
Aluna segera mandi, Dion menunggu di luar sambil mengibaskan tangannya kepanasan. Lalu dia memiliki sebuah ide brilian.
"Ben sini!" Dion memanggil Ben yang asik di mobil sambil bermain game.
"Habis ngapain bos keringatnya sampai, jangan jangan …."
"Kamu mikir apa? Hah! Dasar otak mesum."
"Hehehehe, maaf habis seperti orang baru nganu," Beni cengar-cengir efek dari tontonan di laptopnya baru saja.
Terpaksa Dion menjitak kepala asisten tengilnya. "Nganu apa? Cepat ngomong aja kamu nggak usah berbelit."
"Nganu Bos, olahraga push'up maksud saya."
"Nggak lah, rumah Aluna sempit, nggak ada tempat khusus untuk olahraga push up, lagian kamu ada ada aja." Dion menggeleng kepala tak mengerti maksud dari sahabatnya, yang sekaligus menjadi asistennya itu . "Sekarang aku minta kamu sama Pak Adam beli AC, televisi dan lemari, dan kebutuhan yang berat berat lainnya. Aku balik semua harus sudah siap."
Tak lama setelah mereka ngobrol banyak, Aluna keluar dengan riasan sederhana dengan kaos putih dan celana jeans selutut, terlihat santai tapi pantas, bodi gitar Spanyol membuat semuanya jadi enak dipandang. Aluna sudah menanggalkan kebiasaan memakai kulot dan kaos kedodoran lagi, semua berkat Imah dan teman teman yang memberi dukungan dan rasa percaya diri. Rambut pirangnya di kuncir tinggi hingga menampakkan leher jenjang yang putih.
"Luna." Dion terkesima melihat Luna begitu cantik dan kulitnya bersinar. Mungkin karena dia habis mandi, pakaian seksi tidak perlu dia kenakan untuk terlihat cantik.
"Iya Pak?" Aluna sadar Dion menatapnya berlebihan.
"Mari kita berangkat, keburu malam," ajak Dion dibalas anggukan oleh Aluna.
Mereka berdua lalu meninggalkan halaman dan Beni pun ikut melongo melihat Luna yang makin cantik.
"Kok masih panggil Pak sih, aku kayak bapak-bapak jadinya," protes Dion sambil menempati kemudi, sedangkan Aluna ada disebelahnya.
"Aku terus panggil apa? Anda CEO sudah benar aku memanggil anda dengan 'Pak Dion."
"Kalau gitu panggil aku Pak Dion yang tampan."
"Memang tampan ya? Aluna menoleh ke arah Dion dan mengamati ukiran indah di sebelahnya. Lalu mereka berdua tertawa. Tawa Aluna untuk pertama kali setelah kejadian kebakaran itu.
Dion membantu Aluna memakaikan sealbelt. Aluna mendempetkan punggungnya dengan sandaran jok. Aluna menjaga tiap titik sensitifnya agar tak tersentuh oleh Dion.
Sampai di mall, Dion segera mencari parkiran yang masih kosong, lalu dia turun lebih dulu sebelum Aluna. Lelaki itu segera membukakan pintu untuk wanita yang di anggap kekasih hatinya itu, meski tanpa persetujuan Aluna.
__ADS_1
Luna dan Dion masuk ke dalam mall, Luna berjalan pelan membuat langkahnya tertinggal dengan Dion.
Dion berhenti dan menunggu. Tangannya terulur meminta jemari Aluna. Dion menggandeng gadis imut disebelahnya.
Sampai di dalam mall Dion segera mengambil troly belanja, dion mendorong troly sedangkan Aluna memilih baju yang sesuai dengan isi kantongnya.
"Itu sangat Bagus." Dion menunjuk baju yang menurutnya lagi trend tahun ini. Dan baju itu salah satu keluaran King Fashion.
"Tidak mau, itu terlalu bagus." Aluna melewati begitu saja.
"Pak Dion sepertinya kita salah masuk, ini baju pasti hanya untuk kalangan Artis dan model," eluh Aluna saat tak menemukan baju murah satupun. Saat menoleh ke troli tiba tiba Aluna melihat di troli sudah banyak baju yang disentuhnya tadi.
"Pak Dion, kenapa baju ini ada disini?"
"Emmm, nggak papa aku pengen beli, lagian ini untuk pacarku. Tolong bantu pilih ya," bujuk Dion.
"Oh, Pak Dion punya pacar to." Aluna tersenyum, meski hatinya timbul gelenyar kecewa.
"Iya, apa Dokter Clara?"
"Bisa jadi, pilih saja, nanti kamu tahu pacar aku." Dion mulai memilih milih baju yang paling baru, soal baju wanita Dion tidak tabu. Selain usahanya di bidang Fashion, dia juga punya adik perempuan yang seusia Aluna .
Lagi lagi Dion mengambil barang yang mahal dan bagus demgan alasan yang sama.
"Pak Dion, pacarnya dibelikan sandal juga?"
"Iya, mumpung ada kamu, ukuran kakinya pasti sama"
Setelah membeli semua kebutuhan sehari hari, dari makeup, sabun, pakaian dalam, baju dan lainnya Dion segera menghubungi Ben. Menanyakan perihal pemasangan AC dan pembelian perabot lainnya.
Dion pamit menelepon beni pada Luna saat mereka menyantap spageti di sebuah restoran dekat mall "Sudah selesai apa belum Ben?"
"Ini masih berada di perjalanan pulang Bos."
"Lama amat sih."
"Iya Bos, beli barangnya banyak dan harus teliti memilih barang yang kualitasnya bagus."
__ADS_1
"Oke, kalau begitu aku tahan Luna dulu, kalau sudah selesai segera kabari."
"Siap Bos."
Dion kembali pada Luna yang sudah menunggunya. Kembali duduk di dekat gadis yang tengah memainkan ponsel, berselancar di dunia maya.
Aluna melihat Adrian dan Angel tengah memamerkan foto mesra dan cincin tunangan yang harganya ratusan juta. Selain itu keluarga kedua pihak juga nampak bahagia.
Alex! ada foto Alex disana, apa lelaki itu juga bermuka dua? Aluna berulang kali memperbesar layar berharap dia salah mengenali rupa, ternyata tidak. lelaki berjas di dekat Selena benar-benar Alex.
Amarah Aluna memuncak, keluarga Adrian benar-benar sudah memanfaatkan dirinya. Alex yang dia kira satu satunya orang yang mendukung pernikahannya ternyata hanya kamuflase belaka. Aluna yang malang, Aluna yang bodoh. Pantas selama dia disana dia menyibukkan diri di usahanya yang ada di luar negeri. Ternyata hanya untuk menghindari kejahatannya terendus oleh media massa.
Angel menulis sebuah story :Cinta sejati tak akan pernah sirna, yang pergi adalah mereka yang datang menjadi pengganggu. Dia akan kalah dan pergi atau mati.
Ditambah dengan caption tertawa dibawah catatan hariannya. Membuat Aluna merasa benar-benar menjadi mainan mereka. Mereka boleh bahagia, tapi ada harga yang harus dibayar. Kematian bapak, nyaris dinodai dan kebakaran mansion. Aluna tak akan pernah memaafkan dan melupakan itu semua.
"Pak Dion."
"Iya Luna?"
"Apakah tawaran bekerja di perusahaan Bapak masih berlaku."
"Tentu, tentu aku sangat menunggu jawaban itu." Mata Dion langsung berbinar. Dia bahagia mendengar Aluna bersedia menjadi bagian dari perusahaan. Tak menyangka Aluna kini sudah bertanya sebelum dia minta kembali yang kesekian kalinya..
"Oke kamu akan bekerja menjadi sekretaris pribadiku, apa kamu setuju?"
"Sekretaris? Tapi saya biasa menjadi OG Pak. Saya tidak bisa jadi sekretaris."
"Tenang kamu kerja sama Aku. Bukan orang lain, aku akan membantumu jika menemui kesulitan." Dion terlihat bersungguh-sungguh,
"Baiklah." Aluna mengangguk.
Posisi sekretaris dengan seorang bos baik adalah mimpi Aluna sejak lama. Dia butuh posisi yang bagus untuk membalas dendamnya pada keluarga Adrian.
Adrian dan keluarganya tidak boleh bahagia, kepahitan yang dia rasakan harus dibalas dengan kepahitan yang setara. Aluna tersenyum smirk, ini pertama kalinya otaknya dipenuhi oleh api dendam yang membara.
*happy reading.
__ADS_1
*Jangan lupa emak dikasih like dan vote ya.