Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 48. Keputusan Luna.


__ADS_3

Adrian menyeret Luna sampai di taman. Beberapa orang melihatnya dengan heran. Kenapa lelaki tampan dan gadis memakai baju tidur, pagi-pagi sudah terlihat marah-marah.


Arga dan Argo yang menunggu di luar kamar tadi kembali ke tim. Adrian ingin berdua saja dengan Luna tanpa ada yang mencuri dengar perkataan berdua.


"Lepaskan saya Pak Rian!"


"Kenapa? Mau kembali dengan pria tercinta kamu itu?"


"Dia Pak Dion, Dia orang yang menghargai Saya, ketika semua orang merendahkan dan tak peduli."


"Maksud kamu apa?"


"Iya, Pak Dion, yang selalu ada saat suamiku sedang bermesraan dengan wanita lain, saat dia bisa bercinta dan tidur sekamar dengan wanita lain, saat keluarga anda menghina aku!"


"Lucu ya, kamu sekarang berubah cantik, tapi pikun. Kamu yang tidur di hotel ini dan mengajak seorang pria bersamamu. Kok malah aku yang kau tuduh."


"Ku kira kamu berbeda, tapi ternyata sama." Adrian melangkah  pergi membawa sejuta kecewa.


"Pak Rian tunggu!" Aluna meraih lengan Adrian. Dia tak mau semua berlalu dalam keadaan salah paham, hari ini lelaki itu masih suaminya dia berhak tahu yang terjadi. Aluna berhak melakukan pembelaan.


"Semalam saya mimpi buruk sekali. Lalu saya takut dan mendatangi kamar pak Dion. Lalu pak Dion bersedia untuk menemani saya, dia tidur di sofa, dan saya tidur di ranjang. Kami tidak melakukan hubungan haram. Itu penjelasan yang saya miliki."


"Oh iya, terus." Adrian mengangguk berulang kali.


Luna mencoba mengingat lagi, ada bagian yang dia rahasiakan. Dion bisa ada di sebelahnya karena mereka bercerita banyak hal, ketika susah memulai tidur.  jika dia ceritakan takut akan semakin menambah bara api yang sudah menyala di dada Adrian.


"Kamu kira aku percaya semuanya tadi?"

__ADS_1


"Tapi aku sudah jujur. Jangan samakan saya dengan anda. Kita berbeda" Aluna meyakinkan.


Adrian terlihat diam sambil membelakangi Aluna. Alasan Luna memang masuk akal. Hati kecil Rian percaya Aluna tidak bohong, tapi egonya masih saja keras kepala.


Aluna membandingkan dirinya dengan Adrian, membuat Adrian sedikit tertampar. apa karena wanita itu cemburu sering memergokinya sedang bercumbu dengan Angeline.


"Pak Rian, maafkan saya jika amanah bapak saya memberatkan anda, tapi saya ingin pernikahan main main ini kita akhiri saja, anda memiliki Angeline yang pantas untuk menemani anda. Dan aku akan pergi dari hidup Pak Rian selamanya.


"Maksud kamu kita cerai?" 


"Kita berpisah, Pak. Semua demi kebaikan bapak agar tak malu lagi menampung saya. Saya sadar sejak awal ini sudah salah. Saya hanya gadis miskin, dengan penampilan apa adanya."


"Apa semua karena Dion, dia mempengaruhi mu?"


"Tidak, Pak Dion tidak tahu apa-apa soal pernikahan ini, anda baru saja yang memberitahu sendiri.


Tapi jujur beberapa hari ini dia mulai menyukai apa yang ada pada diri Aluna. Sejak kejadian di kamar itu, sungguh hari-hari Adrian mulai dipenuhi oleh pesona Aluna. 


"Terimakasih." Aluna menitikkan air mata, dia sebentar lagi akan menjadi janda dari lelaki kaya yang arogant. 


Dion dan Angel sama sama mengintip dari tempat yang berbeda. Mereka membiarkan sepasang merpati menyelesaikan masalahnya. Tapi yang paling bahagia adalah Angel, ternyata Aluna justru meminta berpisah dari Adrian sebelum dia bertindak. 


"Gadis bodoh, melepas Adrian adalah kebodohan yang paling hakiki." Dalam persembunyiannya Angeline tertawa dengan suara ditahan.


Sedangkan Dion melihat dari balkon, satu lantai diatasnya.


Dion hanya bisa melihat Aluna yang tengah menangis dari kejauhan.

__ADS_1


"Pak Rian, aku pergi."


"Pergilah."


Luna dengan gegas melangkahkan kaki menuju kamar, sedangkan Adrian masih diam tak bergeming, menatap kosong pada tanaman hias di depannya. 


Perceraian yang diinginkan, kini seakan ada magnet dalam tubuhnya yang membuat tak rela. Apa semua karena wajah Aluna yang begitu cute saat dia sedikit berdandan, atau dia sangat cantik dan imut saat tak berkacamata. Adrian mulai suka dengan lesung pipi saat tersenyum. Tahi lalat itu belum sempat sekalipun dia menyentuh.


Adrian merasa bodoh, dia tidak pernah membuat gadis itu tersenyum sejak awal di rumahnya, makanya dia tak pernah tahu senyumnya. 


***


Setelah bertanya pada Beni tentang keberadaan Dion. Aluna segera menyusul, dia punya hutang penjelasan pada lelaki itu. 


"Pak Dion!"


"Maaf Luna, kemasi semua barang-barang mu. Kita akan kembali hari ini."


"Baik Pak." Aluna memilih mengalah bicara, sepertinya Dion juga tak butuh penjelasan apa apa. 


Lagi lagi Luna terlalu percaya diri kalau lelaki itu serius dengannya. Setelah tahu semuanya Luna yakin kalau Dion juga enggan sekedar menjadi sahabat. Lelaki itu tidak suka wanita pembohong. 


Aluna mengemasi barang barangnya, kebahagiaan bersama Dion di pulau Dewata ini hanya seperti mimpi yang hilang sekejap ketika mata terbuka.


*Happy reading.


*kasih semangat emak dengan ritual biasanya ya.

__ADS_1


__ADS_2