah sangat ingin merasakan penyatuan ini sayang."


"Aku takut Kak."


"Takut? Kenapa?"


"Pasti sakit sekali."


Jayden tersenyum, kembali mengecup puncak kepala istrinya. 

__ADS_1


"Aku akan pelan, pelan. Jika memang sangat sakit, aku akan menghentikannya."


"Baiklah, Kak." Jessica mengangguk. Senang dengan kesabaran Jayden. 


Belum lama ini Jessica pernah mendengar curhat sahabatnya sedang menangis di kamar pengantin, suaminya memeluk dengan erat lalu membujuk akan melakukan dengan sangat pelan. 


Hal itu semua tentu membuat Jessica takut, apalagi suaminya masih memiliki aroma keturunan bule. Yang kata orang bule memiliki senjata lebih menyeramkan 


Tegang banget sih, percaya padaku sayang rasanya tidak seburuk yang kau bayangkan, aku akan membuatmu sangat suka dengan milikku dan bakal meminta dan terus meminta lagi," canda Jayden.


"Ih, mesum!!" Jessica mencubit pinggang suaminya.


"Biarin, mesum sama istri tidak ada larangan kan."


Jayden kini kembali fokus pada tujuan awal. Jayden mulai menurunkan gaun pengantin hingga separuh dada. Leher putih bersih kini terekspose sepenuhnya. 


Jayden menciumi pangkal leher istrinya dan sekitar. Terasa sekali nafas Jayden semakin memanas, dan tak beraturan. Bahkan Jessica mampu mendengar jantung Jayden yang berdentum kencang bagaikan genderang.


Merasakan semuanya, Jessica memejamkan mata, tubuhnya bergetar hebat seperti tersengat aliran listrik. 


Lama kelamaan Jessica merasakan adanya gelombang besar yang mengendalikan tubuh dan pikirannya, lalu membawanya ke dalam arus deras dan membuatnya kehilangan akal sehat. 


Rasa yang sulit untuk diartikan itu semakin besar ketika Jayden menurunkan resleting gaun Jessica hingga sebatas perut. 


Dua bukit kencang sudah mencuat dengan ujung runcing menandakan Jessica sudah kehilangan akal normalnya. Ketakutan yang sempat dia rasakan tadi, kini memudar.


Jayden segera menyesap satu persatu bukit yang begitu indah menurutnya itu.


Jessica hanya bisa melenguh kencang karena tak kuasa menolak terjangan ombak cinta yang terus-menerus dan semakin ganas.


Laki laki itu makin kalap ketika menurunkan tangannya dan menyentuh inti Jessica yang basah. 


"Sayang kau basah." 


Jessica ingin sekali bersembunyi di lubang semut andaikan bisa. Tapi apalah daya dia sudah terperangkap, Jayden terlanjur tahu.


"Aku akan melakukannya sekarang, katakan padaku jika kau ingin mengakhiri permainan ini."


Jessica mengangguk. Jika di permainan awal saja tubuhnya seakan melayang-layang bagaikan di nirwana, apakah permainan ini akan semenyeramkan yang dibayangkan.


Jayden melepas jas hitam lalu kemejanya, tubuh atasnya kini sudah polos. Dia kemudian membimbing Jessica supaya tangannya menelusup ke bawah sana dan memegang tombak sakti yang sudah tak kalah tegangnya 


Jessica tersentak ketika tangannya menggenggam sesuatu yang liat dan besar. 


"Oh, No, aku pasti akan mati!" Batin Jessica dalam hati. Tubuhnya menegang kembali tapi ini karena takut. Jessica tak tahu bagaimana nasib selanjutnya, jika benda di genggamannya itu benar-benar akan mengobrak-abrik miliknya.

__ADS_1


 


__ADS_2