
"Aluna maafkan aku, sungguh sampai detik ini aku masih berharap bisa kembali padamu, aku lucu kan, baru menyadari cinta setelah kau akan pergi."
Adrian menarik jemari Luna dan memeluknya, terasa sekali dada pria itu bergetar. Dagunya juga bergetar di pundak Aluna. Adrian rupanya telah menangis tergugu.
"Perpisahan ternyata begitu menyakitkan, maafkan aku yang membuat ini semua terjadi. Akan lebih menyakitkan jika kita tetap bertahan. Ikhlaskan aku pergi, semoga kita akan bahagia meski tidak bersama."
"Maaf, jika aku mengganggu kalian berdua. Aluna, acara sidang akan dimulai, tidak baik membuat hakim menunggu."
"Iya Pak Dion. Pak Rian mari!"
Aluna beranjak, setelah Adrian melepaskan genggaman tangannya, Dua lelaki tampan itu berjalan dibelakang Aluna dengan aura tak bersahabat, Adrian terlihat sangat membenci Dion.
"Berhenti, aku ingin bicara!" Adrian menahan langkah Dion dengan ucapannya.
Aluna ikut berhenti, tapi Adrian dan Dion ingin Aluna masuk lebih dahulu.
"Masuklah sayang, aku akan menyusul." Dion sengaja berkata demikian mesra untuk membakar hati Adrian yang sudah rapuh.
"Kau lelaki bodoh, melepas istri seperti Aluna, harusnya kau pertahankan berlian yang sudah ada di genggaman, jika dia jadi milikku seutuhnya, jangan pernah kau coba untuk menyentuhnya lagi, karena aku tak akan pernah izinkan lelaki manapun menyentuh bidadari dalam rumah tanggaku."
"Kau curang. Dasar laki laki licik." Adrian tak terima Dion menang, hingga dia berkata semaunya.
"Curang? Apa maksudmu? Kita sudah bersaing dengan cara bersih, Aluna memilih bercerai karena keinginannya sendiri, kau saja yang terlalu sibuk dengan wanitamu yang lain, membuat aku memiliki kesempatan bersamanya lebih leluasa, makanya jadi orang jangan maruk. Kau ingin menjadi direktur utama pada perusahaan induk. Ambillah, aku tak perduli dengan perusahaan itu, aku tahu perusahaan yang kau banggakan sedang pailit karena mengeluarkan banyak dana untuk membayar model agar menolak menjadi sponsor di Fashion show milik King Fashion di minggu kemaren. Tapi apa yang terjadi? lagi-lagi Luna, wanita itu tidak mau aku jatuh. Dia menjadi Dewi penyelamat di detik terakhir."
"Kau yakin akan menyerahkan perusahaan nenek padaku?"
__ADS_1
"Seperti yang kukatakan tadi, ambilah. Terlalu banyak pekerjaan hanya akan mengganggu bulan madu kami saja, dan bukan hanya itu, aku ingin lebih banyak waktu bersama anak dan istri kelak. Aku akan membuat dia bahagia. Terimakasih, kau sudah menjadi jembatan bertemunya Luna denganku, dan terimakasih kau juga telah memberi kesempatan untuk memilikinya. Lihat saja nanti betapa aku bahagia setelah menikah dengannya."
Adrian menarik nafasnya dalam, hingga dadanya kembang kempis naik turun, Nyeri dan sesak beradu jadi satu. Kata-kata Dion semakin menyakitinya lebih dalam lagi.
Dion pergi setelah tersenyum smirk pada Adrian. Adrian lagi-lagi kalah telak, dia tak sanggup membalas sepatah katapun ucapan dari Dion.
Dion segera menyusul Aluna yang sudah ada di dalam bersama pengacara. Sedangkan keluarga Adrian dan pengacaranya juga sudah ada di dalam.
Adrian yang tadinya sudah menyerah untuk mempertahankan Aluna kini semangat itu muncul lagi. Kata kata Dion yang akan membina mahligai bahagia bersama Aluna membuat cemburunya meletup.
Sidang akan dimulai, Aluna duduk di kursi paling depan sedangkan pengacara ada di sebelahnya. Adrian datang paling belakang dan pengacaranya segera berdiri mempersilahkan duduk.
***
"Saudara Adrian benarkah anda telah berselingkuh dan menghamili wanita lain?"
"Iya."
Saudara Aluna benarkah anda tidak ridha di poligami dan memilih untuk bercerai.
"Iya."
"Berdasarkan bukti yang sudah ada, hakim memutuskan kalau gugatan perceraian dari saudari Aluna dikabulkan."
Tok! tok! tok! Palu hakim akhirnya di ketuk.
__ADS_1
Adrian dan Aluna terlihat sama-sama menunduk. Mereka baru sadar kalau berada di ruang ini adalah mimpi paling buruk yang pernah dia alami. Sungguh tak ada yang menginginkan sebuah perceraian, tapi Aluna yakin ini yang terbaik. Melepas Adrian pada wanita yang dicintai.
Adrian dan Aluna berdiri hampir bersamaan setelah hakim dan jaksa meninggalkan ruang sidang.
Adrian dan Aluna berjabat tangan, dia juga mengembalikan cincin yang pernah dia belikan meski bukan saat menikah, karena menikah waktu itu dia hanya memberi mas kawin saja.
"Maafkan aku sekali lagi Aluna, aku hanya mengenalkan kepahitan dalam hidupmu, aku berharap kau akan bahagia bersama lelaki yang mencintaimu."
Aluna mengangguk dan tersenyum. "Semoga Anda juga, saya tetap bersyukur, pertemuan ini memberi pelajaran yang berharga, setidaknya tetap ada hikmah yang bisa dipetik."
Adrian dan Aluna sama sama keluar, Dion segera berdiri menyambut kedatangan Luna dan Adrian. Adrian terlihat tak ingin berbicara apapun dan pada siapapun. Dia pergi menjauhi keluarganya.
Sedangkan Dion dan Aluna segera menuju mobil dan pulang, tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir keduanya.
"Adrian masih mencintaimu." Kata Dion saat di dalam mobil.
"Semua sudah terlambat, dia akan lebih bahagia tanpa saya."
"Ya, Semoga saja."
Dion menyalakan mesin mobilnya lalu pergi, sedangkan Adrian di lantai atas melihat kepergian Luna dengan Dion. Seumur hidup dia selalu bahagia, tapi kesedihan amat dalam baru dia rasakan di hari ini.
Angeline mencari Adrian ke setiap sudut. Dia baru menemukan Adrian di sebuah tempat yang sepi. Adrian terlihat menangis sendirian.
"Aluna, kau benar-benar pergi dari hidupku, kau akan menjadi kenangan, Aluna aku masih berharap kau akan bisa kumiliki lagi, tak perduli itu kapan. Aluna aku mencintaimu, cinta ini tak akan pernah bisa hilang dari dalam hati, akan ku simpan di hatiku yang paling dalam."
__ADS_1