Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 236. Jayden dan Jessica


__ADS_3

Demi membuat Jessica supaya tidak keras kepala Jayden akhirnya mengalah. Jayden membawa Jessica turun dan menggendongnya. 


Jessica bukan manja, tapi lututnya memang sakit. 


Jayden mendudukkannya di sofa, saat menggendong Jessica tadi, Jayden sempat mencium aroma wangi rambut indahnya yang hitam lurus dan terurai bebas. Jayden sempat menghirupnya dalam dalam merasakan aroma rambut itu. 


"Turunkan, cepat turunkan!" bentak Jessica saat melihat Jayden salah tingkah di dekatnya. Dan ini bukan pertama kalinya lelaki tergoda dengan kecantikannya, tapi sikap galaknya membuat lelaki sulit menaklukkan Jessica, dan memilih mundur, bahkan ada yang mundur sebelum berperang, dan memilih menyimpan perasaannya. 


Jayden mengambil kotak P3K di kamarnya lalu keluar lagi dengan membawa air putih ditangan satunya.


"Ya Tuhan, rumah ini mewah kan? Masa didalamnya cuma ada air putih doangk." Sambil meneguk air putih hingga tandas di perutnya. Jessica bukannya berterima kasih, dia malah menganggap Jayden selalu melakukan kesalahan


"Ini yang paling bagus dan paling baik untuk kesehatan." ucap Jayden dengan ekspresi dingin, dia tak mau terbawa emosi menghadapi wanita yang menurutnya masih labil itu.


Jayden memilih duduk di dekat Jessica, dan gadis itu langsung menggeser tubuhnya.


"Bilang aja pelit, ya kan."Jessica belum puas, dia masih melontarkan kata-kata pedasnya. 


"Sudah jangan banyak omong. Jika kau diam aku akan sangat berterima kasih," kata Jayden, kali ini suaranya lembut. Dan ternyata berhasil membungkam mulut Jessica yang sejak tadi mengeluarkan jurus-jurus pedasnya. 


Jayden mengambil siku Jessica dan mulai membersihkan lukanya dengan kapas dan alkohol. Dia sentuh luka Jessica dengan pelan dan hati hati.


"Aaaa perih banget, bisa nggak sih hati hati, pasti karena nggak ikhlas, makanya anda sengaja buat melakukannya dengan kasar dan semuanya jadi lebih perih kan, ngomong aja kalau sengaja mau nyakitin aku."


"Bisa diam nggak," kata Jayden dingin, bernada setengah mengancam.


"Nggak." 


"Baiklah, bicara sekali lagi aku akan memaksamu untuk diam." Jayden mendorong tubuh Jessica hingga tersudut di pinggiran sofa.


"Aku akan menciummu, hingga kau akan diam." Jayden menunjukkan sisi lain yang menakutkan menurut Jessika, wajahnya terlihat seperti lelaki mesum. 


Jayden mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica. Dan siap menerkam bibir merah yang tadi bicara seperti burung kutilang, bibir itu kini mengatup rapat.


Jessica takut, Jayden benar-benar melakukannya di Mansion yang sepi ini. Andaikan nekat menciumnya pasti dia tak bisa melawan, selain sedang terluka, tenaga Jayden pasti lebih kuat.

__ADS_1


Kali ini Jessica benar-benar diam, dia tidak mau ciuman pertamanya direnggut paksa oleh lelaki menyebalkan di depannya. 


Melihat wajah Jessica yang mendadak pucat pasi membuat Jayden ingin tertawa sangat keras. Namun, Jayden berusaha menahan tawanya. 


Jessica sudah tak berisik lagi, Jayden mulai membersihkan luka-luka Jessica yang lumayan banyak. Meski perih teramat sangat, Jessica tetap berusaha menahan sampai-sampai dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan perih.


Setelah semua selesai dan Luka Jessica sudah tertutup rapat oleh perban, Jayden mengantarkan Jessica pulang, karena motor Jessica masih ada di bengkel. 


"Mau pulang sekarang atau besok." Tanya Jayden. 


Jessica sama sekali tak mengeluarkan kata-kata saat ditanya, hanya bahasa tubuhnya saja yang meminta pulang. Gadis itu kembali menautkan tas selempangnya di pundak, lalu berjalan meninggalkan ruang tamu. 


Jayden mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas meja lalu menyusul langkah Jessica yang masih pincang. 


Gadis itu sudah duduk di depan, jayden mengemudikan mobil dengan santai meninggalkan rumahnya. 


Saat dijalan, tiba-tiba Jayden mendengar perut Jessica keroncongan. 


"Belum sarapan ya?" tanya Jayden.


Jayden tersenyum melihat Jessica benar-benar tak mau bicara karena tak mau kehilangan bibir perawannya. 


"Kalau diam begitu kamu memang tambah cantik, jadi pengen tetep mencium kamu, itung-itung buat upah karena habis ngobatin kamu." Goda Jayden karena kesal Nabila tak mau bicara. 


Jessica menggeleng cepat, lalu menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya, dan satu telapaknya lagi memukul bahu Jayden. 


Pukulan Nabila tak ada artinya apa apa untuk dokter tampan itu, mungkin jika Jessica mau menggigitnya, itu akan lebih terasa sakit. 


Tanpa menunggu persetujuan Jessica, Jayden memarkir mobilnya di dekat restaurant asing yang menjual ayam yang dibalut tepung lalu di goreng itu. 


Kita makan dulu, baru aku antar pulang. Anak kecil sepertimu pasti sukanya di tempat beginian. 


'Sial, aku sudah dua puluh dua tahun tapi di bilang anak-anak, dasar paman-paman, pantas saja nggak laku, setiap ucapannya selalu ngeselin, kok bisa ya, Kak Nabila yang cantik jelita punya Kakak super nyebelin, meski dia memang tampan sih.' batin Jessica sambil mengamati Jayden yang merapikan kemejanya. 


Tiba tiba Jayden sudah di sebelah Jessica dan membuka pintu satunya, "Turun nggak? Oh jangan jangan kamu memang sudah ketagihan aku gendong," kata Jayden sambil melipat kemeja putihnya. Di lengan berotot melingkar Arloji mahal dari kulit asli warna hitam menambah kesan wibawa dokter muda pemilih itu. 

__ADS_1


Ya, selama ini belum ada gadis yang membuat hatinya kembali bergetar, meski  wanita di luar tempat kerja serta perawat dan suster di RS miliknya tak sedikit yang menunjukkan rasa sukanya dengan terang terangan, Jayden bukan tipe laki-laki yang suka di kejar, dia suka cewek yang jual mahal dan butuh perjuangan untuk mendapatkannya.


Dua piring nasi dan sepotong ayam goreng krispy, potato kriuk dan juga ice cream, segera tersaji setelah beberapa menit Jayden memesan dan membayar lebih dulu. Jayden yakin Jessica suka meski dirinya tak suka makan-makanan favorit anak kecil itu menurutnya


Dugaan Jayden benar, Jessica sangat suka dengan makanan tanpa sayur itu. Jessica memakannya dengan lahap karena dia memang lapar.


Jayden hanya memakan sedikit, menurut Dokter tampan itu, menu makanan yang tak ada sayurnya tidak sehat. 


"Kamu suka banget makan beginian? Ini tidak sehat."


Jessica menatap Jayden sekilas, lalu meneruskan makannya yang tinggal beberapa suap lagi. 


'Tak peduli, yang jelas ini enak banget.'  batin Jessica.  


Jessica tak menurunkan selera makannya sama sekali, dia menghabiskan semuanya dan mengambil tisu lalu mengelap hibirnya. Jessica diam-diam memuji Jayden, meskipun menyebalkan tapi rupanya dia peka juga dengan wanita. Buktinya perut Jessica keroncongan saja langsung diajak makan. 


'Kenyang.' Jessica mengelus perutnya. Di waktu yang sama ponsel berdering.


Rupanya pesan itu dari Dion yang sudah menunggu popok untuk si kecil. 


[Jessica, kamu lama sekali, memangnya supermarket sekarang sudah pindah tempat semua]


Jessica makin kesal, tidak tau saja kalau adik semata wayangnya baru kena masalah besar, ditabrak dokter ganteng, belum lagi dokternya begitu menyebalkan bagi Jessica. 


[Iya, ini sudah di jalan] balasan dari Jessica sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kakak kamu ya?" Tebak Jayden.


Jessica mengangguk. Dia belum ingin bicara meski ancaman itu menurut Jayden sudah tak berlaku.


Jayden dan Jesaica keluar, Jayden di belakang Jessica dua langkah sambil memperhatikan tubuh mungil wanita  yang memiliki bekas luka di depannya itu.


"Jess, besok kamu datang ke rumah sakit, aku khawatir ada luka dalam yang saat ini bisa saja belum terlihat." pinta Jayden yang dibalas anggukan kepala Jessica. 


 

__ADS_1


__ADS_2